Bulan: Juni 2012

KOPI LUWAK DAN HIDUP YANG BERMAKNA

KOPI LUWAK DAN HIDUP YANG BERMAKNA

Oleh: Jum’an

The Bucket List adalah film drama-komedi tentang perjalanan terakhir dua orang penderita kanker yang sudah divonis bahwa ajal mereka sudah dekat. Carter (diperankan oleh Morgan Freeman) seorang montir yang penyabar dan Edward (Jack Nicholson) milyuner nyentrik, berada sekamar dirumah sakit setelah keduanya didiagnosa menderita kangker paru-paru terminal. Awalnya mereka saling tidak suka, tapi kemudian menjadi bersahabat seiring dengan waktu perawatan mereka. Edward sangat menikmati Kopi Luwak dari Sumatera salah satu kopi termahal didunia. (Lihatlah adegan tentang kopi luwak yang sangat menarik disini). Dikisahkan, mereka kemudian bersepakat memutuskan untuk menikmati sisa umur mereka dengan bersenang-senang bersama, melakukan hal-hal yang mereka dambakan sebelum ajal tiba. Merekapun mulai petualangan dan tamasya keliling dunia. Terjun payung bersama, saling memacu mobi balap, terbang di atas Kutub Utara, makan malam di restoran mewah Chevre d’Or di Perancis, mengunjungi Taj Mahal, naik motor diatas Great Wall China, melihat Taman Safari Singa di Afrika dan piramida di Mesir dan banyak lagi.

Diantara kita mungkin ada yang pernah mendapat pertanyaan: apakah yang akan anda lakukan bila anda diberitahu bahwa hidup anda tinggal enam bulan lagi. Entah bagaimana anda menjawabanya. Tetapi jawaban orang terhadap pertanyaan seperti ini bermacam-macam. Dari ingin segera menikah, pergi ketanah suci, melihat Tujuh Keajaiban Dunia atau seperti yang dilakukan oleh Carter dan Edward dengan bucket listnya. Tergantung siapa anda. Tetapi bagaimana kalau pertanyaan itu dirubah menjadi: apakah yang anda kerjakan bila diberitahu hidup anda tinggal dua atau tiga jam lagi? Ah….. ini menakutkan! Toh jawaban orang tetap berbeda-beda. Tetapi tidak lagi terpikir tentang menikmati kopi luwak atau pergi ketanah suci, apalagi menikah (lagi!). Mungkin jawaban kita: Saya ingin dekat-dekat dengan ibu saya. Saya akan memeluk isteri saya erat-erat. Saya akan bersujud, tobat dan mohon ampun.

Dr. Omid Safi, dosen tasauf dan sejarah Islam pada Univ. North Carolina, pernah mengedarkan kedua seperti itu dikalangan mahasiswanya (di Amerika tentunya) dengan sifat mereka yang beragam. Ia mencatat diantaranya, ketika kesadaran bahwa waktu kita di dunia ini sangat terbatas menjelma menjadi betapa berharganya setiap tarikan nafas, orang tidak lagi memikirkan “ingin pergi kemana” tetapi justru beralih fokus kepada “ingin bersama siapa”- seperti ibu, isteri atau Tuhan. Kita berpindah dari apa yang ingin kita kerjakan dan mulai merenungkan bagaimana kita jadinya nanti. Ironisnya, dengan merenungkan kematian kita memperoleh jawaban tentang hidup yang lebih bermakna

Rasulullah pernah bersabda: “Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bersiaplah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok. Mati besok? Besok itu hanya 24 jam, hanya satu malam lagi! Apa yang paling baik, paling bermakna, paling nikmat, paling bermanfaat yang dapat dikerjakan dalam waktu sependek itu? Mau duduk terus diatas sajadah? Tetapi siapa tahu umur kita masih panjang! Lihatlah! Paman kita juga masih segar bugar. Oh, alangkah keramatnya nafas yang terbatas ini. Kita tidak pernah tahu kapan ajal tiba, hanya pedoman Rasulullah saw inilah mungkin satu-satunya jalan untuk menempuh hidup yang bermakna.

