Bulan: Juli 2013

NAMAI ALI JANGAN KEVIN

Image

NAMAI ALI JANGAN KEVIN

Oleh: Jum’an

Apalah artinya nama. Jika mawar diganti namanya dengan melati, baunya tidak akan berubah. Nama hanyalah label dan label tidak akan mengubah esensi. Seorang keponakan saya bernama Nadia; waktu ia dilahirkan bapaknya sedang terpesona oleh performa pesenam legendaris Rumania, Nadia Elena Comaneci. Nadia sendiri tidak tahu ketika diberi nama itu; orang tuanya yang mau. Ia hanya bisa menyandang nama itu sepanjang hayat. Sekarang sebagai seorang ibu ia meberi label anak-anaknya dengan nama yang lebih menarik dan trendy. Benarkah nama hanyalah label dan tidak merubah esensi orang yang menyandangnya? Itu hanya sentimen yang berlebihan; ilmu psikologi modern membuktikan beda. Penelitian menunjukkan bahwa nama yang diberikan kepada seorang anak yang baru lahir akan berdampak terhadap kehidupannya dikemudian hari. Ketika tumbuh dewasa ia akan terpengaruh oleh nama mereka secara langsung maupun tak langsung. Nama memiliki potensi untuk mempengaruhi kepribadian, harga diri, asmara dan bahkan kemungkinan kebiasaan merokok.

Studi oleh Intitut fur Psychologie, Max Plank Research (Berlin) dan Duke Univ, Durham USA menemukan bahwa orang-orang yang namanya dianggap positip lebih mungkin menikmati interaksi sosial yang positip, sementara orang-orang dengan nama negatif lebih mungkin mengalami penolakan masyarakat. Para ilmuwan itu berpendapat bahwa kesan awal membentuk dasar yang kuat untuk memproses informasi selanjutnya tentang seseorang. Dan nama merupakan salah satu unsur informasi awal yang kita terima ketika kita bertemu orang baru. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penolakan oleh masyarakat cenderung menurunkan harga diri, meningkatkan kemungkinan merokok, dan menurunkan tingkat pencapaian dalam pendidikan seseorang. Jika nama yang dianggap negatif memberikan kontribusi terhadap penolakan sosial, berarti orang-orang dengan nama negatif akan memiliki harga diri rendah, lebih mungkin untuk merokok, dan tidak berpendidikan maju seperti rekan-rekan mereka bernama positif.

Para peneliti memperhatikan puluhan ribu profil “kencan online” yang dibuat oleh para pengguna internet yang memakai nama yang sangat positip, agak positip dan yang berkesan negatip. Sesuai dugaan, mereka dengan nama-nama yang lebih positif menerima lebih banyak sambutan, sementara mereka yang namanya terkesan negatip lebih sedikit sambutannya. Dengan kata lain, pengajak kencan online yang namanya dianggap negatif lebih mungkin untuk ditolak. Nama favorit tentu bervariasi sesuai dengan tempat dan waktu. Tapi khusus dalam penelitian ini, user pria dengan nama yang paling positif (“Alexander”) menerima kunjungan dua kali lebih banyak dari pengguna yang namanya paling terkesan negatif (“Kevin”). Juga sesuai prediksi, orang-orang dengan nama negatif cenderung rendah diri, kurang pendidikan, dan suka merokok. Gadis lajang Jerman ternyata lebih memilih untuk tetap lajang (membujang) ketimbang memadu cinta dengan pria benama Kevin. Pantaslah ketika rakyat Inggris sibuk menebak-nebak nama “royal baby” mereka minggu lalu, Developmental Psychologist Jason Goldman menulis dalam The Guardian, menyarankan kepada Pangeran William dan isterinya Kate: Apapun yang anda lakukan, jangan beri nama putra kalian Kevin.

Dalam sejarah Islam kita mengenal tokoh Ali bin Abi Talib yaitu sepupu sekaligus menantu Rasulullah Muhammad SAW. Beliau dikenal memiliki berbagai kelebihan dalam pengetahuan, kebranian, kealiman dan kedermawanan. Beliau adalah tokoh yang namanya banyak dipakai orang. Sebuah ungkapan dalam bahasa Arab mengatakan: Namai Ali dan biarkan. Artinya dengan nama Ali saja, sudah cukup sebagai bekal menjalani hidup. Jadi, namai Ali jangan Kevin………..

