Bulan: Desember 2013

KESAHAJAAN SEORANG MUJAHID

Image

KESAHAJAAN SEORANG MUJAHID

Oleh: Jum’an

 

Zainal Abidin Muhamad Husain Abu Zubaidah atau Abu Zubaidah atau Zain atau Hani adalah tokoh Al-Qaeda yang sekarang berumur 42 tahun dan sudah lebih dari 10 tahun berada dalam kamp tahahan Guantanamo, Cuba. Menurut versi Amerika Abu Zubaidah adalah dedengkot teroris yang sangat berbahaya. Ia dinyatakan sebagai orang nomor 3 dalam Al-Qaeda. Menurut dokumen Departemen Pertahanan Abu Zubaidah terlibat dalam semua perencanaan aksi teror terhadap Amerika ketika ia menjadi petugas logistik Al Qaeda. Ia adalah konspirator serangan 11 September 2001, tangannya ada di setiap operasi penting Al–Qaeda. PBB menjulukinya rekan terkemuka Osama bin Laden dan Al-Qaeda. George Bush menamai Abu Zubaidah pimpinan perencanaan operasi pembunuhan dan penghacuran.” CIA mengakui Abu Zubaidah adalah sosok yg penuh keyakinan, percaya diri dan berwibawa. Selama interogasi pada zaman Bush berkuasa, Abu Zubaidah menjalani 83 kali siksaan water-boarding dan mengalami banyak teknik interogasi yang kejam termasuk penelanjangan paksa, kurang tidur, disekap diruang sempit dan gelap, tidak diberi makan, posisi stres dan siksaan fisik lainnya.

Belum lama ini Jason Leopold dari Aljazeera menerima terjemahan resmi buku harian milik Abu Zubaidah dari seorang mantan pejabat intelijen Amerika. Buku harian enam jilid yang ditulis selama 20 tahun itu ditemukan ketika Abu Zubaidah ditangkap pada 2002 di Pakistan. Bagi pejabat keamanan Amerika buku harian Abu Zbaidah merupakan sumber informasi yang sangat berharga untuk menemukan kelemahan mental dari tokoh yang menurut mereka memegang informasi penting rencana masa depan Al-Qaeda. Buku harian ini tidak hanya penting dari segi intelejen, karena isinya menunjukkan potret paling rinci dari kehidupan pribadi seorang mujahid berdedikasi yang pernah kita lihat. Isinya memperkuat kejelasan bahwa Amerika telah membuat kesalahan dasar yang signifikan dalam menghadapi peristiwa serangan 11 September 2001 dan menghadapi ancaman Islam radikal. Hani, nama panggilan Abu Zubaidah dalam keluarganya, adalah warga Palestina kelahiran Riyadh 12 Maret 1971. Anak ke 5 dari 10 bersaudara – 5 laki-laki dan 5 perempuan dari suami-istri Muhamad Abu Zubaidah (pengusaha kelas menengah dan guru bahasa Arab) dan Malikah;  Sang ayah ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dan menekankan pentingnya pendidikan. Hani dikuliahkan di Fakultas Teknik jurusan komputer di India. Menurut adiknya Hisham, Hani sehari-hari mengenakan bluejean yang merisaukan ayahnya, yang menginginkan anak-anaknya berpakaian tradisional Arab. Hani juga berbakat musik dan pelindung Hisyam dari kenakalan teman-temannya. “Hani adalah kakak yang baik,” kata Hisyam. “Dia selalu ada ketika saya butuh pertolongan. Jika anak-anak lebih tua mulai mempermainkan saya waktu bermain sepak-bola, Hani datang menantang mereka. Hani selalu menekankan agar saya jangan mau dipermainkan orang lain.” Menurut  Hisyam, Hani tidak menunjukkan tanda-tanda ekstrimisme agama (Menurut versi Amerika dia termasuk pemuda Islam Saudi yang radikal). “Dia tidak pernah religius,” kata Hisyam. “Dia suka merokok, bermain musik dan bersenang-senang.” Hani lulus SMA dan meninggalkan Saudi pada umur 16 tahun dan sejak itu terpisah hingga kini. “Saya dan Hani adalah kambing hitam keluarga,” kata Hisyam. “Semua saudara-saudara saya yang lain adalah dokter, profesor, psikolog. Aku tidak mampu bersaing dengan mereka.” Ketika remaja Hani pernah pindah ke West-Bank bergabung dalam perjuangan melawan Israel. Abu Zubaidah telah bergabung dengan Taliban sebagai sejak awal 90-an, setelah mundurnya Soviet dari Afganistan dan tetap berada disana bersama Mujahidin melawan pemberontak komunis dan sisa-sisa mantan rezim Soviet, dan belakangan memimpin kamp pelatihan Al-Qaeda di Khalden Afganistan.

