Bulan: Januari 2012

VAMPIR YAHUDI TIDAK TAKUT SALIB

VAMPIR YAHUDI TIDAK TAKUT SALIB

Oleh: Jum’an

Mula-mula saya hanya iseng menonton acara televisi uji-nyali (Masih Dunia Lain) yang ditayangkan oleh Trans 7 setiap tengah malam Jum’at. Selama dua malam berturut-turut, penantang yang berani berada sendirian di tempat yang banyak hantunya (biasanya bangunan tua yang dikenal angker) akan menerima hadiah uang sebesar dua juta rupiah dan dinyatakan sebagai pria atau wanita yang bernyali besar. Masalah hantu adalah topik yang paling tidak saya sukai karena tidak jelas dan tidak bermanfaat. Tetapi sekarang apa saja yang bisa dijadikan uang akan diolah, dibumbui dan dijual. Saya ketagihan menonton uji-nyali bukan karena tertarik dengan hantunya, tetapi pada tingkah laku para pesertanya yang bermacam-macam. Kebanyakan mereka tergolong anak muda yang kecuali ingin menguji keberanian, tidak percaya atau justru akrab dengan dunia perhantuan, juga, meraih dua juta rupiah dengan cara ini cukup menarik dan why not! Bila merasa ketakutan dan terpaksa menyerah ditengah jalanpun tidak didenda.

Yang nampak dominan setelah saya menonton beberapa episode, kebanyakan pesertanya mengandalkan kepada bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk menghadapi hantu-hantu itu. Salah seorang diantaranya, semakin ketakutan semakin dia percepat bacaannya, sehingga memberikan kesan yang konyol. Alqur’an kalamullah yang suci digunakan dengan kedodoran hanya untuk melawan hantu dirumah tua. Tapi bagi peserta itu yang penting ia dinyatakan sebagai bernyali besar (meskipun nampak sekali ketakutannya) dan memperoleh uang dua juta rupiah. Beda halnya dengan peserta lainnya, seorang gadis berbaju kaos lengan panjang dan bercelana jeans. Ketika ditanya apa motivasinya mengikuti uji-nyali, ia hanya mengatakan “pingin coba”. Ia tidak ndremimil mambaca Qur’an, ia hanya mengucapkan “astaghfirullah” terkejut ketika pada malam kedua terdengar suara benda yang terjatuh sangat keras. Kadang-kadang ia mengatakan “kok rasanya dingin; suara apa itu?; sinar apa itu? Atau “ada suara orang berjalan mendekati saya”. Akhirnya iapun lulus uji-nyali dengan ringannya dan imbalan dua juta serta gelar gadis bernyali besar. Ada pula yang memohon-mohon kepada sang hantu untuk tidak diganggu. Ada yang berkali-kali mengucapkan asalamu’alaikum, ada yang memanggil hantunya dengan sebutan embah ada yang hanya mengandalkan keberanian semata-mata tanpa doa tanpa mantera. Tonton sendiri deh…kalau berani!!

Vampir Yahudi tidak takut salib; begitu salah satu lelucon tentang film Dracula. Kerena ia tidak percaya dengan salib, simbol agama Nasrani. Mungkin dengan Bintang David ia takut. Beda dengan Vampir Amerika. Kenapa para peserta uji-nyali mengucapkan salam dan membaca ayat Qur’an waktu menghadapi hantu Jawa? Belum tentu mereka tahu bahasa Arab, apalagi tafsir Qur’an. Siapa takut! Tetapi hubungan Qur’an dengan uji nyali jelas sekali: dengan bersenjatakan ayat Qur’an mereka berhasil memperoleh dua juta rupiah. Dapatkah ayat-ayat Qur’an dijual lebih mahal lagi? Tentu bisa! Tergantung kepandaian mengemas dan menyuguhkannya. Ada statsiun TV yang menjual sejenis ramuan yang terdiri dari ustadz, jubah, tasbih, dan ayat Qur’an, serta botol kosong untuk acara menangkap jin. Kita sama-sama merasakan bahwa kehidupan beragama kita makin lama makin erat hubungannya dengan uang. Di musim maraknya pengobatan altenatif karena tarif dokter selangit, makin banyak orang bersorban membuka klinik dan membual tentang tentang pengobatan alternatif yang tanpa efek samping dan tanpa unsur syirik!! Pondok pesantren yang mau memihak sebuah partai, akan memperoleh imbalan uang yang besar. Industri pengolahan yang berbahan baku unsur-unsur agama sudah canggih dan berkembang. Ayat Qur’an, hadis Nabi, zikir dan doa, ibadah dan ritual agama semua disponsori, diproses, direkayasa, dikemas, dipromosikan dan dikomersialkan sebagai dagangan dengan segala aspek untung-ruginya.

