Bulan: Desember 2010

SENDIRI – SIAPA TAKUT

SENDIRI – SIAPA TAKUT

Oleh: Jum’an

Kita ini makhluk sosial yang secara naluriah condong untuk hidup bersama-sama. Dalam hati ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, mengharap penilaian dari orang lain dan hanya bisa hidup sempurna bila berada ditengah orang-orang lain. Orang yang mencoba hidup sendirian tidak akan berhasil menjadi manusia sepenuhnya. Hati akan layu jika tidak saling bertalian dengan hati orang lain. Jiwa kita akan keriput jika hanya mendengar gema fikiran sendiri dan tidak menemukan inspirasi lain -begitu kata sastrawan Pearl S. Buck. Sedihnya hidup sendiri adalah manusiawi dan universal. Mencekam serasa dirangkul oleh bayang bayang maut. Seorang anak yang pernah dihukum dengan dikunci sendirian berjam-jam dikamar yang gelap, sampai tua tidak berani masuk lift sendirian, melewati lorong sepi atau tinggal dirumah sendirian. Janganlah melawan naluri dengan mencoba hidup menyendiri. Bermasyrakat dan menjaga silaturahmi akan menjadikan hidup kita tetap manusiawi.

Sayang kita tidak selalu bisa menghindar dari berada sendirian. Tingkat perceraian yang tinggi, suami yang kebanyakan meninggal lebih dulu dari isterinya, malapetaka maupun musibah menyebabkan banyak orang terpaksa hidup sendiri. Biasanya orang tua sudah mengembangkan sifat dan kebiasaan yang membantu mereka merasa nyaman berada sendirian. Sudah menemukan cara sehingga suasana batinnya tetap sibuk. Mereka telah mencapai titik dimana ketenangan merupakan kebutuhan yang lebih utama. Berbeda dengan orang muda yang serba gelisah sehingga mereka merasa jauh lebih menderita waktu harus mengalami kesendirian. Serba tergantung pada orang lain tentu saja tidak sehat. Menjaga hubungan itu penting tetapi janganlah sampai kebahagiaan, keamanan dan harga diri kita sepenuhnya berada ditangan orang lain. Untuk itu sebelum menikmati kebersamaan dengan orang lain kita terlebih dulu harus merasa utuh dan aman bersendirian. Apalagi mengingat suatu saat dalam hidup ini kita akan sendirian. Bukankah Alqur’an menyatakan bahwa kita akan dibangkitkan sendiri-sediri? Berhasil sabar dan berkembang dalam kesendirian adalah tanda kedewasaan mental.

Jangan menghidar dari berada sendirian bila terpaksa menghadapinya. Sabarlah dan rasakan, jangan buru-buru mencari bantuan orang lain dan ingatlah bahwa kesepian hanyalah sekedar perasaan. Jangan mencar-cari kegiatan hanya untuk melupakan atau mengalihkan perhatian. Perasaan itu akan lewat dan sesudahnya kita akan menjadi lebih kuat dan lebih percaya diri. Insyaalloh kita mampu mengurus dan mengendalikan diri-sendiri. Dengan berani sendirian, kita akan menikmati kebersamaan dengan lebih terhormat karena kita tidak harus bergantung penuh kepadanya. Kita memiliki kesempatan untuk tidak terburu-buru mengadakan sembarang hubungan yang belum tentu bemanfaat. Kita tunggu sampai saatnya yang benar-benar kita inginkan tiba.

Ibarat kita sesama pemakan nasi, tetapi saya berhasil membiasakan diri makan jagung. Bagi anda rasa nasi adalah biasa tetapi bagi saya lebih enak karena saya biasa makan jagung. Dan bila harga beras naik drastis anda akan menderita sementara saya dengan senang hati memutuskan untuk berganti makan jagung, tidak tergatung pada nasi.