Tergantung orang menyebutnya, Teroris ataupun Mujahid, bukanlah superman, mereka bukan ahli taktik yang brilian atau prajurit yang sangat terlatih. Seringkali mereka adalah orang-orang sederhana yang berdebat dengan satu sama lain tetang hal-hal remeh, seperti terbaca dalam buku harian Hani. Tetapi Amerika menghadapinya secara all-out dengan biaya keuangan dan politik yang sangat besar.  Buku harian Hani mengungkapkan bahwa dia adalah seorang pria yang sangat anti Amerika, sekaligus menyenangi budaya Barat seperti music pop dan soft-drink. Setelah invasi AS ke Afghanistan 2001, Abu Zubaidah mencatat “Saya ingin melihat kejatuhan dan kehancuran Amerika dan Israel. Musuh-musuh Islam yang menduduki negeri kami, menghina bangsa kami, dan tdak menghargai agama kami.” Belum pernah terpikir dalam benak Amerika bahwa seorang penggemar Pepsi Cola dan lagu-lagu Barat bersedia melakukan tidakan yang begitu berani dan yakin disetujui oleh iman mereka. Ken Ballen, penasehat think tank Terror Free Tomorrow mengatakan: “Jika kita tidak mengerti apa yang memotivasi orang, bagaimana kita akan efektif berurusan dengan mereka? Jika kita dapat memahami, kita dapat menanggapi. Menyerbu Afganistan tidak sedikitpun mencegah serangan lebih lanjut. Perang Irak yang sangat mahal juga kontraproduktif.”

Hani sangat menyukai lagu-lagu Chris de Burgh, penyanyi Irlandia terutama lagu “The Lady in Red”. Ia mengeluhkan bahwa lagu-lagu Chris membuatnya merasa haru – meskipun lembut dan indah tetapi membawa kesedihan dan kegelisahan jiwa, tulisnya pada 1990 dalam buku hariannya yang pertama. Hani juga penggemar film-film India. Ia menulis bahwa film Rambo III – di mana Sylvester Stallone bergabung dengan pasukan Afghanistan untuk melawan Soviet – adalah konyol…. saya tak kuat menawan tawa menonton film ini. Dia juga sering menulis tentang keluarganya dan kerinduan yang mendalam untuk mempunyai istri dan keluarga sendiri – sesuatu yang tidak sejajar dengan gairahnya mencari kesyahidan. Suatu kali ia membayangkan hidup berumah tangga, bermain dan menyayangi anaknya dan bahkan menamparnya bila perlu. “Ya! Menamparnya, kenapa tidak?” Pada tanggal 20 Maret 2002, Abu Zubaidah menulis catatan harian terakhirnya: “Tidak ada yang baru.” Delapan hari kemudian, tepat pukul 2 pagi, CIA, FBI dan intelijen Pakistan menggerebek 14 rumah di Faisalabad, Pakistan, dan menangkap 52 tersangka, termasuk Abu Zubaidah.

Setelah bertahun-tahun Amerika melihat Abu Zubaidah sebagai tokoh utama bahkan orang nomor 3 dalam Al-Qaeda, pada 2007 CIA menyatakan menyadari bahwa Abu Zubaidah tidaklah signifikan: “Maaf, kami menemukan bahwa anda bukan Nomor 3, bukan mitra, bahkan bukan seorang pejuang,” Menurut pengacara Brent Mickum dari The Guardian, ”Dia tidak pernah terbukti menjadi anggota Taliban atau Al-Qaeda ataupun menjadi anggota atau pendukung dari angkatan bersenjata yang bersekutu melawan Amerika.” Tidak menghargai kesahajaan mereka telah membuat Amerika salah membayangkan mereka yang sebenarnya. Jika anda membaca buku harian Abu Zubaidah, ternyata mereka adalah laki-laki biasa.