Anda ingat hadis Nabi yang sangat populer dikalangan kita “Bila diserahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya?”. Saya menonton di televisi (lagi-lagi pengobatan alternatif) seorang berpenampilan kiai dengan bahasa Arab yang fasih membacakan hadis itu. Bagi mereka yang peka dengan komersialisasi agama, sebenarnya ia hanya bermaksud mengatakan barang siapa berobat bukan ke klinik saya tidak akan sembuh… vulgar kan? Padahal Qur’an adalah petunjuk keutamaan akhlak, keilmuan dan kehidupan yang sangat berguna.

Iklan

BILA ANDA MENUA NANTI (III)

BILA ANDA MENUA NANTI (III)

Oleh: Jum’an

Sejak dulu orang tua dianggap sebagai sumber kearifan dan kebijaksanaan tempat bertanya dan meminta nasehat untuk mencapai hidup yang lebih bahagia, lebih selamat, hidup yang lebih makbul. Orang tua adalah pakar terpecaya dalam menjalani hidup disaat-saat yang sulit. Mereka telah melalui banyak pengalaman berharga seperti masa peperangan, krisis ekonomi dan kelangkaan pangan, wabah penyakit atau bencana alam yang telah memberikan pelajaran kepada mereka bagaimana caranya bertahan hidup. Mereka juga telah mengalami sendiri banyak tragedi yang orang muda akan ngeri menghadapinya. Dari kemelut rumah tangga, sakit kronis sampai kehilangan isteri atau anak. Karena itu mereka dapat memberikan nasehat kepada kaum muda bagaimana menghadapi penyakit dan kehilangan dengan tabah. Bila mereka menasehati anda agar berhati-hati memilih pasangan misalnya, dengarkan dan ikuti. Karena, itu bukan sekadar nasehat normatif dan baik, tetapi juga didasari dengan pengalaman dan bukti yang teruji. Mereka telah merasakan hidup tertekan dan terpenjara akibat kurang cermat memilih jodoh; atau bahagia sampai tua berkat berhati-hati dan sabar memilih. Status orang tua sebagai sumber nasehat nampaknya semakin pudar. Orang muda dalam era informasi sekarang lebih suka mencari nasehat dan petunjuk dari buku-buku atau internet, psikolog atau motivator. Lebih ilmiah dan lebih obyektif. Tidak mengapa; tetapi meninggalkan orang tua sebagai tempat bertanya adalah rugi.

Semua kita akan tua dan mengalami rintangan fisik dan mental. Suatu saat dalam hidup, kita terpaksa membiarkan sesuatu terlepas, menangisi yang hilang dan menggeliat bangkit untuk meneruskan pejalanan. Hari tua itu lebih baik disambut dan dirangkul dengan ramah, jangan sekali-sekali dilawan. Jangan terlalu menyia-nyiakan waktu untuk mencemaskan datangnya hari tua. Begitu nasehat kebanyakan orang yang sudah mengalaminya. Lebih baik mulai dengan melakukan persiapan, mengumpulkan bekal dan mencari dukungan untuk menempuhnya kelak. Anda mungkin heran. Ternyata sedikit banyak anda sudah punya bekal meskipun hari tua masih jauh. Menua adalah proses alamiah yang universal dan tak pandang bulu. Tetapi bagaimana cara menjalaninya tergantung kepada sikap dan keadaan kita masing-masing. Kita menua bersama-sama tetapi langgam dan iramanya adalah khas kita. Orang yang hidup lajang sampai tua, suami istri yang tak punya anak, orang saleh dan orang materialis, orang kaya dan orang miskin, akan menua dengan tarian dan lagunya sendiri-sendiri.