Iklan

MENDOWNLOAD LAGU ITU HARAM

MENDOWNLOAD LAGU ITU HARAM

Oleh: Jum’an

Dalam surat Albaqoroh ayat 29 dikatakan bahwa semua ciptaan Alloh dibumi adalah diperuntukkan bagi manusia. Dan dalam surat Yasin ayat 71 dan 72 dikatakan bahwa Dia dengan kekuasaanya menciptakan hewan ternak lalu manusia yang memilikinya. Dialah yang menjinakkan mereka, lalu manusia memanfaatkannya untuk tunggangan dan santapan. Bagaimana kemudian manusia membagi-bagi pemberian dari Alloh swt menjadi milik perorangan tentulah panjang ceritanya. Apa saja yang boleh dan tidak boleh dimiliki, siapa yang boleh memiliki dan bagaimana cara memperoleh hak-hak kepemilikan itu. Sepengetahuan kita sekarang, orang dapat memperoleh harta dengan banyak cara seperti dengan membeli, menukarkan, menerima pemberian, mencuri atau merampas. Bukan hanya tanah dan ternak serta tetumbuhan yang asli ciptaan Tuhan, tetapi semua hasil reka-yasa manusia, termasuk tarian dan nyanyian sudah ada yang punya sehingga pengertian tentang kepemilikan menjadi makin luas dan tidak jelas.

Kita tidak boleh memiliki kaset bajakan atau mendown-load lagu-lagu dari situs internet dengan sembarangan. Kita mencuri namanya dan kata orang itu akan menghancurkan industri musik dan rekaman. Bisa dibenarkan sih, tetapi mereka sendiri yang menaruh lagu-lagu tu disana seperti menggelar dagangan dipasar, dipamerkan tanpa ditunggui. Waktu ada orang mengambilnya ia berteriak-teriak kehilangan. Bisa dibenarkankah itu? Sejak zaman kuno petani dimanapun sudah biasa menyisihkan sebagian hasil panennya yang terbaik untuk benih bertanam dimusim berikutnya. Begitu sepanjang zaman. Tapi tidak begitu lagi sekarang. Benih unggul adalah hasil rekayasa para ahli pertanian yang menurut konsep kepemilikan modern menjadi hak mereka. Kita harus membeli benih dari mereka setiap musim tanam bukan dari menyisihkan hasil panen tahun lalu. Kita harus membayar royalti hasil jerih payah mereka berfikir dan meneliti. Begitulah hidup dizaman kapitalistis sekarang ini. Mereka menyebutnya hak intelektual yang akhirnya menjadi komoditi perdagangan juga.

Suatu kali saya mendapati dalam literatur suatu senyawa pospat yang biasanya dipakai dalam industri makanan, ternyata mempunyai kelarutan yang sangat tinggi didalam air. Sehingga kita bisa membuat suatu larutan dengan berat hampir dua kali berat air biasa. Ketika sebuah perusahaan minyak membutuhkan larutan berat seperti itu dalam jumlah besar, perusahaan kami ikut dalam tender pengadaan. Belakangan ternyata bahwa penggunaan larutan pospat dalam operasi pengeboran minyak sudah ada pemilik hak patennya dan orang hanya boleh membuat dan menjualnya kalau membayar royalti kepada pemegang hak paten itu. Padahal yang saya kerjakan hanyalah menelusuri daftar kelarutan senyawa kimia didalam air, ketemu lalu mencobanya dan selesai. Bukan melalui suatu penelitian yang rumit atau pemikiran yang berat. Saya kira orang yang mempatenkannya juga hanya berbuat seperti saya. Lalu dengan dibantu seorang advokat menyusun argumentasi yang rumit dan sulit ditembus sehingga siapapun yang mencoba membuat dan menjual larutan berat itu akan terjerat harus membayar.