DENGARKAN DULU SEBELUM BERDAMAI

DENGARKAN DULU SEBELUM BERDAMAI

Oleh: Jum’an

Kalau ingin berdamai dengan siapapun yang kita mau, setidaknya ada dua syarat yang harus kita penuhi. Pertama kita harus mempunyai kemampuan ber-empati yaitu memahami dan merasakan ihwal orang lain. Empati menuntut kita untuk menyimpan dulu kepentingan dan perspektif sendiri dan berusaha untuk memahami penjelasan orang lain. Kedua, kita harus menghilangkan keinginan membalas dendam, dan fokus pada kemungkinan damai yang akan datang saja. Dalam mengupayakan perdamaian kita sangat perlu untuk mendengarkan dengan seksama (deep listening-menyimak) yaitu, mendengar, menerima dan bahkan menghormati penjelasan yang bertentangan dengan kita sendiri. Dr. Homayra Ziad, dosen agama Islam pada Trinity College, memberikan contoh deep listening dalam blog “Learning to Listen”, Huffington Post 8 Juni lalu:

Dalam Al-Qur’an dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman (as) dikaruniai kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk selain manusia. Tentaranya terdiri dari manusia, jin dan burung-burung yang diperintah dengan tertib. Ketika dia bersama pasukannya hendak melewati sebuah lembah semut, berkatalah seekor diantaranya: ”Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya sedang mereka tidak menyadari.”

Ini adalah satu insiden yang dilihat oleh dua pihak dengan pandangan yang sangat berbeda. Apa yang oleh Sulaiman dilihat sebagai upacara kemiliteran rutin, semut memandangnya sebagai bahaya yang dapat menghancurkan seluruh masyarakatnya. Sulaiman bisa dengan mudah menjawab dengan arogan: “Makhluk kecil ini, dia pikir siapa dirinya?”, atau dengan kebencian: “Kamu pikir Monster macam apa aku ini”, atau tidak percaya: “Semut gila!”. Tapi semut itu telah menuduhnya sebagai seorang pembunuh, atau setidak-tidaknya tak peduli. Sebaliknya, Sulaiman (as) benar-benar mendengarkannya. Mula-mula dia tersenyum. Lalu senyumnya berubah menjadi tawa gembira – ia menangkap maksudnya. Hidup semut penuh bahaya. Dia sudah kehilangan puluhan ribu warganya di bawah sepatu ceroboh manusia. Para ahli tafsir mengatakan bahwa Sulaiman (as) lalu menghentikan pasukannya sampai semut-semut memasuki sarang mereka.

Seorang komandan menghentikan barisan pasukannya bukanlah hal yang aneh. Tidak pula merendahkan kegagahan sikap tentara. Tetapi dengan risiko kehilangan muka, panglima tertinggi Sulaiman berendah hati demi kepentingan sekelompok semut! Dan kemudian, Qur’an mengisahkan, Sulaiman (as) menengadah kepada Allah dengan rasa syukur karena telah membimbingnya melakukan hal yang benar dan berlindung kepada belas kasihan-Nya (Surat al-Naml ayat 17-19.) Mungkin dia berterima kasih atas pelajaran yang berharga: pasukannya mungkin terkuat di dunia, tetapi bahwa ada jalan lain yang lebih kekal yaitu untuk berdamai….

Sulaiman (as) telah mengajarkan bahwa jika kita mulai mendengarkan, kita dapat menemukan diri kita berubah. Kita hanya mampu mendengar dengan seksama apabila batin kita bulat dan tidak retak. Perdamaian harus dimulai dengan diri sendiri, karena diri yang retak adalah akar penyebab banyak masalah dalam hidup kita…. Wallohu a’lam.