Menua berarti berhadapan dengan maut. Maka banyak orang menanggapinya dengan rasa cemas yang mendalam dan berkepanjangan. Orang yang beriman dan percaya kepada hari akhir dan meyakininya dengan sungguh-sungguh menanggapinya dengan sikap yang lebih ringan, bahkan disertai harapan akan kehidupan yang baik di akhirat nanti. Kebersamaan spiritual dengan orang-orang yang seiman juga memberikan rasa senasib dan sepenanggungan yang menghilangkan kecemasan. Orang-orang yang berkeluarga dan mempunyai anak-anak, sadar maupun tidak, lebih beruntung menghadapi hari tua dan kematian. Mereka akan merasa bila saatnya tiba, masih ada keturunan yang meneruskan eksistensinya. Sebaliknya mereka yang sendirian akan merasa akhir hidupnya sebagai garis penutup: dead end. Kita mungkin sangat mandiri waktu muda hampir tidak peduli sanak-famili. Tetapi kita akan sampai pada usia dimana kita terpaksa bersandar kepada orang lain. Mereka yang tetap erat dengan keluarganya atau persahabatan dalam komunitasnya akan terasa lebih aman menjalani hari tuanya. Mereka merasa ada tempat bersandar bila sewaktu-waktu diperlukan. Orang-orang yang berhasil selamat melewati penderitaan dan kehilangan yang parah dimasa muda umumnya lebih tabah menghadapi kendala di hari tua. Korban becana massal seperti tsunami yang selamat, boleh dikatakan siap menghadapi apa saja dihari tuanya.

Orang-orang yang profesi dan kepercayaan dirinya berasal dari penampilan fisik dan kemudaan seperti peragawan, peragawati, bintang iklan, ratu kecantikan dan yang sejenisnya, mereka cenderung menderita diskriminasi umur lebih awal dan lebih menyakitkan. Mereka (tentu tidak semuanya) berusaha melawan proses alami seperti stamina yang menurun, kulit yang mengendor, menurunnya kesuburan dan kejantanan. Dengan mengandalkan kepada kosmetika, operasi plastik dan obat-obatan untuk melawan penuaan. Demi mempertahankan image yang telah memberikan mereka status dan sukses, takut dilupakan orang, seolah-olah akan roboh panggung pertunjukannya. Last but not least, mereka yang rajin menjaga kesehatan, menabung untuk hari tua dan berasuransi, akan sangat menenangkan dihari tua. Bekal anda untuk menua sudah banyak kan?

BILA ANDA MENUA NANTI (I) BILA ANDA MENUA NANTI (II)

JALAN PINTAS MENGUJI KEJUJURAN

JALAN PINTAS MENGUJI KEJUJURAN

Oleh: Jum’an

Seandainya tumbuh bisul diwajah setiap kali kita berbohong, maka bisa dibayangkan betapa malunya kita. Meskipun hanya khayalan tetapi melegakan karena meski banyak bohong muka kita tak pernah bisulan. Kebohongan besar biasanya harus diungkap melalui proses pengadilan yang lama, melelahkan dan sarat mafia yang hasilnya belum tentu memuaskan. Tidak ada solusi instan seperti tumbuh bisul diwajah. Mungkin hanya di akhirat kelak keadilan dijamin lurus dan mulus. Karena Hakimnya memiliki bukti-bukti yang lengkap dan rinci. “….Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan. Dan semua Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.” (Yasin:12). Kumpulan data yang lengkap dan rinci memang vital. Ibarat lukisan, kita akan melihat pola-pola tertentu yang menunjukkan sesuatu yang sama sekali baru. Satu atau sedikit data tidaklah cukup karena tidak menunjukkan pola. “Sekali berjumpa sangat mempesona! Sesudah lama baru ketahuan siapa dia!” Begitu ibaratnya.

