Bulan: Maret 2012

NIAT BAIK MUDAH BERUBAH

NIAT BAIK MUDAH BERUBAH

Oleh: Jum’an

Facebook adalah jaringan sosial terbesar di dunia yang didirikan oleh Mark Zuckerberg pada 2004. Semula hanya merupakan jaringan eksklusif antar mahasiswa Harvard tetapi sekarang berubah menjadi sebuah badan usaha dengan nama Facebook Inc. Kepada para calon pemegang saham dalam Penawaran Perdananya awal Februari lalu Mark menulis: Facebook awalnya tidak diciptakan untuk menjadi sebuah perusahaan. Waktu itu Mark Zuckerberg adalah seorang mahasiswa Harvard yang idealis, seorang pemuda yang penuh dengan semangat filantropi, hampir tanpa keinginan duniawi dan mengarahkan tujuan hidupnya untuk misi sosial besar, yaitu untuk membuat dunia lebih terbuka dan saling terhubung. Sekarang Mark Zuckerberg adalah jutawawan, Chairman & CEO dari Facebook Inc. yang berharga hampir 4 milyar dollar dengan pengguna 800 juta orang atau sepertujuh penduduk dunia.

Yoga adalah ritual Hindu sejak 1500 BC, yang bertujuan untuk menyatukan jiwa, tubuh dan pikiran. Jelas bersifat spritual dan tidak berbau komersial sedikitpun. Tetapi sekarang, yoga adalah dagangan laris yang sangat menguntungkan. Pada tahun 2003 Manmohan Singh Bhandari dari pusat olah-yoga di Rishishkesh India datang ke China untuk memberi pelatihan. Ia kemudian menikah dengan Yin Yan, editor majalah mode ELLE yang rela meninggalkan karirnya demi cintanya kepada Mohan. Suami-isteri itu lalu mengembangkan yoga di China dengan nama “Yogi Yoga Academy” yang kini menjadi perusahaan beromset tak kurang dari 4 juta dollar setahun dengan cabang-cabang di Beijing, Shanghai dan Guangzhou dengan 37 unit waralaba. Sebagai pasangan jutawan, Yin Yan dengan beraninya mengatakan bahwa suaminya adalah tetap seorang rohaniawan dan tidak mencampur-aduk antara spiritual dengan bisnis. “Mohan adalah pembimbing spiritual Yogi Yoga dan saya adalah otak dibalik perusahaan itu; sayalah yang mengurus semua masalah keuangan”. Sebenarnya Manmohan Singh dan Mark Zuckerberg sama-sama telah meninggalkan idealismenya; hanya saja Mohan sedikit lebih tersamar dengan menitipkan jualannya kepada isterinya.

Terlepas penilaian orang terhadap sikap mereka, saya hanya merasa kehilangan simpati, meskipun tetap mengakui bahwa mereka adalah tokoh yang kreatif dan sukses. Dokter Kartika, spesialis ahli penyakit jantung yang laris dan tarifnya selangit, waktu umur 7 tahun dulu ditanya mengapa ia bercita-cita menjadi dokter. Jawabnya supaya bisa menolong mengobati orang-orang miskin. Dan itu adalah cita-cita yang jujur dan mulia. Kalau sekarang tak ada orang miskin manapun yang sudi berobat kepadanya karena tidak mampu membayar, jangan salahkan kalau orang tidak lagi menaruh simpati seperti waktu ia berumur tujuh tahun dulu. Orang mempelajari cara-cara pengobatan dari zaman rasulullah, lalu mendirikan klinik didaerah elit dan setelah laku, menjual waralaba (franchise) tidak bedanya dengan “Es Teler 77” atau McDonalds. Semua halal-halal saja. Hanya, iklan pengobatan dan hadis nabi saya rasa tidak selaras. Ada hal-hal yang memang tidak untuk dijual. Manusia, keyakinan, kehormatan bukanlah barang jualan. Nurani kita tahu itu…

