Bulan: Mei 2011

PIKIRAN YANG TIDAK DIUNDANG

PIKIRAN YANG TIDAK DIUNDANG

Oleh: Jum’an

Nunung keponakan saya, menggerutu karena pikirannya terus menerus manyanyikan lagu Keong Racun yang didengarnya minggu lalu dinyanyikan dua anak perempuan jalanan dengan suara fals, cempreng dan tempo terlalu cepat. Berulang-ulang terus pikirannya menyanyi menirukan persis suara anak-anak itu. Sambil menyapu pikirannya menyanyi. Sambil menyetrika pikiranya menyanyi. Terhenti sebentar, lalu mulai lagi. Mencuci piring, membaca buku dan…solat pun pikirannya terus menyanyikan lagu itu. Tidak bisa dihentikan katanya. Ia merasa kesal dan tersiksa. Saya katakan supaya ia memakai karet gelang ditangannya.Tiap kali pikirannya mulai menyanyi, jepret karet itu keras-keras, biar tangannya sakit dan lagunya terhenti. Suatu saat ketika mandi pagi pikiran saya tiba-tiba teringat pada keluarga Pak Saleh di daerah Tanah Kusir, yaitu tempat saya menumpang puluhan tahun yang lalu. Dikantor teringat lagi, malam hari mau tidur teringat lagi. Berhari-hari terutama kalau mulai mandi pagi. Meresahkan dan tersiksa memang. Saya yakin pikiran yang tidak diundang dan tidak mau pergi ini pasti membawa pesan atau ramalan sesuatu yang akan terjadi pada saya. Kalau tidak, mana mungkin dia menjebak dan menelikung pikiran saya sampai tak berdaya menolaknya. Saya harus bertindak sebelum terjadi sesuatu, pikir saya. Mungkin ini pesan gaib bahwa Pak Saleh mau meninggal? Atau ada hutang yang belum saya bayar? Atau saya harus menikahi salah seorang anaknya?? Saya paksa mengalihkan perhatian tapi tidak lama kemudian Pak Saleh sekeluarga menerobos lagi memenuhi pikiran saya.

Mungkin anda pernah terjebak oleh pikiran yang tak diundang seperti itu: tanpa alasan merasa mengidap penyakit tertentu, terpikir keluarga di seberang sedang terancam bahaya, atau apa saja. Anda terus menerus memikirkannya karena anda menganggap penting, mendesak dan membawa peringatan. Rasanya seperti kalau sedang terjebak menghadapi pramuniaga yang agresif. Kita enggan melayaninya tapi ia nyerocos terus menawarkan barangnya. Sedikit saja kita menatap matanya, makin bersemangat dia berkotbah, semakin kesal kita dibuatnya. Padahal satu satunya cara mengatasi pikiran yang tidak diundang adalah menghentikannya dengan segera. Tetapi kita tidak mampu sebagaimana kita tidak mampu, atau tidak sampai hati, mengusir seorang pramuniaga. Apalagi kalau dia cantik dan genit. Biarkan sajalah sampai ia bosan dan pergi sendiri.

Menurut penelitian 90% orang sehat (tanpa gangguan emosional) memiliki pikiran –pernah berpikir- yang aneh-aneh, kotor atau menjijikkan. Dari pelecehan seksual, meragukan akhirat sampai merampok bank atau sebutlah saja apa. Jadi berpikir menyanyikan lagu Keong Racun secara marathon atau pikiran buruk lain yang menghantui anda siang malam, mungkin tidak berarti apa-apa. Pikiran tidaklah sama dengan realitas. Dua hari dua malam anda berpikir memiliki uang sejuta dolar, pada hari ketiga tak sesenpun yang bisa anda setorkan ke bank untuk ditabung. Ada juga sih orang yang mencampur adukkan pikiran dan kenyataan. Seperti yang berpikir bahwa mereka menerima wangsit untuk menggagahi duapuluh anak perawan agar dapat memperoleh ilmu kesaktian. Baru seorang saja dicoba digagahi, ia sudah ditangkap polisi dan masuk penjara.