Iklan

JIN QARIN DAN DOPPELGANGER

Image

JIN QARIN DAN DOPPELGANGER

Oleh: Jum’an

Ketika kita merasa bimbang untuk mulai berbuat curang, selalu hadir sosok yang membisikkan supaya kita tidak usah ragu-ragu. Kecurangamu itu, bisiknya, toh bertujuan baik, demi anak istri. Tidak ada yang dirugikan. Allah pasti tahu bahwa kamu kesusahan dan mensejahterakan keluarga adalah ibadah untukNya juga. Dia tahu hatimu baik. Lagipula orang lain juga berbuat begitu; lanjutkan saja! Sosok pembisik itu benar-benar terasa kehadirannya, akrab dan bersahabat, suaranya hampir terdengar ditelinga kita. Sepertinya ia tahu benar rahasia hati kita dan terasa bukan orang lain, mungkin kembaran virtual yang selalu mendampingi kita. Sosok pembisik itulah jin Qarin. Ia benar-benar ada yang diciptakan Allah untuk masing-masing kita, seorang satu. “Tidak ada seorang pun diantara kalian yang tidak di tunjuknya jin pendamping (Qarin)”, kata Rausulullah. Kelak di akhirat Qarin sang pembisik itu akan dihadirkan bersama kita dalam sidang pengadilan “final justice”. Ketika seseorang pembangkang membela diri dengan mengatakan bahwa sebenarnya ia disesatkan oleh pembisiknya, Qarinnya mengelak dan mengatakan “Ya Allah, bukan saya yang menyesatkannya tetapi dia sendiri yang memang sesat.” (surat Qaf, ayat 27). Maka kedua-duanya akan menerima hukuman yang setimpal. Anda dapat menggugel Qarin dari internet, menanyakannya kepada ulama atau membacanya sendiri dalam Qur’an dan Hadis. Bahwa rasanya ada sosok lain yang ikut menghuni dalam jasad kita pernah saya tulis dalam “Ada Orang Lain dalam Diri Saya?” , menceritakan kembali tulisan Ramachandran dalam The Scientific American berjudul “Hey, Is That Me over There?”

Dalam cerita rakyat Jerman dikenal sosok yang disebut Doppelganger (Inggris = Double Walker) yaitu kembaran diri yang dipercaya menyertai setiap manusia di bumi. Dalam tulisannya The True Stories of Doppelgangers, Stephen Wagner seorang penulis dan peneliti paranormal berpengalaman menyebutkan, banyak tokoh-tokoh dalam sejarah  yang mengaku bertemu atau ditemui oleh dirinya sendiri – doppelganger mereka– atau mengalami fenomena bi-lokasi yaitu seseorang berada didua tempat terpisah pada saat yang sama. Doppelganger tidak bisa dibedakan dari pemiliknya dan dapat berinteraksi dengan orang lain seperti diri yang sebenarnya. Umumnya doppelganger hanya dapat dilihat oleh pemiliknya dan biasanya merupakan pertanda akan datangnya kematian bagi orang itu. Tetapi kadang-kadang juga dapat dilihat oleh orang lain. Dalam kisah-kisah nyata itu disebutkan bahwa Ratu Elizabeth I, Presiden Kennedy, serta Presiden Lincoln termasuk orang-orang yang pernah bertemu dengan doppelgangernya. Ratu Elizabeth I terperanjat ketika melihat dirinya sendiri berbaring ditempat tidurnya. Ia meninggal beberapa waktu sesudah itu. Emile Sagee (1845) seorang guru perempuan, tidak pernah melihat kembarannya tetapi murid-muridnya sering memergokinya ikut mengajar dikelas atau berjalan dikebun diluar jendela sementara Emile mengajar. Stephen Wagner juga meberikan beberapa contoh peristiwa dimana seseorang berada didua tempat terpisah pada saat yang sama.