ABDEL YANG GAGAL MEMBEBASKAN BUDAKNYA

ABDEL YANG GAGAL MEMBEBASKAN BUDAKNYA

Oleh: Jum’an

Abdel adalah anak keluarga bangsawan dari Mauritania! Sebuah negara miskin di sahara Afrika dengan nama ibu-kota yang asing bagi telinga kita “Nouakchott”. Ketika disunat pada umur 7 tahun, ia ditawarkan untuk memilih hadiah uang, unta, mainan atau sepeda. Semua ditolaknya. Ia mau sesuatu yang lain sama-sekali. Ia memilih Yebawa, budak lelaki seusianya yang berkulit hitam legam sebagai hadiahnya; semudah memilih jenis mainan saja. Abdel sendiri berkulit coklat. Sedihnya Yebawa juga tidak menganggap dirinya manusia seutuhnya, setidaknya beda dengan Abdel. Perbudakan di Mauritania sudah berjalan ratusan tahun sampai-sampai orang merasakannya sebagai keadaan yang alamiah. Para budak merasa bahwa mereka makhluk inferior, sementara pemiliknya merasa budaknya sebagai pemberian Tuhan dan selayaknya mereka miliki. Menurut PBB saat ini 10-20% penduduk Mauritania masih berstatus budak. Hubungan Abdel dan Yebawa sungguh unik: mereka teman sepermainan tapi keduanya sama-sama menyusu kepada ibu Yebawa, jadi bak kakak beradik dan, ibu Yebawa adalah budak dari keluarga Abdel. Yebawa anaknya gembrot, kikuk dan suka ngomong dalam tidur. Jika disuruh menggembala kambing, selalu ada satu dua ekor yang hilang jadi sering kena hukuman. Abdel sayang padanya dan tidak ingin Yebawa terlalu tersiksa menjadi budak orang lain. Tetapi sesudah disunat dan mulai akil balig, mereka dilarang orang tuanya untuk saling berteman. “Bertemanlah dengan jenis sendiri!” kata mereka.

Budak di Mauritania biasanya mengabdi pada satu keluarga sejak lahir. Mereka tidak diperjual belikan, tapi dipekerjakan sebagai hamba sahaya serta simbol status. Menggembala ternak, mencuci, memasak dan menyajikan makan-minum atau apa saja untuk tuan mereka. Tanpa upah tentu! Sering saat hujan di dataran tinggi Tagant di Mauritania tengah, kata Abdel yang sekarang berusia 47 tahun, budak seperti Yebawa bertugas memegangi tepi tenda dan mengangkatnya sepanjang malam agar tuan mereka tidak kehujanan. Abdel selalu teringat mendengar gigi budak-budak itu gemeretak menggigil sepanjang malam – sementara ia dan teman-temannya dalam tenda mengejek mendengar suara “musik gigi” itu. Keluarga Abdel punya ratusan budak, tetapi Yebawa hanya milik Abdel. Pada usia 12 tahun Abdel dikirim kesekolah di Nouackchott dan mulai berkenalan dengan dunia luar serta buku-buku diperpustakaan yang kelak menyadarkannya bahwa dunia perbudakan adalah salah. Selanjutnya ia bahkan menjadi pemimpin gerakan anti perbudakan bersama Boubacar Messaud (seorang mantan budak) yang dikejar-kejar Pemerintah Mauritania.

Akibat hidup serba dilayani Abdel memperoleh kesulitan ketika harus hidup sendiri. Suatu waktu, ketika kuliah pascasarjana di Perancis, Abdel melihat kantin sudah tutup dan memutuskan untuk membuat telur dadar sendiri . Dia letakkan telur, garam dan merica dalam panci dengan minyak. Tapi dia tidak memecahkan telur itu, katanya, dan seluruh ramuan itu pun “meledak.” ketika dipanaskan. Mencuci kaos kakipun tidak becus. Kalau kotor, dibuangnya ketempat sampah dan ganti dengan yang baru.

