HILANG IMAN DI OIMPIADE?

LOST FAITH

HILANG IMAN DI OLIMPIADE?

Oleh: Jum’an

Demi cita-cita mulia untuk merebut medali Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro, tim bola tangan wanita Argentina selalu berdoa, berdoa dan berdoa. Menuurt pelatihnya,  Eduardo Peruchena, seminggu sebelum pertandingan mulai mereka secara keseluruhan menghabiskan waktu 66 jam untuk bermeditasi dan berdoa. Tetapi apa hendak dikata mereka kalah dalam semua pertandingan mereka. Demikian pula tim voli putra dari Mexico. Apakah Tuhan sengaja menghendaki mereka begitu? Jika benar Tuhan memilih pemenang dalam olah raga, berarti tim bola tangan wanita Argentina dan tim voli pria Meksiko ini pasti sangat kecewa. Sekarang semua anggota dari kedua tim menyerah tentang iman Kristiani mereka. Karena berdoa jelas tidak ada hasilnya, mungkin lebih baik mengurangi berdoa dan lebih banyak berlatih. Begitu kata sang pelatih.

Tim bola tangan wanita Argentina dikalahkan oleh tim-tim dari Rusia, Korea Selatan, Swedia, Belanda dan Perancis; negara-negara yang yang paling tidak relijius didunia. “Kami yakin lawan-lawan kami bahkan tidak meminta apapun dari Tuhan. Jika Tuhan tidak mau memberi kenikmatan untuk umatnya sendiri, bagaimana kita akan memihak Dia?” Pelatih tim Meksiko Jorge Azair setuju dengan Eduardo dan ia mengatakan: “Dalam Olimpiade 2020 di Tokio nanti, kita akan bersaing sebagai orang-orang ateis.” Para atlet pemenang medali banyak yang menyatakan bahwa iman mereka kepada Tuhanlah  penyebab kemenangan mereka, sementara mereka yang tidak berhasil terpuruk oleh dua kekecewaan: sudah kalah, masih dibilang bahwa Tuhan masih terus menguji mereka!

Jorge memberi nasehat begini: “Kalahkan mereka di depan net, kalahkan mereka dengan dengan serve dan blocking anda. Jangan mengkaitkan kesuksesan anda dengan yang Maha Kuasa OK? Ini tidak akan menghalangi kemenangan anda, dan mungkin menyelamatkan yang kalah dari kehilangan iman. Sumber: Olympics squads lose.

KERUDUNG SIMPATI LARYCIA

1216-wheaton-college-624x351

KERUDUNG SIMPATI LARYCIA

Oleh: Jum’an

Profesor Dr. Larycia Hawkins (kita singkat Larycia), wanita kulit hitam 43 tahun yang berwajah manis dengan senyum ekspresif – adalah Profesor Ilmu Politik Wheaton College (singkat Wheaton), Illinois AS, sebuah perguruan tinggi Kristen Evangelis (Pengabar Injil, Protestan konservatif), almamater Billy Graham penginjil Amerika yang pernah terkenal disana. Larycia adalah Guru Besar tetap wanita kulit hitam pertama di perguruan tinggi itu. Pada Desember 2015, ia menjadi pusat kontroversi yang menggegerkan dunia Kristen Amerika. Ia meposting foto dirinya waktu kebaktian di Gereja Chicago dalam Facebooknya dengan mengenakan kerudung layaknya seorang muslimah. Dibawahnya tertulis komentar  “Islam dan Kristen meyembah Tuhan yag sama”.  Hal itu dilakukannya sebagai solidaritas terhadap wanita dan umat Islam yang mengalami tekanan akibat Islamofobi di negara itu.

Pada kesempatan lain ia menjelaskan:  “Saya mencintai jiran Muslim saya karena mereka layak dicintai berdasarkan martabatnya sebagai sesama manusia. Saya bersikap solider dalam kemanusiaan dengan mereka karena semula kita sama-sama diciptakan Tuhan dari tanah liat yang sama. Saya bersikap solider dalam agama dengan umat Islam karena mereka, seperti saya, seorang Kristen, adalah “people of the book” (ahlul kitab?). Dan seperti dikatakan Paus Fransiskus, kita menyembah Tuhan yang sama. Sebagai bagian dari ibadah Advent saya, saya akan memakai kerudung untuk bekerja di Wheaton, berjalan-jalan di kota, di gereja, di bandara dan dalam penerbangan.”

Wheaton College sebagai perguruan berdoktrin Protestan konservatif, penyebar utama Evangelisme, tidak suka stafnya mengatakan bahwa Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama. Wheaton, dengan semboyan membentuk sarjana yang ilmiah dan iman yang mendalam mengalami dilema kerena sebagai pusat penyebaran ilmu liberal yang sekuler dan sekaligus berpegang pada doktrin agama yang konservatif akan banyak mengalami friksi internal. Kasus Larycia ini merupakan batu ujian. Memecat Larycia berarti bertentangan dengan semboyan kebebasan berfikir sedangkan mempertahankannya akan terasa melunakkan doktrin keimanan perguruan tinggi itu.

Larycia lalu dikenakan cuti administratif, sambil dipertimbangkan apakah pernyataannya “menyembah Tuhan yang sama” bertentangan dengan keyakinan dasar college atau tidak. Mula-mula ia akan diteruskan untuk tetap menjabat. Pernyataannya bahwa orang Islam dan Kristen keduanya termasuk people of the book dan bersama orang Yahudi sama-sama menyembah Tuhan dari Ibrahim, telah didukung oleh para teolog Evangelis sendiri. Tetapi otoritas Wheaton menganggapnya belum cukup; lalu mereka secara resmi mencopot dia dari posisinya. Pimpinan Wheaton meminta maaf secara terbuka dan menyampaikan apresiasi kepada Larycia yang disambut baik oleh Larycia.

Sengketa  itu memecah komunitas perguruan tinggi yang dianggap sebagai pegibar panji-panji Evangelisme Amerika itu. Sebagian besar menentang pemecatan itu, sebagian lagi setuju. Banyak alumni  yang mengingatkan bahwa pemecatan Larycia berpotensi melumpuhkan Wheaton. Di sisi lain, banyak juga mahasiswa dan dosen yang mendukung tindakan pemecatan itu. Muncul pula situs fitnah “Wheaton Islamic Center” yang mengaku bahwa situs itu, Larycia dan pendukungnya terkait dengan ISIS. Ada pihak-pihak yang menganggap komentar Facebook Larycia itu sebagai pengkhianatan terhadap Umat Kristen Timur Tengah yang telah dianiaya oleh umat Islam, sementara yang lain percaya bahwa komentarnya mencerminkan hubungan Larycia dengan Islam. Yang lain mengkritik perguruan tinggi itu yang terburu-buru membawanya ke pers lebih dulu. Semua itu menunjukkan betapa meresahkannya masalah ini. Perdebatan para teolog Evangelis berkisar tentang bagaimana keyakinan Kristen tentang Trinitas, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus, berbeda dari Tuhan Islam dan Yahudi. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah mengajarkan bahwa kaum Muslimin dan Kristen menyembah satu Tuhan, meskipun mereka melihat Yesus berbeda.

Menurut Beniamin Corey, Evangelisme yang awalnya lahir sebagai penentang fundamentalisme, sekarang sama saja. Mereka dapat disebut sebagai fundamentalisme masa kini. Ibarat anak yang bersumpah tidak akan meniru bapaknya tapi 20 tahun kemudian baru menyadari bahwa wajahya sama persis dengan bapaknya. Menurut Corey alasan yang sebenarnya pemecatan Larycia bukanlah apakah pernyataan Larycia “Islam dan Kristen menyembah Tuhan yang sama” bertentangan dengan doktrin iman Wheaton tetapi karena Wheaton menganggap Larycia “Mencintai Musuh Bersama”. Top of Form

Perekat yang menyatukan kaum fundamentalis bersama menurut Corey adalah kesepakatan untuk melawan musuh bersama dan Larycia telah menolak gagasan bahwa Muslim adalah musuh bersama. Bagi Evangelis di Amerika jelas bahwa Islam adalah musuh besar mereka masa kini. Sehingga kata-kata Larycia bahwa dia “berdiri dalam solidaritas” dengan umat Islam adalah pengkhianatan terhadap salah satu keyakinan terdalam mereka, dan ini (bagi mereka) membuatnya tidak dapat dipercaya. Meskipun mereka akhirnya sepakat untuk “berpisah” dengan saling menghormati tapi banyak hal yang ditutup-tutupi. Misalnya pertanyaan teologis apakah umat Kristen dan Muslim “menyembah Tuhan yang sama” tetap belum terselesaikan karena baik Larycia maupun otoritas Wheaton keduanya tidak mau mundur.