MISTERI YANG MENGGUNCANG IMAN

MISTERI YANG MENGGUNCANG IMAN

Oleh: Jum’an

Minggu 17 Juni 2012 lalu Paus Benediktus XVI memberi sambutan lewat rekaman video, pada penutupan Sidang Ekaristi Internasional ke 50 di Dublin Irlandia. Diantaranya ia berkata bahwa pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh para pendeta dan pejabat gereja lainnya adalah misteri. Bagaimana bisa mereka melecehkan anak-anak yang dipercayakan dalam perawatan mereka, merusak iman dalam gereja dengan cara yang keji. Dengan menyebut skandal yang banyak terjadi dilingkungan gereja Katolik Irlandia itu sebagai “misteri”, Paus telah membangkitkan kemarahan umat yang setia di Irlandia. Pidato Paus tentang skandal seks yang ditutup-tutupi oleh hirarki gereja itu didengarkan oleh 75.000 umat Katolik (kebanyakan dari Luar Negri) yang hadir pada penutupan Konggres Ekaristi Internasional itu. Presiden dan Perdana Menteri Irlandia juga hadir dalam konggres yang bertujuan untuk menegakkan kembali iman yang lesu. Sidang selama seminggu itu disuasanai kemarahan yang memuncak atas skandal yang selalu ditutup-tutupi dan kenyataan terus menurunnya pengunjung misa mingguan di Irlandia di mana gereja dan negara dulu terjalin dengan erat.Bagaimana mungkin orang yang selalu menerima Kristus dan mengakui dosa mereka dalam sakramen pertobatan telah berbuat begitu keji? ” kata Paus mengacu kepada pejabat gereja yang menganiaya anak-anak. Kekristenan mereka jelas tidak lagi dipupuk oleh kasih Kristus. Sudah menjadi sekedar rutinitas belaka.” Uskup Agung Dublin Diarmuid Martin mengatakan gereja di Irlandia menghadapi perjuangan berat untuk dapat bertahan hidup. “Rasa syukur dan sukacita atas iman dan rahmat yang begitu besar telah terguncang dahsyat oleh kenyataan dosa yang dilakukan oleh para pendeta dan orang-orang yang dianggap suci terhadap orang-orang yang dipercayakan pada mereka. Bukannya menunjukkan jalan menuju Kristus, bukannya menjadi saksi atas kebaikannya, mereka justru menzalimi orang dan meruntuhkan kredibilitas gereja,” kata Paus.

Sudah 10 tahun lebih barisan pembela korban skandal seks oleh para pendeta (SNAP = Survivors Network of those Abused by Priests) menuntut agar para pemimpin gereja di Irlandia dan di Vatikan mengakui kesalahan mereka melindungi para pendeta pedofil. Empat penelitian oleh pemetintah telah mendokumentasikan puluhan ribu anak dari tahun 1940 – 1990 yang mengalami pelecehan seks, fisik dan mental di tangan pendeta, biarawati dan staf gereja di tiga keuskupan Irlandia dan di LSM (NGO) yang bekedok sekolah untuk anak gelandangan. Di Irlandia, Amerika dan banyak negara lain, uskup dan pemimpin gereja lainnya telah dituduh secara sistematis menutupi para pendeta pedofil, dengan memindahkan mereka dari paroki ke paroki tanpa memberitahu jemaat yang taat beragama. Kekecewaan SNAP tentang penyebutan “misteri” oleh Paus dikatakan oleh wakilnya Barbara Doris, bahwa pidato Paus itu basi, menyebut nama skandal itu secara jelas saja Paus tak mau. “Paus salah: tidak ada misteri di sini,” tegas Dorris. Kekusaan pendeta yang hampir mutlak, terhadap anak-anak yang taat dan tak berdaya, serta para uskup yang menyalah-gunakan kekuasaanlah yang memungkinkan kejahatan keji terhadap anak-anak.”……

Katakanlah saya bodoh, katakan saya terlalu naif untuk mengomentari kasus umat agama lain, katakanlah itu bukan urusan kita. Tetapi tentang seks kaum laki-laki saya tahu. Bahwa nafsu syahwat terhadap perempuan (hubbussyahawat minannisa) adalah hiasan (beauty) kami. Asli dari sang Pencipta. Kodrat yang melekat.. Siapapun yang berusaha membekap dan mengingkarinya, nafsu itu akan bocor tumpah kemana-mana. Keanak-anak, kesesama lelaki bahkan ke binatang mungkin. Yang wajar adalah memenuhi dan mengendalikannya sesuai petunjuk Allah.