Ketika untuk pertama kalinya Abdel menyampaikan ide anti perbudakan kepada ayahnya, diluar dugaan, ayahnya setuju. Bahkan sang ayah pernah berusaha membebaskan salah seorang budaknya tapi yang dibebaskan justru menolak dan ingin tetap tinggal sebagai budak. Tetapi tidak demikian dengan ibunya. Ia mengatakan, perbudakan adalah tatanan alamiah. Jangan dipertanyakan lagi. “Itu adalah pemberian Tuhan kepada kita dan budak-budak itu mengasihi kita – mereka ingin tinggal bersama dan melayani kita. Apa dosa kita jika mereka mengasihi dan ingin melayani kita. Begitu pidato ibu Abdel. Sekarang, 47 tahun kemudian sudah banyak perubahan. Perbudakan di Mauritania sudah berulang-ulang dilarang, ditiadakan, dikutuk oleh Pemerintah Mauritania sendiri tetapi sangat sulit dalam prakteknya. Kendala utama diantaranya karena sulitnya menegakkan hukum dimana geografi negeri itu merupakan gurun yang luas. Kemiskinan negeri itu juga membuat budak-budak yang dibebaskan tidak memiliki prospek untuk hidup mandiri. Lagi pula budak-budak itu umumnya memandang kondisi mereka sebagai bagian dari tatanan alamiah, sudah kodrat mereka.

Belum lama ini Abdel dan Yebawa dipertemukan oleh wartawan televisi CNN di Nouakchott setelah lebih dari 10 tahun tidak saling berjumpa. Abdel pindah ke Pantai Gading, menghindari kejaran dan penangkapan oleh Pemerintah Mauritania kerena kampanye anti perbudakannya. Keduanya berpelukan dan berjabat tangan. Abdel menceritakan hahwa keluarganya telah menyatakan kemerdekaan bagi Yebawa bertahun-tahun yang lalu. Yebawa tidak bereaksi – matanya memandang ke kejauhan. Apa yang tidak diucapkan Yebawa pada pertemuan itu justru lebih penting daripada basa-basi yang ia ucapkan. Ketika Yebawa diwawancarai sendirian minggu berikutnya, ia menyatakan bingung dengan pertemuan itu. Dia tidak pernah benar-benar merasakan bahwa dia bebas. “Tidak terlalu penting,” katanya. Abdel sudah menduga respon itu. Dia menegaskan bahwa keluarganya telah memberitahu Yebawa saat itu bahwa dia benar-benar bebas, tetapi peryataan itu ternyata hilang terabaikan.

“Dia itu tetap merasa budak saya – kata-katanya tidak berbeda dulu maupun hari ini,” katanya. “Jadi, dengan Yebawa, saya gagal. Ya, itu jelas sebuah kegagalan.. Saya telah berhasil dengan orang lain, tapi tidak dengan Yebawa…..”

BEDA PANGKAL BENCI

BEDA PANGKAL BENCI

Oleh: Jum’an

Mike adalah instruktur saya ketika field-training di Texas di masa muda dulu. Kami bekerja bersama selama tiga bulan sehingga cukup saling mengenal. Suatu kali saya lihat dia turun dari taksi sambil membanting pintu dan memaki-maki sopirnya. Entah apa alasan dan perihal pertengkarannya; mana saya tahu ihwal orang Texas. Ketika saya bertanya apa sebabnya, jawabannya sungguh tak terduga: “He is Niger! That is why!” Niger adalah sebutan sinis orang kulit putih terhadap orang Negro pada saat itu yang sekarang berganti menjadi African-American sesuai dengan keinginan orang kulit hitam sendiri. Bagi Mike, saya tidak perlu tahu sebab-sebab pertengkarannya kecuali karena sopir taksi itu berkulit hitam. Itu sudah cukup! Hitam adalah biang kerok dalam otak Mike. Hitam adalah sumber segala mudarat. Perbedaan warna kulit, yang adalah kehendak Tuhan, bagi kebanyakan orang kulit putih Amerika adalah pangkal kebencian dan permusuhan sepanjang zaman.

Rasulullah wafat pada awal abad ke 7. Ketika harus menentukan siapa yang harus meneruskan kepemimpinannya (dibidang sosial dan politik) timbullah perbedaan. Sebagian menginginkan Abubakar Siddik dan sebagian lain menghendaki Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Keduanya adalah pejuang Islam generasi pertama yang sangat dekat dengan Rasulullah dan keduanya berakhlak mulia. Tidak ada perbedaan pendapat tentang agama diantara mereka. Mula-mula perbedaan itu tidak menimbulkan gejolak yang berarti. Tetapi lama-lama berubah menjadi kebencian dan permusuhan yang makin sengit dan menjurang. Kedua kelompok yang kemudian berkembang menjadi kaum Sunni dan kaum Syiah makin jauh terpisah dan mewariskan kebencian dan permusuhan mereka sampai sekarang. Adalah menyedihkan bahwa pertumpahan darah antara sesama umat Islam di Irak hari ini bersumber dari kebencian yang dipelihara selama 14 abad. Seandainya arwah kedua sahabat nabi yang selalu disebut oleh khotib setiap Jum’at itu bangkit hari ini, pasti mereka tidak percaya bahwa pertumpahan darah itu berasal dari perbedaan pandangan orang zaman dulu tentang mereka. Alangkah ironisnya. Sementara kita sudah saling berdamai dengan Belanda yang 350 tahun menjajah negeri kita, sementara permusuhan dalam dua kali Perang Dunia pun sudah hilang, kita justru semakin memperkuat permusuhan yang berasal dari 1,400 tahun yang lalu.