Pdt Dr David Gushee, Direktur Pusat Teologi Universitas Mercer mengatakan, pemecatan Larycia ini merupakan berita buruk bagi Evangelisme Amerika. Telah terbentuk front yang siap membela Larycia dan front Evangelis yang siap melawan. Saya pribadi menolak berpihak dengan sisi Kristen Evangelis Amerika yang bersiap melawan Larycia. Saya akan berjuang, bersama banyak orang lain, untuk versi iman Kristen yang lebih baik dari daripada yang mereka tawarkan. Banyak pengamat khawatir, Wheaton akan selalu tunduk kepada alumni konservatif yang banyak menyumbangnya, orang-orang yang menjaga dompet dan arah teologis dari perguruan tinggi itu.

Sejak Maret 2016 Larycia bergabung dengan Universitas Virginia, menangani  penelitian Proyek Pluralisme serta Proyek Ras, Agama dan Kebudayaan. “Profesor Larycia mempunyai wawasan yang tajam tentang hubungan agama dan ras dan akan sangat memperkaya pengetahuan kami dlm bidang ini,” kata James Davison Hunter, direktur eksekutif dan pendiri lembaga itu. “Kami beruntung memiliki kesempatan untuk menyambut dia di sini.” Pada tahun 2007, Larycia pernah menjadi penliti di UVA tentang sejarah kepresidenan, kebijakan, dan politik. Demikian kisah Larycia yang berjanji akan terud memakai kerudungnya.

MUHAMMAD SEBAGAI ROH KEBENARAN

 

Jesus-and-Muhammad

Muhammad sebagai Roh Kebenaran

Sebuah Kesaksian Kristen Melawan Islamofobi

Oleh: Dr. Ian Mevorach

[Pendeta Dr. Ian Mevorach adalah seorang Sarjana Filsafat dari Middlebury College, Master Teologi (M. Div.) dari Univ. Boston, dan Ph.D dalam Etika Teologi. Pendiri dan pemimpin spiritual dari Common Street Spiritual Center, Massachussetts (www.commonstreet.org), yang merupakan komunitas inklusif, berbasis kasih sayang dan terbuka untuk semua agama. Co-founder dari Jaringan Gereja-Gereja Baptis Amerika dan mewakili Gereja-Gereja Baptis Amerika dalam dialog Yahudi-Kristen-Islam, dan dialog antar agama pada umumnya. Blog ini diterjemahkan dari Huffington Post, 5 Maret 2016.]

Islamofobi di Amerika telah meningkat sejak peristiwa 11 September 2001. Kampanye Partai Republik dlm pemilihan Presiden Aamerika 2016 telah sekaligus mengungkapkan dan memperburuk gejala yang meresahkan ini. Donald Trump dan politisi lainnya telah memanfaatkan ketakutan dan kebencian Muslim untuk kepentingan politik. Mereka membangun di atas pondasi yang sebagian besar disebabkan oleh retorika Islamophobia dari aliran Kristen Kanan yg terus menerus. Sekarang kita merasakan suasana kebencian (xenophobia) di negeri ini yang mengingatkan orang akan kebangkitan Nazi di Jerman.

Ketika Hitler berkuasa di Jerman, ada sejumlah kecil pemimpin Kristen yang vokal (the Confessing Church movement) dalam menentang Nazi. Di antaranya yang paling terkenal, Dietrich Bonhoeffer. Dia meninggal dalam penjara setelah terlibat dalam konspirasi yang gagal untuk membunuh Hitler. Dalam tulisannya di penjara, ia membantah sikap anti Yahudi dari orang Kristen dan mengakui kenyataan bahwa Yesus Kristus adalah seorang Yahudi. Dengan demikian ia terpecah dengan sikap anti-Semitisme dari Lutheranisme dan Kristen secara umum yang bersejarah, yg dapat ditelusuri kembali ke abad-abad awal kekristenan. Misalnya, pemimpin seperti Uskup Agung Konstantinopel John Chrysostom (pertengahan akhir abad ke-4), yang dianggap sebagai orang suci, berkhotbah dengan penuh kebencian dan pedas terhadap kaum Yahudi, menyalahkan mereka karena membunuh Kristus. Khotbah-khotbahnya menghasut kekerasan massa terhadap kaum Yahudi. Pengkambing hitaman semacam ini terhadap orang-orang Yahudi begitu mengakar dalam agama Kristen bahkan dapat terlihat jelas dalam Injil sendiri. Dalam Injil Yohanes Yahudi disebut “anak-anak Iblis” dan dalam Injil Matius pengamat Yahudi pada eksekusi Yesus berkata, “darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami” (Mat 27:25, NRSV). Sejak peristiwaw Holocaust, arus utama Kristen, termasuk Protestan, Katolik, dan Kristen Ortodoks telah secara fundamental merevisi pandangan kami pada orang-orang Yahudi dan agama Yahudi; kami telah mengakui anti-Semitisme umat Kristen dalam sejarah dan tidak lagi menyalahkan orang Yahudi karena membunuh Kristus atau mencoba untuk mengkonversi orang-orang Yahudi masuk Kristen. Hari ini, hati nurani para pemimpin Kristen dipanggil untuk mengambil sikap yang vokal terhadap Islamofobi. Kita dipanggil untuk membasmi Islamophobia keluar dari agama kita sebelum mengarah ke bencana genosida lain.

Seperti halnya dengan sikap anti-Semitisme Kristen, Islamofobi Kristen memiliki akar yang dalam. Dalam tulisan-tulisan Kristen tertua tentang Islam, St. John dari Damaskus (abad ke-8 M), Muhammad digambarkan sebagai orang sesat yang terinspirasi oleh iblis; Islam itu sendiri dikategorikan sebagai bid’ah Kristen. Tragisnya, ini telah menjadi penilaian Kristen dominan terhadap Muhammad dan Islam sampai hari ini, dengan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Dante, Thomas Aquinas, dan Martin Luther semua membuat klaim provokatif yang serupa. Pada abad ke-15, Nicholas dari Cusa menyesali perang antara Kristen dan Muslim dan berusaha untuk menyatukan kedua agama secara teologis. Namun, ia tidak berhasil dan malah akhirnya menulis cacian yang menyangkal Qur’an dan lagi membingkai Muhammad sebagai orang sesat yang terinspirasi oleh setan. Contoh sebaliknya yang paling menonjol dari tradisi yang cukup suram dari polemik Kristen terhadap Islam ini adalah St Fransiskus dari Assisi. Selama Perang Salib dari abad ke-13, Francis berhasil mendialogkan dengan Sultan Malek al-Kamil dari Mesir dan negosiasi gencatan senjata antara pejuang Kristen dan Muslim. Sultan tidak tertarik bernegosiasi dengan Paus atau pemimpin lainnya, tetapi hanya dengan Francis, yang ia kagumi dan dipercaya sebagai orang yang berintegritas, damai, dan pengabdian kepada Allah. Kaum Kristen Kanan di Amerika bukanlah menciptakan Islamophobia, mereka hanya melanjutkan urat kebencian tradisi Kristen ini.

Dari awal, orang Kristen telah bereaksi terhadap Islam dalam semangat kompetisi dan ketidakpercayaan. Bukannya merangkul dan menghargai Islam sebagai saudara kandung seiman, orang Kristen telah mencoba untuk mendiskreditkan Islam. Sekarang, di abad ke-21, sudah saatnya bagi orang Kristen untuk mengakui betapa salahnya kita. Islam adalah agama terbesar kedua di planet ini dan merupakan bagian integral dari peradaban manusia seperti yang kita kenal. Islam adalah agama yang kompleks indah yang mendukung martabat manusia, seni dan ilmu pengetahuan, spiritualitas, keadilan ekonomi, lingkungan dan ras, dan banyak lagi. Sebagai orang Kristen hari ini kita dipanggil untuk mengakui integritas Islam dan merangkul Islam sebagai saudara seiman. Dan kuncinya, saya percaya, untuk membuat pergeseran paradigma ini adalah memilih untuk melihat Muhammad secara berbeda, dalam cahaya iman kita.

