Bulan: April 2012

ANAK SOLEH YANG TEWAS OVERDOSIS

ANAK SOLEH YANG TEWAS OVERDOSIS

Oleh: Jum’an

Banyak peristiwa ganjil melintas dalam kehidupan yang saya tidak pernah tuntas memahami sebab-musababnya. Ini contohnya. Belum lama ini saya menyaksikan seorang pelajar SMA anak tetangga yang begitu baik, hormat dan taat kepada orang tuanya yang juga alim tanpa disangka-sangka mati karena overdosis. Ada tetangga lain dan kenalan yang jeli melihat gelagat anak itu yang mengingatkan orang tuanya supaya berhati-hati tetapi mendapat jawaban yang emosional: “Tidak mungkin! Anak saya bukan jenis yang begituan!”. Sesudah kejadian, apa mau dikata; sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna. Saya hanya menontonnya sebagai tragedi lingkungan hidup saya yang semoga jangan sampai menimpa keluarga saya. Itu saja.

Mengapa kita bisa salah memahami watak dan kelakuan orang dekat kita? Pada umumnya kita membayangkan karakter atau watak sebagai rangkaian sifat-sifat yang menyeluruh dan konsisten. Atau jelasnya kalau kita mengenal seseorang dengan watak yang lembut berarti ia lembut dalam keluarga, lembut pada orang lain, lembut waktu susah dan lembut waktu senang, dari waktu kewaktu tetap lembut. Begitulah kita memahami watak orang: menyeluruh dan konsisten. Kalau seorang anak selalu mencium tangan ibunya, menuruti perintah dan permintannya dengan sungguh-sungguh, bukan hanya kadang-kadang saja, tidak salah kalau sang ibu memahami anaknya memang berwatak baik atau akhlaknya terpuji. Katakanlah anak soleh. Menyangka dan mengharap watak orang konsisten dan menyeluruh seperti itu menyebabkan kita sering merasa terheran-heran ketika menyaksikan ada anak soleh tahu-tahu mati overdosis, ada komandan tentara yang ternyata sangat penurut kepada perintah isterinya atau ulama panutan yang kejam tehadap anak-anaknya. Salah memahami watak orang dapat menimbulkan akibat yang fatal seperti orang tua yang kehilangan anaknya tadi. Bahkan seorang penjahat yang sudah benar-benar tobat jarang diberi tempat di masyarakat karena mereka yakin bahwa wataknya tetap jahat.

Kita cenderung menyimpulkan bahwa orang yang baik dalam keluarga, akan baik dalam masyarakat dan baik pula dalam lingkungan kerja. Orang yang amanah menyimpan rahasia akan amanah memegang janji dan amanah pula manjabat sebagai bendahara. Orang yang baik kepada kita tentu baik juga kepada orang lain. Itulah sebabnya mengapa isteri seorang koruptor dengan yakin mengatakan bahwa suaminya adalah seorang ayah teladan, jujur, bayak beramal dan peduli. Kebaikan pribadi kepadanya diyakini sebagai watak alamiah, yang utuh dan menyeluruh. Banyak orang tua terpukau oleh perilaku anaknya yang sopan santun dan hormat dan memahaminya sebagai bagian dari wataknya yang memang soleh. Padahal kenyataanya tidak demikian. Ada sifat-sifat yang saling bertentangan dalam watak seseorang. Kita tidak pernah tahu bagaimana perilaku seseorang dalam situasi yang berbeda-beda. Kita juga tidak tahu sejauh mana dia bisa menyimpang dari karakternya yang kita kenal. Sebagai contoh, kita berpendapat bahwa kebanyakan orang adalah baik dan bahwa kebanyakan orang baik tidak mungkin menyakiti orang lain tanpa alasan. Tetapi tidak demikian kenyataannya. Hasil eksperimen psikolog Stanley Milgram yang pernah saya kutip dalam tuulisan yang saya beri judul KITA RAJA TEGA” (disini) membuktikan bahwa orang awam dengan keseharian yang manusiawi bisa berubah menjadi monster yang menakutkan dan tanpa rasa berdosa.

Watak saleh yang utuh dan kosisten atau kebaikan yang tahan uji dan tahan provokasi adalah sebuah prestasi yang hanya dapat dicapai melalui usaha keras dan ujian yang berterusan; bukan sifat bawaan atau yang lahir secara instan. Kalau kita tidak pernah mendidik, menguji dan mengawasi, jangan katakan bahwa “Anak saya soleh” atau “Suami saya teladan”. Tanpa terus menerus mengatasi ujian dan cobaan tidak mungkin kita mencapai kearifan yang awet. Sebaiknya kesalehan, kearifan ataupun kejujuran kita deklarasikan saja sebagai komitmen hidup, bukan sebagai karakter yang sudah kita miliki. Rawan sekali untuk mengharap sesorang jujur sepenuhnya atau jujur seterusnya, dimana saja dan kapan saja. Semoga anak anda soleh, suami anda teladan dan saya jujur. Amin.

