Bulan: Oktober 2012

PENCEMAS KRONIS

PENCEMAS KRONIS

Oleh: Jum’an

Inilah kebodohan sebagian orang termasuk saya: berulang-kali terperosok pada lubang yang sama. Sudah berhati-hati supaya terhindar tetapi tetap saja terjadi. Rusdi, sohib saya yang telah lama menjalani cangkok ginjal mengaku bahwa pada tahun-tahun pertama, setiap bulan ia selalu dihantui rasa takut yang mencekam setiap kali harus membaca hasil test darah bulanannya. Angka yang paling menentukan didalamnya adalah kadar ureum dan kreatinin yang katanya merupakan indikator keselamatan ginjal cangkoknya. Bila kedua angka itu terus naik dari bulan-bulan sebelumnya, itu pertanda bahwa keselamatan ginjal, tubuh dan bahkan nyawanya terancam. Pertanda kemungkinan kiyamatnya sudah dekat. Wajarlah kalau dia ketakutan. Maka amplop itu tidak segera ia buka. Digenggamnya berlama-lama, duduk menyendiri sambil merenung, bagaimana kalau kedua angka itu ternyata melonjak tinggi. Ginjal tidak lagi berfungsi, badan membengkak, nafas sesak dan selanjutnya dan selanjutnya. Padahal banyak kesenangan yang sedang ia nikmati, banyak dosa yang belum ditebus katanya.  “Allah pasti menolong saya …..tetapi Dia juga maha penentu ajal setiap saat!” Harapan dan ketakutan muncul silih berganti; melelahkan menguras fikiran dan semangat hingga badan terasa lunglai seperti benang basah. Tetapi kalau sudah takdir mau apa? Toh hasil test itu harus ia baca dan diserahkan kepada dokter. Begitu terus menerus ia tersiksa oleh ketakutan kiyamat dari bulan ke bulan. Apa yang ia khawatirkan belum terjadi dan baru berupa bayangan tetapi semangat dan tenaganya serasa habis terkuras. Dan kenyataannya tak pernah terbukti.

Ketakutan itu muncul karena dia membayangkan hasil test yang memburuk, bayangan yang ia buat sendiri artinya dia sendirilah yang menciptakan ketakutan (yang mungkin tidak perlu) itu. Katanya ia tidak mungkin membayangkan hasil yang memuaskan karena kimia darah maupun pengujiannya semua diluar jangkauannya. Seperti rasa tersiksa sorang ibu ketika anaknya berada diruang ICU, tak ada yang bisa ia perbuat sedikitpun untuk menolong karena semua diluar wewenangnya. Sebenarnya Apabila Rusdi membayangkan hasil test darahnya akan baik, maka semua siksaan itu tidak pernah akan ada. Barangkali manusia memang makhluk aneh yang lebih banyak tersiksa oleh ketakutan yang mereka bayangkan daripada penderitaan yang riil? Ataukah Rusdi dan sebagian orang termasuk saya adalah pencemas yang kronis?

Itu salah satu contoh dari banyak penderitaan Rusdi yang katanya tidak pernah berhenti sepanjang waktu. Berikut contoh khas dari saya yang senasib. Belum lama ini, rekan saya pamit mau “periksa” ke rumah sakit. Tetapi ia tidak pulang dan tidak bisa dihubungi sampai malam. Mobilnya ada ditempat parkir RS tetapi resepsionis mengatakan dia sudah lama keluar dari kamar dokter. Imajinasi saya, begitu mau masuk mobil ia diculik dan mungkin dianiaya. Bayangan saya sangat beralasan mengingat jabatan vitalnya diperusahaan. Rasa cemas dan ketakutan saya juga beralasan. Kalau dia tewas dianiaya penculik, perusahaan akan segera lumpuh dan pintu rejeki saya tertutup dalam waktu tidak lama. Syukurlah hal itu tidak benar-benar terjadi. Singkat cerita rekan saya aman sehat wal-afiat, dan gaji bulanan saya juga aman sampai saat ini.

Semua salah sendiri! Begitu mungkin kata anda. Bodoh dan sia-sia. Tetapi bagi saya, bagi Rusdi dan pencemas kronis yang lain, semua proses berjalan wajar, beralasan dan merupakan pilihan. Bukan bodoh dan tidak sia-sia. Rasa tersiksa, cemas, takut dan lemas terkuras itu justru merupakan moment untuk berdekatan dengan yang Maha Kuasa. Saatnya kita bersedu-sedan, terisak-isak menangis, memohon dan menyerahkan nasib sepenuhnya. Bukankah itu sesuatu yang berarti? Dan ketika esok hari siksaan tidak datang, rasa syukur kita akan berlipat. Lebih baik tersiksa oleh ketakutan yang mencekam tetapi lepas dari penderitaan yang nyata. Dengan bonus beberapa saat berdekatan denganNya. 

