Bulan: Juli 2011

KALAU ADA MANA BUKTINYA

KALAU ADA MANA BUKTINYA

Oleh: Jum’an

Saya selalu merasa cemas setiap kali kisah ini diceritakan orang meskipun sudah berkali kali mendengarnya dari masa kuliah dulu. Konon dizaman kejayaan ideologi komunis, diruang kelas sebuah sekolah dasar di Rusia sana seorang guru menawarkan kepada murid-murid, siapa diantara mereka yang mau permen. Semua mengacungkan tangan. Lalu disuruhnya anak-anak berdoa kepada Tuhan untuk minta permen. Beberapa saat kemudian guru bertanya apakah Tuhan sudah memberi mereka permen; yang tentu saja mereka jawab tidak. Lalu disuruhnya anak-anak mengulangi doa mereka tetapi kepada Yoseph Stalin yang gambarnya terpampang disetiap ruang kelas diseantero Rusia. Sementara mereka berdoa sambil memejamkan mata, Ibu Guru membagikan permen dihadapan mereka, seorang satu. Anda pasti bisa menebak akhir serta pesan kisah ini, yaitu bahwa terbukti Tuhan itu tidak ada; dan bahwa Stalin dan partai komunislah penolong dan pelindung mereka. Saya merasa cemas karena yakin betapa manjurnya indoktrinasi seperti ini bagi anak-anak dan saya takut sampai sekarangpun ada begundal-begundal atheis yang meracuni anak-anak kita dengan siasat sejenis.

Ketika Bertrand Russel (1872-1970), filosof Inggris yang masyhur selesai memberikan kuliah umum tentang atheisme yang dianutnya, seorang perempuan dengan geram bertanya: ”Lord Russel, apa jawab anda nanti dihari kiyamat kalau Tuhan menanyakan kenapa anda tidak percaya bahwa Dia ada” . Jawab Bertrand Russel: “Saya akan katakan kepadaNya: “Maaf, Anda tidak memberikan bukti-bukti yang cukup!”…. Kalau ada mana buktinya – begitu kira-kira kaum atheis melecehkan agama. Masalahnya bukti yang dituntutnya adalah bukti menurut kaidah-kaidah ilmu pengetahuan manusia. Sedangkan agama, dalam istilah ahli filsafat, mempunyai logika atau tatabahasanya sendiri dan tidak harus bertanggung jawab menurut standar yang sama seperti kepercayaan ilmiah atau empiris. Seperti guru ilmu fisika yang mempertanyakan tentang kebenara puisi Khairil Anwar. Katanya dia mau hidup seribu tahun lagi! Baru 27 tahun kok sudah mati. Kenyataannya puisi-puisi Khairil memberikan inspirasi kepada ribuan penyair muda sepanjang masa. Itulah kebenarannya. Meskipun agama nampak jarang memuaskan bila dituntut untuk memberikan bukti ilmiah, sejarah membuktikan bahwa agama jauh lebih menguasai dan menarik gairah dan fikiran manusia (termasuk sebagian para ilmuwan) daripada ilmu pengetahuan. Doa yang tidak terkabul, khotbah-khotbah yang membosankan dan hal-hal yang sulit masuk diakal tidak menyebabkan orang memutuskan untuk keluar dari Islam. Bahkan orang-orang yang memuja Dewi Sri dan Nayi Roro Kidul memilih tetap tinggal dalam Islam. Kaum gay dan lesbian menolak jika dikeluarkan dari komunitas Kristen meskipun perilaku mereka jelas bertentangan dengan ajaran agamanya. Agama memang punya daya tarik yang berbeda.

Tanpa mengingkari penting dan manfaatnya bagi manusia dan kewajiban penganut Islam untuk mempelajarinya, menurut saya ilmu pengetahuan itu gersang; seperti tanpa emosi tanpa nurani. Berbeda dengan dengan agama. Disamping perintah dan ancaman yang tegas dan ritual yang rutin banyak ihwal batiniah yang penuh rahasia. Rahasia Alloh yang tidak akan pernah terungkap sepenuhnya untuk selamanya. Misteri itulah yang membangkitkan gairah, harapan dan semangat dalam hidup kita. Rahasia tentang maut dan pengadilan dipadang mahsyar, rahasia tentang nafsul mutmainnah diantaranya. Tidak salah bila dikatakan bahwa agama dan ilmu pengetahuan berbeda lahan berbeda garapan, beda logika dan beda bahasa. Biarkan orang tak percaya Nabi Muhammad pernah dibelah dadanya, menempuh jarak Masjidil Haram, Palestina dan langit yang ketujuh dalam satu malam. Biarkan orang tertawa mendengar bahwa kelak tulang belulang kita yang sudah berserakan akan dibangkitkan hidup kembali. Iman kita tidak perlu goyah karena kita yakin akan Rahasia Alloh. Mereka adalah mereka, kita adalah kita. Lakum dinukum waliyadin….