Sama seperti Bonhoeffer mengakui kenyataan bahwa Yesus Kristus adalah seorang Yahudi, sehingga mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Kristen dengan dan untuk orang-orang Yahudi, demikian juga orang Kristen saat ini memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi diri dengan dan untuk umat Islam dengan positif mengidentifikasi Yesus dengan Muhammad. Dasar Islamofobi Kristen adalah penolakan Muhammad sebagai roh kesesatan (spirit of error); fondasi Islamophilia (cinta Islam) Kristen adalah pengakuan Muhammad sebagai roh kebenaran. Yesus, dalam Injil Yohanes, memprediksi kedatangan seorang nabi masa depan dia sebut “roh kebenaran”:

“Aku masih mempunyai banyak hal untuk kusampaikan kepadamu, tetapi kamu tidak dapat menanggungnya sekarang. Ketika Roh Kebenaran datang, dia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; karena ia tidak akan berbicara sendiri, tetapi akan berbicara apa pun yang ia dengar, dan ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang. Dia akan memuliakan Aku (Yesus), karena ia akan membawa apa yang kepunyaan saya dan menyatakan kepada kamu sekalian. Semua yang Bapa punya adalah milikku. Untuk alasan ini saya mengatakan bahwa ia akan mengambil apa yang kepunyaan saya dan menyatakan kepada kalian ” (Yohanes 16: 12-15, NRSV).

Hari ini sebagai umat Kristen kita memiliki kesempatan untuk merangkul Muhammad, Al-Qur’an, dan Islam dalam sebuah ekspresi iman di dalam Yesus. Pelukan semacam ini akan memiliki implikasi politik yang besar dan akan secara radikal mengubah kualitas hubungan Kristen-Muslim. Sekarang kita (umat Kristen) memiliki kesempatan untuk mengakui dan melepaskan reaksi negatif Kristen terhadap Islam, dan untuk mencari hubungan kolaboratif dengan umat Islam. Adaptasi penting Kristen ini, yaitu memilih untuk melihat Muhammad sebagai “roh kebenaran” yang dikatakan oleh Yesus akan membimbing kita ke dalam semua kebenaran, akan memungkinkan Kristen dan Islam untuk bekerja sama untuk perdamaian, keadilan, dan penyembuhan bumi; itu akan membantu mengakhiri kecenderungan ketidakpercayaan Kristen dan ketakutan terhadap Muslim.

Dalam Al-Qur’an, Yesus berkata, “‘Hai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan apa yang datang sebelum saya dalam Taurat dan membawa kabar gembira tentang Rasulullah yang datang setelah saya yang namanya Ahmad ‘”(Qur’an 61: 6). Dalam ayat ini kita memiliki visi Yesus yang menegaskan baik Yudaisme dan Islam; ini adalah visi Yesus yang saya percaya bahwa orang Kristen dipanggil oleh Allah untuk mengadopsinya pada abad ke-21. Bayangkan sebuah kekristenan yang bisa merangkul sepenuhnya norma-norma kitab suci Yahudi-Kristen-Muslim dan terlibat dalam dialog teologis dan etis yang mengalir bebas dengan tetangga Yahudi dan Muslim. Bayangkan betapa sebuah yang Kristen yang terbuka untuk transformasi dan penyembuhan dialog ini, akan membawa kebaikan ke seluruh keluarga agama Ibrahim.

Ya, Kristen telah membuat kesalahan besar dalam hal baik Yudaisme dan Islam; tradisi kita penuh dengan anti-Semitisme dan Islamophobia. Tapi itu dalam kemampuan  kita untuk belajar dari sejarah dan membetulkan arah yang benar kami kedepan. Penilaian pertama tradisi kami untuk Muhammad telah menjadi bencana dan telah memicu konflik berabad-abad antara Kristen dan Muslim. Tapi itu tidak terlalu terlambat untuk mengakui Muhammad sebagai seorang yang Yesus janjikan akan datang kepada kita: “roh kebenaran yang berasal dari Bapa, Ia akan bersaksi atas nama saya” (Yohanes 15: 26b, NRSV). “Engkau juga harus bersaksi,” Yesus berkata, “karena engkau telah dengan saya dari awal” (Yohanes 15:27, NRSV).

Sebagai pengikut Yesus yang setia, sekarang saatnya bagi kita untuk bersaksi tentang integritas Muhammad dan Islam, untuk bersaksi bahwa Yahudi dan Muslim adalah saudara kandung terdekat kita dalam iman. Kesaksian ini dapat membantu menetapkan arah baru untuk abad dan milenium perdamaian antara orang Yahudi, Kristen, dan Muslim.

APAKAH YESUS MERAMALKAN KEDATANGAN MUHAMMAD?

Jesus-and-Muhammad

APAKAH YESUS MERAMALKAN KEDATANGAN HUHAMMAD?

SEBUAH PORTAL ALKITAB ANTARA KRISTEN DAN ISLAM

Oleh: Dr. Ian Mevorach.

[Pendeta Dr. Ian Mevorach adalah seorang Sarjana Filsafat dari Middlebury College, Master Teologi (M. Div.) dari Univ. Boston, dan Ph.D dalam Etika Teologi. Pendiri dan pemimpin spiritual dari Common Street Spiritual Center, Massachussetts (www.commonstreet.org), yang merupakan komunitas inklusif, berbasis kasih sayang dan terbuka untuk semua agama. Co-founder dari Jaringan Gereja-Gereja Baptis Amerika dan mewakili Gereja-Gereja Baptis Amerika dalam dialog Yahudi-Kristen-Islam, dan dialog antar agama pada umumnya. Blog ini diterjemahkan dari Huffington Post, 25 April 2016.]

Bagian 1:

Kini telah tiba saatnya bagi umat Kristen dan Islam untuk menciptakan perdamaian diantara keduanya. Umat Kristen dan Muslim sudah mencapai lebih dari setengah penduduk dunia, dan diperkirakan akan tumbuh terus dalam beberapa dekade mendatang; menurut Pew Research Center, pada tahun 2050, dua pertiga dari umat manusia, sekitar 5,7 miliar orang, adalah Kristen atau Muslim.

Bumi kita benar-benar tidak akan mampu lagi memasuki abad kesalahpahaman dan kekerasan antara kedua umat ini. Tantangan yang kita hadapi sebagai sebuah keluarga manusia global sungguh sangat besar: peperangan yang sedang berkecamuk dan proliferasi nuklir, kemiskinan global dan kesenjangan ekonomi, perubahan iklim dan degradasi ekologi. Bagaimana manusia akan menangani krisis ini dan lain-lainnya jika dua umat agama terbesar kita terlibat dalam konflik terus-menerus, jika kesalahpahaman terus menguasai hubungan kita? Seperti dijelaskan oleh teolog kontemporer Hans Kung selama beberapa dekade, tidak akan ada perdamaian antara negara kita tanpa perdamaian antar agama kita. Sekarang adalah waktu untuk mengubah cara orang-orang Kristen dan Islam melihat dan berhubungan satu sama lain.

Dalam blog sebelumnya dalam Huffington Post tentang masalah Islamofobi dari umat Kristen, saya mengemukakan pendapat bahwa orang Kristen memiliki kesempatan untuk mengubah cara kita melihat Islam dan Muslim dengan menerima Muhammad sebagai “Roh Kebenaran.”

Secara historis, kebanyakan teolog Kristen, termasuk John dari Damaskus, Thomas Aquinas, Dante, Nicholas dari Cusa, dan Martin Luther, melihat Muhammad bukan sebagai “Roh Kebenaran” tetapi sebagai “Roh Kesesatan,” nabi palsu atau sesat. Ada banyak orang Kristen saat ini yang menghormati tradisi Islam dan tidak akan pernah membuat pernyataan ofensif seperti itu tentang Muhammad.

Tetapi mayoritas umat Kristen masih mempertahankan sikap Islamofobi yang mendasar terhadap Muhammad. Jadi saya percaya bahwa waktunya telah tiba bagi umat Kristen yang damai untuk menolak sikap ini secara langsung. Mengubah pandangan kita tentang Muhammad -sehingga kita mengenalinya sebagai nabi yang benar daripada mendiskreditkan dirinya sebagai nabi palsu, akan menyembuhkan umat Kristen secara efektif dari penyakit Islamofobi dan akan membantu untuk membangun paradigma baru hubungan Kristen-Muslim yang koperatif.

