Bulan: Agustus 2015

SAYA TIDAK SUKA MALALA TETAPI…

malala carica

SAYA TIDAK SUKA MALALA TETAPI

Oleh: Jum’an

Saya memang kurang mampu mengontrol tindakan dan perilaku saya sesuai dengan yang saya inginkan. Tidak bisa berdisiplin dalam mengatur waktu sehingga banyak peluang yang terlewat hilang sia-sia. Begitu banyak pekerjaan yang saya rencanakan, sasaran yang ingin saya capai tetapi begitu sedikit yang kesampaian. Satu jam lebih menguap dengan cepat hanya untuk membaca dan membalas e-mail, menengok facebook, menonton video You Tube yang dikirim teman atau membaca berita. Selalu terdengar bisikan yang siap memaafkan menunda pekerjaan yang utama: “Yang itu kan bisa nanti. Kalau bisa besok kenapa harus sekarang. Apa salahnya ditunda sehari”. Kebiasaan tarsok-tarsok ini terasa sebagai beban yang makin berat sehingga menimbulkan rasa dongkol dan membenci diri sendiri karena memang saya sendirilah biang penyebabnya.

Sudah lama saya mempunyai angan-angan untuk menulis tentang Malala Yousafzai. Saya merasa tidak senang karena sebagai seorang muslimah yang belum begitu matang ia disanjung dan diidolakan oleh Media Barat, sampai-sampai dinominasikan untuk memperoleh hadiah Nobel. Risi rasanya mendengar ia mengucapkan kata-kata yang sepantasnya diucapkan orang yang lebih dewasa dengan jari menunjuk-nunjuk seperti menggurui. Saya duga banyak orang juga kurang senang meskipun misi mereka bermaksud meningkatkan pendidikan anak-anak perempuan di lingkungannya. Mulailah saya mengumpulkan dan membaca segala ihwal tentang Malala dan komentar orang-orang mengenai dia. Tetapi karena kebiasaan menunda-nunda, saya lama-lama menjadi kesal karena terlalu asik mengunduh berita dari segala penjuru dan enggan untuk mulai menulis.

Perasaan kesal itu membuat saya kurang bergairah untuk meneruskan rencana menulis tentang Malala. Seperti ada yang memaksa-maksa padahal rencana itu adalah cita-cita saya sendiri. Sampai akhirnya saya tidak tertarik lagi terus menerus melihat potret Malala dan mulai mencari-cari topik lain. Saya memilih membiarkan Malala bertingkah semaunya diusung kesana kemari dan diliput oleh wartawan barat. Biar orang lain saja yang menilai. Saya tidak peduli. Lagipula ia bukan anak Indonesia!

Tidak jarang saya terbelah menjadi dua: saya yang sadar dan berfikir rasional mempunyai rencana dan cita-cita dan saya yang senang menunda, mengelak dan enggan bertindak untuk mencapai cita-cita itu. Sayangnya pergulatan antara keduanya sering dimenangkan oleh bawah sadar saya yang membangkang terhadap kehendak akal sehat.

Memang bawah sadar kita lain kelakuannya. Ia bukan berpedoman kepada rasio. Ia konon bekerja dengan menggunakan prinsip keakraban. Penelitian oleh Robert Zajonc ahli psikologi sosial terkenal telah membuktikan bahwa keakraban sederhana cukup membuat seseorang menyenangi sesuatu. Lebih akrab lebih suka. Dan keakraban semata dapat menyalip pemikiran sadar dan mempengaruhi pengambilan keputusan. Orang cenderung mengembangkan pemilihan berdasarkan keakraban. Kita umumnya lebih akrab yang aman, yang nyaman dan menyenangkan dan tidak dari yang sebaliknya. Begitulah saya selalu memutuskan memilih  mengerjakan yang lebih menyenangkan meskipun niat semula ingin berkarya. Bila tidak ada teguran atau akibat buruk yang terasa saya terus menggunakan autopilot keakraban untuk mengendalikan aktivitas sehari-hari. Kalau hanya kadang-kadang, menunda tidak apa-apa. Setiap orang juga sekali-sekali menunda pekerjaan mereka. Tetapi bila menjadi kecanduan, beginilah akibatnya hanya ingin menulis dua halaman saja tidak tuntas. Akibatnya urunglah niat saya mengumpat Malala…