Iklan

HARGA DIRIKU DI KERAH BAJUKU

HARGA DIRIKU DI KERAH BAJUKU

Oleh: Jum’an

Nasib saya memang kurang beruntung dalam ihwal berbusana. Mungkin struktur dan profil tubuh saya kurang standar sehingga baju dan celana siap pakai yang dijual ditoko tidak ada yang cocok untuk dibeli. Jadi saya selalu menjahitkan bahan. Celakanya saya hanya menemukan satu penjahit murahan yang dapat memotong celana dan baju saya yang enak dipakai. Ditambah lagi saya tidak pernah punya pembantu rumah yang dapat menyetrika dengan rapih. Setiap ganti PRT, hasil kerja mereka yang pertama adalah merusak kenyamanan saya berpakaian. Disetrikanya kerah baju saya demikian rupa hingga tidak berbentuk lagi. Dengan kerah seperti itu muka saya nampak seperti orang tidak berpendidikan didepan cermin. Diperlakukannya seperti kerah baju petani atau nelayan yang tidak butuh kenecisan. Garis lipatan berubah-ubah, bertumpuk tidak jelas. Mereka hanya menyetrika bagian-bagian yang mudah saja, sedangkan lipatan, batas-batas jahitan dan bagian disekitar kancing dan leher tidak dijamah dibiarkan saja tetap mengkerut. Karena saya selalu mengidamkan pakaian yang rapih, akibatnya saya selalu merasa kurang pede dan terus menerus frustrasi. Berbeda sekali dengan nasib kakak saya; baju dan celanya bagus-bagus bahan, potongan dan setrikaannya. Sudah hampir setahun dipakai kerah dan lipatannya masih seperti baru. Senang rasanya ketika sekali-sekali meminjam baju kakak saya. Pesuruh dikantor, kerahnya juga tegak berwibawa, tak ada bagian bajunya yang lusuh. Lipatan celananya tajam dan lurus tepat ditengah, ikat penggangnyapun menambah gaya. “Siapa yang menyetrika bajunya Pak?” tanya saya. “Istri saya Pak, memangnya kenapa?” “Enggak! Penasaran saja….rapih sekali!”

Pakaian tentu bukan andalan untuk menopang kepercayaan diri tapi sebagai pemoles ada jugalah pengaruhnya. Jika anda seorang yang cukup percaya diri anda tidak akan terlalu terpengaruh oleh pakaian yang anda kenakan, tetapi bagi mereka yang memang kurang pede penampilan akan sangat mendongkrak kepercayaan diri mereka. Bukannya anda tak perlu mempedulikan pakaian, tetapi tanpa baju mahalpun anda tetap merasa berharga. Orang seperti anda dapat memilih pakaian sekehendak hati sesuai dengan selera anda sementara mereka yang merasa inferior cenderung memilih pakaian sesuai dengan kesukaan orang lain. Dibayangkannya orang-orang disekitarnya mencemoohkan penampilannya dan menghina pakaiannya yang kurang trendy. Padahal mungkin hanya satu dari seratus orang yang berpikir begitu. Bahkan tak seorangpun mungkin.

Michael Foot, politisi dan mantan Ketua Partai Buruh Inggris di masa lalu, termasuk orang yang juga bernasib sial dalam hal berbusana. Pada suatu upacara nasional ia meletakkan karangan bunga mewakili partainya dibawah tugu peringatan Perang Dunia dengan mengenakan jaket hitam pendek yang menyolok karena berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya yang mengenakan mantel hitam panjang yang resmi. Iapun menjadi ejekan banyak orang karena dianggap lebih mirip seorang kuli kasar daripada seorang pemimpin partai. Padahal belakangan diketahui bahwa jaket yang dipakainya adalah sebuah mantel pendek baru yang dibelikan oleh isterinya dengan harga cukup mahal, yang tidak sepantasnya dicemoohkan. Bahkan Ibu Suri memujinya dengan mengatakan bahwa pakaiannya itu cocok untuk suasana hari itu. Tapi memang Michael Foot mempunyai gaya berjalan, postur dan perawakan yang nampak lusuh. Apapun yang dipakainya tidak membuatnya tampak seperti seorang negarawan atau pemimpin yang berwibawa; tetapi begitu ia berpidato orang tahu bahwa ia adalah satu diantara orator terbesar Kerajaan Inggris. Ia tentu saja sangat percaya diri meskipun dalam hal busana ia bernasib lain.