Memiliki harta kekayaan memang sudah lama menjadi masalah. Dinegara komunis memiliki harta kekayaan secara eksklusif dianggap sebagai pangkal ketidak-adilan sosial, tirani dan penyebab penindasan. Mereka mau properti yang vital menjadi milik bersama. Sebaliknya dinegara kapitalis memiliki harta kekayaan dianggap merupakan faktor utama pendorong kemajuan manusia dan peningkatan standar hidup. Keduanya mempunyai boroknya sendiri-sendiri. Dinegeri komunis potensi individu disunat tidak bisa tumbuh sementara dinegeri kapitalis sebagian besar kekayaan akhirnya dikuasai oleh segelintir orang saja. Suatu saat nanti mungkin kita harus membayar udara yang kita hirup…

BERKAH AIR MATA

BERKAH AIR MATA

Oleh: Jum’an

Hidup dimulai dengan menangis. Itulah caranya agar kita tetap bertahan hidup. Kita harus menghentak sekuat tenaga untuk menyedot udara kedalam paru-paru yang selama ini diam seperti balon kempes. Lalu selama bulan-bulan berikutnya kita hanya bisa menangis untuk menyatakan lapar, lelah, tidak nyaman, takut, kesepian, kecewa atau marah. Menurut penelitian Dr. William Frey ahli biokimia dari Mineapolis sampai usia puber tidak ada perbedaan pola menangis antara anak perempuan dan anak laki-laki. Tetapi dari umur 12 – 18 tahun anak perempuan mengeluarkan prolaktin, hormon yang berperan dalam produksi air mata, 60% lebih tinggi dari laki-laki dan menangis empat kali lebih sering. Kebanyakan orang menangis karena sedih (49%), karena bahagia 21%, marah 10%, simpati 7%, cemas dan takut masing-masing 5 dan 4%. Dari satu sisi menangis atau mengeluarkan air mata menunjukkan cinta dan perhatian yang mendalam. Disisi lain menangis dianggap sebagai tanda kurangnya disiplin dan keberanian alias cengeng. Apa boleh buat.

Air mata keluar tidak hanya karena orang menangis, tetapi juga karena iritasi seperti kalau kita mengupas bawang, mata kemasukan debu dan sepanjang waktu air mata tersedia untuk membasahi bola mata. Kesemuanya mempunyai tujuan perlindungan. Bahwa menangis membawa kebaikan, sudah lama diduga orang. Lebih dari 2000 tahun lalu, Aristoteles berteori bahwa menangis menonton drama membersihkan pikiran dari emosi yang tertekan dengan proses yang dinamakan katarsis yaitu menghilangkan kesedihan dengan cara melepaskan emosi. Pantas kalau saudara-saudara perempuan saya sangat menyukai kisah sedih dari film-film India karena mereka merasa segar dan rileks sesudah menangis. Dramawan dan penyair besar Shakespeare secara intuitif juga tahu bahwa menangis itu menyembuhkan. Dalam lakon King Henry, ia menuliskan: To weep is to make less the depth of grief – Menangis itu meringankan penderitaan.

Pernyataan filosof dan penyair itu dibenarkan oleh pengetahuan modern. Para peneliti mendapati bahwa menangis itu baik karena air mata ternyata menurunkan ketegangan, mengeluarkan racun dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri. Singkatnya mereka mengakui bahwa orang yang mampu menangis dapat menikmati kesehatan fisik dan emosional yang lebih baik. Alan Wolfelt Ph.D. yang meneliti orang-orang yang berkabung karena ditinggal mati orang yang dicintai, mengatakan bahwa penampilan mereka berubah setelah menangis. Orang tidak hanya merasa lebih baik tetapi juga nampak lebih baik. William Frey dari Tear Research Centre yang kita kutip diatas, menyatakan alasan mengapa mereka merasa lebih baik setelah menangis. Yaitu karena air mata melarutkan dan menyingkirkan zat-zat kimia yang menumpuk selama emosi kita mengalami stress. Jika hormon-hormon yang terkait dengan stress itu tidak keluar maka akan menumpuk sampai tingkat keracunan yang dapat melemahkan sistim kekebalan tubuh dan menghalangi proses biologis lainnya.

Air mata karena menangis berbeda kandungan kimianya dengan air mata oleh iritasi. Air mata emosi menangis, lebih banyak mengandung protein dan beta-endorphin yang merupakan zat penghilang rasa sakit alamiah. Orang yang mudah menangis pantas bersyukur karena menunjukkan perasaannya halus. Karena itu tidaklah bijak untuk menahan tangis, karena menangis membawa berkah. Bahkan menangislah! Tapi jangan dengan tipuan mengupas bawang. Kelenjar air mata tahu bedanya….