SEBERAPA SETIA ANDA PADA NEGARA?

Image

SEBERAPA SETIA ANDA PADA NEGARA?

Oleh: Jum’an

Filosof Yunani Socrates (469 SM – 399 SM) suka mempertanyakan hal-hal yang aneh dan menjengkelkan yang mengganggu pandangan yang sudah mapan, terus menerus menantang para penguasa. Orang yang wajahnya tidak tampan, bertubuh gempal dan tidak pernah memakai alas kaki ini, berkeliling kemana-mana menanyai para pemuda serta masyarakat  tentang keadilan dan kebijaksanaan. Perilakunya itu membangkitkan kebencian para penguasa kepadanya yang menyebutnya sebagai lalat yang usil.  Kebencian akhirnya memuncak dan Socrates ditangkap dan diadili didepan 500 orang juri kota Athena. Ia diadili dengan tiga tuduhan yaitu meracuni pikiran generasi muda, tidak mempercayai para dewa dan memperkenalkan agama baru. Juri menjatuhkan hukuman mati dengan meminum racun setelah dilakukan voting yang hasilnya 280 setuju dan 220 menolak. Sementara menunggu eksekusi, diruang tahanan ia bertemu dengan sahabatnya Crito yang menawarkan bantuan untuk melarikan diri dari tahanan karena keputusan hukuman mati itu dianggapnya sangat tidak adil dan sarat dengan kepentingan politik. Socrates menolak dengan alasan bahwa merespon ketidak-adilan dengan ketidak-adilan adalah salah. Inilah argumentasi Crito: Jika eksekusi sampai terlaksana , orang akan mengatakan bahwa Crito dan teman-temannya tidak mampu menolong Socrates yang sebenarnya mempunyai banyak pendukung. Dari segi moral tidak adil kalau Socrates mengikuti kehendak musuh-musuhnya karena itu merupakan pilihan termudah, bukan pilihan yang berani, terhormat dan luhur. Ini adalah jalan kematian yang tidak adil. Socrates adalah pengecut jika tidak melawan. Sebagai seorang ayah Socrates juga wajib memelihara dan mendidik tiga orang anaknya serta mencegah agar mereka tidak menjadi anak yatim. Jika itu terjadi berarti Sicrates mengkhianati anak-anaknya. Pokoknya kegagalan untuk melarikan diri dari tahanan akan sangat konyol kerena teman-teman Socrates tidak becus menangai masalah, pengecut dan memalukan.

Socrates menjawab bahwa ia harus mengikuti bimbingan akal dengan argumentasi yang direnungkan dengan matang. Ia berpendapat, jika melakukan ketidak-adilan adalah tidak baik, maka tidak baik juga melakukan ketidak-adilan dalam menanggapi ketidak-adilan. Crito setuju; tapi itu belum menjawab apakah adil atau tidak bagi Socrates untuk melarikan diri dari tahanan. Lalu Socrates mempertanyakan apa kata hukum negara seandainya ia berhasil melarikan diri. Menurut Socrates hukum akan mengatakan bahwa pelarian dirinya adalah merusak dan tidak adil. Selanjutnya hukum negara akan mengatakan bahwa hubungan antara warga dengan negara adalah seperti anak dengan orang tuanya, seperti budak dengan tuannya. Hukum akan mengatakan bahwa negara telah memberikan kepada Socrates kelahiran, pengasuhan pendidikan dan keikut-sertaan dalam semua manfaat dan kebaikan yang disediakan bagi semua warga. Hukum akan menanyakan bukankah Socrates telah sepakat menjadi seorang warga negara berdasarkan persyaratan yang ditetapkan. Socrates tidak menyatakan bahwa ia puas dengan jawaban hukum ini, malah justru bertanya kepada Crito apakah mereka tidak harus menerimanya saja. Crito mengatakan mereka harus menerimanya saja …… dan begitulah Socrates di eksekusi dengan meminum racun pada usia 70 th.

