Bulan: November 2012

WANITA & SELINGKUH

SENTUHAN WANITA DAN RISIKO PERSELINGKUHAN

Oleh: Jum’an

Seorang jendral, bintang lima sekalipun, waktu kecil menetek kepada ibunya. Belaian dan sentuhan sang ibu memberikan kemesraan dan perasaan aman baginya. Ini membantu membangkitkan rasa petualangan sang anak; menjadi lebih berani mengambil risiko ketika menghadapi situasi yg tidak biasa. Apakah sentuhan dan belaian itu tetap membekas ketika anak itu tumbuh menjadi dewasa, ketika ia sudah menjadi panglima atau calon presiden? Konon memang demikian. Sentuhan fisik wanita seperti yang pernah ia rasakan dalam pelukan ibu tetap memberikan rasa aman dihati dan membangkitkan keberanian untuk mengambil risiko yang lebih besar. Penelitian yang dilakukan oleh Jonathan Levav dari Univ. Columbia dan Jennifer Argo dari Univ. Alberta menemukan bahwa sentuhan fisik seorang wanita seperti tepukan dipunggung, meningkatkan toleransi risiko seorang pria. Laki-laki akan mempertaruhkan uang yang lebih besar dalam perjudian jika seorang wanita menepuk mereka dari belakang, lebih dari jika hanya berjabatan tangan atau diajak berbicara atau bila tepukan itu dilakukan oleh seorang pria. Mereka merasa lebih aman dan berani mengambil risiko yang lebih besar dari mereka yang tidak memperoleh sentuhan – tetapi hanya jika sentuhan itu dilakukan oleh seorang wanita.  Penelitian ini menyimpulkan bahwa sentuhan seorang wanita sama dampaknya pada seorang dewasa seperti halnya pada bayi: membuat mereka merasa aman dan lebih berani mengambil risiko.

Penelitian lain oleh Michael Baker dari Eastern California Univ. bahkan membuktikan bahwa laki-laki yang bermain blackjack setelah melihat wajah wanita cantik mengambil risiko lebih besar daripada mereka yang bermain setelah melihat wajah yang tidak menarik. Bila sedemikian ampuhnya efek sentuhan dan pengaruh seorang wanita, alangkah besar berkah maupun bahayanya. Bagi seorang prajurit yang baru pertama kali bertugas kemedan pertempuran, sentuhan tangan ibu dipunggung atau ciuman isteri ditangan menghilangkan semua rasa was-was dan gentar. Sebagaimana sebaliknya, sentuhan teman kencan anda dimeja judi mendorong anda memasang taruhan lebih besar yang dapat membuat anda jatuh miskin seketika. Pria dapat menjadi buta terhadap risiko ketika berdekatan dengan seorang wanita yang menarik hatinya, dan naluri kelaki-lakiannya membuat perhitungan “bagaimana kalau” ia berselingkuh dengannya. Perselingkuhan adalah hal yang tidak terpuji dari segi moral; tetapi menggairahkan dan menantang. Perselingkuhan yang tidak terbongkar adalah sukses ganda. Keluarga tetap bahagia dengan bonus tambahan gairah hidup baru! Demikian menggairahkannya sehingga orang mudah lupa akan risiko yang mungkin mennghadangnya.

Berikut adalah contoh terkini, bukti betapa wanita dapat membutakan pria dari risiko sebesar apapun. David Petraeus, pensiunan jendral bintang empat umur 60 tahun, direktur badan pusat intelejen negara adhi-daya – CIA, potensial sebagai capres AS pada pemilu 2016, sudah menikah 38 tahun dengan anak-anak yang sudah dewasa, berselingkuh dengan letnan kolonel Paula Broadwell, penulis otobiografinya yang 20 tahun lebih muda, ibu dua anak dari suami Dr. Scott Boradwell (43 th) ahli radiologi. Perselingkuhannya terbongkar gara-gara Paula mengancam saingan selingkuhnya Jill Kelley melalui e-mail gelap yang kemudian dilaporkannya ke FBI. FBI dengan kecanggihannya bukan saja dengan mudah menemukan si pengirim e-mail, tetapi sekaligus membongkar rahasia perselingkuhan antara Paula dengan sang jendral. Karir sang jendralpun pupus seketika dan terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya 9 November lalu. Ia telah mengecewakan dirinya, keluarganya, bangsanya, negaranya serta menyalahi sumpah agamanya. Nasib Paula Broadwell tidak lebih baik karena ia sekarang dianggap sebagai biang kerok skandal militer Amerika

Kejahatan memang membawa serta hukumannya sendiri. Perbuatan jahat membuat otak pelakunya menjadi tumpul; lupa menghapus jejak, mengira orang lain bodoh. Ibarat pencuri yang ketinggalan dompet, ia memang minta dirinya untuk ditangkap…

AROMA BAKERY

AROMA BAKERY MEMBUAT ORANG SUKA MENOLONG?