Dalam Biografi Alm. KH. Hamim Tohari Jazuli  alias Gus Miek (1940 -1993) disebutkan bahwa ketika Kiai Romli Tamim dari Pesantren Darul Ulum Jombang, seorang mursyid tarekat Qodiriyah meninggal pada tahun 1958, Gus Miek menolak ajakan ayahnya untuk ikut takziah ke Jombang. Ia memilih untuk tinggal dirumah di Kediri. Ketika sang ayah (KH. Ahmad Jazuli) sampai di Jombang ternyata Gus Miek sudah ada disana dan keluarga Kiai Romli menjelaskan bahwa Gus Miek sudah berada di Jombang selama seminggu menemani almarhum sebelum meninggal. Kaum santri menyebut fenomena seperti ini sebagai karomah. Mereka mengenal berbagai karomah kiai-kiai besar. Stephen Wagner pasti tidak merasa heran dengan kisah Gus Miek; meskipun banyak diantara kita yang menganggapnya sebagai khurafat dan takhayul belaka.

Qarin dan Doppelganger adalah dua fenomena yang berasal dari dua sumber yang jauh berbeda. Qarin jelas disebut-sebut dalam Qur’an dan Hadis sedangkan Doppelganger berasal dari cerita rakyat Jerman. Bagaimanapun Doppelganger, menolong saya untuk memahami mengapa Gus Miek bisa berada di Jombang dan di Kediri pada saat yang bersamaan.  Wallohu a’lam bissawab.

SOLAT INTUITIF DAN OTOMATIS

Image

SOLAT INTUITIF DAN OTOMATIS

Oleh: Jum’an

CPU komputer saya ada dibawah meja berukuran 120 x 75 cm diatas dingklik setinggi 10 centi. Karena ruang gerak terlalu sempit saya menggunakan jempol kaki untuk menekan tombol on-off tiap kali menghidupkan komputer. Tetapi mencolokkan flashdisk kedalam lubang USB tidak mungkin menggunakan kaki, jadi saya terpaksa mengulurkan tangan kebawah meja mecari lubang kecil itu tanpa melihatnya. Mula-mula selalu kesasar dan lama meraba-raba, tapi untuk selanjutnya tangan saya seperti punya mata sendiri dan tak pernah salah. Tahu persis dimana titik yang saya cari. Demikian pula dengan parkir paralel atau memarkir mobil kedalam garasi yang sempit. Sesudah beberapa kali kesulitan maju mundur, selanjutnya mobil dan badan kita serasa menyatu sehingga jarak beberapa centimeter saja serasa terdeteksi dengan baik; tak pernah menyerempet tembok atau mobil lain. Anda begitu juga; untuk hal yang sama atau yang lain. Gerakan gerakan kita ternyata menunjukkan kemanjuran yang tidak kita sangka dan menjadikan kita percaya diri.

Tetapi ingat-ingat ini: Sekali kita sudah terbiasa dengan letak lubang USB dibawah meja atau parkir parallel atau ketrampilan lainnya, jangan lagi dipikir waktu mengerjakannya. Sebab memikirkan sesuatu yang sedang kita kerjakan akan merusak kinerja kita. Dalam blognya The Myth of ‘Just Do It’  Barbara Montero seorang profesor filsafat mengutip rumus seorang tokoh baseball Yogi Berra: “Anda tidak bisa memukul dan berpikir pada saat  yang sama.” Juga nasehat koreografer terkenal George Balanchine kepada para penarinya “Don’t think, dear; just do.” Jangan dipikir, lakukan saja! Bagi yang sudah terlatih melakukan sesuatu, memikirkan apa yang sedang dilakukannya mengarah pada ketidak-akuratan, kesalahan dan kadang-kadang bahkan ketidak-berdayaan total. Membawa gelas penuh air sambil memikirkan caranya akan membuat tangan kita bergoyang dan menumpahkannya; berpidato sambil memikirkan bagamana cara memulainya bisa membuat kita tersedak. Sebabnya, menurut sebuah artikel dalam The Scientific American yang pernah saya kutip dalam tulisan saya Akibat Terlalu Banyak Berpikir, “Mencoba berkonsentrasi untuk memantau kwalitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja.”