AMBISI WANITA

AMBISI WANITA

Oleh: Jum’an

Sebenarnya ambisi bukanlah sesuatu yang buruk. Sebaliknya sering kita dengar bahwa tanpa ambisi kita tidak akan dapat mencapai puncak. Hasrat yang sehat untuk berhasil dengan memaksimalkan tenaga dan fikiran adalah ambisi dan baik. Apabila hasrat itu ditempuh karena tidak pernah puas dan tidak mampu menghargai apa yang sudah dimiliki saat ini, namanya juga ambisi. Iktikadnya berbeda tetapi secara lahiriah tidak terlihat perbedaannya. Ambisi mempunyai dua ciri yang menonjol. Yaitu penguasaan sesuatu dengan segenap tenaga dan fikiran serta kebutuhan akan pengakuan berupa ketenaran, status, pujian atau kehormatan. Penguasaan dan pengakuan merupakan dua mesin penggerak ambisi yang sama kuatnya. Tanpa penguasaan tidak akan ada keberhasilan dan keberhasilan tanpa pengakuan menimbulkan rasa frustasi dan tidak berguna, seperti pertandingan tanpa penonton tanpa juri. Ketergantungan akan penilaian dan pengakuan orang lain inilah yang menyebabkan orang merasa rentan sehingga ambisi memberikan kesan yang buruk.

Dalam hal menciptakan ambisi tidak ada bedanya antara pria dan wanita tetapi waktu menempuhnya yang membutuhkan penilaian, dukungan dan pengakuan dari orang lain, wanita terpisah dan tertinggal jauh dari kaum pria. Menurut Anna Fels MD seorang psikiater dan pengamat, kebanyakan wanita memang tidak suka dikatakan ambisius. Bagi mereka ambisi membawa pengertian egois dan sombong atau memanipulasi orang lain untuk tujuan sendiri. Sangat berbeda dengan kaum pria yang menganggap ambisi adalah bagian penting dari hidup mereka. Anehnya kaum wanita yang tidak menyukai ambisi bagi mereka, dengan senang hati memuji kaum pria yang penuh ambisi. Wanita mempunyai banyak peran dari menjadi akademisi, karyawati yang cakap, ibu rumah tangga, pebisnis, dan lain-lain. Tetapi sejak awal ambisi mereka sudah dihadang oleh kurangnya dorongan yang diterima, diskriminasi, serta pengaruh budaya masyarakat.

Setelah selesai pendidikan dan memasuki angkatan kerja, ambisinya makin tambah terkendala. Bagi lkaum pria umumnya bekerja keras bukan hanya berarti mencari nafkah tetapi merupakan sumber identitas dan harga diri. Sementara perempuan karena kodratnya, terikat dan menjadi penyedia jasa bagi orang lain dalam lingkungan pribadinya terutama suami dan anak-anaknya. Hamil, merawat anak, mengatur rumah tangga, terpaksa meninggalkan kerja karena suami dipindah keluar kota menjadikan ambisi wanita tidak semulus kaum pria. Peribahasa Jawa mengatakan: ” Swargo nunut neroko katut”. Wanita hanya dapat menumpang senang, tapi harus ikut menderita.

Dua dari tiga wanita yang pernah menduduki posisi puncak di Mahkamah Agung Amerika yaitu Sonya Sotomayor dan Elena Kagan keduanya tidak mempunyai anak. Mereka seolah-olah membawa pesan kepada wanita karir diseluruh Amerika: Kalau mau menduduki posisi puncak profesi anda, lebih mudah tanpa anak-anak. Bukan saja anak-anak bahkan tanpa suami. Diduga ada kekhawatiran dikalangan wanita yang ambisius bahwa mereka tidak dapat naik keposisi yang lebih tinggi jika mereka berkeluarga karena tekanan pekerjaan yang berat –bekerja sampai larut malam, dinas keluar kota yang lama, dan tuntutan siap kerja 24 jam sehari 7 hari seminggu. Kaum wanita memang berbeda kodratnya dengan kaum pria,

