Bulan: April 2011

MANG TASLIM DAN MACGYVER

MANG TASLIM DAN MACGYVER.

Oleh: Jum’an

Saya mempunyai sebuah kursi dengan jok dan sandaran tetapi tanpa kaki. Enak untuk duduk diatas tempat tidur dengan kaki menjulur sambil memangku laptop. Sayang sebentar saja pangkuan terasa panas karena tidak punya tatakan untuk peyangga laptop. Ketika saya ceritakan hal itu kepada Mang Taslim, ia menawarkan solusi: Nanti saya buatkan Pak! Mang Taslim adalah MacGyver kami dikantor. Dia adalah mandor dibagian gudang dengan tugas multi-fungsi. Dia pandai membuat macam-macam perkakas dari barang-barang yang ada disekitarnya seperti MacGyver membuat senjata dari potongan pipa, paku, paper klip dan selotip. Pagi hari berikutnya ia melapor: Barangnya sudah jadi Pak. Hasilnya sebuah tatakan seperti yang saya inginkan tetapi tidak seringan dan sebagus buatan pabrik yang dijual di Ace Hardware (kalau ada). Dibuat dari papan bekas palet atau kemasan lain. Karena mudah diperoleh, karena gratis dan karena hanya itu yang tersedia maka papan bekas menjadi pilihan satu-satunya. Kalau mencari yang enteng, bagus, efisien dan estetis dan ada uang, saya tidak menyebut-nyebut Mang Taslim dan MacGyver.

Bukan hanya tatakan laptop saya saja yang berasal dari bahan seadanya. Sebagian dari kita kaum karyawan, bukanlah hasil seleksi mutu yang ketat. Sama dengan perkakas dari papan bekas buatan Mang Taslim. Tidak efektif, tidak efisien dan tidak mengharumkan nama perusahaan sedikitpun. Ketika bekerja dibagian produksi disebuah pabrik plastik saya mempunyai seorang anak buah yang saya yakin berasal dari papan bekas. Bodoh, ngeyel, sok pintar, melantur, selalu punya alasan kalau berbuat salah, tidak pernah memenuhi tugas dengan baik. Suka mengambil inisiatif sendiri dan hampir selalu keliru. Sangat menjengkelkan. Dia tidak faham bahasa Inggris sedikitpun, ia hanya menguasai satu bahasa dan itu bukan bahasa Indonesia tapi bahasa Betawi. Saya sudah beberapa kali berniat memecatnya tetapi selalu saya tunda karena ragu-ragu, sampai suatu saat habislah kesabaran saya. Alkisah sehari sebelum saya putuskan, saya jatuh sakit. Diluar dugaan dia dengan tulus menunggui saya dirumah sakit pada tiap kesempatan. Dia memijit kaki saya, menuntun saya kekamar mandi, mengantar dan mebantu keluarga saya, membantu apa saja tanpa enggan sedikitpun. Dua minggu berturut-turut. Maka luluhlah hati dan sirnalah kebencian saya. Saya meneteska air mata dan bersumpah dalam hati untuk tidak memecatnya sampai kapanpun. Dia orang baik.

Saya mulai bertanya-tanya apakah saya bukan dari papan bekas juga? Yang jelas saya bukan yang paling efektif dan efisien, tidak pula mengharumkan nama perusahaan. Saya juga banyak mencuri waktu untuk kesenangan pribadi meskipun saya mengira tidak ada yang tahu. Mungkin mereka berbisik-bisik tentang aib saya. Mereka hanya pura-pura tidak melihatnya. Mungkin kita sama-sama dari papan bekas, hanya saya tidak pernah mau berpura-pura menutup mata untuk melupakan cacat anak buah dan mencoba melihat kebaikannya. Kuman diseberang lautan selalu nampak tetapi gajah dipelupuk mata tidak. Sebenarnya dunia ini untuk siapa? Untuk orang-orang pandai, sehat, sopan dan efisien saja? Tentu tidak! Untuk kita semua: yang menjengkelkan, yang frustrasi, yang melantur, yang bodoh dan yang sakit, semua-muanya!

Betapa besarpun keuntungan kita dari kerja keras dan efisien, masih lebih besar lagi penderitaan orang-orang lemah yang kita campakkan. Hanya untuk mengingatkan bahwa dunia ini milik kita bersama yang kuat dan yang lemah, yang pandai dan yang bodoh. Ingat papan bekaspun bisa jadi macam-macam perkakas, MacGyver pun butuh pipa bekas dan selotip untuk membuat senjata, mengapa kita begitu bersemangat dan bangga ketika memecat bawahan demi efisiensi?

