Bulan: Juli 2009

SANG WANITA PENAKLUK CAHAYA


LENE HAU WANITA PENAKLUK CAHAYA

Oleh: Jum’an Basalim

Cahaya itu sungguh luar biasa, dengan kecepatannya yang lebih dari satu milyar kilometer per jam, dia haya butuh waktu 8 menit untuk menempuh jarak 150 juta kilometer dari rumahnya dimatahari kerumah saya. Menurut genius Einstein kecepatan cahaya adalah konstan dan mutlak. Tidak ada suatu apapun dijagat raya ini yang bisa menyamai apalagi melebihi kecepatan cahaya.

Yang sulitnya lagi masuk akal orang awam, menurut teorinya bila kita dapat mendekati kecepatan cahaya, waktu kita menjadi renggang dan longgar, seperti orang bermimpi: dalam sedetik sudah bisa berkelana kemana-mana. Hebatlah pokoknya cahaya itu… Einsteinlah promotornya, dan ilmuwan sedunia pun mengakui dan mendukungnya.

Sampai ketika sepuluh tahun yang lalu datang seorang wanita semampai umur 40an kelahiran Denmark muncul sebagai pahlawan baru. Ia, Lene Hau, professor fisika dari Universitas Harvard telah menghasilkan sesuatu yang menurut Einstein sungguh tidak mungkin dikerjakan.

Ia memperlambat kecepatan cahaya menjadi hanya 60 km/jam, lalu menghentikannya sampai full stop, lalu melepaskannya kembali sampai kecepatan penuh. Itu dilakukannya dengan cara melewatkan seberkas cahaya kedalam kabut atom pada suhu ultra rendah dalam ruang vakum sampai tekanan 100 trilyun kali lebih rendah dari tekanan udara terbuka. Pokoknya cahaya takluk diidepan wanita kelahiran Denmark ini.

Professor Lene Vestergaard Hau menerima hadiah 500,000 dollar untuk temuan dari eksperimennya itu serta sebuah laboratorium khusus di Harvard untuk meneruskan cita-citanya. Sesudah cahaya yang perkasa takluk dihadapannya, lalu apa?

Manfaat nyata yang akan datang diantaranya adalah kemungkinan diciptakannya komputer kwantum yang konon bakalan jauh lebih canggih dibanding komputer masa kini. Juga memungkinkan dirumuskannya sandi-sandi yang tidak mungkin dapat dibongkar orang. Lalu kapan itu?

Kalau teori relativitas dari papan tulis Einstein sampai menjadi bom atom dibutuhkan waktu beberapa puluh tahun, sekarang tidak lagi. Waktu untuk merubah temuan ilmiah menjadi produk industri sekarang ini tidak perlu ber-lama-lama. Science today, technologi tomorrow kata orang…

(Harvard Gazette 2001, Light Stopper Google Search dll)

Iklan

NURANI MANGGA DAN KEBANGGAAN ELEKTRON

NURANI MANGGA DAN KEBANGGAAN ELEKTRON

Oleh: Jum’an Basalim


Percayakah anda bahwa ada pohon jambu yang baru mau berbuah setelah diancam bakal ditebang oleh pemiliknya? Dan mangga yang baru mau berbuah setelah ditancapkan paku pada batang pohonnya? Saya rada-rada percaya karena mendengarnya dari orang yang berbeda-beda yang mengaku telah pernah melakukannya.

Saya kira pohon-pohon itu, jambu, mangga, papaya dll memang punya nurani, takut terhadap ancaman dan sengaja berbuah untuk menghindari ancaman itu menjadi kenyataan.


Anda akan terheran-heran kalau membaca buku The True Power of Water karangan Dr. Masaru Emoto. Ilmuwan Jepang ini membuktikan dengan meyakinkan bahwa air tanggap terhadap pujian dan cacian yang diucapkan orang kepadanya. Air yang senang menyusun kristalnya dengan rapih dan indah, sementara air yang diumpat menujukkan keadaan sebaliknya.


Satu contoh lagi. Seperti diketahui, atom, bagian terkecil dari sebuah benda, terdiri dari proton yaitu inti atom dan electron yang beredar mengelilinginya seperti planet-planet beredar menglilingi matahari. Dalam menyusun diri mengisi orbit-orbitnya, electron-elektron itu mengikuti aturan yang “manusiawi”.

Kalau mau naik bis, kita pilih kursi yang kosong dulu, kalau semua sudah terisi, baru kita mau duduk sebangku dengan penumpang lain.