Iklan

MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI

korupsi-1

MEMAHAMI ORANG ALIM KORUPSI

Oleh: Jum’an

Alim dalam bahasa Indonesia berarti banyak mempunyai ilmu terutama dalam hal agama Islam. Juga berarti saleh yaitu taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah atau suci dan beriman. Apakah saya termasuk orang alim? Pengetahuan agama Islam saya, syahadat serta rutinitas ibadah saya menunjukkan bahwa saya berada di atas jalur untuk menjadi orang alim. Karena pandangan tentang diri-sendiri adalah subjektif dan tingkat kealiman sebenarnya tidak dapat diukur, saya perkirakan bahwa tingkat kealiman saya mungkin rendah sekali. Tetapi karena kebaikan yang hanya yang sebesar zarahpun tetap berharga, saya berani mengaku mempunyai tingkat keimanan serta kealiman tertentu betapapun rendahnya dihadapan Allah dan dalam pandangan orang lain. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sebagai orang yang beriman saya sering atau kadang-kadang merasa begitu dekat dengan Allah; perasaan yang pasti juga sering anda alami. Sedekat yang sering digambarkan orang sebagai “seolah-olah berdialog langsung” denganNya. Biasanya saya lalu meneteskan air mata atau tersedu-sedu atau hati menjadi lega atau bangkit bersemangat ataupun tidak risau lagi tentang kesulitan duniawi. Seperti yang dikatakan dalam Qur’an: Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram? Pengalaman dan perasaan seperti itu saya anggap mempunyai nilai spiritual yang dalam dan saya menikmatinya.

Setelah lama merenungkan kilas balik pengalaman batin itu saya menengarai adanya pengaruh yang menyimpang terhadap perilaku hidup saya. Kedekatan itu lama-lama menimbulkan keyakinan bahwa Allah memang memperhatikan saya secara pribadi, memahami semua kelemahan-kelemahan saya dan dengan sifatNya yang Maha Pemurah lalu mengasihani, memberikan maaf dan kelonggaran untuk saya. Saya merasa sebagai seorang hamba yang disayangiNya. Dan ini membuat saya tidak risi atau canggung mengendorkan disiplin beribadah. Saya sering terlambat salat tanpa perasaan menyesal karena yakin bahwa Dia mengerti saya: hambaKu yang lemah ini terlalu lelah mengais rejeki yang halal. Biarlah terlambat salat sedikit tak apa. Begitu bayangan sikap Allah dalam kepala saya.

Apakah ini sebuah anugerah atau perangkap? Kelemahan mental yang menyamar sebagai ketaatan beragama? Apakah perasaan akrab saya kepadaNya itu palsu? Sesuatu yang bukan saja subyektif tetapi justru merupakan godaan dan perangkap setan? Bagaimana pengalaman batin yang saya rasakan begitu meresap dalam hati yang saya anggap sebagai prestasi dalam menghayati nilai-nilai agama ternyata telah mengaburkan orientasi saya. Saya menjadi terlalu mudah memmaafkan diri sendiri dan menjadikan kata hati sebagai panutan. Yakin Allah berpihak kepada saya. Saya lalu menduga bahwa orang yang lebih dan benar-benar alim juga menghadapi perangkap seperti ini. Keyakinan memiliki hubungan khusus dengan Allah dan memperoleh  dispensasi dan kelonggaran untuk memotong kompas menempuh jalan samping sendiri.  Apa jadinya kalau ia memegang jabatan pemerintahan atau bendahara yang bertanggungjawab terhadap kesejahteraan umat. Dengan dalih demi kesejahteraan umat, menghimpun dana melalui jalan samping tentulah diperkenankan Tuhan. Ini merupakan konskwensi logis dari keyakinan seorang alim apabila dugaan saya diatas adalah benar.

Berbeda dengan orang alim, penganut aliran yang kelewat fanatik dapat terperangkap lebih dalam: bukan saja merasa mepunyai hubungan khusus dan memperoleh dispensasidari Allah swt. Mereka merasa bangga karena yakin bahwa mereka lebih berhak memiliki Allah dari pada orang lain. Bahwa Allah adalah monopoli mereka dan memihak kepada mereka. Sikap memonopoli Allah, tanpa mereka sadari dapat melambungkan ego manjadi takabur dan sekaligus mengecilkan arti kebesaran Allah. Orang alim seharusnya bersikap lemah lembut karena sadar bahwa mereka adalah milik Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tetapi kealiman (seperti juga semua sifat baik lainnya) juga membawa godaan yang dapat menjadikan orang terperangakap ke jalan yang sesat. Tetapi anda boleh juga memungkas pendapat saya dengan mengatakan: Kalau ada orang alim korupsi, artinya dia bukan orang alim. Titik