Iklan

BERAGAMA DENGAN RENDAH HATI

BERAGAMA DENGAN RENDAH HATI

Oleh: Jum’an

Memposting tulisan seperti ini membawa risiko. Kalau ingin menjaga nama baik atau jabatan kita harus pandai-pandai menutupi hal-hal pribadi yang tidak disukai orang banyak. Semua orang dapat dipastikan mempunyai kelemahan seperti itu. Menutupi kelemahan adalah satu dari risiko jabatan. Saya beruntung tidak mempunyai jabatan yang menjadi sorotan orang banyak sehingga tidak besar risikonya kalau kelemahan saya diketahui orang. Suka ngutang kalau makan diwarung atau apapun. Selama ini saya merasa banyak teman sepergaulan yang salah sangka tentang diri saya. Bukan soal baik atau buruk tetapi tentang sikap keagamaan saya. Kalau salah seorang mereka sedang menceramahi saya masalah agama, biasanya saya hanya diam, mendengarkan dengan tekun sambil sekali-sekali menganggukkan kepala. Saya rasakan sikap itu telah mengakibatkan mereka menyangka bahwa saya sependapat dengan mereka. Padahal sambil diam mungkin saja saya berkata dalam hati: Ah itu kan menurut kamu! Sambil mengangguk hati saya berkata: Oo begitu pendapatmu; silahkan saja! Mungkin mereka senang bersahabat dengan saya karena mengira saya berada dipihaknya. Saya bersikap demikian bukan untuk mengelabuhi mereka. Alasan utamanya karena saya tidak pandai berdebat dan berargumentasi, kalau saya lakukan itu muka saya cepat menjadi merah, dada berdebar-debar dan nafas tak teratur. Apalagi dengan makin banyaknya orang yang berfikiran ekstrim dan tidak proporsional. Diam dan merendahkan diri merupakan pilihan saya yang paling sesuai setidaknya sebagai semboyan dan wacana. Selain dapat menghindarkan perpecahan juga lebih menunjukkan kesabaran dan ketenangan. Saya lebih suka hidup beragama dengan rendah hati. Bukan yang gagah berani, demonstratif apalagi agresif. Adakah tempat bagi saya?

Nanti dulu! Kalau umat Islam seperti kamu semua, celaka kita! Siapa yang akan memberantas kemaksiatan, memerangi orang kafir dan memperjuangkan ideologi Islam. Bagaimanapun saya harus mengakui bahwa beragama dengan rendah hati bukanlah satu-satunya pilihan yang tersedia. Siapa yang akan memerangi orang kafir tentu jutaan orang sudah siap sedia. Begitu juga yang siap memberantas kemaksiatan dan memperjuangkan ideologi. Berdebat tentang hukum bersalaman dengan orang Kristen saja saya enggan, apalagi berperang. Tapi banyak orang akan menganggap beragama dengan rendah hati merupakan indikasi lemahnya iman dan sempitnya wawasan. Dalam “suasana perang dan gawat” seperti sekarang umat Islam harus unjuk kekuatan supaya jangan dilecehkan! Mungkin itulah masalahnya. Sebagian orang merasa dirinya dalam suasana perang dan berada difront terdepan sementara sebagian yang lain tidak melihat situasi segawat itu. Negri indah ini adalah tempat tinggal bagi kita untuk selamanya. Mari kita menikmatinya dengan beriman dan berislam yang sejuk dan rendah hati. Jangan pula dikira bahwa beragama dengan rendah hati adalah tanda sempitnya wawasan, ibarat katak dalam tempurung.

Dengan rendah hati orang lebih sempat memasang mata dan telinga, apalagi dizaman informasi instan sekarang ini. Sadirun, seorang pegawai negri sipil dengan baju kusut dan gaji pas-pasan adalah contoh orang yang beragama dengan rendah hati yang saya kenal. Ternyata dia tahu banyak tentang pendeta Terry Jones dan hari pembakaran Qur’an sedunia, penderitaan umat Islam di berbagai belahan dunia, situasi terakhir di Gaza, dan dia mengikuti informasi tentang situasi umat Islam didalam negri. Saya berkesimpulan bahwa beragama dengan rendah hati bukanlah indikasi ketidak pedulian ataupun kesempitan wawasan. Tentang iman yang lemah, kita sama-sama tahu hanya Alloh yang tahu kadar keimanan seseorang. Saya duga banyak orang diluar sana yang mencibir. Tidak apa-apa saya toh bukan siapa-siapa.