WE WANT BEER – WE WANT BEER

“WE WANT BEER- WE WANT BEER”

Oleh: Jum’an

Januari 1920. Amandemen ke 18 Konstitusi Amerika mulai berlaku. Isinya, melarang penjualan, pembuatan atau pengangkutan alkohol. Ini dielu-elukan oleh kaum agama dan moralis sebagai langkah positif untuk membersihkan masyarakat dari kejahatan akibat minuman keras (miras). Pendeta fanatik Billy Sunday mengobarkan semangat umatnya dengan ramalan yang optimis: “Zaman air mata segera berakhir. Daerah kumuh tinggal kenangan. Kita akan mengubah penjara menjadi pabrik dan sel-sel menjadi lumbung gandum. Kaum pria akan melangkah tegak, wanita akan tersenyum dan anak-anak akan tertawa. Neraka akan kita kontrakkan untuk selamanya………” Upaya melarang minuman keras sudah ada sejak berabad-abad; yang secara tradisional dipelopori oleh pemimpin agama. Pada abad 19, kaum wanita ikut pula terjun dalam gerakan anti miras. Mereka cemas dengan akibat alkohol pada suami dan anak-anak mereka. Tidak jarang gerakan itu dilakukan dengan kekerasan. Carrie Amelia Nation adalah pimpinan kelompok wanita radikal anti alkohol terkenal pada zamannya. Wanita tinggi besar ini dengan kampak ditangan, menyerbu dan merusak bar dan salon penjual miras. Kelompok yang lain melobi pemerintah untuk mendesakkan pelaksanakan larangan itu. Akhirnya Amandemen ke18 itu diratifikasi dan larangan itu dikuat-kuasakan pada tingkat federal. Setiap minuman yang mengandung lebih dari 0,5 persen alkohol dilarang di AS.

Tetapi akibat yang tidak terduga dari larangan yang bercita-cita mulia itu belakangan menjadi bencana bagi Amerika. Menurut sasterawan Mark Twain larangan itu adalah awal kebiasaan baru mabuk di belakang pintu dan tempat gelap … Larangan itu tidak menyembuhkan ataupun mengurangi kegemaran pada alkohol. Penyulingan alkohol dirumah-rumah dan penyelundupan serta merta berkembang bersamaan dengan dimulainya larangan itu. Toko-toko mulai menjual alat penyuling portabel. Miras selundupan membanjir dipasar gelap. Dokter mulai meresepkan alkohol untuk “tujuan pengobatan.” Dengan menyuling sendiri orang menambahkan bumbu-bumbu dlm alkohol mereka dan yang sering menimbulkan keracunan. Dengan dilarang lebih banyak orang ingin mencoba. Orang yang tak pernah minum, sekarang bergabung dalam petualangan melanggar hukum. Bar berganti menjadi “speakeasies” (warung remang-remang), tempat minum yang tersamar. Penyelundupan minuman yang lebih keras meningkat dan bahaya kesehatan para peminumnya meningkat. Geng lokal yang berbisnis prostitusi, perjudian dan pemerasan berkembang menjadi sindikat kejahatan besar-besaran begitu memasuki bisnis miras ilegal. Keuntungan besar hasil kejahatan itu, sebagian mengalir ke kantong politisi dan aparat penegak hukum dalam bentuk suap atau pemerasan. Polisi jadi enggan bertindak. Selain itu, banyak politisi secara terbuka menentang larangan minuman keras itu.

Akhir 1920-an, banyak pendukung anti alkohol mengakui kesalahan mereka dan mulai minta untuk dicabut. Banyak pengakuan mengenai banyaknya efek larangan miras yang merugikan masyarakat, termasuk timbulnya kematian dan penyakit, kejahatan dan kekerasan. Tujuh juta orang menandatangani petisi mengecam larangan miras dengan efek buruknya. Ketika terjadi depresi hebat tahun 1930an, lebih banyak lagi orang Amerika bergabung dalam protes terhadap larangan miras. Dikota-kota besar, orang berpawai membawa poster “We Want Beer” untuk menuntut dicabutnya larangan miras itu. Akhirnya, pada Desember 1933 Amandemen ke 21 diberlakukan, yang mengakhiri larangan terhadap minuman keras. Larangan terhadap minuman keras telah gagal. Yang tertinggal sekarang hanya “dilarang mengemudi dalam keadaan mabuk..”