JANGAN KAU BUNUH ANAK-ANAKMU

JANGAN KAU BUNUH ANAK-ANAKMU

Oleh: Jum’an

Kalau anda menggugel bayi di wc maka anda akan menemukan banyak sekali berita tentang orang perempuan yang melahirkan atau membuang bayi di wc, kebanyakan dari kehamilan yang tidak dikehendaki. “Bayi merah ditemukan petugas di wc pesawat di bandara Manila”. “Bayi umur dua jam tergantung di pintu wc pompa bensin Tambora Jakarta Utara”. “Siti janda pembantu asal Brebes melahirkan bayi di wc rumah majikan lalu membuangnya ketempat sampah di Klender”. “Ade siswi SMA kelas 1 melahirkan di wc rumahnya dan mebuangnya di wc sekolah di Surabaya. Menurut yang pernah saya baca sebagian mereka menyangka hanya merasa mulas ingin buang air besar ternyata mulas lain, lalu panik, lalu…kemudian.. akhirnya..

Tahukah betapa nilai yang mereka anggap seonggok daging lunak yang dibuang ke wc dan tempat sampah itu? Sebuah tunas kehidupan penuh keajaiban yang dirancang oleh pencipta jagat raya. Penuh dengan jaringan syaraf dan urat darah yang sangat halus untuk merasakan dan menyalurkan zat-zat pertumbuhan. Prosesor kecil ultra-canggih seberat 350 gram didalam kepala dengan 150 milyar sel didalamnya sebagai penggerak kehidupan, sistim antibody untuk melawan penyakit serta roh yang ditiupkan untuk melanjutkan kehidupan abadi kelak. Makhluk kecil ini bukan asal dibuat saja. Sesudah diciptakan lalu disempurnakan, ditakdirkan dan diberi petunjuk oleh Maha Penciptanya. Lalu kau cekik dan kau buang dia ke tempat sampah? Laknatulloh!

Infantisida, pembunuhan bayi yang makin banyak terjadi bagaimanapun merupakan sebagian dari tanda-tanda zaman. Zaman sekarang telah memudahkan kejahatan keji ini berjangkit dan merebak. Ahli hukum Michelle Oberman penulis buku “When Mothers Kill” melihatnya sebagai respon terhadap perkembangan sosial dan kendala mengasuh anak. Seorang siswi SMA ketika terlalu malam belajar bersama seorang teman prianya, terjebak oleh suasana yang menggoda fantasi. Terjadilah yang tidak seharusnya terjadi. Benih dalam rahim terlanjur tumbuh meskipun tidak dikehendaki, diingkari atau ditutup-tutupi. Siswi SMA ini tidak akan sanggup menerima akbatnya: ia bakal dikucilkan dari lingkungan keluarga, dikeluarkan dari sekolah, dicibir teman dan tetangga, tak ada lagi masa depan baginya. Janin dalam perut ini harus dimusnahkan sesudah atau sebelum lahir. Satu-satunya jalan yang toh rasanya direstui oleh zaman ini. Masih banyak skenario versi lain menuju infantisida. Kemiskinan, ketidak-adilan sosial, momok mengasuh anak semuanya menyebabkan stress dan akan bertambah stress pada saat hamil dan melahirkan.

Menurut Dario Maestripieri pakar dalam Comparative Human Development, stress selama kehamilan sebenarnya adalah baik dan merupakan mekanisme penyesuaian diri. Kelenjar adrenal mengeluarkan hormon cortisol kedalam aliran darah yang menaikkan produksi glukosa dan membantu metabolisme lemak, protein dan karbohidrat menjadi bahan tenaga yang siap pakai. Jadi stress merupakan penyesuaian tubuh menghadapi kesulitan tiba-tiba dan bagi wanita hamil merupakan proteksi terhadap keselamatan bayi yang akan dilahirkan. Pada kehamilan normal saja, peningkatan cortisol dalam darah sudah cukup tingi. Kalau masih harus ditambah ketegangan lain seperti yang dihadapi siswi SMA diatas maka menjadi berlebihan dan berbahaya. Maestripieri dalam penelitiannya menemukan bahwa stress yang berlebihan pada saat kehamilan dan melahirkan ini erat hubungannya sebagai faktor pemicu infantisida.

