Bulan: Januari 2011

GODAAN YANG MENYENANGKAN

GODAAN YANG MENYENANGKAN

Oleh: Jum’an

Saya pernah menulis (disini) bahwa pengetahuan itu ada dua yaitu kita sendiri mengetahui tentang suatu masalah atau kita tahu dimana mencari informasi tentang masalah itu. Ada yang mengatakan bahwa yang kedua, yaitu memiliki akses terhadap pengetahuan, lebih baik daripada memiliki pengetahuan itu sendiri. Yang penting bukan apa yang kita tahu melainkan apa yang kita bisa temukan. Memiliki kalkulator lebih baik daripada belajar berhitung. Memiliki akses internet lebih baik daripada menghafalkan Pancasila. Dalam hitungan detik bukan saja Pancasila yang hanya lima butir, seluruh UUD 45 bahkan Konstitusi Amerika beserta amandemennya dapat kita tampilkan seketika. Budaya tekun membaca bergeser menjadi budaya surfing atau berselancar, yaitu selang-seling mengakses macam-macam informasi. Ada benarnya apa yang dikatakan Nicholas Carr dan David Meyer bahwa era digital sedang menghancurkan kita dengan merusak kemampuan kita berkonsentrasi. Padahal berkonsentrasi, yaitu berfikir fokus berlama-lama adalah kunci keberhasilan para ilmuwan, ulama serta filosof zaman dulu yang hasilnya kita warisi sampai sekarang.

Gangguan dan godaan yang menyelingi perhatian dan pikiran kita datang setiap waktu dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Sebelum menyelesaikan laporan, buka e-mail dulu ah sebentar! Waktu kita membuka e-mail ponsel kita berdering. Sementara kita berbicara, ada SMS masuk, teman sekerja mengajak bicara dan kita semakin jauh dari tugas yang akan kita kerjakan. Tanpa semua itu pun ada godaan lainnya yang datang dari kita sendiri yaitu self-talk: berbicara dengan diri sendiri dalam hati. Waktu berkonsentrasi menyusyun laporan saya menuliskan kata ”biaya transport” didalamnya. Saat itu tanpa terasa saya berbisik kepada saya: “Transport? Mobil kita kan rusak. Kapan kita bawa kebengkel?” Lalu sibuklah pembicaraan antara saya dan saya, kapan dan mau kebengkel mana, berapa biayanya, selama mobil dbengkel mau naik apa. Semakin serius self-talk, semakin kabur konsentrasi kita pada pekerjaan. Setiap yang terlihat dimata dan terdengar ditelinga meski sekelebat sekalipun, dapat merangsang mulainya self-talk dengan mudahnya. Waktu menyetir mobil kekantor, meskipun kaki, tangan dan mata siap siaga bahkan mulutpun komat-kamit membaca doa, self-talk tetap berlangsung tanpa terhalang. Tidak jarang hati dan wajah yang cerah dari rumah berubah menjadi kusut dan cemberut waktu memasuki kantor akibat perdebatan sengit antara diri sendiri sepanjang perjalanan.

Zaman memang sedang mengubah orang-orang yang semula bersifat tekun dan peduli menjadi masyarakat pop yang serba gelisah. Godaan dan selingan sengaja diciptakan dan disajikan sebagai kenikmatan sementara pendidikan, yaitu jalan keberhasilan, dirasakan sebagai kewajiban untuk fokus pada hal-hal yang membosankan dan terasa tidak menyenangkan. Zaman telah membuat kita berpikir bahwa berkonsentrasi itu menyusahkan dan godaan itu menyenangkan. Solat dan belajar itu menyusahkan karena harus berkonsentrasi sedangkan menonton TV dan kongko-kongko memang menyenangkan. Apa jadinya nanti?