Menindas pikiran juga tidak bisa. Psikolog Dan Wagner dari Harvard menunjukkan bahwa orang yang diperintahkan untuk tidak berpikir tentang beruang putih misalnya, lebih cenderung berpikir tentang beruang putih. Penekanan pikiran akan memantul balik kearah yang berlawanan. Jadi kalau dijepret karet gelang tidak mempan, dilawan dan dihindari tetap membandel, coba ambil air wudu dan baca solawat atau berzikir. Kalau masih belum juga minggat, biarkan saja sampai dia ngeloyor pergi sendiri…

SAYA BUKAN SARJANA GADUNGAN

SAYA BUKAN SARJANA GADUNGAN

Oleh: Jum’an

Ketika menjadi ketua Rukun Tetangga dulu saya pernah dipaksa oleh beberapa warga untuk mendamaikan pertengkaran dirumah seorang tetangga. Saya kira ketua RT yang melerai pertengkaran hanya ada di televisi; atau saya korban warga pecandu sinetron? Kedatangan saya dirumah itu tidak meredakan suasana. Pak Solikun 60 tahun dengan darah mendidih menggebrak-gebrak meja sedang memarahi anak-anaknya yang dia anggap telah bertindak keterlaluan. Saya sendiri tidak punya ilmu untuk menyelesaikan perkara jenis begini jadi saya hanya duduk diam lama mendengarkan mereka. Sebelum saya diberi waktu untuk angkat bicara, kemarahan Pak Solikun sudah mulai mereda. Ia menjabat tangan saya sambil berkata: “Maaf Pak RT, keributan ini sudah terlalu sering terjadi. Saya mengalah sekarang daripada syaraf saya putus”. Sayapun mendukung dan memuji sikapnya dan mencoba menyabarkan hati anak-anaknya. Ia berterima kasih kepada saya, yang katanya sudah ikut mendinginkan suasana. Padahal saya hampir tidak berbuat apapun kecuali sebagai pendengar yang baik dan mengucapkan sedikit kata-kata penutup. Tidak jarang saya mengalami peristiwa serupa dalam pekerjaan dimana tugas saya selesai meskipun bukan hasil pekerjaan saya sepenuhnya. Bahkan meskipun merupakan hasil pekerjaan saya, tetap saja ada perasaan tertolong oleh nasib baik dan kebetulan.

Saya bersyukur tetapi pada saat yang sama muncul perasaan diri palsu dan menipu dalam hati. Palsu karena tidak sepenuhnya berfungsi dan menipu karena sesudah dipercaya dan diandalkan masih bersandar kepada nasib dan kebetulan. Perasaan naif itu bahkan melantur: jangan-jangan suatu saat nanti orang menganggap prestasi saya hanyalah keberuntungan atau hasil rekayasa dan mencap saya sarjana gadungan. Saya sudah terbiasa mengatasi kendala dalam pekerjaan dan berhasil dengan baik. Tetapi perasaan palsu itu tetap menghantui. Ketika rahasia pribadi ini saya ceritakan kepada seorang teman, ia kaget dan berkata “Hah? Sampean begitu? Saya juga! Tetapi saya mau bilang malu!” Rasa diri gadungan wajar kalau dialami oleh seorang guru ketika pertama kali mengajar didepan kelas atau pengacara yang baru pertama menangani perkara, dokter yang baru praktek dan mereka yang baru mulai bekerja. Ada yang cepat hilang ada pula yang menahun. Takut berbuat kesalahan dan malu ketahuan bodoh. Orang tua yang menganjurkan anak-anaknya supaya belajar dari kesalahan-kesalahan, sering tidak konsekwen. Baru sedikit saja anaknya berbuat kesalahan mereka buru-buru mengatasinya sampai-sampai tugas sekolah anaknyapun mereka ambil alih. Malu ketahuan anaknya bodoh. Biarkan saja anak-anak salah menghitung karena belum memahami kaidah ”kali- bagi- tambah- kurang” sampai mereka betul-betul menyadari akibat kesalahan itu; baru dijelaskan. Kesalahan dapat menjadi sumber rasa malu tetapi juga sumber pendidikan, tergantung sikap kita.

Mungkin kita dapat mengusir rasa diri palsu,penipu dan gadungan ini dengan cara menguasai rahasia pekerjaan kita sedetil mungkin atau meyakinkan diri bahwa rasa gadungan ini hanyalah angan-angan, yang berbeda dan dan tidak ada hubungannya dengan benar-benar gadungan. Atau teruskan berpura-pura sebagai seorang bodoh, merendahkan diri sebagai starategi melindungi diri dan diam-diam membangun kepercayaan daripada bersikap siap dan kompeten (seharusnya begitu) tetapi takut menghadapi tantangan baru, takut dibilang bodoh, takut dievaluasi, dan tidak berani berkompetisi. Berbuat kesalahan adalah jamak. Segala hal ada celahnya; dari situlah cahaya masuk.