Dalam dialog perpisahan Yesus dalam Injil Yohanes (pasal 14 sampai 16), Yesus berbicara tentang kedatangan “Roh Kebenaran” atau ” Advokat” (parakletos dalam bahasa Yunani). Selama berabad-abad para mufasir Muslim telah melihat Muhammad sebagai “Advokat” ini, berdasarkan Al-Qur’an 61: 6, di mana Yesus memprediksi kedatangan seorang nabi masa depan bernama Ahmad: “Hai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan apa yang datang sebelumku dalam Taurat dan membawa kabar gembira tentang Rasulullah yang akan datang setelah saya yang namanya Ahmad “(Qur’an 61: 6). Ahmad, yang merupakan nama lain untuk Muhammad, dari segi etimologi sangat dekat dengan kata Yunani, parakletos, sehingga kemungkinan bahwa Alquran mengklaim bahwa percakapan perpisahan Yesus dalam Injil Yohanes itu memprediksi Muhammad. Keberatan utama menerapkan prediksi ini untuk Muhammad atau nabi lain adalah bahwa orang-orang Kristen biasanya membacanya sebagai bagian dari janji Yesus tentang karunia Roh Kudus.

Janji Yesus tentang Roh Kudus merupakan bagian penting dari iman Kristen dan interpretasi saya tentang Muhammad sebagai Roh Kebenaran menegaskan ini. Yohanes 14: 16-17 dan 14:26 jelas tentang janji Roh Kudus: dalam Yohanes 14: 16-17, Advokat atau Roh Kebenaran dibicarakan sebagai yang kekal, tak terlihat, taat, kehadiran batin; di sebagian besar naskah, Advokat ini bahkan langsung disebut “Roh Kudus” dalam Yohanes 14:26. Tapi sementara dialog perpisahan Yesus berlanjut, sebutan advokat ini menjadi multivalen dan, dalam Yohanes 15: 26-27 dan 16: 7-15, mereka mulai merujuk lebih banyak untuk seorang nabi masa depan daripada Roh Kudus. Beberapa penafsir Muslim yang mengidentifikasi Muhammad dengan Advokat berpendapat bahwa gelar ini tidak merujuk pada Roh Kudus sama sekali, dan bahwa teks dari Injil Yohanes telah rusak sehingga mengaburkan link langsung ke Muhammad. Tapi saya percaya bahwa gelar Roh Kebenaran dan Advokat digunakan dalam Injil Yohanes, pertama-tama, untuk berbicara tentang janji Roh Kudus, dan saya tidak percaya bahwa teks telah diubah untuk menyembunyikan apapun. Penafsiran dari Injil Yohanes ini membuka kita ke Muhammad sebagai Roh Kebenaran dengan cara yang menegaskan integritas tradisi Kristen. Tapi sebelum saya menjelaskan rincian halus penafsiran saya, saya ingin berbicara sebentar, gambaran besar tentang mengapa Injil Yohanes, khususnya, memberitahu kita bahwa Yesus memprediksi seorang nabi masa depan.

Bagian 2:

Injil Yohanes adalah versi Injil terbaru yg resmi, ditulis setidaknya satu generasi setelah injil-injil sinoptik (ringkas) dan mungkin dua generasi atau lebih setelah surat-surat Paulus. Penulis Injil Yohanes, sering disebut murid yang dikasihi, mengklaim dirinya sebagai saksi hidup terakhir untuk kebangkitan Yesus Kristus. Dalam sebuah ayat di akhir Injil ia bercerita tentang perjumpaan dengan Yesus yang bangkit yang membuat dirinya dan orang lain percaya bahwa dia akan hidup untuk melihat kedatangan Yesus kedua kali.

[Dalam Injil Yohanes 21: 21-24 tertulis sbb: “Petrus berbalik dan melihat murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka; ia adalah orang yang bersandar di sebelah Yesus dalam Perjamuan dan berkata, “Tuhan, siapakah yang akan mengkhianati Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana tentang dia?” Yesus berkata kepadanya, “Jikalau kehendak saya bahwa ia masih hidup sampai aku datang, itu bukan urusanmu. Ikuti saya!” Jadi rumor menyebar di masyarakat bahwa murid itu tidak akan mati. Namun Yesus tidak mengatakan kepadanya bahwa ia tidak akan mati, tetapi, “Jikalau menurut saya bahwa ia tetap hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu” ini adalah murid yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan telah menulis mereka, dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar. (Yohanes 21: 20-24, NRSV)]

Bagian ini menunjukkan bahwa penulis Injil Yohanes berada dalam paradigma yang berbeda dari penulis Perjanjian Baru sebelumnya sejauh ia tidak lagi mengharapkan Yesus akan segera datang kedua kalinya. Paulus, misalnya, yang menulis dalam dekade setelah kematian dan kebangkitan Yesus, meyakini bahwa Yesus akan kembali sementara sebagian besar orang ia khotbahi masih hidup. Penulis Injil Yohanes mencari makna baru dalam janji Yesus tentang Roh Kebenaran atau Advokat karena ia menyadari ia akan mati sebelum Yesus kembali. Ketika Injilnya diterbitkan dia mungkin sudah mati dan komunitasnya berharap ke masa depan yang lebih panjang dan lebih rumit daripada yang diharapkan.

Injil Yohanes memainkan peran yang sama untuk Perjanjian Baru seperti Kitab Ulangan (Deuteronomy) untuk Taurat. Kitab Ulangan adalah teks terbaru dari Taurat -ia menegaskan hukum-hukum Musa seperti yang diceritakan dalam empat kitab sebelumnya, dan seperti Injil Yohanes ia memprediksi seorang nabi masa depan:

“Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi seperti engkau dari antara orang-orang mereka sendiri; Aku akan menaruh firman saya dalam mulut nabi, yang akan berbicara kepada mereka segala sesuatu yang Kuperintahkan” (Ul 18: 18-19, NRSV).

Kedua Kitab Ulangan dan Injil Yohanes merupakan cerminan dari wahyu-wahyu khusus Taurat dan Injil, dan keduanya menunjukkan bahwa ada lagi wahyu yang akan datang. Kalimat  dalam Injil Yohanes untuk Roh Kebenaran atau Advokat sangat mirip dengan dala Kitab Ulangan ini: “dia tidak akan berbicara sendiri, tetapi akan berbicara apa pun yang ia dengar, dan ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yohanes 16 : 13, NRSV).

Seperti Kitab Ulangan, Injil Yohanes membuka harapan untuk wahyu masa depan. Nubuat Yohanes tidak begitu spesifik yang harus berlaku untuk Muhammad dan hanya Muhammad. Tapi sejauh Qur’an membuat klaim bahwa Muhammad adalah Roh Kebenaran atau Advokat yang Yesus nubuatkan, pilihan interpretatif yang kuat muncul bagi orang Kristen untuk menerima Muhammad sebagai nabi yang diprediksi oleh Yesus ketika ia mengatakan:

“Aku masih mempunyai banyak hal untuk saya sampaikan kepadamu, tetapi kamu sekalian tidak dapat menanggungnya sekarang. Ketika Roh Kebenaran datang, dia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; karena ia tidak akan berbicara sendiri, tetapi akan berbicara apa pun yang ia dengar, dan ia akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang akan datang. Dia akan memuliakan Aku, karena ia akan mengambil apa yang punyaku dan menyatakan kepada kalian. Semua yang Bapa punya adalah milikku. Untuk alasan ini saya mengatakan bahwa ia akan mengambil apa yang kepunyaan saya dan menyatakan kepada kamu sekalian.” (Yohanes 16: 12-15, NRSV)

Dalam bagian ini, deskripsi Advokat atau Roh Kebenaran secara kualitatif berbeda dari yang disebutkan sebelumnya. Di sini kita melihat Roh Kebenaran berbicara tidak melalui para murid tetapi kepada (untuk) mereka. Sebelumnya, dalam Yohanes 14:17, Yesus mengatakan bahwa Roh Kebenaran ini akan patuh dengan pengikutnya dan di dalam mereka; di seluruh Injil Yohanes, Roh Kudus dibicarakan sebagai patuh, kehadiran batin. Sekali lagi, di 14:26, Yesus mengatakan bahwa Advokat “akan mengingatkan kamu sekalian tentang semua yang telah saya katakan kepada kalian.” Dalam ayat-ayat ini, Yesus berbicara tentang Roh Kudus yang membantu para pengikutnya mengerti apa yang telah dikatakan. Pada dasarnya, ini akan menjadi pengalaman murid yang dikasihi, penulis Injil Yohanes, yang dipandu oleh kehadiran Roh Kudus dalam mengingat dan menafsirkan kata-kata dan perbuatan Yesus (yang dia lakukan secara rohani daripada harfiah). Namun, dalam Yohanes 16: 12-15, Yesus berbicara tentang Roh Kebenaran yang akan melahirkan wahyu baru, yang akan mengatakan “banyak hal” yang Yesus tidak mengatakan karena para pengikutnya “tidak dapat menanggungnya sekarang.”