Bagi saya mengenakan pakaian yang benar-benar “sreg” dan rapih memang terbukti meningkatkan rasa percaya diri. Setrikaan yang tidak licin dengan kerah lusuh dan lipatan celana yang tidak simetris membuat rasa diri mudah goyah dan wajah kurang nampak berbinar. Walhasil pakaian yang cocok dan menyenangkan menjadikan kita lebih pede dan bergairah. Meskipun itulah idaman saya yang tak pernah terpenuhi

JANGAN MELEWATI BATAS

JANGAN MELEWATI BATAS

Oleh: Jum’an

Dari sisi positipnya, manusia memang luar biasa. Mampu menciptakan pesawat luar angkasa, senjata penghancur massal sampai membedah syaraf otak yang begitu halus. Dari sisi negatip ternyata manusia sangat lemah dan serba terbatas. Coba bayangkan betapa rendahnya batas kemampuan kita. Baru jam 9 malam saja mata sudah mulai mengantuk padahal belum solat isya. Naik tanjakan baru setengah jalan nafas sudah ngos-ngosan. Tugas baru sebagian dikerjakan, dead-line sudah datang duluan. Tulisan sudah diperiksa lima kali masih saja ada kesalahan. Baru selesai mengerjakan tiga soal ujian, waktu hanya tinggal lima menit. Test sudah berkali-kali dilakukan tetapi waktu diterapkan ternyata tidak jalan. Rencana pernikahan sudah disusun matang-matang sampai pada saatnya ada saja yang kurang. Sulit sekali merencanakan sesuatu dengan sempurna. Meskipun demikian kita selalu lupa seolah-olah tenaga kita tidak terbatas sehingga menerima tugas atau pesanan diluar kemampuan, waktu kita selalu cukup sehingga semua janji kita iyakan. Uang kita berlimpah sehingga semua mau kita sediakan. Semua akan kita selesaikan seolah-olah tenaga dan stamina tak pernah berkurang. Kita termotivasi oleh pemikiran seakan-akan kita ini bebas hambatan, kekal dan penuh kuasa. Padahal otak kita terbatas, tenaga kita terbatas, waktu kita terbatas dan sumber daya kita terbatas.

Kelalaian mengukur batas kemampuan sering harus kita bayar mahal dengan hilang reputasi dan kepercayaan, kerugian harta, stress dan tidak jarang nyawa melayang. Saya mengira bahwa almarhum Haji Benyamin Sueb meninggal dunia karena lupa mengukur batas kemampuan. Pada umur 55 tahun masih bersemangat bermain sepak bola. Detak jantung ada limitnya. Tekanan darah ada limitnya dan tegangan staraf juga ada limitnya. Banyak sekali contoh kasus mirip Bang Ben yang kebanyakan ditanggapi dengan sikap pasrah, memang sudah takdirnya. Suatu kali selama sehari penuh saya sibuk dengan aktifitas hampir tanpa henti dipacu dengan rokok dan direfresh dengan kopi. Sore harinya masih saya teruskan menonton pertunjukan sampai jam 11 malam. Tengah malam badan saya terasa melayang dan ternyata tekanan darah saya sudah mencapai 250. Belakangan dokter mengatakan bahwa banyak fungsi dari organ tubuh saya yang lainpun sudah mendekati limit. Itulah angin maut yang sering meniup orang pada umur 50an; sebagai peringatan bahwa ia sudah terlalu dekat dengan limit yang berbahaya. Meskipun rasanya masih sehat dan masih kuat. Meskipun saya terpaksa harus berjaga-jaga selama bertahun-tahun berikutnya, saya merasa bersyukur karena tidak tumbang oleh angin maut itu. Banyak yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Kita harus mencermati dengan pengetahuan dan perasaan keterbatasan kita masing-masing dalam segala bidang. Sesudah mengetahuinya kita harus menerimanya sebagai bagian dari diri kita. Bila kita merasa terlalu dekat dengan garis limit, jangan ragu-ragu untuk mengatakan “tidak”, menurunkan kecepatan atau berhenti. Jadikan sebagai tanda bahwa kita sudah saatnya meminta bantuan orang lain. Orang muda merasa bahwa ia boleh lari secepat-cepatnya melompat setinggi-tinggina dan mengangkat yang seberat-beratnya. Bercita-cita setinggi langit. Semangat itu terpuji dari satu sisi. Dari sisi lain alangkah baiknya kalau cita-cita itu disesuaikan dengan limitasi kita. Mulailah dengan mengetahui dan menerima batas kemampuan kita dan manggunakannya sebagai pertimbangan yang utama dalam menentukan cita-cita. Jangan sampai lewat garis batas. Kita bisa celaka. Begitu kan ya?