Untuk meyakinkan betapa bahaya akibat menunggu penanganan pasien pada Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit, para peneliti di Kanada telah memeriksa kumpulan data dari pasien gawat darurat di semua RS di Ontario selama 5 tahun yaitu sebanyak 20 juta data. Ternyata waktu tunggu di UGD sangat mempengaruhi kematian, meskipun pasien sudah ditangani dan dipulangkan. Terutama bila waktu tunggu mencapai 3 jam. Waktu menunggu lebih dari 6 jam mengkibatkan angka kematian 2 kali lipat dibanding waktu tunggu 1 jam. Terbukti dengan jelas, setiap kenaikan waktu menunggu mengakibatkan risiko kematian yang lebih tinggi. Mengapa baru dapat diketahui setelah memeriksa 20 juta data? Karena buktinya sangat jarang; dari 10.000 pasien yang dipulangkan tercatat hanya beberapa orang yang kemudian mati. Tak ada cara yang sederhana untuk membatasi berapa waktu tunggu yang sebaiknya.

Jika saja dapat tumbuh bisul diwajah kalau orang berbohong, alangkah mudahnya menunjuk mereka. Tetapi itu bukan sepenuhnya mustahil. Frank Benford, fisikawan dari General Electric menemukan fenomena alam yang memudahkan kita menguji kejujuran. Pada 1938 ia menganalisa lebih dari 20 ribu kumpulan data dari segala sumber seperti jumlah penduduk berbagai negara, panjang sungai, statistik pertandingan baseball, berat molekul unsur-unsur kimia, tagihan listrik, angka kematian, jumlah kata dari artikel majalah, jumlah uang di bank dan masih banyak lagi. Faktanya, data-data yang terjadi secara alami, lebih banyak yang diawali dengan angka 1 daripada angka 2, lebih banyak angka 2 dari pada angka 3 dst. Jelasnya sekitar 30,1% diawali dengan angka 1, – 17,6% angka 2, – 12,5% angka 3, …….sampai 4,9 % angka 9. Itulah Hukum Benford: semua angka-angka yang alami tersebar mengikuti distribusi logaritmis. Ini adalah fenomena alam seperti juga hukum gravitasi, yang saya yakin merupakan refleksi dari sunatullah. Jumlah penduduk dunia, angka kematian, diperkuat lagi dengan jumlah ayat-ayat dalam Qur’an semuanya teratur sesuai dengan Hukum Benford. Inilah dia jalan pintas untuk menguji keaslian dan kejujuran. Bila terdapat penyimpangan, berarti ada yang di reka-yasa.

Hukum Benford terbukti ampuh untuk mendeteksi kecurangan pembukuan negara maupun perusahaan, hasil pemilu, pembayaran pajak, pengajuan kredit bank dan diakui di pengadilan di Amerika. Baru-baru ini 4 Ekonom Jerman meneliti data keuangan dari negara-negara anggota Uni Eropah untuk melihat apakah persyaratan keanggotaan yang ketat telah membuat beberapa negara memalsukan laporan keuangan mereka. Diantara hasilnya, sesuai dengan dugaan, laporan data dari Yunani (yang ekonominya terpuruk) yang paling menyimpang dari Benford Law. Sejak tahun 2000, ketika Yunani baru melamar sebagai anggota Uni Eropa data keuangan mereka terus menerus menyimpang. Akhir kata, jangan bohong nanti bisulan di tengah jidat!!….

AMAL ANTARA NIAT DAN GODAAN

AMAL ANTARA NIAT DAN GODAAN

Oleh: Jum’an

Renovasi masjid al-Mukhlisin (=orang-orang yang ikhlas) di Rawasari tidak pernah kunjung selesai karena hanya mengandalkan amal jariah dari warga dan sumbangan hasil jaringan dari kendaraan yang melintas. Padahal pengurusnya selalu menghimbau para khotib solat Jum’at disana untuk mengingatkan betapa besar pahala menyumbang masjid di akhirat nanti. Tetapi anjuran itu rupanya didengarkan sambil mengantuk hingga tidak membekas dihati. Seorang khotib muda yang progresip bahkan mengingatkan: “Kalau kita tidak ingin masjid kita ini terbengkalai sampai akhir zaman, sumbanglah segera, dengan ikhlas ataupun dengan terpaksa. Menunggu ikhlas sama dengan menunggu Godot!” (Drama populer Samuel Beckett tentang penantian yang tidak jelas). Khotbah ini cukup mengejutkan dan menggugah tetapi tidak lama sesudah itu timbul pertentangan dan manjadikan khotib itu tidak disukai.