KUN FAYAKUN

KUN FAYAKUN: YAKIN UNTUK SELAMANYA

Oleh: Jum’an

 Setidak-tidaknya tujuh belas kali sehari saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Saya percaya bahwa kandungan isi Al-Qur’an adalah sepenuhnya benar. Saya percaya apa yang disebut dalam surat Al-Baqarah ayat 117 dan surat Yasin ayat 82 bahwa apabila Allah mengendaki sesuatu Dia hanya menyatakan “Jadilah” maka jadilah. Tercipta dengan serta-merta, tidak usah harus mengolah dari bahan baku yang sudah tersedia. Dialah yang kelak akan menghidupkan kembali tulang-belulang kita yang sudah hancur luluh dengan kekuasaan yang sama; dengan serta merta. Kun fayakun. Allah tidak hanya sekedar mencipta. Dia mencipta, menyempurnakan ciptaanNya, menentukan kadar-kadarnya dan memberinya petunjuk (surat Al-A’la 2-3). Dia yang menghidupkan dan Dia yang mematikan. Begitulah pemahaman saya tentang salah satu kekuasaan Allah tidak berubah dari dulu sampai sekarang.

Dalam pendidikan umum, saya lebih banyak mempelajari ilmu eksakta yang kemudian mengantar saya menjadi tenaga teknik sampai tua. Dapat dikatakan bahwa saya kurang lebih seorang yang rasional dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Saya sangat tertarik dengan kenyataan banyaknya tokoh-tokoh ilmuwan yang menemukan Islam melalui ilmu pengetahuan, seperti yang baru-baru ini dimuat dalam Republika Online ini. Saya juga pernah menulis buku “Kisah Perjalanan Mendapatkan Islam” dan menterjemahkan buku “Sejarah Geografi Qur’an” untuk menunjukkan sikap (sekemampuan) saya pada ilmu pengetahuan dan agama.

Apakah kedua sikap saya diatas konsisten dan dapat saya pertahankan dengan konsekwen? Mungkinkah saya, yang mengaku sepenuh hati percaya pada kun fayakun (bahwa Allah menciptakan sesuatu dengan serta merta tanpa bahan baku dan proses selangkah demi selangkah) dapat menghargai ilmu pengetahuan dengan jujur? Atau, kalau saya  benar-benar percaya kepada ilmu pengetahuan (yang selalu mendasarkan kepada bukti, fakta empiris dan penyimpulan rasional atas dasar fakta) dapat benar-benar percaya sesuatu tercipta dengan serta merta merta? Ataukah berarti saya munafik? Atau iman dan ilmu pengetahuan saya yang sebenarnya terlalu dangkal? Atau sifat manusia manusia begitu lentur sehingga dengan enak saja menampung hal-hal yang saling berlawanan dalam dirinya? Sebab apabila kita benar-benar percaya kepada ilmu pengetahuan dengan konsekwen, kita harus setia mengikutinya ke mana pun ia membawa kita, sekalipun itu berarti bertentangan dengan wahyu Ilahi. Simak ucapan Profesor Richard Dawkins, pembela teori evolusi Darwin yang menyakitkan hati ini: “Sementara fakta adalah sumber sains yang telah terbukti keampuhannya, ada tiga hal yang merupakan alasan buruk untuk mempercayai sesuatu: tradisi, otoritas, dan wahyu, yang biasanya diwariskan turun-temurun dan sulit diuji… Ketiganya telah terbukti menyebabkan manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis.” Teori Evolusi Darwin adalah contoh nyata terbesar bagaimana sebuah ilmu pengetahuan dianggap melawan wahyu Ilahi dan bertentangan dengan agama.

Dalam blog saya “MENOPAUSE SALAH MENANTU ATAU ANAK MAMA” saya mengatakan tidak tertarik dengan penjelasan ilmiah tentang sebab musabab menopause karena selalu dikaitkan dengan evolusi dari Teori Darwin yang telah menuding kita sebagai keturunan monyet. Meskipun saya menulis dengan spontan tanpa pertimbangan yang mendalam, tetap dapat diartikan bahwa saya tidak sepenuhnya setia dan konsekwen dalam mempercayai ilmu pengetahuan. Karena pertentangan agama dan ilmu pengetahuan telah lama terjadi dan akan terus dibangkit-bangkitkan orang, perlu rasanya saya mengambil sikap. Daripada habis umur terombang-ambing tanpa kesimpulan, saya akan tetap meyakini kebenaran kun fayakun; kini dan untuk selamanya karena Allah lah yang kita sembah. Saya juga akan tetap menjunjung tinggi ilmu pengetahuan karena Allah juga yang menghendaki kita menuntut ilmu. Meskipun dapat dikatakan mendua.

Lagipula, otak manusia sangat mahir memilah-milah sesuatu persoalan untuk menghindarkan terjadinya konflik internal dalam diri kita. Mungkin ini bukan kemampuan atau sifat yang selalu baik, tetapi dalam hal ini perlu. Dengan demikian kita dapat cukup mudah mempertahankan pemisahan keimanan kita dari kehidupan kita sehari-hari. Wallohu a’lam