Oleh: Jum’an

Hampir setiap kali pulang kantor saya terhenti dilampu merah samping Sarinah, tepat didepan warung sate terbuka yang selalu sedang mengipas-ngipas tungku  dan menyebarkan bau semerbak daging kambing bakar. Tidak keberatan rasanya berlama-lama disitu sambil menghidu, mengamati gerak-gerik para pengunjung menggigit dan menarik tusuk sate seperti sedang mencabut pedang dari sarungnya. Chk..Ssst! Mak nyuss. Ngiler betul. Ingin sekali meriung menikmati sate kambing dan teh panas manis bersama mereka sambil nampang ditonton orang banyak. Aroma daging kambing bakar disitu memang benar-benar merangsang selera sampai-sampai lampu sudah hijau pun tak nampak kalau tidak tiba-tiba klakson mobil dibelakang mengagetkan telinga. Seandainya kita bisa mengekstrak aroma itu pasti esensnya berkhasiat tidak sekedar untuk merangsang nafsu makan tetapi mungkin sebagai aroma terapi untuk membangkitkan semangat, menenangkan jiwa atau menjaga stamina. Siapa tahu!

Apakah kemungkinan itu ada benarnya barang sedikit? Melalui Penelitian barangkali? Tetapi siapa yang mau membiayai penelitian konyol dan mengada-ada seperti ini? Atau pernah ada penelitian serupa tentang dampak aroma makanan terhadap perilaku manusia, meskipun bukan sate kambing?

Dalam Huffington Post 5 November yang lalu Sarah Medina menulis tentang hasil penelitian tentang dampak aroma roti yang baru dipanggang.

Para peneliti di Universitas Southern Brittany di Perancis menyimpulkan bahwa orang ramai yang sedang lewat didepan toko roti yang mengeluarkan aroma semerbak cenderung lebih peduli dan bersedia membantu orang lain. Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa bau yang menyenangkan menjadikan mood seseorang lebih baik; tetapi dalam penelitian terbaru ini ditemukan hubungan yang kongkrit antara aroma itu dengan perbuatan baik. Sejumlah relawan direkrut, sebagian diminta untuk berdiri didepan toko roti dan sebagian lain didepan sebuah butik pakaian. Seorang dari mereka diminta berjalan beberapa meter didepan orang yang sedang lewat dan supaya berpura-pura menjatuhkan sarung tangan, dompet atau sejenisnya dan relawan lain mengamatinya dari jarak agak jauh. Dari pengamatan yang katanya diulang sampai 400 kali itu disimpulkan bawha ketika relawan didepan bakery itu pura-pura menjatuhkan barangnya, 77 % dari orang yang berjalan dibelakangnya berusaha untuk mengambilkan barang yang jatuh itu dan mengembalikan kepadanya. Sementara mereka yang didepan butik hanya 52% yang peduli.

Salah seorang peneliti mengatakan, bukti-bukti itu “menunjukkan bahwa, secara umum, bantuan spontan ditawarkan lebih ditempat dimana bau persekitarannya menyenangkan. Penelitian ini menegaskan peran aroma makanan terhadap kesediaan untuk membantu orang lain (altruisme).” Mungkin ada benarnya bahwa pesona aroma sate yang sedang dibakar mujarab sebagai aroma terapi. Saya lebih suka memberi pengemis ketika terhenti didepan warung sate ketimbang ketika dekat selokan yang berbau busuk. Saya kira para pengemis pun tahu. Tetapi dengarlah komentar salah seorang pembaca tulisan Sarah Medina yang bertanda “like” lebih dari 2000 orang itu: “Saya sama sekali tidak percaya!” Kebanyakan komentar lainnya pun menanggapinya dengan tidak serius.