Sampai saat ini AS dikenal galak, bahkan menyokong negara lain menghadapi perang anti-narkoba. Tetapi dalam KTT nagara-negara Amerika di Cartagena Colombia April 2012, para pemimpin Amerika Latin menyatakan bahwa perang anti-narkoba telah gagal. Presiden Guatemala Otto Perez Molina yakin pendekatan baru sangat dibutuhkan. Sebagai mantan intelijen militer yang berhadapan langsung dengan kekuatan kartel narkoba, Molina mengajak sesama pemimpin Amerika Latin untuk mendukung rencana keamanan baru yang akan mengakhiri larangan terhadap narkoba. “Perang anti-narkoba saat ini didasarkan pada premis yang salah, yaitu keyakinan bahwa narkoba akan bisa diberantas.” Pérez Molina mengakui bahwa membebaskan konsumsi, produksi dan perdagangan narkoba adalah tidak bertanggung jawab. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan yang lebih liberal. Dia menegaskan, Larangan telah gagal dan cara alternatif harus ditemukan. Guatemala mengusulkan untuk tidak pandang ideologi dalam kebijakan obat terlarang, baik regulasi atau liberalisasi. Presiden Meksiko, Felipe Calderon, menyerukan debat nasional tentang pembebasan larangan itu. Juan Manuel Santos, presiden Kolombia, mengatakan bahwa jika legalisasi narkoba dapat menjinakkan kekuatan kartel, dan dunia menilainya sebagai solusi, dia akan menyambutnya…

Demikianlah setelah kalah dalam perang anti-alkohol kini saatnya nagara-negara Amerika Latin mengaku kalah dalam perang anti-narkoba. Mungkin kelak yang tinggal hanya “dilarang menyuntik di jalanan” saja, yang tidak mustahil akan merembet kenegeri kita. Nauzubillah

PILIH KUCING JANGAN LAPTOP

PILIH KUCING JANGAN LAPTOP.

Oleh: Jum’an

Mungkin ini sebuah aib, tetapi karena rasanya manusiawi, biar saya akui saja. Bahwa saya mengalami problim kesepian dalam hidup. Banyak faktor-faktor penyebab yang melekat pada diri saya, seperti usia dengan macam-macam implikasinya dan juga faktor-faktor pribadi lainnya. Kesepian itu rasanya seperti silih berganti antara rasa tidak bahagia, tertekan dan dongkol dikarenakan hasrat akan suasana keakraban yang tak terpenuhi. Orang yang kesepian merasakan ketidak-bahagiaan itu sebagai ancaman dan menghadapinya dengan pasif seperti tak kuasa melawan. Bukan sebagai tantangan untuk memecahkan masalah. Oleh sebab itu kesepian bukan saja terasa menyakitkan tetapi makin merasuk dan menjadi penyebab gangguan kesehatan lainnya seperti depresi, masalah tidur, obesitas, gangguan daya ingat dan daya piker dan hipertensi. Tetapi setidak-tidaknya saya sudah belajar dari penderitaan-penderitaan yang saya alami sebelumnya. Bahwa rasa sakit selain merupakan penderiataan, juga menjadi petunjuk bahwa ada kerusakan ditubuh kita dan mendorong kita berupaya untuk mencari kesembuhan. Begitu pula kesunyian ini, betapapun menyakitkan, saya anggap sebagai mekanisme psikologis yang memberi isyarat bahwa saya mengalami isolasi dan memotivasi untuk membebaskan diri. Oleh karena itu saya berusaha (berlebihan kalau saya katakan berjuang) untuk menghadapinya. Hasilnya tidak menang mutlak, tidak pula kalah total. Kenyataannya bukan seperti peperangan yang dapat dimenangkan sekali tempur, tetapi seperti keamanan yang harus dijaga terus menerus. Karena kesepian itu subyektif, upaya sayapun subyektif menurut kemampuan pribadi. Saya tidak punya senapan tetapi punya parang. Pukulan saya tidak keras tetapi saya pandai bersembunyi dan mengelak. Begitu ibaratnya.