BILA ANDA MENUA NANTI (II)

BILA ANDA MENUA NANTI (II)

Oleh: Jum’an

Dua tahun yang lalu saya menulis disini dengan judul sama seperti diatas. Berbagi perihal ketuaan saya dengan anda yang masih muda, mengingatkan hal-hal yang saya sudah terlanjur yang tidak perlu anda ulangi. Apabila anda secara kebetulan membacanya waktu itu maka sekarang anda sudah menua dua tahun bersama saya. Ingin rasanya kembali berbagi pengalaman dan pengamatan saya dalam menjalani proses penuaan selama dua tahun terakhir ini. Ini bukan melankoli untuk dikasihani tetapi sebuah fenomena yang setelah saya kunyah-kunyah lalu saya telan ternyata memberikan khasiat yang menguatkan. Sebuah posting yang menyakitkan hati dari seorang remaja Amerika berjudul “I Hate Old People” berbunyi kira-kira begini: “Selama ini orang tua dianggap sebagai panutan bagi generasi muda, permata didalam keluarga yang harus dihormati dan dijaga. Bah! Orang tua adalah bisul dipantat, beban dipundak masyarakat. Saya muak melihat sosok dan tingkah mereka. Kusut, ceroboh, linglung, bau sampah, bikin ribet dan tidak berguna. Peduli apa dengan mereka! Mari bergabung dalam gerakan penghapusan jaminan hari tua dan legalisasi euthanasia! (bunuh diri untuk meringankan penderitaan)”. Sialan lu, teriak saya dalam hati.

Remaja ini yang mewakili sebagian generasi muda disana, tidak suka dengan orang tua. Alasannya seperti yang diatas tadi. Alasan ini dalam bentuk yang lebih tersamar dan tersembunyi mungkin juga sudah ada didalam masyarakat kita yang terbawa oleh arus modernisasi dan materialisme. Dengan iktikad introspeksi meskipun dengan berat hati biar saya mencoba memahami sikap mereka, siapa tahu ada pelajaran yang bisa kita ambil. Orang tua memang menurun fisik dan memorinya. Organ tubuh mereka banyak yang tidak koperatif lagi dan kurang berfungsi, meskipun disisi lain mungkin kesadaran batinnya semakin dalam. Kebutuhan dan kendala orang tua berbeda dan sering tidak difahami orang muda. Hampir bisa dikatakan bahwa dunianya berbeda. Ketika rekan seusia saya mengaku sering merasa kesepian, saya bertanya apa penyebabnya padahal keluarganya bahagia dan penuh ceria. Ia menjawab: dunia mereka berbeda! Ia merasa anak-anaknya tidak memahami keinginan dan kekhawatirannya. Meskipun selalu berada berdekatan ia tetap merasa kesepian. Sahabat saya yang lain bahkan sudah mengambil sikap: Seperak sekalipun kalau bisa, saya tidak akan minta uang dari anak-anak saya. Saya sendiri sudah banyak mengurangi keluhan didepan mereka bila sakit ringan, dan mengurangi menyuruh-nyuruh sesuatu yang masih bisa saya kerjakan sendiri. Bukan dengan sikap dongkol menghadapi Malin Kundang yang tak tahu balas budi tapi insyaalloh dengan ikhlas karena menerima kenyataan yang memang berbeda. Mulanya memang pahit dan sedih rasanya dihati.

Seiring berjalannya waktu, pil pahit itu mulai terasa hikmah dan khasiatnya. Balas budi tidak lagi terlalu diharapkan dari anak-anak tapi langsung dari yang menjanjikannya yaitu Alloh swt. Kalau konsisten kita mennghayatinya siapa tahu predikat “untuk Alloh semata – lillahi ta’ala” benar-benar dapat kita raih. Budi baik dari yang muda terasa sebagai jasa sukarela bukan hasil tuntutan. Alangkah manisnya. Saya kira sikap ini juga akan menumbuhkan kemandirian, ketabahan bagi orang tua dan kesiapan untuk menghadap sang khalik kelak. Tetapi seyogyanya jangan dimulai dari sikap defensive misalnya karena terpaksa memahami kebencian orang muda seperti diatas. Kita merindukan kehidupan yang lebih ideal; selain orang tua yang memahami anak-anak, juga generasi muda yang terdidik untuk menghormati orang tua. Seperti yang pernah dipesankan oleh Lukman kepada anaknya dan oleh nabi kita. Suatu waktu seorang pemuda siap bergabung kemedan perang, tetapi Rasulullah melarangnya karena dia meninggalkan orang tuanya sendirian. Beliau bersabda: Pulanglah engkau. Layani dan perlakukan mereka dengan santun. Itu sama baiknya dengan berperang dijalan Alloh.