Kalau kita harus memilih kamar di apartemen, kita pilih dulu yang dilantai dasar yang menghadap ketimur agar irit tenaga dan bisa menikmati matahari pagi. Kalau kamar-kamar yang menghadap ketimur dilantai dasar penuh, kita pilih yang menghadap ketimur ditingkat dua.

Tetapi kalau itu juga sudah penuh kita pilih yang lantai dasar, meskipun tidak menghadap ketimur: setidak-tidaknya tidak usah harus naik turun tangga. Bila terpaksa harus dilantai tiga kita pilih yang menghadap ketimur, tapi yang dekat lift. Begitu seterusnya

Demikian pula electron dalam menempati orbitnya. Mereka memilih yang paling nyaman untuk dirinya dulu, baru kalau tidak ada, mereka pilih tempat yang ternyaman dari yang tidak nyaman.


Bahkan seperti anda bisa baca dlm PysOrg.com, electron seperti juga manusia, makin sadar akan posisi dirinya yang tinggi, mereka makin individualistis dan makin hilang kebersamaannya sebagai kelompok.

Nah lo… ternyata semua hidup, semua punya hati nurani.

TAWAR MENAWAR NYAWA


TAWAR MENAWAR NYAWA

Oleh: Jum’an Basalim

Saya ingat ketika kalimat ini diucapkan oleh seseorang yang saya kenal cukup dekat: ”Akan saya jual semua yang saya punya demi kesembuhan anak saya ini” Itu adalah kalimat yang diucapkannnya ketika anaknya harus menjalani perawatan dirumah sakit yang diperkirakan akan makan waktu lama dan entah berapa biayanya. Sesudah cukup lama proses perawatan berjalan, bapak itu seperti memperoleh tuah mimpi nabi Ibrahim. Dia tidak sampai harus menjual rumahnya – sebagaimana nabi Ibrahim tidak harus menyembelh anaknya – datanglah berbagai pertolongan sehingga perawatan anaknya dapat diteruskan sampai selesai, sembuh dan sehat wal-afiat sampai sekarang.

Dizaman kesehatan sangat mahal sepertti sekarang ini, orang kota banyak yang resah menghadapi peristiwa seperti itu. Baik kalau kita sendiri maupun anggota keluarga kita yang sakit. Ada sejumlah penyakit yang nauzubillah biaya perawatannya, karena makan waktu lama, operasi dengan peralatan canggih atau tepaksa dirawat diluar negeri.

Kalau kita tidak sanggup, padahal itu satu-satunya jalan, bukankah itu berarti kita terpaksa mebiarkan keluarga kita mati? Kalau mereka menghabiskan harta demi kesembuhan kita, tetapi nyawa kita tak terselamatkan, bukankah kematian kita meninggalkan mereka dalam kemelaratan?

Kalau sesudah melalui perhitungan dan pemikiran yang matang kita putuskan untuk menghentikan saja perawatan, alangkah kasihannya nasib anak kita?

Tawar menawar mobil memang mudah: ada uang kita beli tidak ada uang kita cari yang lain. Tapi tawar menawar nyawa adalah urusan spiritual tidak ada kursnya untuk dikonversi kedalam rupiah atau dolar. Jawabannya mungkin mesti dicari dalam hati nurani dan petunjuk Alloh………..

PESONA PIRUS URAT MAS

PESONA PIRUS URAT MAS

Oleh: Jum’an Basalim

Malaikat Izroil memang tidak perlu merasa takut dibenci oleh manusia meskipun profesinya sebagai pencabut nyawa, karena Tuhan selalu menyediakan sebab untuk setiap kematian seseorang. Sebab penyakit, sebab usia, musibah atau hal-hal yang tak terduga. Bukan hanya untuk kematian saja sebab itu tersedia. Untuk semua peristiwa dalam hidup: semua kesengsaraan dan semua kejayaan selalu tersedia factor penyebab.

Sulitnya berurusan dengan sebab adalah karena dia berkembang biak cepat menurut deret ukur, bahkan secara eksponensial dan bisa menyeret kita kemana-mana. Bayangkan satu sebab dapat menimbulkan banyak, mungkin belasan, puluhan akibat. Dan masing-masing akibat itu berubah menjadi sebab baru yang akan berkembang biak seterusnya. Dan kita tidak tahu akan terbawa kearah yang mana dalam proses sebab-akibat itu. Baru setengah proses kehidupan berjalan, kita sudah menyimpang jauh dari arah yang kita niatkan.

Barangkali kalau kita giat, tekun, gigih dan rajin, maka rangakain sebab-akibat itu akan membawa kita kearah keberhasilan yang kita inginkan. Atau kalau kita taat kepada orang tua, direstui oleh ibu dan berbudi baik.Juga kalu kita tawakal, banyak berdoa dan beribadah. Walhasil nyatanya sulit bagi kita untuk mencapai cita-cita dengan banyaknya factor yang ikut mengendalikan hidup kita.