MENJANGKAU KEABADIAN

MENJANGKAU KEABADIAN

Oleh: Jum’an

Sejak bekerja di Jakarta puluhan tahun yang lalu, sehari-hari saya tetap berbahasa daerah dengan keluarga saya. Saya selalu menghadiri arisan perkumpulan warga Banyumas di Jakarta yang diselenggarakan dalam bahasa daerah. Saya merasa bangga bahwa kebanyumasan saya tidak pernah luntur. Sebenarnya didalam rasa bangga itu terselip kekhawatiran dihati bahwa budaya daerah ini suatu waktu nanti akan hilang ditinggalkan oleh para pewarisnya. Anak-anak orang Banyumas yang lahir di Jakarta hampir tidak ada yang suka dengan bahasa Banyumas karena kasar dan tidak enak didengar, kata mereka. Mereka juga tidak menyukai makanan daerah yang kami puji-puji. Era globalisasi telah membuat generasi muda di Banyumas tidak lagi menyukai tontonan tradisional seperti wayang, ebeg atau lengger dan memilih Amerian Idol dan tontonan lain yang lebih segar. Atraksi kesenian daerah kebanyakan hanya diadakan sebagai kelengkapan promosi pawarisata dan komersial. Mungkinkah bahwa cita-cita melestarikan budaya daerah, suku atau bangsa memang merupakan penjelmaan dari rasa khawatir generasi tua akan punahnya kebudayaan mereka? Semangat hidup masa kini tidak sesuai untuk menampung ambisi seperti itu. Bukankah kaisar demi kaisar, budaya demi budaya pernah muncul dan berjaya, lalu memudar dan hilang.

Bangsa Minoa yang hidup pada abad 25 sebelum Masehi banyak sekali meninggalkan prasasti yang ditulis diatas lempeng-lempeng dari tanah liat dengan tujuan agar budaya mereka dimengerti dan diingat sepanjang masa. Sayangnya bahasa yang mereka gunakan mati ditelan zaman sehingga kita tak tahu apa yang ingin mereka sampaikan. Menjaga dan menyimpan informasi memang merupakan persoalan dari zaman kezaman. Sementara informasi yang ditulis diatas kertas perkamen atau diukir diatas batu dapat bertahan ribuan tahun, data digital masa kini hanya dapat bertahan beberapa tahun saja. Uni Eropa kabarnya kehilangan informasi senilai lebih dari 3 milyar Euro setiap tahun disebabkan umur teknologi penyimpanan yang terlanjur usang. Format file digital rata-rata memiliki jangka waktu 5 – 7 tahun sedangkan perangkat penyimpanan data seperti CD dan DVD, Hard Disk hanya mampu bertahan selama 20 tahun. Terakhir muncul sejumlah website yang menawarkan jasa penyimpanan data yang disebut cloud storage. Simpan data penting anda dalam website kami! Anda bisa mengaksesnya dari mana saja, kapan saja, untuk selamanya! “We ensure that photos and videos truly last forever”. Dengan yakinnya mereka menjamin bahwa data kita akan aman untuk selamanya. Padahal untuk selamanya itu sangat lama. Awal bulan Maret 2011 ini fotopic.net sebuah website Inggris yang mengelola jasa sejenis telah tutup dan nasib foto-foto dan video yang disimpan disana menjadi tidak jelas.

Dua bulan yang lalu sulit untuk membayangkan bahwa Jepang akan dilanda oleh musibah nuklir separah Chernobyl. Belum pernah sebelumnya orang mengkait-kaitkan reaktor nuklir dengan gempa bumi. Kanselir Jerman Angela Markel pun terperanjat dan buru-buru menginstruksikan untuk meningkatkan standar keamanan reaktor-reaktor nuklirnya. Ia mengatakan musibah nuklir Fukushima sebagai titik balik bagi dunia. Bagi orang awam seperti saya kesan yang paling membekas dihati setelah meyaksikan gempa dan tsunami di Jepang adalah betapa rapuhnya keberadaan manusia. Melestarikan kebudayaan, menjangkau keabadian adalah naïf. Nothing lasts forever. Kullu man alaiha faan, kata surat Ar-Rahman.