BOHONG BERJAMAAH

BOHONG BERJAMAAH

Oleh: Jum’an

Sebuah kolom berjudul Amerca’s Top Liars dalam majalah Newsweek bulan April 2011 membahas tentang gelombang kebohongan massal dan disengaja disemua lapisan masyarakat yang dirasakan sebagai wabah nasional dan merusak peradaban Amerika. Tulisan itu disarikan dari buku berjudul Tangled Web (Jaringan Kusut) yang ditulis oleh Editor Wall Street Journal dan pemenang hadiah Pulitzer, James B Stewart. Buku itu memuat berbagai kebohongan yang dilakukan dibawah sumpah dipengadilan oleh tokoh olah raga, politisi, selebriti, media, tokoh bisnis, dan penasehat presiden yang seharusnya menjadi tokoh kepercayaan bukan penjahat. Diantaranya, mungkin anda pernah mendengar: Barry Bonds, pemain baseball terkenal San Fransisco Giants yang terlibat skandal steroid, Bernard Madoff tokoh keuangan Wall Street dan NASDAQ dengan 11 bohong berat sampai akhirnya dijatuhi hukuman 115 tahun penjara dan denda 17 milyar dollar, Lewis Libby penasehat politik utama Gedung Putih dan masih banyak lagi. Amerika telah kehilangan hakekat dan kesungguhan, kata JB.Stewart.

Amerika, Indonesia, anda dan saya akan kehilangan hakekat dan tidak berharga kalau tidak bisa lagi dipercaya, tidak bisa diandalkan. Dapat dipercaya merupakan faktor penting untuk membangun reputasi dalam segala bidang. Dari penjaga pintu kereta sampai pilot pesawat, dari makelar sampai jaksa, dari dokter sampai dai dan politisi. Juga para online sellers; pokoknya semua bidang kehidupan. Kita tidak mungkin memiliki reputasi yang baik kalau kita tidak dapat dipercaya. Dapat dipercaya pada dasarnya sangat sederhana dan dapat diucapkan dengan satu kalimat saja: Katakan apa yang akan anda lakukan dan kemudian melakukannya. Sayang dalam kenyataan tidak sesederhana itu. Bahkan kegagalan untuk menindaklanjuti apa yang kita katakan sudah menjadi sikap yang dominan dalam kehidupan sekarang sampai-sampai kita tidak sadar waktu melakukannya. Padahal asas perlunya kepecayaan penuh berlaku untuk semua pekerjaan dan posisi penting dimuka bumi.

Dimuka bumi ini terlalu banyak bencana, terlalu banyak orang menderita, telalu banyak orang kelaparan dan sekarat, sehingga sangat kontras kalau kita membiarkan pekerjaan dan posisi-posisi penting dipegang oleh orang-orang yang tidak dapat dipercaya penuh. Dapat dipercaya bukanlah ukuran prestasi tapi akhlak. Bisa saja kita gagal menjalankan tugas, tetapi kita tetap dapat dipercaya kalau memang jelas duduk perkaranya. Akhlak terpercaya juga merupakan syarat penting untuk mencapai kemerdekaan. Dengan membuktikan diri dapat dipercaya, diandalkan dan mampu memenuhi kewajiban, sudah selayaknya seseorang mendapatkan kemerdekaan yang lebih besar. Dapat dipercaya artinya mau menerima tanggung jawab penuh untuk suatu tujuan, menyelesaikannya sampai tuntas dan mempertahankan hasilnya. Walhasil kepercayaan itu bukan saja tuntutan masyarakat tetapi juga tuntutan Alloh. Kalau boleh saya sadur arti surat Ash-Shaaff ayat 2-3, dalam bahasa Betawi begini: “He lu orang-orang yang beriman pade, kenape lu ngomongin perkare yang lu kaga bise lakonin. Alloh bener-bener kaga demen ame lu semue yang nyerocos padahal lu pade ogah ngelakonin !!!” (Mohon maaf seperti khotbah…, sekedar peringatan buat kita semua terutama saya)

CUCI OTAK ATAU SEKEDAR BUJUKAN?