Dalam skala pibadi saya juga tidak ketinggalan. Memelihara kebencian dan permusuhan yang berpangkal dari perbedaan hal yang sama-sama baik. Junaidi adalah sahabat saya sejak mahasiswa. Kami sama-sama anggota organisasi mahasiswa dan Ormas Islam yang sama. Pendapat kami tentang berbagai hal boleh dikatakan sama. Katakanlah kami ini sama-sama moderat; tidak pernah memandang segala sesuatu secara berlebihan. Kami bersahabat sampai tua. Beberapa tahun yang lalu ia diajak isterinya mengikuti dan menjadi anggota pengajian yang rada njlimet kesufi-sufian. Sejak itu ia makin menjauh dari saya dan cara berbicaranya agak menggurui. Saya pun menjauh karena tidak suka digurui. Lama kelamaan kami benar-benar tidak suka satu sama lain. Saya merasa bahwa Junaidi bukan lagi Junaidi dulu yang ramah, toleran dan memahami orang lain. Tahun lalu ia menikahkan putri bungsunya dan saya tidak diundang, padahal anak itu menganggap saya sebagai pamannya. Nampaknya itu sebagai balas dendam karena lebaran sebelumnya saya tidak bersilaturahmi ke rumahnya. Bermula dari beda pengajian, persahabatan yang seingat saya “lillahi ta’ala” berpuluh tahun putus dan saya merasakan bahwa dia membenci saya sebagaiman saya juga tidak menyukainya lagi. Sampai mati? Entahlah!

Saya yakin, setidaknya dari satu sisi, bahwa perbedaan memang merupakan pangkal kebencian dan permusuhan. Semata-mata hanya karena berbeda. Beda suku, beda agama dan ras, semuanya sangat potensial untuk membangkitkan kebencian dan permusuhan. Bahwa perbedaan membawa rahmat saya juga percaya. Dari sisi yang lain lagi. Wallohu a’lam.

SELALU BERTEMU JALAN BUNTU

SELALU BERTEMU JALAN BUNTU

Oleh: Jum’an

Saya baru mengganti oli mesin mobil yang sudah berwarna hitam pekat karena sudah kelebihan 1000 km belum diganti. Karena tidak merasakan dampak kenyamanan mengemudi dengan oli baru, saya minta sopir memeriksanya. Tidak lama dia melapor: “Bapak belum ganti oli? Masih hitam begini!” katanya sambil mengoles-oles oli diantara telunjuk dan ibu-jarinya. Sopir-sopir lainpun ikut memeriksa. Empat orang semua sepakat menyatakan bahwa oli mobil saya tidak diganti. Jelas saya ditipu. Sakit sekali rasanya hati ditipu sebelum gajian. Saya pun bertekad untuk melabrak bengkel itu agar segera menggantinya dengan yang betul-betul baru. Kalau berkelit akan saya kutuk biar masuk neraka! Benar; mereka berkelit. Mandornya mengatakan warna olinya memang begitu. Montir yang mengerjakannya bahkan bersumpah bahwa ia tidak pernah berbohong, “kalau ya saya bilang ya kalau tidak saya bilang tidak”. Semua kompak mengatakan oli sudah diganti sementara saya dan sopir saya yakin belum. Karena tidak ada penyelesaian saya terpaksa mengalah, puas hanya dengan bersumpah tidak akan kesitu lagi untuk selamanya sambil merobek-robek kwitansi pembayarannya didepan mereka.