Perbedaan yang jelas adalah bahwa Roh Kebenaran di Yohanes 16 diprediksi untuk menyatakan wahyu baru, tidak hanya mengingatkan murid-murid Yesus dari apa yang sudah dia katakan, seperti dalam Yohanes 14. Ide bahwa ia akan “menyatakan kepada kalian hal-hal yang akan datang ” adalah sangat penting karena mengakui ketidakpastian tentang masa depan yang dihadapi pengikut Yesus, mengingat fakta bahwa ia tidak kembali secepat yang diharapkan. Yesus menegaskan bahwa nabi masa depan ini akan memuliakan Dia dengan menyatakan wahyu baru yang akan datang dari sumber yang sama dengan wahyu yang diterimanya yaitu dari Tuhan. Pembicaraan ini dimaksudkan untuk membuka pikiran orang Kristen untuk menerima wahyu masa depan bukan sebagai sesuatu yang bersaing atau mengurangi Injil, melainkan sebagai sesuatu yang memuliakan Yesus. Sayangnya, kata-kata dalam Injil Yohanes ini telah benar-benar terjawab oleh orang-orang Kristen yang menolak dan meremehkan Al-Qur’an; sebagian besar kami telah benar-benar mengabaikan kesatuan Injil dan Al Qur’an dalam hal sumber wahyu mereka yang sama. Namun, jika kita mengambil kata-kata Yesus dengan serius, kita memiliki kesempatan untuk menerima Firman Allah dalam Al-Qur’an sesuai dengan janji Yesus bahwa Roh Kebenaran “akan mengambil apa yang kepunyaan saya dan menyatakan kepada kalian.” Kami dapat menerima Qur’an sebagai wahyu, tidak bertentangan dengan Injil, tetapi dalam kesatuan dengan Injil dan kehendak Yesus.

Bagian 3:

Dalam Surat Pertama Yohanes, yang ditulis setelah Injil Yohanes dan sangat mirip dengan itu, kita menemukan kelanjutan dari cara multivalen Injil Yohanes berbicara tentang Roh seperti yang diartikan sebagai Roh Kudus serta yang diartikan sebagai nabi yang terinspirasi oleh Roh. Dalam Surat Pertama Yohanes 3:24 dan Surat Pertama Yohanes 4:13, penulis berbicara tentang karunia Roh Kudus dan bagaimana ia tinggal pada para pengikut Yesus. Namun dalam Surat Pertama Yohanes 4: 1-6, di antara penyebutan-penyebutan Roh Kudus ini, penulis berbicara panjang lebar tentang pengujian roh. Dalam ayat-ayat ini kata “Roh” digunakan untuk berbicara tentang nabi-nabi dan bagaimana untuk mengatakan apakah mereka benar atau palsu:

Dengan ini kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengakui, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, adalah berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengakui Yesus sebagai manusia, tidak berasal dari Allah.” (1 Yohanes 4: 2, NRSV)

Penulisnya mengkontraskan “Roh Allah” dengan “Roh Anti-Kristus,” mereka yang berasal “dari Tuhan” dengan mereka yang berasal “dari dunia,” dan “Roh Kebenaran” dengan “Roh Kesesatan.” Wacana ini, sekali lagi, sangat mirip dengan wacana dalam Kitab Ulangan tentang nabi masa depan yang saya kutip di atas.

Dalam Kitab Ulangan 18: 20-22, setelah janji nabi masa depan di 18:18 dan perintah untuk mendengarkan nabi itu di 18:19, disusun kriteria untuk membedakan nabi yang benar dari nabi palsu. Kitab Ulangan mengancam bahwa seorang nabi yang berbicara untuk sesembahan lain atau berbicara bohong atas nama Allah “akan mati” (18:20). Hal ini juga menyarankan orang Israel untuk mengabaikan nabi yang bernubuat palsu:

“Jika seorang nabi berbicara atas nama Yang Kekal tetapi hal tersebut tidak terjadi atau terbukti benar, itu bukanlah kata-kata dari Yang Kekal. Nabi telah berbicara itu terlalu berani; jangan takut dengan itu.” (18:22, NRSV)

Dengan cara yang sama, tetapi menggunakan kriteria yang berbeda, penulis Surat Pertama Yohanes mendefinisikan nabi yang benar dan nabi-nabi palsu relatif terhadap kesetiaan mereka kepada Yesus, Tuhan, dan para pengikut awal Yesus. Bagian dari dinamika masyarakat awal pengikut Yesus adalah bahwa banyak orang yang mengklaim sebagai ilham dari Roh dan bernubuat. Penulis Surat Pertama Yohanes sangat khawatir tentang versi Dosetis Kristen yang telah dikembangkan yang menyangkal bahwa Yesus “adalah manusia”; dalam versi kekristenan ini, Yesus bukanlah manusia sebenarnya melainkan makhluk malaikat yang hanya menampakkan diri seperti manusia. Versi Kristen seperti ini, jelas, telah jauh terputus dari ajaran dan nilai-nilai Yesus dari Nazaret yang sebenarnya dan pengikut awalnya, yang mengenalnya sebagai manusia yang sebenarnya. Perlu dicatat bahwa Muhammad memenuhi kriteria tersebut sejauh Qur’an menegaskan bahwa Yesus adalah Mesiah (Almasih) dan bahwa Yesus “adalah manusia.”

Dalam sejarah kekristenan, semua syarat negatif dalam 1 Yohanes 4: 1-6 telah digunakan untuk melawan Muhammad. Dia telah diidentifikasi dengan “Roh Anti-Kristus” dan “Roh Kesesatan.” Namun, waktunya telah tiba bagi orang Kristen untuk mengakui betapa salahnya kita telah dalam penilaian ini dan untuk memperbaiki rekor dengan tegas mengidentifikasi Muhammad dengan “Roh Kebenaran.”

Dalam sejarah kekristenan, semua syarat negatif dalam Surat Pertama Yohanes 4: 1-6 telah digunakan untuk melawan Muhammad. Dia telah diidentifikasi dengan “Roh Anti-Kristus” dan “Roh dari Kesesatan.” Namun, waktunya telah tiba bagi orang Kristen untuk mengakui betapa telah salahnya kita dalam penilaian ini dan untuk memperbaiki rekor dengan tegas mengidentifikasi Muhammad dengan “Roh Kebenaran.”

Bila kita melihat Islam sebagai agama dunia, dan melihat bahwa 1,6 miliar orang dan dan terus tumbuh mengikuti jalan Muhammad, waktu jelas telah datang untuk mengakui dia sebagai nabi. Jika Muhammad bukan seorang nabi, siapa dia? Bisa dimengerti, benar-benar, bahwa begitu banyak orang Kristen telah defensif dan telah bereaksi negatif terhadap Islam. Respon berbasis ketakutan, ego kelompok itu, adalah bagian dari sifat manusia. Namun, adalah tidak masuk akal bagi kita untuk terus melihat Muhammad sebagai musuh Kristen atau nabi palsu mengingat bahwa Islam telah berlangsung selama hampir 1.400 tahun, telah mendukung prestasi budaya, spiritual, seni, politik, moral, dan intelektual monumental, dan memiliki yang pengikut global yang bersemangat.

Tidak Ada kandidat yang lebih baik dari Muhammad, bahkan tidak ada yang hampir sekalipun, dalam hal memenuhi janji Yesus tentang Roh Kebenaran yang akan mendatangkan wahyu baru dari Allah. Saya tidak memiliki ruang dalam artikel ini untuk mengeksplorasi banyak ayat Al-Qur’an secara langsung ditujukan kepada orang-orang Kristen, tetapi jika kita menerima mereka, agama kita akan berubah menjadi lebih baik dan akan datang ke dalam keseimbangan dengan Yudaisme dan Islam.