Saya kira fenomena diatas ada kaitannya dengan usaha saya yang selalu gagal untuk melaksanakan tertib solat dengan baik. Bukankah kita yang selalu melakukan solat wajib lima kali sehari sangat terlatih dan lancar melakukan urutan langkah-langkah dari takbir hingga salam? Kita melakukannya secara intuitif dan otomatis. Tidak kita pikir-pikir lagi. Meskipun demikian tidak jarang diantara kita yang tersesat di rakaat mana kita sedang berada. Saat itulah kita berfikir untuk mencari kejelasan supaya dapat melanjutkan langkah berikutnya. Karena daya ingat yang menurun dimakan usia, saya memakai cara begini: Ketika berdiri untuk mulai setiap rakaat, pikiran saya berkata: ini adalah rakaat ke sekian. Saya berharap cara ini akan menghilangkan keraguan. Tetapi waktu melakukan rakaat berikutnya selalu muncul pikiran: rakaat yang sebelum ini tadi sudah saya kerjakan atau baru rencana dalam pikiran?  Pikiran pun menjadi buntu dan solat 4 rakaat saya tetap berpotensi meleset menjadi tiga atau lima rakaat. Kita memang sulit untuk mengerjakan sesuatu sambil memantaunya secara bersamaan.

Dalam sebuah penelitian, dua kelompok mahasiswa diberi tugas untuk memberikan peringkat lima buah merk selai, dari yang terbaik sampai yang terburuk. Kelompok pertama hanya diminta menentukan peringkatnya saja, sedangkan kelompok kedua diminta juga untuk menyertakan alasan-alasan mereka. Hasilnya, kelompok pertama menunjukkan pernilaian yang cukup konsisten, selaras baik antar mereka dalam satu kelompok maupun dengan pernilaian dari Lembaga Konsumen.  Sedangkan penilaian oleh lompok kedua yang harus menyertakan alasan, ternyata kacau dan saling berbeda baik antar anggota kelompok maupun dengan penilaian Lembaga Konsumen. Para peneliti menduga karena kelompok kedua lebih banyak berpikir dalam menilai dan mempengaruhi hasil penilaian mereka.

Bagi mereka yang sudah ahli atau terbiasa baik dalam berolah raga, menari, menyanyi, berkhotbah maupun solat, tidaklah seharusnya untuk berfikir waktu mengerjakannya karena pertimbangan cermat dapat menimbulkan kesulitan. Wallohu a’lam

SOLAT BERBAHASA JAWA

Image

SOLAT BERBAHASA JAWA

Oleh: Jum’an

Pak Sri teman saya asli Solo mengatakan bahwa ia merasa lebih sreg bila berdoa dalam bahasa Jawa. Katanya lebih terasa kalau dia mengucapkan Duh Gusti dibandingkan Ya Robbi. Dengan rendah hati ia mengatakakan seandainya diizinkan, ia ingin solat menggunakan bahasa Jawa: setidak-tidaknya pada tahiyat akhir saja. Saya tertegun mendengarkan curhatnya. Saya hanya menimpali bahwa keinginannya mirip dengan keinginan saya dalam menjalankan profesi sehari-hari. Setiap kali berurusan dengan suhu, volume, berat atau jarak, selalu terasa ada yang janggal yang tidak sreg. Karena menerapkan teknologi Amerika, suhu terpaksa dinyatakan dalam derajat Fahrenheit, bukan dalam derajat Celcius (Centigrade), padahal saya lebih sreg menggunakan derajat Celcius karena lebih mudah dibayangkan. 0o C adalah sedingin menggenggam es batu dan 100o C sepanas tersiram air mendidih. Sedangkan 100o F tak terbayang seberapa panas, kecuali jika saya konversikan lebih dulu. Begitu juga volume, berat dan jarak saya lebih sreg menggunakan liter, kilogram dan meter daripada feet, pound dan gallon. Lebih terbayang. Pak Sri juga ingin doa dan solatnya lebih terasa, seperti manisnya rasa buah, tidak seperti menelan kapsul vitamin meskipun mungkin sama khasiatnya. Meskipun tak pernah terlintas untuk solat menggunakan bahasa Jawa, saya memahami pentingnya ibadah yang terasa sampai kehati tidak verbalististis dan mekanistis. Bagi Pak Sri bahasa Jawa tidak hanya enak diucapkan tetapi terasa meresap sampai kehati dibanding bahasa Arab yang tidak ia kuasai dengan baik. Saya maklum karena sebagai orang Banyumas saya juga setali tiga uang.