Jangan khawatir. Manusia adalah makhluk unggulan. Otak bisa ditempa. Nafsu dan godaan bisa dikalahkan, selingan bisa dihindarkan. Bahkan diri sendiri bisa kita taklukkan. Kalau kita sekarang terbiasa dengan dunia selingan dan hiburan, kita pasti bisa berupaya untuk mengarahkan perhatian dan memusatkan pikiran, tekun dan istiqomah.

Iklan

MENIRU ITU PERLU

MENIRU ITU PERLU

Oleh: Jum’an

Banyak orang menganggap meniru itu merupakan bakat rendahan (cuma meniru!!) dan tidak mempunyai nilai pembelajaran. Tidak selalu demikian. Dr. Susan Blackmore psikolog dari Universitas Plymouth di Inggris menjelaskan bahwa meniru bukan saja merupakan cara belajar yang efektif dan to the point, tetapi juga bahwa diperlukan kecanggihan untuk dapat meniru. Meniru adalah semacam benih (gen) kreatifitas dan perkembangan sebagaimana batu yang merupakan bahan dari macam-macam pahatan. Guru menunjukkan dan murid menirukan. Meskipun guru berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti panutan spiritual tetapi sejak SD saya diajarkan bahwa guru berasal dari singkatan digugu (dipercaya-bahasa Jawa) dan ditiru. Tirukan guru bagaimana cara menulis, membaca dan menghitung yang benar. Tirukan ustad anda melafalkan huruf hijaiyah yang fasih, ruku dan sujud yang tumakninah. Itulah modal awal untuk menjadi seorang anda yang professional dan da’i yang kondang seperti sekarang ini.

Saya tidak suka melihat teman-teman saya yang memencong-mencongkan bibir dan menekuk lidah meniru cara orang barat berbahasa Inggris. Makanan kita singkong mereka makan keju. Bibir dan lidah kita beda takkan bisa persis meniru pengucapan mereka. Tidak nasionalis meniru-niru logat orang asing. Mereka teryata sekarang ada yang menjadi diplomat atau bekerja di perusahaan asing dengan gaji selangit. Saya mungkin salah. Menirukan logat lawan bicara kita ternyata membuat kita memahami dan dipahami oleh mereka. Dalam penelitian bersama Unversitas Manchester Inggris dan Unv. Radboud Belanda, sejumlah relawan diminta mendengarkan kalimat bahasa Belanda yang dibaca dengan aksen yang dibuat-buat sehingga terdengar sangat asing. Beberapa relawan diminta mengulangi kalimat-kalimat itu dengan aksen yang sama. Yang lain diminta mengulangi kalimat itu tanpa meniru aksennya, sementara kelompok ketiga diminta menuliskan apa yang mereka dengar. Kemudian mereka diminta untuk mendengarkan kalimat-kalimat lain dengan aksen yang asing itu. Para relawan yang yang telah mengulangi kalimat pertama sambil menirukan aksennya, ternyata jauh lebih memahami kalimat-kalimat berikutnya dibanding relawan yang lain.

Menurut Dr. Patti Adank perancang penelitian itu, jika orang berbicara satu sama lain mereka cenderung saling menyesuaikan percakapan mereka satu dengan yang lain. Ada kecenderungan alami untuk melunakkan suara dan merubahnya dengan halus menjadi seperti lawan bicaranya. Otak anda secara bijak dan tidak kentara menggeser suara anda hingga terdengar lebih seperti mereka. Ketika berbicara dengan seseorang yang aksennya sangat kuat, bila kita menirukan logat mereka maka kita akan mengerti dengan lebih baik. Ia juga mengatakan bahwa ada beberapa ciri kepribadian , seperti empati misalnya, yang memberikan kemampuan dan kemudahan untuk meniru orang yang dia ajak berbicara.