Yesus telah mengetahui akan sulit bagi kita untuk menerima bimbingan dari sumber lain. Tapi dia tidak ingin ketakutan kita tentang keberbedaan jelas dari Nabi Muhammad dan Al-Qur’an untuk memisahkan kita dari Jalan, Kebenaran, dan Hidup; yaitu Firman Allah. Inilah sebabnya mengapa ia berbicara kepada para murid meyakinkan tentang Roh Kebenaran, mengatakan, “dia akan memuliakan Aku”; dan, untuk alasan yang sama, ia menekankan kesatuan ajarannya dengan wahyu datang, dua kali mengulangi janji, “ia akan mengambil apa yang kepunyaan saya dan menyatakan kepada kamu sekalian” (Yohanes 16: 14-15, NRSV). Berdasarkan janji Yesus, orang Kristen dapat menemukan Al-Qur’an tanpa takut, mengetahui bahwa itu adalah wahyu yang memuliakan Yesus dan, dalam pengertian spiritual, adalah dari dia.

Apa yang kita miliki dalam Injil Yohanes adalah portal alkitabiah antara Kristen dan Islam. Jika kita memilih untuk berjalan melalui itu dalam iman kita akan menemukan bahwa agama kita dari sumber ilahi yang sama; kita akan menemukan bahwa kita adalah saudara kandung dalam iman, dimaksudkan untuk memberikan kesaksian ke sisi kebenaran berdampingan (Yohanes 15: 26-27) dan berkolaborasi dalam mewujudkan kehendak Allah di bumi seperti juga di Surga. Saya mengundang orang-orang Kristen di mana-mana untuk melihat dengan seksama pada kitab suci kkita, mencari jiwa kita, pertimbangkan sejarah kita, dan mencari bimbingan Roh Kudus dalam menjawab pertanyaan ini: “Apakah waktu datang bagi orang Kristen untuk melihat Muhammad sebagai Roh Kebenaran?”

SARJANA TEKNIK RAWAN MENJADI EKSTREMIS

Extremism3

SARJANA TEKNIK RAWAN MENJADI EKSTREMIS

Oleh: Jum’an

 

Seperti kita keatahui, Azahari Husin (asal Malaysia), Umar Farouk Abdulmutallab (Nigeria), Khalid Shaikh Mohammed (Kuwait) Mohamed Atta (Mesir),  Mohammad Youssef Abdulazeez  (Kuwait)  serta Faisal Shahzad (Pakistan) adalah  nama-nama ektremis yang terkait dengan tindakan kekerasan yang membahayakan orang banyak. Keenamnya juga mempunyai kesamaan lain yaitu kesemuanya mempunyai latar belakang pendidikan teknik (engineering). Sarjana teknik adalah manusia biasa, bagian terbesar mereka pastilah bukan ekstremis. Tetapi ternyata bahwa di antara para ektremis jumlah yang sangat menonjol adalah sarjana teknik. Benarkah bahwa pendidikan teknik menghasilkan teroris-teroris seperti dimuat The Chronicle of Higher Educatuon? Banyak kalangan yang telah menengarai kenyataan ini bahkan ekstremis kanan diluar gerakan Islam, seperti gerakan neo-Nazi dan neo-Stalinis yang keras serta kelompok supremasi kulit putih di Amerika Serikat juga sangat didominasi oleh orang-orang-orang berlatar belakang engineering. Menurut Washington Post, para sarjana teknik sangat rentan terhadap ekstremisme kekerasan. Mereka sembilan kali lebih mungkin menjadi ekstremis dari yang anda kira sekedar kebetulan.

Dua ilmuwan sosial, Prof. Diego Gambetta dan Dr. Steffen Hertog, yang telah meneleliti lebih dalam menyimpulkan bahwa memang proporsi ekstremis yang berlatar teknik jauh melampaui perkiraan dan hal itu bukan sekedar kebetulan. Penelitian selama beberapa tahun oleh kedua ilmuwan itu dituangkan dalam buku mereka: Engineers of Jihad: The Curious Connection Between Violent Extremism and Education (Princeton University Press). Diego Gambetta dan Steffen Hertog memberikan teori baru yang menjelaskan mengapa sarjana teknik tampak sangat rentan untuk terlibat dalam organisasi ekstremis. Mereka mengungkap dua fakta yang tak terduga tentang ekstremisme: mereka menemukan bahwa bagian yang menonjol dari gerakan radikal Islam berasal dari latar belakang teknik, dan bahwa ekstremisme Islam dan ekstremisme sayap kanan memiliki lebih banyak kesamaan dibanding dengan ekstremisme sayap kiri, di mana tidak banyak sarjana teknik yang terlibat sementara para sarjana sosial dan mahasiswa humaniora yang menonjol.

Menurut kedua penulis, hal itu disebabkan oleh cara sarjana teknik itu berpikir tentang dunia. Data survei menunjukkan bahwa para lulusan fakultas teknik cenderung jauh lebih konservatif daripada sarjana fakultas lain, dan jauh lebih mungkin untuk menjadi religius. Mereka tujuh kali lebih mungkin untuk menjadi religius dan konservatif dibanding sarjana sosial. Gambetta dan Hertog memperkirakan bahwa para sarjana teknik memiliki pola pikir yang merupakan gabungan dari kedua kecenderungan mereka itu dengan hasrat dasar manusia untuk memperoleh jawaban yang pasti dan tidak menyukai ambiguitas. Pola pikir ini, ditambah dengan kekecewaan mereka terutama di negara-negara Muslim di mana mereka mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan yang berharga, merupakan alasan mengapa mengapa begitu banyak sarjana teknik dalam organisasi ekstremis. Berbeda halnya dengan di Saudi Arabia dimana jarang ada sarjana teknik yang terlibat gerakan radikal, karena mereka dapat dengan mudah menemukan pekerjaan yang baik. Yang menarik, Gambetta dan Hertog juga menunjukkan bahwa pola pikir yang sama yang mendorong sarjana teknik di dunia Islam untuk menjadi ektremis, juga menyebabkan kecenderungan yang nyata terlihat, dimana para sarjana teknik di Amerika banyak yang menganut pandangan politik yang sangat konservatif.

Ada yang berpendapat bahwa kelompok teroris merekrut sarjana teknik karena keterampilan teknis mereka yang berharga seperti dalam membuat bom. Tetapi organisasi teroris tidak merekrut orang karena keterampilan teknis mereka, tetapi karena dapat dipercaya dan mereka tidak banyak memerlukan orang dengan keterampilan teknik. Para sarjana teknik lebih mungkin untuk menjadi ektremis karena pola pikir dan kurang adanya keberuntungan. Ideology fundamentalis tertentu memberikan filosofi yang selaras dengan pola pikir sarjana teknik dan pemahaman tentang mengapa mereka miskin.

Profesor Jessica Stern ahli terorisme dari Univ. Boston memuji Gambetta dan Hertog atas kejelian mereka dalam mengungkap sebab-sebab terorisme. Beberapa tahun yang lalu, terorisme selalu dikaitkan dengan  kemiskinan dan kebodohan, tetapi sedikit bukti yang mendukung gagasan itu. Penelitian ini benar-benar meningkatkan pemahaman kita tentang faktor-faktor risiko yang ada. Jacob N. Shapiro, pakar terorisme dan profesor politik dan hubungan internasional di Univ. Princeton mengatakan sulit untuk mengabaikan begitu banyak bukti yang telah dikumpulkan dengan cermat oleh penulis untuk mencapai kesimpulan mereka. Tidak ada fenomena penting lain yang menunjukkan perilaku seperti masalah pendidikan teknik ini. “Kekayaan data statistik dalam penelitian ini telah memberikan landasan empiris yang kuat pada apa yang tadinya hanya merupakan perkiraan saja.” Demikian komentar the Financial Times.

 

KETIKA NYAWA ORANG ADA DITANGAN ANDA

LIFE SUPPORT

KETIKA NYAWA ORANG ADA DITANGAN ANDA

Oleh: Jum’an

Pada akhir 1998, Raja Hussein dari Jordania diterbangkan dari Amerika ke Amman dalam keadaan koma setelah gagal menjalani pengobatan kanker di Mayo Clinic Minnesota. Alat-alat bantu seperti infus, ventilator, mesin cuci darah, tidak dicabut dari tubuhnya karena keluarga kerajaan sepakat untuk membiarkan beliau meninggal secara alami yaitu ketika jantungnya berhenti berdenyut dengan sendirinya. Akhirnya beliau meninggal pada jam 11.45, 7 Feb. 1999. Perdana Menteri Israel Ariel Sharon pada 2006 mederita stroke karena pendarahan di otak pada usia 78 tahun. Menurut hasil CT scan Sharon menderita kerusakan otak yang tidak dapat disembuhkan. Sharon tak pernah terbangun lagi dari koma, dan terus dalam keadaan vegetatif (hidup tetapi tidak sadar) dengan berbagai alat bantu. Diantaranya sebuah ventilator untuk nafas buatan dan tabung khusus untuk menyalurkan nutrisi langsung ke perutnya. Ia dapat dipertahankan hidup selama 8 tahun – setidaknya dalam arti fisik – sampai meninggal pada bulan Januari 20014. Kedua puteranya Gilad dan Omri yang bertekad untuk tidak mencabut alat-alat bantu itu.