Konon suatu saat Raden Ajeng Kartini merasa bosan mengaji dan menghafal dalam bahasa Arab tanpa memahami artinya. Ia dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngaji yang mengaharapkannya menjadi wanita yang soleh. Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya Estella Zeehandelaar, seorang tokoh feminis Yahudi Belanda. Salah satu baris surat bertanggal 6 November 1899 itu berbunyi: Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella?” Ini tragis! Karena guru ngaji yang mungkin tidak pandai menyajikan materinya dalam bahasa Jawa yang difahami dan diresapi, Kartini berpaling kepada komunitas Belandanya. Tetapi bukan salah sang guru ngaji. Kartini memang dibawah pengaruh mereka; bahkan ia memandang Dr. Snouck Hurgronje orientalis-kolonialis Balanda sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Kepada Rosa Abendanon istri Menteri Agama & Kebudayaan Hindia Belanda waktu itu, Kartini menulis: “… sudikah nyonya menanyakan kepada beliau apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” Mempertentangkan arti soleh dan baik hati adalah tidak relefan; bahkan dalam hal ini terdengar provokatif dan menunjukkan ketidak sukaan kepada bahasa Arab, padahal RA Kartinii adalah cucu dari pasangan KH Madirono seorang guru agama dan Nyai Hajjah Siti Aminah.

Kebanyakan kita menyangka bahwa apa yang kita ungkapkan dengan kata-kata sama persis dengan yang kita rasakan dalam pikiran. Yang kita ucapkan tergantung dari apa yang kita gambarkan dalam pikiran kita. Tetapi ada pendapat yang sebaliknya yaitu apa kita rasakan, apa yang kita lihat, tergantung dari kata yang kita ucapkan. Artinya persepsi seseorang tergantung dari bahasa orang itu. Menurut Hipotesa Sapir-Whorf  bahasa menentukan atau sangat mempengaruhi cara berfikir dan perilaku masyarakat pengguna bahasa itu dan bahwa  macam-macam bahasa tidak dapat diterjemahkan satu dengan lainnya. Bahasa seseorang memang berpengaruh terhadap persepsi dan pemikirannya, sebagaimana terbukti dari penelitian dua orang dari Ben-Gurion Univ. Israel dan Bangor Univ. Inggris. Subyek dalam penelitian mereka adalah orang-orang Arab warga Israel, yang fasih dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab, yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang menggunakan bahasa Ibrani. Terbukti bahwa asosiasi positif mereka dengan bangsanya sendiri (sesame Arab) lebih lemah ketika mereka diuji dalam bahasa Ibrani daripada ketika mereka diuji dalam bahasa Arab. Mereka berfikir Arab lebih positif ketika mereka dalam lingkungan berbahasa Arab daripada lingkungan berbahasa Ibrani. Padanan awamnya, Kartini yang fasih berbahasa Belanda dan Jawa berkurang simpatinya kepada guru ngaji bangsa sendiri ketika ia bergaul dengan komunitas yang berbahasa Belanda. Karena itu ia memilih bertanya kepada Snouck Hurgronje daripada kepada ulama Islam berbahasa Jawa.

Saya juga sering berdoa dalam bahasa Indonesia atau Jawa terutama bila harus menyebut hal-hal yang bersifat masa-kini atau khas-pribadi. Tetapi melakukan solat menggunakan bahasa Jawa, … tidak akan! Karena seperti dikatakan Edward Sapir diatas, pada hakekatnya suatu bahasa tidak dapat diterjemahkan kedalam bahasa lain. Apalagi ayat suci Qur’an. Anda tidak akan solat dalam bahasa selain bahas Arab bukan? Saya dan Pak Sri juga tidak.