SAKITNYA MENAHAN KESEDIHAN

SAKITNYA MENAHAN KESEDIHAN

Oleh: Jum’an

Hidup bahagia untuk selamanya. Itulah obsesi kita, karena bahagia membangkitkan gairah menghilangkan kecemasan dan meringankan penderitaan. Jauhkan kesedihan karena bersedih itu bukan kewajaran dan merugikan. Kerinduan terhadap kebahagiaan mendorong orang untuk mengusir kesedihan sejauh dan sedini mungkin. Ada orang yang buru-buru menelan obat penenang untuk mengubah suasana hati dengan cara kimiawi. Menurut pengarang Inggris Eric G. Wilson rasa sedih (pilu, melankoli) bukanlah sesuatu yang buruk. Dalam bukuya Against Happiness: In Praise of Melancholy ia memuji kesedihan sebagai sumber renungan dari banyak sastrawan dan pencipta lagu, untuk mengingatkan bahwa usaha untuk menyingkirkan kesedihan berarti menghilangkan sumber kreatifitas yang penting dari hidup kita. Merasa bahagia sepanjang waktu bukan hanya tidak mungkin, tetapi juga tidak manusiawi. Bersedih adalah bagian penting dari menjadi manusia, sebagaimana malam sama pentingnya dengan siang. Untuk dapat tampil seutuhnya manusia harus bersedia menyelami kesedihan sebagaimana dia menyelami lautan kebahagiaan. Berusaha keras untuk menyingkirkan kesedihan sama dengan keinginan menempuh separoh kehidupan saja.

Hampir setiap kejadian selalu menimbulkan reaksi emosional yang spontan dalam diri kita, diluar kesengajaan. Bertemu teman lama menimbulkan rasa hati yang cerah, emosi yang menyenangkan untuk kita nikmati. Tetapi melihat seorang teman jatuh miskin akan menimbulkan rasa sedih, emosi negatip yang tak mengenakkan dan kita ingin segera mengakirinya, jangan lama-lama. Tetapi kalau kita cukup bijak kita akan menerima rasa sedih itu sebagai pertanda bahwa ada sesuatu yang perlu kita lakukan. Ketika dilanda rasa sedih kita merindukan sesuatu yang sebaliknya yang lebih baik dan lebih memuaskan dan dalam kerinduan itu kita dipaksa untuk menggali potensi-potensi dalam diri kita yang tidak pernah kita lakukan dalam keadaan senang. Dengan demikian kesedihan nyata-nyata merupakan potensi yang memupuk kreativitas. Dapatkah dalam suasana sedih kita berfikir kreatif? Ya, bila kita bersedia.

Mengapa banyak orang senang mendengarkan lagu sedih, menonton film yang menguras air mata dan membaca kisah sedih berulang-ulang? Padahal kita jelas ikut bersedih karenanya. Bukankah itu selera yang tidak sehat untuk menikmati kesedihan? Tetapi ibarat kecanduan mereka merasakannya sebagai sesuatu yang mengasyikkan. Ketika kita memainkan computer-game yang agresif, sering timbul emosi yang kuat seperti takut, frustrasi dan banyak lagi. Meskipun dalam kehidupan nyata kita katakan emosi-emosi seperti itu negatip, ketika kita bermain game kita menganggapnya sebagai hal yang menyenangkan. Ternyata kita dapat memainkan permainan yang meyeramkan dan benar-benar menikmatinya. Karena kita tahu bahwa kita bukanlah avatar (symbol diri kita dilayar) kita. Itu adalah pengalaman simulasi dan bahwa nasib avatar kita, yang kita kendalikan dengan joystick, bukanlah nasib kita yang sebenarnya.

Ketika anda dilanda arus kesedihan, diamlah sejenak dan sadari bahwa anda yang menderita hanyalah anda sebagai avatar dari anda sejati yang lebih tinggi yang tetap dapat menyaksikan arus itu melanda tanpa harus ikut menjadi basah. Seperti anda menikmati film sedih dengan menontonnya dari balik tabir. Sebagai penonton anda akan sempat mempertimbangkan dari mana asal-usul kesedihan itu dan bagaimana siasat untuk mengatasinya. Lebih dari itu bagaimana kesedihan itu memungkinkan anda untuk menghargai penderitaan orang lain, dan bagaimana kesedihan membuat saat-saat bahagia terasa lebih bahagia. Bukankah itu berarti bahwa kesedihan memiliki keindahan tersendiri? Biarkan kesedihan datang…… kita akan merangkulnya dan bukan mengingkarinya.