“..Jangan kau bunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka…” Begitu bunyi ayat 151 surat Al an’am. Bila kehamilan dan persalinan berasal dari pernikahan yang dridloi dan stress-free maka ayat itu akan menjadi jaminan yang harus dipercaya.

KEBAHAGIAAN SINTETIS

KEBAHAGIAAN SINTETIS

Oleh: Jum’an

Seandainya ada sebuah mesin yang dapat dirancang demikian canggih dengan tempat duduk untuk pemakainya dilengkapi dengan macam-mcam pencetan, puteran, kabel-kabel, colokan dan helm yang dapat merangsang otak agar berfikir dan merasakan apa saja yang kita inginkan. Rasa bahagia seorang pengantin baru, kepuasan seorang juara dunia atau kenyamanan seorang Bill Gates. Pokoknya semua kenikmatan yang biasanya kita sebut bahagia. Kalau saja mesin itu benar-benar ada, apakah anda berminat duduk diatas kursi-bahagia itu untuk selamanya? Daripada menghadapi ketakutan, ketidak-tentuan dan kekhawatiran hidup yang tak ada hentinya, why not? Kalau anda masih ragu-ragu biarlah saya mencobanya lebih dulu, bismilah. Sejak dulu saya memang ingin hidup senang bebas dari ancaman kehilangan kerja, tagihan yang tidak terbayar atau rumah tergusur. Ingin rasanya hidup setiap saat bergairah, aman nyaman dan lega.

Nah sekarang saya duduk diatas kursi-bahagia ini, merasakan benar-benar kenikmatan seorang pengantin baru. Persis seperti yang anda alami dulu atau nanti kapan-kapan. Sendiri tanpa ada orang lain disekitar saya. Jangan tegur saya sebab saya bukan hanya sekedar duduk diam tetapi sedang menikmati rasa pengantin baru. Memang kelihatan aneh, cengar-cengir sendirian. Betapapun bahagianya rasa pengantin baru tapi berbeda dengan benar-benar mengalaminya. Dengan pasangan disamping kita, tamu-tamu yang menyalami, orkes dangdut yang menghibur dan anak-anak yang berseliweran. Yang saya rasakan ini kebahagiaan sintetis namanya! Bukan yang asli. Tidak berbeda dengan yang dirasakan penghisap ganja barangkali. Kebahagiaan sejati selalu memerlukan orang lain tidak mungkin dialami sendirian. Kursi-bahagia ini tidak memberikan sesuai dengan hidup yang saya idam-idamkan. Biar saya singkirkan saja mesin ini jauh-jauh.

Saya mau kebahagiaan sejati. Tetapi yang awet dan tahan lama bukan yang sekali pakai lusuh atau seperti hujan yang sesekali turun lalu disusul oleh kemarau panjang. Sekali naik gaji, tiga bulan sudah hilang rasanya menguap oleh kenaikan harga-harga. “Mas, pernikahan saya hanya tiga bulan bahagianya, tigapuluh tahun selanjutnya penuh sengsara”, begitu gurauan seorang teman saya. Meskipun itu hanya lelucon ada juga benarnya bahwa rasa bahagia didunia ini bersifat volatile yaitu mudah menguap dan cepat hilang. Adakah kebahagiaan yang bisa bertahan lama? Ataukah memang sudah bawaan asal manusia yang cepat bosan? Pada tahun 1970 pernah dilakukan sebuah penelitian yang terkenal. Sejumlah pemenang lotre di Amerika, dari yang menang ratusan ribu sampai yang jutaan dolar, diikuti kehidupannya terus dari waktu ke waktu. Ternyatai sesudah sekitar 18 bulan mereka sudah tidak lebih bahagia dari sebelum mereka memenangkan lotre. Kebahagiaanya menurun kembali seperti semula.