HIDUNG PESEK DAN MATA SIPIT

HIDUNG PESEK DAN MATA SIPIT

Oleh: Jum’an

Mengatakan atau dikatakan berwajah jelek adalah sesuatu yang tidak enak. Kejam dan tidak adil rasanya karena penghormatan masyarakat, sukses kerja dan perjodohan banyak dipengaruhi oleh citra fisik seseorang. Sudah tradisi umum untuk mengkaitkan keindahan dengan kebaikan dan keburukan dengan kejahatan. Meskipun tidak benar selalu saja keburukan dijadikan ciri kejahatan dan ketampanan sebagai ciri kebaikan. Kita selalu menontonnya dalam film-film. Sementara itu kita menyaksikan banyak orang yang tidak puas dengan wajah asli mereka. Anak-anak perempuan kita menyesali rambut keriting dan hidung peseknya. Banyak wanita di China mengoperasi mata sipit mereka supaya nampak universal dan mengoperasi bibir mereka supaya lebih mudah untuk mengucapkan bahasa Inggris. Mata sipit dan hidung pesek orisinil dari Allah yang Maha Pencipta ternyata banyak yang tidak suka. Demi karir dan penampilan. Bisa kita maklumi dan tidak mungkin dicegah karena sudah menjadi kegiatan industri.

Konon Socrates filosof Yunani yang terkenal itu berwajah buruk. Matanya menonjol keluar seperti mata kepiting, hidungnya pesek dengan lubang yang lebar menghadap kedepan. Tetapi ia membela cacat tubuhnya dengan mengatakan bahwa mata yang demikianlah yang lebih sempurna dan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dengan sedikit menggerakkan bola mata, mata kepiting bisa melihat hampir kesegala arah daripada mata indah yang hanya dapat mengarah kedepan. Hidung pesek juga lebih unggul daripada hidung mancung karena tidak menimbulkan penghalang diantara kedua mata dan memungkinkan pandangan bebas tanpa halangan apapun. Sementara hidung mancung menyekat pandangan satu mata dengan yang lain. Lubang hidungnya yang terlalu lebar, bukankah hidung berfungsi untuk mencium? Lubang yang lebar dan mengarah kedepan lebih baik karena dapat menangkap bau-bauan dari segala arah ketimbang lubang sempit dari hidung mancung yang mengarah kebawah. Socrates menggunakan kejelekan wajahnya sebagai sentuhan filosofis dengan menyimpulkan bahwa filsafat dapat menyelamatkan kita dari keburukan lahiriah.

Yang lebih buruk muka dari Socrates adalah Jean-Paul Sartre, filosof eksitensialis kiri dari Perancis (1905-1980) dengan mata malas dan juling, wajah tak simetris dan tubuh pendek. Baginya cacat fisiknya itu merupakan aspek sentral dari kepribadiannya. Ide-ide filsafatnya banyak berkaitan dengan perjuangan seumur hidupnya untuk berdamai dengan cacat fisiknya yang menyolok mata itu. Semasa kecil Sartre adalah anak mama, dimanja dan diperlakukan seperti boneka. Rambutnya dipanjangkan dan disisir rapih dengan baju yang berenda-renda. Ibunya memanggilnya Polo yang manis. Kakeknya Karl Schweitzer, tokoh terhormat dengan jenggot yang berwibawa merasa sebal melihat cucunya yang seperti anak perempuan. Dibawanya ia ketukang cukur dan dipangkasnya rambutnya. Ibunya menangis frustrasi karena wajah Paul nampak jelek sekali. Tanpa rambut keriting panjang dan pakaian mewah Sartre kecil nampak sekali cacatnya. Para biographer menggambarkan wajah Sartre memang jelek. Dengan mata juling dan rabun sebelah ia kelihatan selalu curiga dan tidak jelas perhatiannya. Teman-temannya menggambarkannya seperti kodok berkaca-mata dan kelewat pendek. Satu-satunya kepuasan Jean-Paul adalah rasa percaya dirinya; ia tahu bahwa ia lebih cerdas dari anak-anak lain.

Menyikapi ketidak-sempurnaan fisik orang lain maupun diri sendiri dengan rendah hati adalah penting karena karena dapat berakhir dengan kufur atau syukur, sombong atau frustrasi.