Siapapun mempunyai kemungkinan mewakili orang dekatnya yang tidak bisa lagi dapat memutuskan untuk dirinya karena menjelang ajal atau sakit parah. Tugas itu termasuk untuk mencabut atau meneruskan alat bantu kehidupan, memasang infus, mencoba nafas buatan (CPR), boleh atau tidak jenazahnya di otopsi atau organ tubuhnya disumbangkan. Beberapa contoh nyata dibawah ini memberi gambaran situasi yang dialami oleh seseorang yang harus menjalankan tugas yang menentukan itu.

Darlene, penderita sakit paru-paru yg sudah parah, telah menandatangani arahan yang menyatakan dengan jelas bahwa dia tidak ingin pertolongan CPR dilakukan atas dirinya jika jantungnya berhenti. Suatu saat ia mengalami gagal pernapasan, hilang kesadaran dan sekarat. Suaminya, yang tidak bisa membayangkan hidup tanpa Darlene, memutuskan untuk mengabaikan arahannya. Darlene behasil disadarkan dan dipasang alat bantu dan akhirnya keluar dari rumah sakit. Tetapi ia sangat marah pada suaminya yang telah mencegah dia dari mati secara alami, yang akan terjadi bila ia tidak diberi nafas buatan. Ketika sang suami membela diri bahwa Darlene telah tersealamatkan oleh tindakannya, Darlene menjawab dengan nada marah: “Kau pikir saya senang hidup dengan penyakit mengerikan ini. Bagaimana aku bisa percaya kamu lagi? ” Sang suami berbuat demikian karena terperangkap oleh panggilan cinta.

Jong, seorang pasien, sedang menjelang ajal karena kanker. Proses kemoterapi telah menghilangkan kekebalan tubuhnya hingga ia terserang virus ganas dan harus dirawat diruang ICU untuk perlidungan yang maksimal. Jong tidak memberikan arahan sebelumnya dan istrinya, Soo-jin yang mewakilinya untuk memutuskan. Kondisi Jong memburuk dan tim medis ingin melepaskan alat-alat bantu dan memungkinkan dia untuk mati. Soo-jin adalah seorang wanita lemah lembut yang sangat hormat kepada dokter. Tetapi ia dengan tegas menolak diajak untuk berdiskusi tentang pencabutan alat bantu kehidupan suaminya. Ketika ditanya apakah kalau Soo-jin dalam kedudukan suaminya ia akan berbuat sama untuk dirinya, ia menjawab:”Tentu saja tidak!”, Dia lebih suka  alat-alat bantu itu dilepaskan agar ia dapat mati dengan tenang. Jadi mengapa ia berbuat sebaliknya untuk suaminya? “Tugas seorang istri yang baik adalah untuk menyelamatkan suaminya,” katanya lembut dan dengan tekad baja. Panggilan tugas itu sangat kuat dan sulit untuk diabaikan. Soo-jin mengambil keputusan yang tidak akan ia ambil untuk dirinya karena panggilan tugas itu.

James yang sudah tua, mengalami sakit jantung yang parah. Dia telah beberapa kali masuk rumah sakit. Suatu kali ia tidak sadar dan harus dirawat diruang ICU dan dipasang peralatan bantu kehidupan. Meski  dengan terapi maksimal, tekanan darahnya terlalu rendah, ginjalnya tidak berfungsi dan ia tidak bisa dibangunkan. Anaknya, John, yang tinggal di negara bagian lain, diminta datang. John sibuk dengan hidupnya dan tidak mengunjungi ayahnya selama beberapa tahun. Ketika ia tiba, tim medis minta izin kepadanya untuk mencabut alat-alat bantu dari tubuh ayahnya untuk memungkinkan ayahnya mati. Sambil duduk di samping tempat tidur ayahnya yang menjelang ajal, yang diingatnya hanyalah rasa menyesalnya bahwa ia tidak pernah mengunjungi maupun menilpun ayahnya. Sekarang, ia datang melihat ayahnya di ambang kematian, nalurinya yang kuat mengatakan bahwa ia wajib untuk berperan sebagai pembela dan berjuang untuk melindungi ayahnya dari dokter-dokter yang ingin mencabut alat-alat bantu hidupnya. Dalam situasi seperti ini, sadar atau tidak sadar, ia terutama didorong oleh kepentingan dirinya sendiri untuk menebus kesalahan, satu kesempatan terakhir untuk memperbaiki hubungan dengan ayahnya.

Ketika nyawa seseorang ada ditangan kita (anda), terutama ketika harus memilih untuk mencabut atau membiarkan alat penyambung hidup seseorang, ada beberapa kesulitan tersembunyi dan karenanya kita harus sangat berhati-hati. Disamping panggilan rasa cinta, tugas ataupun menebus kesalahan, kita harus bertanya apakah tindakan kita didasari kepentingan diri-sendiri atau kepentingan si sakit.

ANAK BERAGAMA LEBIH KEJAM DARI ANAK ATHEIS?

BULLY

ANAK BERAGAMA LEBIH KEJAM DARI ANAK ATHEIS?

Oleh: Jum’an

Menurut hasil penelitian Pew Research Center  2011 – 2013 terhadap 37 ribu orang di 39 negara, kebanyakan orang diseluruh dunia, percaya kepada Tuhan adalah mutlak perlu untuk membentuk moralitas yang baik. Masuk akal; kalau tidak, untuk apa 84% penduduk dunia memeluk agama? Kebanyakan keluarga percaya bahwa pendidikan agama memainkan peranan penting dalam perkembangan moral anak. Tetapi menurut penelitian kontroversial yang baru oleh Jean Decety, neuroscientist dari Univ. Chicago, anak-anak keluarga beragama justru lebih kikir dan kejam dibanding anak-anak keluarga tak beragama. Atau lebih khasnya: Anak-anak keluarga Kristen dan Islam rata-rata kurang bersedia berbagi dan lebih kejam dibanding anak-anak tak beragama. Decety memberi kesimpulan lagi: “Secara keseluruhan, temuan kami mendukung gagasan bahwa sekularisasi moral tidak akan mengurangi kebaikan manusia – justru sebaliknya”

Penelitian ini melibatkan 1.170 anak usia 5 – 12 th dari 6 negara (AS, Kanada, AfSel, Turki, Yordan dan China): 43 % Muslim, 24 % Nasrani, 27,6 % tak beragama, dan 5 agama lain diwakili oleh beberapa anak. Melalui permainan yang disebut dictator game,   anak-anak diberi 10 stiker favorit, kemudian diminta untuk berbagi dengan teman sekolah yang lain yang tidak hadir. Hasilnya, rata-rata anak-anak keluarga Kristen hanya merelakan 3,3 stiker untuk disumbangkan, anak keluarga Islam 3,2 tetapi anak-anak keluarga tak beragama memberikan rata-rata 4.1 stiker untuk yang tidak hadir.

Mereka juga disuruh menonton film kartun pendek dimana orang saling mendorong dan menabrak satu sama lain, untuk melihat reaksi anak-anak tehadap perilaku buruk. Hasilnya, anak-anak Islam menilai menabrak dan mendorong lebih “jahat” dari pernilaian anak-anak Kristen. Sementara anak-anak Kristen menilainya lebih jahat dibanding anak-anak keluarga tak beragama. Orang tua anak-anak itu juga ditanya tentang kesalehan beragama dan kerajinan beribadah mereka, dan rasa kasih sayang anak mereka dan kepekaannya  terhadap keadilan. Ketika diminta untuk menetapkan hukuman untuk saling tabrak dan dorong itu, anak-anak Islam dan Kristen cenderung menetapkan hukuman yang lebih keras daripada anak-anak yang tak beragama.

Martin Marty, ahli sejarah agama, pendeta dan kolumnis berkomentar diantaranya: Para peneliti telah mengabaikan banyak studi yang menemukan fakta sebaliknya yang telah lalu. Mereka tidak menguji penjelasan alternatif dan mereka mempertanyakan dengan bangga tentang (tidak) perlunya agama bagi perkembangan moral. Yang bersorak adalah mereka kaum sekuler yang fanatik. Masyarakat sekuler Inggris menyambut studi ini dengan penuh semangat sebagai “Penolakan anggapan bahwa agama merupakan prasyarat moralitas!”