Agama tentu saja merupakan andalan saya. Orang tua sedikit banyak sudah dapat meresapi arti “alaa bidzikillahi tatmainnul qulub – bukankah dengan mengingat Allah hati akan tenang?” Itu merupakan pembebasan dari kesunyian yang cukup dominan. Bersosialisasi saya anggap bukan bidang saya lagi, karena mobilitas fisik saya rendah dan saya kurang menikmati suasana bekumpul-kumpul. Rasanya tak mampu dan tak perlu lagi mencari teman baru. Kerja kantoran sampai tua lebih-lebih lagi mengisolasi diri dari masyarakat bahkan keluarga. Potensi yang masih terbuka hanya komunikasi melalui dunia maya. Kalau mau saya masih bisa mengumpulkan banyak teman, bahkan ber narsis-narsis kalau tega. Media sosial seperti facebook, twitter dll terbuka untuk komunikasi instan dan total, tak terbatas oleh waktu atau tempat.

Menurut survei Asosiasi Pensiunan Amerika 2010, lebih dari sepertiga warga Amerika usia 45 tahun keatas mengaku kesepian. Angka itu 13% lebih tinggi dari 10 tahun sebelumnya. 25 tahun lalu, 10% orang Amerika mengaku tidak punya teman dekat satupun dan 15% mengaku hanya punya satu teman baik untuk mendiskusikan hal-hal penting. Ketika penelitian yang sama diulang pada tahun 2004, 25% responden mengatakan mereka tidak punya teman dekat untuk diajak bicara, dan 20% hanya punya satu teman dekat. Bagi kita angka-angka itu menunjukkan makin banyak orang kesepian bukan saja di Amerika, mungkin juga dikota-kota sebesar Jakarta dimana-mana. Keanehannya, peningkatan kesepian itu terjadi bersamaan dengan era komunikasi melalui jejaring sosial yang meningkat tak terkira pesat. Jangan-jangan ada hubungan antara meningkatnya kesepian dan meningkatnya hubungan lewat internet. Mengapa orang makin kesepian, padahal mereka makin terhubung dengan seluruh dunia melalui teknologi? Masalah “paradoks internet” ini dibahas dengan menarik dalam tulisan Stephen Marche “Is Facebook Making Us Lonely?” Pengguna Facebook, Twitter, game online dll lebih banyak kontak dengan orang-orang luar, dengan mengorbankan hubungan keluarga – atau orang yang memiliki hubungan keluarga yang memang tidak bahagia mencari persahabatan melalui cara lain.

Menurut Marche koneksi melalui jejaring sosial itu bukanlah hal yang sama seperti ikatan pertemanan, dan koneksi instan bukanlah penyelamatan, bukan jaminan untuk lebih bahagia. Penawar kesepian tidak cukup sekedar terhubung dengan banyak orang, yang kebanyakan tak pernah kita temui secara langsung. Dalam penelitian yang terkenal dilakukan tahun 1950, ketika anak monyet diberi pilihan antara “induk” yang terbuat dari gulungan kabel dan satu yang terbuat dari kain lembut, anak monyet lebih memilih pengganti yang halus dan empuk meskipun ia tidak mengeluarkan susu, dan terutama ketika mereka takut dan perlu penghibur.Mungkin kesepian akan terus bertambah jika manusia tidak menyadari pentingnya hubungan dengan cara lama dengan menyentuh dan disentuh, saling merangkul, duduk di pangkuan, bersalaman, membelai dan menimang dan jika tidak dengan manusia lain, bahkan hewan piaraan akan lebih baik dari laptop anda. Karena itu pilihlah kucing, jangan Laptop.