Iklan

ANDA MUNGKIN CUCU JENGIS KHAN

ANDA MUNGKIN CUCU JENGIS KHAN

Oleh: Jum’an

Jarak perselingkuhan zaman dulu hanyalah sejauh 20 km, yaitu jarak terjauh seorang pria dengan berkuda mengunjungi rumah kekasih simpanannya lalu bercanda secukupnya, makan dan tidur siang sambil menebar benih, lalu pulang tanpa tiba dirumah kesorean. Kini dengan adanya mobil dan pesawat terbang seorang pria dapat menebar benih bukan saja dari Jakarta ke Bandung, tetapi dari Arab ke Bogor dan dari Lagos di Nigeria ke Tanah Abang di Jakarta. Anak-anak mereka kelak mungkin akan menebar benihnya lebih jauh lagi. Selama 20 tahun perang Vietnam tentara Amerika dengan semangat bertempur menebar benih disana yang sekarang berkembang menjadi ras Amerasia. Banyak pula orang Indonesia yang menetap diluar negeri karena berbagai alasan. Tentu mereka telah berkembang biak disana. Didesa saya yang terpencil di Jawa Tengah sudah ada beberapa anak dari benih yang biasanya tumbuh di padang pasir yang dikandung oleh ibunya ketika menjadi pembantu disana. Begitu benih manusia bertebaran ke segala penjuru sejak dulu sampai hari kiyamat kelak.

Sebuah tim internasional ahli-ahli genetika telah melakukan penelitian selama 10 tahun tentang kromosom kaum pria yang tinggal di kawasan bekas kekaisaran Mongolia dulu yaitu dari China sampai ke Asia Tengah dan Eropah Timur. Mereka terkejut menemukan banyak sekali pria yang membawa ‘kromosom Y’ yang identik, yaitu kromosom yang diturunkan hanya dari ayah ke anak laki-laki saja. Kromosom Y ditemukan pada 16 juta pria (=0,5% jumlah pria sedunia) di Asia, dari Manchuria, dekat Laut Jepang, ke Uzbekistan dan Afghanistan di Asia Tengah. Artinya mereka berasal dari keturunan satu orang laki-laki. Artinya pula, satu dari 200 pria didunia ada kaitannya dengan laki-laki ini. Siapa gerangan pejantan yang begitu produktif menebar benihnya sehingga memiliki 16 juta keturunan laki-laki yang masih hidup sekarang? Baik tim ahli genetika itu maupun para sejarawan sepakat bahwa dialah Jengis Khan. Kaisar Mongol, panglima perang, penakluk yang bengis, biadab dan sangat menakutkan yang hidup di abad 13. Dalam waktu 20 tahun ia menguasai dan menaklukkan negara-negara China, Russia, Armenia, Iraq, Iran, Turki, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Pakistan, Afghanistan, Korea, Kuwait banyak negara lainnya. Dalam setiap penaklukan ia dan bala tentaranya membunuh dan menawan kaum pria, menjarah harta dan membariskan tawanan wanita untuk bagi-bagi: yang cantik-cantik untuk Kaisar dan sisanya untuk komandan dan para prajuritnya. Puncak kesenangan hidup menurut Jengis Khan adalah mengejar musuh, mengalahkan, membunuh dan merampok harta mereka, menyaksikan tangisan orang yang mereka sayangi dan meniduri istri dan anak perempuan mereka. Jengis Khan hampir selalu meniduri istri dan anak perempuan pemimpin yang ditaklukkannya. Nafsu birahinya luar biasa dan entah berapa ribu wanita yang telah dihamilinya.

Kekejamannya lebih-lebih nauzubillah. Setahun setelah ia dan bala tentaranya menyerbu Beijing pada 1214, tulang-tulang korban pembantaian membetuk perbukitan, tanah disana berminyak karena lemak manusia. Dikota Merv, pusat kajian ilmu di Turkmenistan, Jengis Khan melakukan pembantaian massal secara manual yang terbesar dalam sejarah. Penduduk digiring keluar kota untuk disembelih dari pagi hingga malam selama 4 hari berturut-turut. Sejarawan Persia al-Juvayni menulis tentang penghancuran Merv: Tentara Mongol telah membunuh seluruh penduduk Merv termasuk wanita dan anak, tak ada seorangpun yang tersisa, kecuali 400 orang tukang dan pengrajin yang mereka butuhkan. Seorang prajurit bertugas mengeksekusi sampai 300 atau 400 orang penduduk. Menurut para sejarawan korban mencapai satu juta orang lebih. Di Rusia, mereka menghancurkan tentara gabungan yang empat kali lebih besar. Para pemimpin yang masih hidup, termasuk Pangeran Romanovitch dari Kiev, menyerah dengan pengertian penumpahan darah akan dihentikan. Tapi tentara Mongol justru mengikat dan merebahkan mereka berjajar untuk landasan kayu-kayu berat dimana para komandan Mongol berpesta dan memilih wanita yang akan ditiduri, sedangkan Pangeran dan sekutunya mati terhimpit atau tercekik.

Begitulah Jengis Khan membunuh dan menebar benih diladang orang, begitu merangseknya sehingga merubah peta genetika dunia. Anak tertuanya Tushi, mempunyai 40 anak laki-laki resmi (belum terhitung yang jadah) dan Kubilai Khan, cucunya (pendiri dinasi Yuan di China), memiliki 22 anak laki-laki resmi dan menambah 30 perawan untuk haremnya setiap tahun. Mudah difahami bahwa keturunannya berkembang secara eksponensial.

Lalu jangan-jangan, saya atau anda termasuk salah satu dari 200 pria yang terkait dengan Jengis Khan. Tetapi seandainya ya, tidak apa-apa karena kita memang lahir bukan atas kehendak kita. Lagipula kita tidak harus menanggung dosa nenek moyang kita. Asal ingat…..… jangan menebar benih sembarangan.