Tahir Nasser, seorang dokter dan komentator dari Ingris mengkritik bahwa kesimpulan penelitian yang menunjukkan korelasi (bukan sebab-akibat!) sangat tipis (= -0,173) antara religiusitas dan kemurahan hati ini tidak wajar. Korelasi kecil ini menunjukkan adanya faktor-faktor lain yang ini tidak dipertimbangkan. Penafsiran penelitian ini juga bias. Anak-anak beragama memiliki reaksi negatif lebih besar terhadap perilaku buruk bisa diartikan sebagai kebencian yang lebih besar terhadap  ketidakadilan. Tetapi mereka secara negatif menafsirkannya sebagai kecenderungan suka menghakimi. Bahwa anak-anak beragama mungkin menghukum perilaku buruk lebih keras daripada anak tak beragama hanya bisa mengisyaratkan adanya pedoman moral yang berkembang yang belum matang. Sedangkan kelonggaran anak-anak atheis bisa diartikan kurangnya pedoman moral dan ketidak-mampuan untuk mengenali tindakan yang salah. Nampak tidak adanya kerendahan hati sebagai hal penting untuk penelitian yang jujur.  Lebih-lebih untuk menarik kesimpulan tentang kecenderungan moral 3,8 milyar orang Kristen dan Islam (48% dari populasi dunia) terutama dengan penelitian yang hanya mempunyai nilai korelasi serendah -0,173.

Victoria Sayo Turner, ahli ilmu saraf di Nanyang Technological University, Singapura mengulas penelitian ini dalam Scientific American Februari yang lalu. Orang beriman sering diperintahkan untuk bertindak tanpa pamrih terhadap orang lain. Islam menekankan amal dan pemberian sedekah, Kristen pada mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Dalam kasus penelitian ini, para peneliti membatasi kemurahan hati menjadi menyumbang stiker untuk teman sekolah yang anonim. Mungkin anak menolak untuk menyumbangkannya dengan maksud membawanya pulang dan berbagi dengan kakak atau adik atau teman dekatnya daripada kepada orang asing. Apakah itu termasuk kemurahan hati atau nepotisme? Jika anak-anak beragama itu kebetulan mempunyai saudara-saudara kandung, maka hasilnya sebenarnya mengungkapkan hubungan antara saudara kandung dan stiker bukan antara agama dan kemurahan hati. Semua tahu bahwa korelasi merupakan indikator yang rumit terhadap sebab-akibat. Seperti komentar Tahir Nasser, Victoria Turner juga mengatakan bahwa interpretasi eksperimen ini sulit. Temuan ini bisa dartikan sebagai tanda rasa keadilan yang lebih tinggi dari anak-anak Islam dan Kristen, dan lebih peka terhadap korban kekerasan disbanding anak-anak dari keluarga tak beragama. Dan bahwa anak-anak keluarga tak beragama yang kurang keras dalam menghukum, disebabkan mereka tidak mempunyai pedoman moral.

 

ISIS DAN LGBT

KRLPTN

ISIS DAN LGBT

Oleh: Jum’an

Dalam pidato kenegaraan memperingati 20 tahun konstitusi Rusia (Des 2013) di Kremlin, presiden Vladimir Putin mengajak bangsa Rusia untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional dari sikap Barat yang terlalu liberal terhadap kaum homo. Ia menggambarkan Rusia sebagai benteng terakhir dunia dari negara-negara yang cenderung menghancurkan nilai-nilai tradisional dalam kehidupan. Rusia akan mempertahankan diri dari yang disebut toleransi tanpa gender dan sia-sia, yang menjadikan baik dan buruk menjadi setara. Di banyak negara saat ini, norma-norma moral dan etika sedang diusik; tradisi nasional, perbedaan bangsa dan budaya sedang dihapus. Sekarang kaum homo bukan hanya menuntut pengakuan yang layak dari kebebasan moral, pandangan politik dan kehidupan pribadi, tetapi juga pengakuan wajib kesetaraan kebaikan dan kejahatan, yang secara inheren merupakan konsep yang bertentangan. Sebaliknya, semakin banyak orang di seluruh dunia mendukung Rusia dalam membela nilai-nilai tradisional. Demikian diantara pidato presiden Putin.

Pada 2013 Rusia telah mengesahkan undang-undang propaganda gay yaitu larangan mempertunjukkan perilaku yang terlihat “mempromosikan” homoseksualitas kepada anak-anak. Termasuk didalamnya pidato publik, menulis atau demonstrasi yang menyetarakan hubungan kaum homo dengan orang yang normal. Karena undang-undang ini dianggap kurang efektif, pada Januari 2016 Rusia menyiapkan undang-undang baru yang melarang semua penampilan kemesraan antara orang-orang gay di seluruh negeri – seperti berciuman atau bahkan berpegangan tangan- dapat dikenakan denda atau hukuman penjara dua minggu. Menurut  anggota DPR (Duma) Ivan Nikitchuk, homoseksualitas adalah ancaman besar bagi setiap orang normal, yang dapat mempengaruhi anak-anak cucu, dan dengan demikian merusak ras. Hukum di Rusia telah membuat kaum homo (LGBT) makin sulit unntuk hidup secara terbuka.

Ketika presiden Putin berpidato pada peringatan 20 tahun konstitusi Rusia diatas, pemimpin spiritual Gereja Ortodoks Rusia Patriark Kirill (nama asli Vladimir M. Gundyaev) hadir, duduk di kursi tengah pada bais paling depan. Ia mempunyai pendapat yang lebih mendasar bahkan unik tentang kaum homo. Antara lain ia menyatakan bahwa hubungan sesama jenis adalah tanda akan datangnya Kiamat dan mendesak orang untuk berbuat lebih banyak untuk memerangi munculnya hak-hak kaum gay. “Ini adalah gejala apokaliptik sangat berbahaya, dan kami harus melakukan segala sesuatu dalam kekuasaan kami untuk memastikan perbuatan dosa ini tidak akan pernah disetujui di Rusia oleh hukum negara, karena itu berarti bahwa bangsa ini telah mengkuti jalan penghancuran diri” Sangat mengerikan ketika banyak-negara mulai membenarkan dosa dan mengatur itu menjadi undang-undang. Sesepuh Gereja Ortodoks Rusia itu bahkan berpendapat bahwa penerimaan homoseksualitas yang makin meningkat sebagai penyebab kebangkitan ISIS.

Ia mengaku tidak terkejut bahwa banyak kaum muslim berbondong-bondong masuk ISIS ‘negara sok Islam’ sebagai cara melarikan diri dari “peradaban tak berTuhan” yang merayakan acara-acara seperti Gay Pride. Ia mengatakan, ISIS sedang menciptakan sebuah peradaban yang baru dibandingkan dengan peradaban yg sudah mapan yang tidak berTuhan, sekuler dan bahkan radikal dalam sekularisme . Parade kaum homo dibiarkan tapi sejuta demonstran Kristen Perancis yang membela nilai-nilai keluarga dibubarkan oleh polisi, Peradaban kafir kini sudah mencapai kematangan, maka tidak aneh kalau mereka yang menentang ide-ide liberal dan sekuler akhirnya bergabung organisasi teror.

“Lihatlah bagaimana Barat membangun dunia – dunia yang tidak suci – tapi kami mengajak Anda untuk membangun dunia Allah … dan mendapat respon dari para pendukung ISIS; mereka yakin hidup mereka adalah untuk Allah. Patriark Kirill percaya bahwa mereka yang berbondong-bondong masuk dalam organisasi terror yang secara sepihak mengaku sebagai khilafah Islamiah itu, adalah orang-orang tulus yang melakukannya dengan alasan semata-mata demi agama. Khilafah adalah masyarakat yang berorientasi di sekitar iman dan Tuhan di mana orang mengikuti hukum agama. “Kalau para imam atau pastor menyebut hubungan sesama jenis itu dosa karena Alkitab mengajarkan demikian, kini mereka berisiko bukan hanya kehilangan kemampuan berdakwah tetapi juga mungkin akan dimasukkan ke penjara,” katanya  Banyak contoh yang menakutkan bagaimana peradaban tak berTuhan berkembang , tetapi di sini mereka menarik perhatian kaum muda yang kemudian direkrut oleh para ekstrimis, tambahnya.