Steve Mc Claren ex manager tim sepak bola Inggris yang kemudian memimpin club FC. Twente dari Belanda suatu kali mengadakan konferensi pers dalam bahasa inggris dengan menggunakan logat Belanda. Orang banyak menganggapnya konyol, tetapi menurut hasil penelitian ini, bukan saja menjadikan dia mudah difahami oleh klubnya tetapi ia faham kalau anak buahnya berbahasa Inggris dengan logat Belanda yang medok. Jadi tirukan logat Batak atau Ambon bila berbicara bahasa Indonesia dengan mereka. Dan logat Singapura atau India yang khas itu kalau berbahasa Inggris dengan orang sana. Dijamin komunikasi lancar. Tapi hati-hati jangan sampai mereka merasa terhina. Anda akan mampu dan mudah melakukannya bila anda orang yang peduli dan suka memahami orang lain

BAHAYA MEMAKAI PERHIASAN TIRUAN

BAHAYA MEMAKAI PERHIASAN TIRUAN

Oleh: Jum’an

Harga kacamata Dolce & Gabbana 30 jutaan dan Louis Vuitton 10 jutaan rupiah. Anda pasti ngiler melihatnya. Tapi kalau anda tipe orang yang pelupa, suka menaruh barang sembarangan lagi pula kantong sedang cupet, jangan memaksa diri. Nanti sudah terbeli tidak lama hilang, pecah atau dicopet orang. Beli saja replikanya beberapa ratus ribu, ditanggung tidak ada yang tahu. Sama persis dengan yang asli kok! Setidaknya kalau sampai hilang anda tidak perlu menangis lama-lama. Tidak ada bedanya Gabbana asli dengan replikanya kalau hanya untuk memoles citra diri untuk dapat tampil keren. Bedanya barangkali pemakai replika tidak akan sepercaya-diri seperti sipemakai merek yang asli. Bahkan, percaya atau tidak, sebuah penelitian membuktikan bahwa memakai barang tiruan bisa menjadi boomerang yang berbahaya.

Tiga orang ilmuwan masing-masing Dan Ariely dari Duke University, Francesca Gino dari University of North Carolina dan Michael I. Norton dari Harvard telah melakukan penelitian yang hasilnya dimuat dalam majalah resmi Psychological Science. Wray Herbert, direktur senior Association for Psychological Science mengulasnya dalam majalah Scientific American (disini). Serba ilmiah bukan? Saya khawatir kalau anda meragukan hasilnya nanti, karena dari 60 komentar pembacanya banyak juga yang bernada miring. Penelitian itu membuktikan, memoles citra diri dengan barang tiruan dapat mengakibatkan pemakainya berbohong, curang dan sinis terhadap orang lain.

Sejumlah besar wanita muda menjadi relawan dalam penelitian ini. Semua diberikan kacamata asli Chloe yang mahal untuk dipakai, tetapi sebagian diyakinkan bahwa kaca- mata itu replika bukan asli. Mereka diminta menyelesaikan tugas-tugas dimana tersedia peluang untuk menipu dan berbohong. Sesudah selesai mereka diminta menilai sendiri hasil pekerjaannya dan mengambil uang untuk nilai yang benar. Ternyata 70% mereka yang merasa memakai Chloe replika mengerjakan tugas itu seenaknya dan menipu nilai untuk memperoleh uang. Sementara yang merasa memakai Chloe asli hanya 30% saja yang menipu. Untuk menchek ulang hasil yang aneh itu, mereka diminta menghitung jumlah titik-titik di kiri dan kanan layar computer masing-masing, mana yang lebih banyak. Yang menjawab kiri, benar maupun salah, akan menerima lima ratus rupiah sedang menjawab kanan akan menerima lima ribu rupiah, terlepas salah atau benar. Kelompok yang merasa berkacamata replika kebanyakan menjawab kanan. Bukannya memilih jawaban yang benar tapi jawaban yang menguntungkan jauh berbeda dengan mereka yang merasa kacamatanya Chloe asli. Selanjutnya semua diminta untuk menilai karakter sejumlah orang yang mereka kenal. Sekali lagi terbukti kacamata “palsu” itu telah memicu pemakainya untuk berbohong, curang dan sinis terhadap orang lain.