Semangat muda yang menggebu-gebu kadang-kadang menyepelekan aturan baku yang sudah kita pegang. Ia baru sadar ketika jamaahnya sendiri yang memperingatkan: “Bukankah innamal a’malu harus binniat?” Yaitu bahwa niat sangat menentukan pernilaian Allah terhadap amal seseorang. Balasan bagi setiap amalan benar-benar digantungkan kepada niat atau motivasi yang mendasarinya. Jadi, sama-sama berjuang, sama-sama mengabdi, sama-sama menderita yang seorang masuk sorga yang lain masuk neraka? Begitu? Ya Benar! Alangkah gentingnya urusan motivasi kalau begitu! Salah niat atau tak jelas motivasi bisa-bisa amalan kita sia-sia atau bahkan menjadi terhukum? Sepanjang menyangkut ibadah ritual seperti solat dan puasa kita memang tidak pernah lalai untuk berniat dengan jelas. Tetapi dengan ibadah sosial seperti mengkaji ilmu, mendidik anak, menyumbang masjid seingat saya niat kita…… yah sekedar karena memang penting! Motivasi kita menuntut ilmu hampir tidak berbeda dengan semua orang. Tidak jelas terasa bahwa niat kita adalah lillahi ta’ala. Padahal niat bisa berubah karena macam-macam godaan dan kendala.

Orang awam yang susah atau orang alim yang gagah berani masing-masing ada godaannya yang khas. Orang susah tergoda oleh kelemahannya. Nyolong sedikit, bohong sedikit, lalu apa salahnya kalau sedikit lagi; diulangi dan diulangi sampai menjadi kebiasaan. Akhirnya dari pada barsulit-sulit hidup jujur, mengapa tidak tetap saja menjadi pendosa yang dirasakan enak dan mudah? Tetapi orang alim yang gagah berani tergoda oleh kealiman dan keberaniannya sendiri. Terbawa oleh perasaan bahwa mereka mengemban tugas dan kewajiban yang lebih tinggi dari orang biasa dan justru karena itulah dosa-dosa dasar dianggap sepele. Ah itu kan cuma kenakalan anak-anak. Ah itu kan hanya dosa kecil! Ah itu kan sudah ada yang mengurus!

Dario Castrillon Hoyos adalah seorang pendeta di Colombia yang begitu terkenal reputasinya dan dijuluki “Laki-laki dusun yang berjiwa Rajawali”. Seperti Umar Ibnul Khattab ia menyelinap dimalam hari untuk memberi makan anak-anak miskin, membujuk dan menengahi antara gerilyawan dan regu tembak, dan kabarnya ia pernah menyamar sebagai tukang susu sampai berhasil masuk ke istana gembong narkoba Pablo Escobar dan memintanya untuk mengakui dosa-dosanya. Ia demikian yakin dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan missi agamanya. Tetapi dunia tidak mengenangnya demikan. Pada 1990 ia diadili oleh para petinggi Vatikan dengan tuduhan menunjukkan sikap menentang terhadap kebijaksanaan Vatican tentang krisis pelecehan seks yang melanda gereja dimana-mana. Dario dianggap menyepelekan skandal besar itu dengan kata-kata: “Itu kan cuma masalahnya Amerika!” Bahkan ia pernah terang-terangan memuji seorang Uskup Perancis yang menolak untuk melaporkan seorang pendeta pedofil kepada penguasa sipil. Bagaimana mungkin seorang pendeta dengan keberanian moral yang penuh bisa menjadi tertuduh di Vatikan? Justru heroisme dalam menjalankan missinya itulah ia dengan mudah tergoda dan menutup mata melihat kenyataan skandal seks yang dilakukan banyak pendeta.

Karena itu hati-hatilah dengan godaan niat. Sekali waktu anda lewat di depan masjid Al-Mukhlisin Rawasari, ucapkan niat anda sebelum melempar uang kedalam jaring! Akan sangat berbeda balasannya kelak!