Orang Amerika dapat meninggalkan kewarganegaraan mereka secara sukarela; yang dikenal dengan tindakan ekspatriasi. Dari 2011 sampai kwartal ketiga 2013 tercatat 2400 orang melepaskan kewarga-negaraan mereka dan terus meningkat dari tahun ketahun. Kebanyakan mereka adalah orang kaya dengan alasan menghindari pajak yang terlalu berat. Seseorang tentunya berhak untuk bertindak sesuai denan cara yang menguntungkan dirinya. Orang kaya yang melepaskan kewarga-negaraannya demi pajak berpendapat mereka berhak melakukannya demi keuntungan mereka dan itu adalah kalkulasi yang rasional. Penghematan pajak sangat berarti bagi orang kaya, terutama jika mereka tidak terlalu membutuhkan kelebihan sebagai warga negara Amerika, atau mereka bisa mendapat keuntungan yang sebanding dg menjadi warga negara lain yg pajaknya tidak terlalu memberatkan. Sebenarnya orang kaya tidak terlalu menderita oleh pajak yg tinggi. Umumnya mereka mahir merekayasa peraturan pajak yg rumit untuk mengelak. Lagipula melepaskan kewarga-negaraan Amerika bukan hal yang ringan. Mereka tidak hanya kehilangan perlindungan dari pemerintah AS, tapi juga keuntungan finansial tidak segera dirasakan. Bahkan, mantan warga negara AS diharuskan untuk mengajukan pengembalian pajak selama beberapa tahun setelah melepaskan kewarga-negaraan. Mungkin mereka berpikir, meskipun begitu masih lebih menguntungkan dibanding menjadi warga Negara Amerika. Buktinya sudah sejak lama orang-orang kaya disana melepaskan kewarganegaraan mereka.

Tetapi rasanya melepaskan kewarga-negaraan, lebih-lebih demi uang (siapapun termasuk kita) secara moral mencurigakan. Dimana  patriotisme dan nasionalisme mereka? Dimana rasa persatuan dan kesetiaan mereka kepada negara? Belum lagi tuduhan sebagai orang yang egois. Apakah anda lebih menyukai sikap Socrates yang menganggap hubungan antara warga dengan negaranya seperti anak dengan orang tuanya atau bahkan budak dengan tuannya sehingga melepaskan kewarga-negaraan berarti mengkhianati orang tua yang telah mengasuh dan membesarkan anda? Atau seperti orang kaya Amerika yang menganggap hubungan antara warga dengan negaranya adalah hubungan bisnis belaka, bahwa warga negara pada dasarnya adalah pelanggan? 

BENARKAH DOSA MENGUNDANG BENCANA?

Image

BENARKAH DOSA MENGUNDANG BENCANA?

Oleh: Jum’an

Kita sama-sama mengetahui bahwa cuaca buruk di muka bumi makin sering terjadi dan bertambah mengerikan. Peningkatan ini pastilah ada asal-usul dan sebab musababnya. Entah kehendak Allah untuk menghukum manusia atas dosa-dosanya yang semakin beragam dan menggila atau akibat ulah manusia yang merusak alam dan merangsang terjadinya banjir dan badai. Meskipun tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa tsunami yang melanda Aceh pada 2004 atau topan raksasa Haiyan di Filipina akhir-akhir ini adalah akibat dari perbuatan manusia merusak alam, tetapi para ahli percaya bahwa aktivitas manusia merupakan kekuatan utama di balik perubahan iklim dan perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak badai dahsyat seperti Haiyan, Sandy dan Phailin. Anggapan bahwa bencana yang mengerikan, seperti angin topan, gempa maupun tsunami adalah tindakan Tuhan untuk mengingatkan atau menghukum umat manusia, banyak dipercayai oleh kaum beragama baik Islam, Yahudi maupun Nasrani. Di Barat dan di Timur, di negeri maju maupun di negeri terbelakang. Tidak hanya sekali saya mendengar khotib solat Jum’at yang menyatakan dengan nada menuduh bahwa masyarakat Aceh yang bergelar Serambi Mekah telah meninggalkan agamanya, hilang iman mereka dan karena itu Allah menurunkan bencana bagi mereka. Ada pula ulama Iran yang menyatakan bahwa wanita yang berpakaian tidak sopan dan berperilaku sembarangan yang seharusnya dipersalahkan atas terjadinya gempa. Menyingkap Kerudung Mengundang Gempa. Di negeri Barat banyak tokoh agama Yahudi maupun Nasrani yang meyakini bahwa gempa besar yang terjadi adalah akibat dari kegiatan-kegiatan homoseksual (perkawinan sesama jenis) yang menentang fitrah manusia atau kehendak Tuhan. Cobalah Google “homosex and earthquake” andapun akan tahu.