CANTIK: BERKAH ATAU MUSIBAH?

CANTIK: BERKAH ATAU MUSIBAH?

Oleh: Jum’an

Dihadapan Allah cantik dan kaya bukan masalah karena hati dan amal yang akan dinilai. Karena cantik adalah genetis dan diluar kemauan, tidak adil jika wanita cantik mendapat bonus pahala dan wanita yang biasa-biasa tidak, apalagi bonus dosa. Tetapi diantara sesama manusia, didunia yang fana ini wanita cantik mendapatkan pernilaian dan perlakuan yang berbeda. Melamar kerja diterima duluan, membuka warung segera dikerumuni pembeli senyum sedikit saja untuk iklan dibayar jutaan mencari pasangan menjadi rebutan. Artinya cantik itu cepat menghasilkan. Sekretaris, pramuniaga, presenter dan pegawai bank yang melayani nasabah semuanya lebih diutamakan untuk yang cantik. Karena cantik itu menarik, menyabarkan orang menunggu, melunakkan hati dan mudah menggaet klien. Wanita cantik itu ibarat magnet. Semua pria yang kaya yang miskin, yang alim yang munafik, tua dan muda semua tertarik olehnya. Cantik itu sungguh berkah; sedikit usaha banyak laba. Alangkah berbahagianya mereka! Bacalah novel-novel remaja kalau anda menyangsikannya.

Dugaan saya tentang pikiran anda sebagai seorang wanita cantik, katakan yang bernilai delapan adalah begini: Pertama-tama tentu anda akan mencari pasangan seorang pria sesama yang bernilai 8. Kalau bisa yang 9 atau 10. Mencari pria dengan nilai setinggi itu disekitar anda tidaklah terlalu mudah. Ada sedikit tapi yang sebaya dan masih single lebih sedikit lagi. Kalau terlalu lama belum juga memperoleh pria bernilai delapan anda mungkin memutuskan pria tujuh pun tak apa asalkan kaya atau sarjana. Bila anda jadi menikah dengan pria tujuh mungkin hubungan biologis anda selalu terganggu oleh rasa kurang puas karena dalam hati anda merasa berhak menikmati pria bernilai 8 atau lebih kalau sabar menunggu. Apalagi kalau anda merasa gadis bernilai 9 atau 10; anda tidak akan berselera dengan pria 7 apalagi pria 6. Jadi kenyataan dan perasaan bahwa anda cantik sudah menimbulkan kesulitan mencari pasangan yag sesuai meskipun peminat anda bererot. Berbeda halnya bila anda gadis bernilai 5 atau 6. Sesama teman kuliah, mahasiswa yang bernilai 5, 6 atau 7 cukup banyak dan semua akan memuaskan pilihan anda. Belum lagi diluar kampus. Dan omong-omong banyak lho gadis yang dulu bernilai 6, pada usia 40 berubah menjadi ibu-ibu bernilai sembilan!

Bahkan seandainya anda bernilai 9 atau 10 dan tidak mengutamakan tampan dalam memilih pasangan, anda tetap memperoleh kesulitan karena terlalu banyak pilihan yang tersedia :yang saleh, yang sarjana dan yang kaya semua banyak yang menaksir anda. Menentukan satu dari terlalu banyak pilihan akan menyebabkan anda bingung, cemas, ragu dan takut salah pilih. Sesudah menetapkan pilihanpun anda masih akan merasa bahwa pilihan anda sepertinya bukan yang terbaik dan masih kurang puas. Kebanyakan kita menganggap bahwa cantik adalah berkah tetapi bila anda terus menerus dipuji karena cantik dan anda merasa memang cantik lama-lama anda akan kerasukan, dan meyakini bahwa cantik adalah atribut penting yang dapat digunakan mencapai berbagai tujuan yang tak dapat anda capai dengan cara lain. In adalah awal musibah. Apabila anda wanita bernilai tujuh keatas, kami pria-pria 6 kebawah umumnya tidak berani menaksir anda. Sebagai gantinya kami saling berimajinasi membicarakan anda sebagai pasangan dalam angan-angan. Kalau anda tahu apa yang kami bayangkan pasti anda akan meludahi muka kami. Pada umumnya wanita kelas 5 dan kelas 6 juga mempunyai anggapan wanita kelas 7 sebagai ancaman ancaman yang kemungkinan suatu waktu akan menggoda suami mereka dan karena itu lebih baik digosipkan saja. Pokoknya menjadi wanita cantik serba sengsara. Tetapi jika ditimbang-timbang secara adil dan menyeluruh tetap saja cantik itu lebih baik.