Saya kurang percaya tapi tidak punya argumentasi. Apalagi saya sudah terlanjur curiga kepada wanita yang menyasak rambutnya tinggi-tinggi dan laki-laki yang mengecat rambutnya pada usia senja seperti kurang rela dengan keaslian dirinya dan mengalami krisis kepribadian, bahkan melawan kodrat. Hanya curiga dan hanya anggapan. Tetapi saya percaya bahwa pakaian dan perhiasan memang ada pengaruhnya terhadap tingkah laku seseorang dan bahwa keaslian merupakan ciri yang sangat penting hingga tidak mustahil mempunyai pengaruh psikologis yang lebih baik dibanding yang tiruan.

JANGAN TERLALU BANYAK RAHASIA

JANGAN TERLALU BANYAK RAHASIA

Oleh: Jum’an

Alangkah malunya kalau rahasia pribadi saya terbongkar. Tak ada ungkapan yang lebih pas kecuali serasa telanjang didepan pasar. Itu baru malunya. Belum lagi takut dicaci orang karena saya bukan teman sejati seperti yang mereka percaya selama ini. Takut akan ditolak, dilecehkan, kehilangan teman bahkan kehilangan pekerjaan. Dari lubuk hati saya akui terpaksa merahasiakan banyak aspek pribadi saya karena tidak sanggup untuk menyandangnya dengan terang-terangan. Tidak mungkin rasanya hidup tanpa rahasia. Ular dan tikus merahasiakan liangnya dan burungpun merahasiakan sarangnya. Keluarga, pemerintah, perusahaan, militer semua menyimpan rahasia, meyembunyikan informasi dari pihak luar. Tetapi menyimpan rahasia secara berlebihan sering menjadi sumber konflik. Orang terpaksa berbohong atau menolak menjawab pertanyaan demi menjaga rahasia, sementara pihak lain memaksa minta jawaban. Semuanya memicu permusuhan. “Jangan mengerjakan sesuatu diam-diam karena Waktu melihat dan mendengar segala sesuatu, dan mengungkapkan semuanya”, begitu kata Sophocles 2500 tahun lalu.

“Lima belas tahun mendatang tidak akan ada lagi rahasia” begitu ramalan Donald Burke pejabat penting CIA pada Open Source Conference tahun 2008 di Washington. Prediksi yang provokatif ini terasa dari makin sulit dan mahalnya usaha untuk menyembunyikan informasi, sementara sarana untuk menemukan, memahami dan mengelola informasi semakin mudah dan murah. Pada 2010 saja Wikileaks telah menyebarkan ratusan ribu dokumen rahasia Amerika kehadapan publik. Amerika yang super nampak kedodoran seperti seorang perempuan yang kedua tangannya memegang topinya erat-erat supaya tidak terbawa angin, sedangkan roknya tersingkap oleh tiupan angin dari belakang. Undang-undang dengan ketatnya melindungi kerahasiaan mereka, sementara teknologi dengan mudah menginfiltrasi dan mengekspose informasi yang mereka sembunyikan.

Ada dua pilihan untuk menghadapi masa yang akan datang. Membangun tembok yang lebih tebal dan lebih tinggi untuk menjaga rahasia seperti trend pada saat ini, atau beradaptasi mengembangkan pola bisnis, pemerintahan atau tingkah laku yang tidak mengandalkan pada kerahasiaan yang berlebihan. Belajar bersaing dalam dunia yang transparan, bertarung dicahaya terang daripada menunggu gelap untuk mengalahkan lawan. Entah menarik atau tidak opsi ini. Teknologi komunikasi modern hampir-hampir membuat dunia telanjang. Bahkan informasi pribadi kita sudah banyak diketahui orang. Kita sepakat untuk tetap menjaga rahasia pribadi karena takut terancam, terhina kalau diketahui orang tetapi anjuran jangan terlalu banyak rahasia pantas juga kita ikuti.