Hari berikutnya, dengan masih dendam dan penasaran, saya check ke bengkel langganan yang selama bertahun-tahun tidak pernah menipu saya. Mendengar keterangan saya, nyonya Sim pemilik bengkel langsung menyambar dan berpidato panjang lebar bahwa sekarang ini memang banyak bengkel besar yang suka menipu, mengoplos oli, dan tidak sdikit orang yang tertipu yang datang mengadu kebengkelnya. Sementara itu ada tiga orang montir memeriksa oli mobil saya dengan serius. Dilihat, dicium-cium baunya, dioles-oles sambil saling mencocokkan pendapat. Semua sependapat bahwa oli itu baru! “Saya kenal baunya Pak. Ini oli baru. Mungkin waktu mengganti agak kurang bersih menyemprotnya.” Entahlah! Dua pihak yang paling kompeten meyatakan pendapat yang saling berlawanan. Sayapun patah semangat pasrah dan mengikuti nasehat nyonya Sim: “Begini saja! Nanti, kalau sudah 1000 km, ganti olinya disini!” Padahal oli itu diperuntukkan 5000 km. Usaha mencari kejelasan soal ganti oli saja bisa kabur dan buntu begini, apalagi kejelasan tentang harga dan subsidi BBM. Fenomena mencari kebenaran dan keadilan yang kandas ditengah jalan memang selalu terjadi. Dari kasus yang sepele sampai korupsi skala besar.

Penyebabnya mungkin karena sisi lain dari sifat manusia adalah keinginan untuk tidak diadili. Manusia ingin tidak ada penghakiman baik terhadap keyakinan, pilihan gaya hidup, kehidupan seksual, penilaian moral maupun tingkah-laku pribadi. Manusia ingin agar dosa tidak usah dihukum, tanpa rasa bersalah tanpa konsekwensi. “Sesuatu adalah benar jika hal itu benar untuk anda. Apa yang salah bagi anda belum tentu salah bagi orang lain.” tidak ada yang mutlak dan tidak ada paradoks. Mungkin begitulah sebagian dari keinginan manusia.

Agama telah membuat garis tajam dan jelas yang memisahkan antara yang salah dan yang benar, yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan. Siapapun yang ingin mengikutinya dapat melihat garis itu dengan nyata. Tetapi garis tajam itu makin lama makin kabur. Atau tepatnya, manusia selalu berusaha untuk membuatnya kabur. Padahal kita sadar bahwa ada yang secara mutlak adalah benar dan secara mutlak adalah salah. Perkawinan antara sesama jenis adalah salah dan dosa; jangan hanya disebut sebagai “gaya hidup alternatif”. Itu merupakan tindakan menantang Tuhan. Berbohong, bersumpah palsu, menggelapkan fakta harus ada konsekwensi dan hukumannya. Tapi manusia cenderung menghindar dan memilih kompromi atau mengabaikannya.

Seiring dengan kemajuan peradaban manusia, sifat tidak ingin diadili seperti diatas, semakin mengkristal, disusun menjadi ideologi berikut organisasi, penyebaran dan pertahanannya. Yang meresahkan bahwa mereka menyusup kesemua lapisan dan golongan, bahkan kesemua agama. Mereka ada ditengah-tengah kita ummat Islam. Mereka ibarat gundik yang kita pelihara yang selalu mengajak berzina menodai kesucian dan kemurnian wahyu Illahi. Gundik-gundik yang bernama Islam Liberal atau Sekular. Tak ada dosa, tak ada penghakiman, serba kompromi. Jadi mengapa mencari kejelasan sepele tentang mengganti oli mobil atau mengadili kejahatan besar slalu menemui jalan buntu? Karena manusia memang tidak mau diadili; lebih baik kompromi.