Seandainya semua factor itu bisa mampatkan dan kita jelmakan dalam bentuk sebuah jimat yang handy, mungkin urusan akan menjadi lebih mudah… Setuju?

Jimat itu haruslah istimewa, cantik dan mempesona, berkesan magis, dan punya sejarah. Kita pilih saja pirus (turquoise) urat emas, batu mulia yang berwarna biru panci dan didalamnya ada urat keemas-emasan terlahir dari magma yang menbara melalui proses jutaan tahun. Bila diasah dan diikat dengan perak murni menjadi cincin, sempurnalah jimat dijari manis kita.

Sambil tetap bekerja giat, berbudi baik dan tawakal, kita elus-elus, atau kecup-kecup mata cincin pirus itu sebagai ritual atau symbol usaha untuk mencapai cita-cita. Saya yakin seandainya beberapa kali saja berhasil, kita akan mulai merasakan bahwa cincin itu memang punya kekuatan magis dan mampu mempengaruhi hidup kita. Jadi jangan kerjakan, itu mendekati syirik…..

SAYA JAMLIKUN – GURU MADRASAH

SAYA JAMLIKUN – GURU MADRASAH

Oleh Jum’an Basalim

Kalau saja dulu ibu saya yang guru ngaji menolak lamaran duda pendatang itu, saya sekarang bukanlah saya yang ini. Saya yang sekarang terdampar di kebonkacang dan berkantor di rawamangun telah menempuh lorong kehidupan yang panjang dan berliku-liku bukan lurus dan lempang saja. Tidak selempang dalil Pythagoras -panjang sisi miring sama dengan akar jumlah kuadrat dua sisi yang lain. Banyak lorong yang urung saya tempuh; karena gelap, karena sempit, karena ajakan atau paksaan orang lain.

Kalau saja ayahku bukan duda pendatang itu, saya mungkin dinamai Jamlikun bukan Jum’an seperti sekarang. Ada kemungkinan saya ikut dengan sepupu saya nyantri dipondok Lirboyo atau Tambak Beras di Jawa Timur dan sepulangnya saya menjadi guru ngaji seperti ibu saya atau jadi guru madrasah. Pantas juga klau saya lalu menikahi Siti Komsiah anak Dul Kohar tetangga saya waktu itu. Tapi lorong itu tidak saya tempuh.

Kalau saja saya ikuti keinginan nenek saya untuk menjaga sepetak sawah dan pekarangan sepeninggal dia, saya pasti berakhir sebagai seorang petani di grumbul Gebang pelosok Cilacap sana. Itupun tidak saya tempuh. Nasib menyeret saya masuk SD , SMP dan SMA membaurkan saya dengan anak-anak kota.

Kalau saja saya memilih fakultas kedokteran bukan fakultas teknik seperti yang saya lakukan, barangkali sekarang saya tidak tinggal di Kebonkacang dan berkantor di rawamangun, tapi di kebayoran baru dengan hasil praktek dokter dua juta sehari. Tapi itu pun tidak saya tempuh meskipun saya diterima di fakultas kedokteran waktu itu.

Banyak sekali lorong yang saya tinggalkan yang kalau saya tempuh, saya sekarang bukan saya yang ini. Saya sungguh tidak tahu besok mau ada apa dan dimana saya akan berakhir seperti kata surat Luqman ayat terakhir…..

MENJENGUK WS RENDRA

MENJENGUK WS RENDRA

Oleh: Jum’an Basalim

Saya bersyukur mempunyai teman seniman yang tulus hati. Meskipun dia tidak terlalu masyhur tetapi dia bersahabat dekat dengan seniman dan sasterawan seperti Sapardi Joko Damono, WS Rendra, Danarto, Jehan, alm Umar Khayam dll. Tanpa ingin berdekat-dekat dengan para seniman itu, sesekali saya diajak atau menawarkan diri mengantarkan teman saya tadi bertemu dengan salah seorang dari mereka. Saya hanya ingin mendengar apa yang mereka percakapkan, gurauan dan basa-basi mereka; tanpa ikut campur kecuali sekedar mengangguk dan menyumbang senyum.

Begitulah hampir kesemua seniman yang saya sebut diatas pernah saya jabat tangannya meskipun hanya satu kali seumur hidup saya. Minggu lalu saya ikut bersama menjenguk WS Rendra di RS Harapa Kita. Inilah sekali seumur hidup saya bertemu muka dengan dramawan besar itu yang sayangnya dalam keadaan sakit berat.