Ketika terjadi gempa dahsyat di Lisbon 250 tahun lalu, ketegangan antara kaum agama dan para intelektual memuncak. Inilah sekelumit kisah gempa dahsyat dan ketegangan itu: Tanggal 1 November tahun 1755 jatuh pada hari Minggu. Pagi hari itu cuaca di Lisbon ibukota Portugal sangat cerah dan hangat. Lisbon merupakan salah satu pelabuhan paling penting dan terkaya di Eropa pada saat itu. Penduduknya yang terkenal relijius sedang merayakan “Hari Semua Orang Kudus” (All Saint’s Day) dengan penuh gairah. Gereja-gereja dipenuhi jemaat pengunjung. Pukul 9.30 pagi terjadi getaran gempa yang lemah yang disusul dengan suara gemuruh yang makin keras dan makin keras, sampai menyerupai dentuman meriam dan terjadilah guncangan dahsyat yang pertama. Pada 09:40 semua lonceng kota berbunyi bersamaan karena guncangan gempa dan beberapa detik kemudian gedung-gedung mulai runtuh. Tiga guncangan besar berturut-turut terjadi selama 10 menit berikutnya, kebanyakan orang tewas akibat runtuhnya gereja-gereja yang penuh pengunjung yg sedang mengikuti misa kedua pagi hari itu.

Orang-orang melarikan diri ke arah pelabuhan di mana ada lapangan istana yang luas untuk perlindungan yg aman dari reruntuhan bangunan. Di sana mereka menyaksikan kejadian yang sangat aneh: Laut surut dan berubah menjadi daratan dan sungai Tagus kering sampai kedasar. Jam 10 lebih 10, gelombang tsunami setinggi 12 meter melanda kota dan menghancurkan seluruh pelabuhan; ribuan orang yang berada di sepanjang pantai tewas ditelan ombak. Setelah gempa dan tsunami reda, kebakaran yang mengerikan terjadi, berkobar selama lima hari lima malam menghancurkan apa yang masih disisakan oleh gempa dan tsunami. Akhirnya lebih dari tiga perempat kota rata dengan tanah, sekitar 90,000 dari 275,000 penduduk tewas. Gempa yang terjadi pada hari raya umat Katolik dan menghancurkan hampir seluruh gereja dikota Lisbon yang relijius itu sangat mengguncang kehidupan spiritual dan intelektual bangsa Eropah.

Banyak tokoh agama dan pendeta, seperti biasa menyebut gempa itu sebagai kemarahan dan hukuman Tuhan terhadap dosa-dosa manusia.Tetapi para intelektual waktu itu, seperti ahli filsafat Voltaire dan Jean Jacques Rousseau, menolak pendapat gempa sebagai hukuman Tuhan tetapi menyebutnya sebagai kejadian alam yang netral. Sekarang, dua setengan abad kemudian kita tahu bahwa kulit bumi merupakan lempeng-lempeng tektonik yang mengambang di atas magma cair. Gempa bumi terjadi karena pergeseran antar lempeng-lempeng ini.Teori lempeng tektonik merupakan tulang punggung geologi modern dan dapat menjelaskan hampir semua pristiwa gempa besar didunia.

Menurut sejarah, manusia baru menghuni bumi beberapa ratus ribu tahun terakhir, sedangkan badai, gempa dan letusan gunung berapi telah berlangsung selama 4 miliar tahun atau lebih. Bagaimana mungkin akhlak masyarakat Aceh dikait-kaitkan sebagai penyebab gempa yang sudah berjalan milyaran tahun? Keyakinan kita tetap, bahwa Allah adalah sumber hukum yang mengendalikan fenomena alam – tetapi sangat tidak relevan untuk mengatakan bahwa gempa Aceh 2004 disebakan oleh dosa-dosa masyarakatnya. Apapun pendapat kita, sikap yang jelas lebih bermanfaat adalah berusaha mengurangi korban yang jatuh karena bencana alam itu. Jika kita ingin menyelamatkan nyawa mereka, sangat penting bagi kita memahami ilmu dibalik gempa bumi, meteorologi dan klimatologi daripada mencari-cari dosa orang-orang yang sedang haus pertolongan. Wallohu a’lam.