SITI UMAYAH DAN WHITNEY HOUSTON

SITI UMAYAH DAN WHITNEY HOUSTON

Oleh: Jum’an

Siti Umayah jauh-jauh datang dari Gresik ke Desa Cukir, Diwek di Jombang untuk berziarah ke makam Gus Dur sekitar hari-hari pemakamannya awal Januari 2010 . Usai membaca Yashin, tahlil dan berdoa bersama banyak peziarah lain, tangannya menjumput segenggengam tanah dari gundukan makam yang belum kering itu. Yang lain memeluk nisan sambil menangis dan tidak lupa mengambil taburan bunga yang berserak diatas makam itu. Siti Umayah, wanita berjilbab dari Gresik itu mengatakan: “Insya Allah, dengan menyimpan tanah ini kami mendapatkan barokah.” yang lain mengaku tanah yang diambilnya akan digunakan untuk mengobati penyakit anaknya, ada pula yang mengaku sekedar untuk kenang-kenangan dari makam keramat. Begitu berita dari CyberNews. Gus Dur adalah keturunan berdarah biru, cucu K.H. Hasyim Asy’ari pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama dan pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Gus Dur adalah juga mantan ketua PBNU, serta Presiden R.I. ke 4. Kalau Siti Umayah yang menurut dugaan saya adalah warga NU yang taat, mengambil segenggam tanah dari pusara Gus Dur tidaklah mengherankan. Kemudian karena dikhawatirkan menebarkan syirik maka Gus Solah, adik kandung almarhum yang juga pimpinan pondok Tebuireng segera mengambil langkah-langkah pencegahan. Dalam era yang serba komersial seperti sekarang ini, makam dan wibawa para tokohpun dikemas dan dijual sebagai destinasi wisata rohani dan tempat para peziarah memburu berkah, jimat dan khasiat. Bukan itu saja konon debu tanah kuburan dalam dunia perdukunan merupakan jampi mujarab untuk mematikan bisnis seseorang. Entahlah dan nauzubillah.

Kepercayaan bahwa kuburan merupakan sumber kekuatan spiritual seperti itu sangat terasa dalam mayarakat kita. Mana ada orang bule mengharap keberuntungan dari segenggam tanah kuburan. Tetapi kalau orang tahu ada cincin berlian atau jam tangan Rolex dikubur bersama jasad pemiliknya, bukan saja perampok bule, penjahat dari manapun sangat berminat untuk menjarahnya.

Menurut berita setelah tersiar bahwa ratu pop Whitney Houston dikuburkan dengan mengenakan pakaian dan perhiasan senilai lebih dari $ 500.000 (lima milyar rupiah), keluarganya terpaksa menyewa penjaga keamanan bersenjata terus menerus untuk menjaga kuburannya dari kemungkinan ancaman para perampok serta pemburu memorabilia. Adalah Bobbi Kristina, anak perempuan yang juga pecandu narkoba seperti ibunya yang memilihkan pakaian yang sepantasnya dikenakan dan perhiasan yang dipakai dan dibawa kedalam kubur oleh sang ibu Whitney Houton. Ia di dandani dengan mengenakan gaun ungu kesayangannya semasa hidup, sebuah bros berlian, sepasang anting berlian seharga dua milyar yang ia beli sendiri dari honor perannya dalam film “The Bodyguard”, sepasang sandal berlapis emas, kalung emas dan salib dari batu merah delima. Ia dibaringkan dalam peti mati berharga ratusan juta rupiah karena tepi-tepinya berlapis emas. Whitney Houston yang semasa hidupnya terkenal melalui film “The Bodygurad” ternyata masih tetap membutuhkan pengawal bersenjata untuk menjaga kuburannya.

Berita kematian Whitney Houston selama satu minggu pertama semua berisi pujian dan sanjungan terhadap penyanyi tenar itu. Bahkan acara di gereja tempat kelahirannya mengesankan penghormatan untuk seorang tokoh wanita yang solehah dan penuh jasa. Baru pada hari-hari berikutnya muncul berita-berita yang sebaliknya. Bahwa dia meninggal tenggelam dikamar mandi karena mengkonsumsi Xanax dan obat-obatan lain yang dicampur dengan alkohol. Dan dikamar hotelnya juga diketemukan Valium, Lorazepam dan obat-obat lain yang tidak disebutkan namanya demi menjaga nama baik pabrik farmasi pembuatnya. Bahwa Bobbi Kristina anak perempuannya juga mempunyai kecederungan yang sama. Bahwa Whitney suka betindak kasar dan tidak senonoh terhadap siapapun bila sedang mabuk, dan sederet kelakuan buruk lainnya.

Siti Umayah dari Gresik memburu berkah dari makam Gus Dur sementara para perampok di New Jersey menunggu para penjaga makam Whitney Houston lengah, mengincar emas dan berlian seharga lima milyar. Sama-sama berburu.