Saya berdiri setapak dibelakang sahabat saya sementara setapak didepannya, disamping tempat tidur, berdiri Pak Murdiono mantan pejabat tinggi Orba yang cukup terkenal dizamannya – sedang bercakap-cakap dengan Rendra yang terbaring lemah. Kedengarannya sang mantanlah yang banyak berbicara sementara Rendra lebih banyak mendengar sambil sekali-sekali menarik nafas panjang dan berat

”Kepada semua tamu-tamu saya” kata pak Murdiono, ” selalu sya katakan bahwa ini (dia menyebut nama sesuatu tetapi kurang jelas) adalah pemberian dari WS Rendra”. Juga saya dengar dia mengatakan: ”Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu jangan segan-segan suruh saja si ini (sambil menunjuk orang yang berdiri disampingnya) menilpun saya”. Dan lain-lain kalimat sejenis yang bermaksud menghibur yang bernada nasehat, pujian dan jaminan.

Lalu giliran sahabat saya; saya diperkenalkan sambil lalu: Ini teman saya Mas! Kami hanya tukar senyum dan satu dua kata. ”Semoga lekas sembuh Mas” yang dijawabnya ”Trimakasih”.

Sesudah saling bercakap kurang lebih lima menit sahabat saya pun berpamitan sambil mengatakan: ”Pokoknya Mas Willy (panggilan akrab Rendra) jangan banyak befikir… supaya cepat pulih” yang dijawab dengan senyum: ” Kowe opo biso ora mikir?”. Memangnya kamu bisa tidak berfikir?

Sebagai orang yang pernah lama dirawat dirumah sakit, dan mendengar berbagai ucapan dari para pengunjung, saya mempunyai kesan bahwa kata-kata yang kita ucapkan waktu menjenguk orang sakit banyak yang terdengar janggal dan kurang sreg, seperti kedodoran dan salah tingkah.

Sebaiknya kita jangan melebih-lebihkan pujian terhadap orang yang sedang sakit, terdengar hambar ditelinganya. Tidak usah bercerita bahwa kita pernah sakit seperti dia, bahkan lebih parah karena terdengar menggurui. Kalau kita lebih tua dan pantas memberi nasehat, sampaikan sebagai ajakan, jangan keimam-imaman. Orang sakit tidak punya gairah untuk mendengarkan khotbah.

Sesama pasien gagal ginjal, teman sekamar saya pernah mengatakan kepada saya susai para pengunjung pulang: ”Mas, semua mereka itu tidak ada yang tahu tentang kita. Gampang sekali menasehati. Mereka tidak tahu penderitaan kita”. Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu tapi saya masih ingat bahasa Inggrisnya: They do not know about us…………………..

MATERIAL BALANCE AHLIL KUBUR

MATERIAL BALANCE AHLIL KUBUR

Oleh: Jum’an Basalim

Suatu hari saya ziarah kubur untuk mendoakan arwah keluarga saya. Selesai berdoa saya duduk di mobil yang saya parkir ditepi kuburan menghadap ke barisan makam yang sangat luas. Karena angin semilir dan pintu mobil terbuka sayapun mengantuk sambil memandangi orang-orang yang berziarah, kambing-kambing tanpa gembala makan rumput dan semak yang tumbuh maupun ditanam diatas tanah pekuburan.

Rumput itu tentulah tumbuh dari air dan zat-zat yang diserap dari tanah dibawahnya dimana jazad ahlil kubur terbaring dan telah terurai. Kalau begitu karbon, hydrogen, nitrogen serta semua unsur yang membentuk rerumputan itu sebagian berasal dari jasad yang terkubur dibawahnya.

Sayapun terlelap karena lamunan itu dan terbangun setengah jam kemudian.

Dalam perjalanan pulang saya mampir makan siang diwarung sate dekat rel kereta belum jauh dari kuburan itu. Sambil makan terlintas dalam pikiran saya………bukan tidak mungkin sate ini berasal dari salah satu kambing yang banyak merumput di kuburan tadi. Yang dagingnya tumbuh dari rumput kuburan…..yang berasal dari jazad keluarga saya sendiri??

Ya ampun…setidaknya satu dua atom carbon almarhum keluargaku masuk dan ikut menyusun jasad badanku. Skema besarnya adalah: semua makhluk hidup didunia inni akan terurai menjadi unsur-unsur dasar yang dapat menjadi barang baru apa saja. Menjadi bagian dari rumput, ternak, manusia, bahkan menjadi udara kota dan air sungai. Menurut kaidah material balance, tidak ada yang hilang hanya berubah bentuk…………….