CUCI OTAK ATAU SEKEDAR BUJUKAN?

Oleh: Jum’an

Menurut Robert Jay Lifton psikolog yang mengevaluasi para tentara Amerika bekas tawanan perang Korea, ada tiga langkah utama dalam upaya brainwashing atau cuci-otak. Yaitu meruntuhkan kepercayaan diri korban, memperkenalkan kemungkinan penyelamatan dan membangun kepercayaan baru versi Korea. Semua dilakukan dalam suasana isolasi dibarengi dengan teknik mengaburkan pikiran seperti suasana kurang tidur dan gizi buruk, terus menerus diancam atau disakiti sehingga makin sulit untuk berpikir kritis. Untuk merusak kepercayaan diri korban, brainwasher membantah dan menyalahkan setiap pernyataan sikap dan identitas yang diucapkan oleh korban. Kamu bukan prajurit, kamu bukan membela kemerdekaan dan sebagainya. Itu dilakukan berhari-hari bahkan berminggu dan berbulan-bulan sampai korban kelelahan, bingung dan mengalami disorientasai. Keyakinan korban mulai kendor. Sementara mengalami krisis identitas, sang pencuci menanamkan rasa bersalah yang serius kedalam diri korban. Tanpa henti dan belas kasihan menyerang setiap kesalahan besar ataupun kecil. Dari keyakinan yang sesat sampai cara makan yang terlalu lambat. Korban mulai merasa malu karena semua yang dilakukannya ternyata salah. Setelah bingung, malu dan tengelam dalam rasa bersalah, sang pencuci memaksa dengan ancaman supaya korban mengingkari dan mengutuk keluarga dan rekan-rekannya yang sama-sama memegang kepercayaan yang salah. Pengkhianatan terhadap diri, keluarga dan rekan-rekan yang loyal ini makin menambah rasa malu serta kehilangan identitas.

Dengan krisis jati diri, mengalami rasa malu yang mendalam dan mengkhianati loyalitas keluarga, korban akan mengalami mental breakdown. Tidak jarang mereka menangis tak terkendali, mengalami depresi berat dan kehilangan arah. Mereka kehilangan cengkeraman pada realitas dan merasa benar-benar tersesat dan sendirian. Pada saat kehancuran ini, diri korban siap dirampas, dia tidak memahami dengan jelas siapa dia sebenarnya dan apa yang terjadi padanya. Disinilah sang pencuci menyiapkan tawaran untuk berpindah kesistim kepercayaan yang akan menyelamatkan korban dari penderitaan. Lifton mencatat 10 langkah sistimatis dalam proses cuci-otak. Menurut Mark Shepard seorang pakar psikoterapi, proses pencucian otak (yang berasal dari sumber militer Amerika) ditandai oleh lima perlakuan sekaligus. Yaitu korban diisolir tanpa hubungan dengan dunia luar, dipaksa kurang tidur, disakiti atau diberi imbalan kalau menolak atau menurut dan dipengaruhi otaknya secara kimia dengan narkoba atau diet yang buruk. Bila kelima perlakuan itu secara bersama dilakukan dalam waktu yang cukup, maka sang pencuci akan dengan mudah merubah kepercayaan korban.

Itu menandakan bahwa otak yang sehat memang tidak mudah untuk dicuci. Jadi kalau hanya dengan mendengarkan argumentasi atau khotbah seseorang tanpa perlakuan yang menakutkan seperti diatas lalu kita menuruti semua permintaan orang itu, jelas itu bukan cuci otak. Itu bujukan atau mungkin hipnotis seperti yang sering kita tonton di TV. Entah penghayatan kita dalam beragama yang kurang mantap atau ketimuran kita yang telah membuat kita mudah terpesona dan terkesima. Terutama bila kita menyimak argumentasi agama dari tokoh yang berpenampilan meyakinkan. Kita merasa tidak ada hak sama sekali untuk berfikir dan mencerna. Padahal otak kita adalah karya agung sang Pencipta yang tak ternilai kemampuannya. Bila kita terbiasa menggunakannya dengan baik, maka apa yang disebut “cuci otak” ala NII akhir-akhir ini tidak akan berhasil. Mari kita pasang otak untuk mengkritisi setiap bujukan dan rayuan. Kita gunakan akal sehat kita. I am the master of my fate. I am the captain of my soul. Akulah penguasa nasibku. Akulah nakhoda sanubariku. Jangan berani-berani mencoba untuk mencuci otakku. Selebihnya, lahaula wala quwwata……