Fenomena ini disebut hedonic adaptation yaitu kecenderungan manusia untuk dalam waktu tidak lama kembali ketingkat kebahagiaan aslinya baik setelah mengalami suatu guncangan drastis yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Tiap orang seperti sudah ada takaran kebahagiaannya sendiri. Apakah memang benar-benar demikian, wallohu a’lam…

CINTA MEREDAM NYERI

CINTA MEREDAM NYERI

Oleh: Jum’an

Where there is love there is pain, dimana ada cinta disana ada derita. Bukankah cinta adalah pesona gaib yang menggetarkan jiwa? Memang benar tetapi mungkin karena cinta terlalu menuntut pengorbanan dan membelenggu kebebasan tidak jarang kita sakit dan tersiksa dibuatnya. Lebih-lebih kalau ditengah perjalanan kita mengetahui bahwa orang yang kita cintai ternyata hanya berpura-pura. Alangkah pedih rasanya. Tetapi bagaimanapun cinta adalah mukjizat; aromanya saja menggairahkan kehidupan mampu mengusir derita dan duka. Bukan hanya derita dihati yang abstrak dan niskala, tetapi belakangan diketahui rasa cinta dapat mengurangi penderitaan jasmani yaitu rasa sakit dan nyeri yang menyiksa. Benarkah cinta dapat mengurangi rasa nyeri ikarena nflamasi dan infeksi? Begitulah setidaknya menurut hasil penelitian dua orang ahli syaraf dan ilmu jiwa belum lama ini.

Dua orang peneliti- Sean Mackey ahli syaraf, spesialis rasa sakit dari Stamford dan Arthur Aron ahli jiwa dan spesialis rasa cinta dari Universitas New York bekerja-sama untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara cinta dan rasa sakit karena seperti mereka ketahui keduanya berpusat di wilayah otak yang sama. Limabelas mahasiswa yang mengaku sedang jatuh cinta menyatakan setuju untuk dilibatkan dalam penelitian itu. Masing-masing diminta membawa potret seorang teman dan potret pasangan cintanya. Singkatnya, memegang besi panas sambil menatap potret si dia 40% lebih ringan rasa sakitnya ketimbang sambil menatap potret seorang teman biasa. Merenungkan cinta ternyata mengaktifkan syaraf otak mengeluarkan sejenis hormon yang menghilangan rasa sakit seperti efek obat-obat analgesic atau pain-killer.

Temuan ini menjelaskan bagaimana otak merespon rasa sakit dan bermanfaat untuk mencari metode pengobatan yang baru bagi penderita sakit kronis. Dr. Sean Mackey pemeran utama dalam penelitian itu mengatakan, temuan ini mendukung teori bahwa penderita rasa sakit akan memperoleh kesembuhan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Ia juga melihat bahwa kwalitas hubungan kemanusiaan mempengaruhi keadaan kesehatan seseorang. Sebenarnya tanpa harus repot-repot mengutip hasil penelitian diatas, sayapun sudah menduga bahwa merenungkan sesuatu yang menyenangkan itu dapat mengurangi rasa sakit. Tapi para peneliti disana gajinya tinggi fasilitas mereka lengkap dan budaya penelitian digalakkan. Sebab itu mereka dapat memberikan bukti ilmiah dan tidak hanya berteori.

Sayangnya meskipun merenungkan cinta seolah dapat mendinginkan besi panas, pada saat kita benar-benar menderita sakit kronis, jangankan merenungkan cinta dudukpun sulit lagi pula belum tentu kita berada diusia cinta. Bila perasaan hati dan hubungan kemanusiaan (hablum-minannas) memang terbukti berpengaruh terhadap kesehatan jasmani seseorang tentulah hablum-minalloh demikian juga atau bahkan melebihi. Bila mengingat Alloh serasa merenungkan cinta maka hati akan marasa tenteram. Dan ketenteraman hati akan menyehatkan badan. ”Bukankah dengan mengingat Alloh hati menjadi tentram?” (Arra’du ayat 28). Mengingat Alloh hanya akan meneteramkan hati apabila keyakinan kita kepadaNya adalah genuine atau asli. Kalau tidak mungkin tidak akan ngaruh. Menetramkan hati dengan mengingat Alloh memang tidak gratis dan tidak otomatis.