Tanpa kita sadari telepon cellular dan computer kita telah menjadi mata-mata orang luar untuk mengorek rahasia pribadi kita. Said Shiam seorang tokoh Hamas terbunuh oleh serangan Israel yang mengetahui posisinya dari HP salah seorang asistennya. Heboh blackberry di beberapa negara menunjukkan betapa rentannya kerahasiaan dalam era komukasi modern saat ini. Suatu kali kenalan saya dari China mengirim e-mail kepada saya: “Rumahmu dekat bunderan HI dekat sungai kecil itu kan?” Ia tahu letak Kebon Kacang dari Google Earth………

MAAFKAN AKU DARIPADA KAU MENDERITA

MAAFKAN AKU DARIPADA KAU MENDERITA

Oleh: Jum’an

Apakah memaafkan diri sendiri ada artinya? Bukankah maaf seharusnya diberikan kepada orang lain? Saya sering memaafkan diri sendiri ketika menyesali ucapan dan tindakan yang belakangan ternyata merugikan diri sendiri atau orang lain. Bukannya melarikan diri dari tanggung jawab atau sekedar melupakan tekanan perasaan, tetapi sebagai upaya menyadarkan diri bahwa saya seharusnya bertindak lain seandainya tahu akibatnya bakal begini. Tetapi saya baru tahu sekarang sesudah terjadi; rasanya seperti jawaban yang datang sesudah tak dibutuhkan lagi. Saya mengakui bahwa saya telah belajar dari kesalahan dan harus rela menerima diri saya apa adanya yaitu saya yang telah berbuat kesalahan. Kalau tidak saya maafkan, saya akan terus menderita dan menyesal dan terobsesi untuk menjadi “saya” lain yang lebih sempurna yang sejak awal sudah tahu akibat perbuatannya nanti. Mustahil kan?

Bila anda menjadi korban kejahatan, fitnah, pelecehan atau kecelakaan anda akan menghadapi dua pilihan yang tak ada jalan tengahnya, yaitu memaafkan atau tidak memaafkan pelakunya. Tidak memaafkan akan mengakibatkan anda terus memendam marah, benci dan sakit hati yang akan meggerogoti kesehatan rohani dan jasmani anda. Memberi maaf bukan berarti bahwa anda harus melupakan kejahatannya atau membiarkan ia lari dari tangung jawab, bukan pula anda harus rukun dan berdamai dengan dia. Anda bisa memaafkan tanpa orang itu tahu dan meminta. Memaafkan artinya anda tidak lagi membiarkan ucapan atau tindakannya membuat anda benci, marah dan sakit hati. Dengan kata lain anda mengakui bahwa meskipun anda lebih suka kalau ia bertindak lain, anda memutuskan untuk memahami orang yang telah menganiaya anda itu sebagaimana adanya

Dr. Frederic Luskin ahli kesehatan jiwa dari Universitas Stanford dan teamnya telah membuktikan bahwa memaafkan itu menyehatkan baik secara emosional dan secara fisik. Ia menyebutkan bahwa memaafkan adalah resep yang telah terbukti manjur bagi kesehatan dan kebahagiaan. Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa tindakan memendam kemarahan dan dendam secara serius merusak kesehatan manusia. Disisi lain memaafkan meskipun tidak selalu mudah adalah sebaliknya. Ia merupakan aspek moral yang unggul yang mampu menghilangkan efek buruk kemarahan dan dendam serta membantu orang menikmati hidup sehat, fisik dan emosional.

Memaafkan sangat banyak disebut dan dianjurkan dalam Qur’an. Jadilah engkau pemaaf (al-A’raf 100). Dan hedaklah engkau memaafkan dan berlapang dada (an-Nur 22). Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya….(asy-Syura 40). Orang-orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhya (tindakan) yang demikian merupkan hal-hal yang utama (asy-Syura 43). Ya! Maafkan saja aku daripada engkau menderita.