Bulan: November 2009

SEKRETARIS: ANTARA JONTROT DAN BEGUNDAL

SEKRETARIS: ANTARA JONTROT DAN BEGUNDAL

Oleh: Jum’an

Apabila bila karir kita menanjak dan kesibukan makin bertumpuk, kita perlu bantuan seorang sekretaris. Agar kalau mau bepergian keluar negri kita tidak repot urusan tiket, hotel, jemputan dan lain-lain. Dengan siapa, dihotel mana dan kapan kita harus meeting, dialah yang membantu mengingatkan dan mengaturnya. Tamu mana yang pantas dan yang tidak usah kita temui, menyaring informasi dan menyampaikan pesan-pesan kepada bawahan. Mengirim ucapan selamat atau belasungkawa untuk relasi. Dan tidak kalah pentingnya, menjaga rahasia perusahaan maupun rahasia pribadi kita.

Kalau kita ingin perusahaan dan organisasi yang sukses dan unggul, kita perlu banyak akal dan siasat. Seperti menempuh jalan pintas, mengulur waktu, meyakinkan dan mempengaruhi pihak lain baik para pelanggan, pesaing maupun penjabat pemerintah. Kiat-kiat yang tidak ada pelajarannya dalam buku. Lama-lama tidak boleh tidak karakter pribadi kita mewarnai pola kerja perusahaan.

Meskpun dalam dunia bisnis sudah ada aturan-aturan baku yang jelas, ada prinsip-prinsip management, tetap saja akhlak kita ikut berperan. Ada culas ada rakus, ada jujur ada amanah, ada sabar ada ambisius.

Nah. Sekretaris yang tugasnya memudahkan dan mengamankan pekerjaan kita bisa bebelok tugas mengikuti tarian kita dalam memimpin. Ibarat gendang mengikut lagu. Dan karena kita sudah lama tahu siapa diri kita, maka kita bisa memilih sekretaris macam apa yang kita butuhkan. Kalau menginginkan bisnis atau organisasi berjalan rapih dan tidak kedodoran, mengikuti ’good corporate governance’ carilah seorang sekretaris yang professional sesuai dengan bidang kegiatan kita.

Bila bisnis kita disekitar dunia entertainment, real estate atau perusahaan kosmetik yang memerlukan rayuan untuk menarik pelanggan, kita pilih sekretaris yag disamping cerdas harus berpenampilan atraktif berwajah cantik dan pandai berkicau. Karena dia akan lebih kita manfaatkan sebagai pemikat atau jontrot. Jontrot adalah burung betina yang diikat dalam sangkar jebak dengan pintu terbuka, digantung diatas pohon tinggi untuk menarik burung jantan yang akan kita tangkap. Sebuah profesi yang membutuhkan gairah dan kelincahan. Gadis bahenol bercelana jean ketat yang bekerja di bengkel mobil untuk menarik pelanggan atau selebriti yang menjadi PR perusahaan kosmetik mirip dengan pekerjaan jontrot bukan?

Tetapi kalau bisnis kita canggih dan ruwet seperti partai politik, kita perlu sekeretaris yang tebal muka, berani pasang badan demi rahasia dan kehormatan kita, ahli berkelit dan sigap membuat alasan palsu. Karena ia akan kita jadikan begundal, yaitu orang yang kita bayar untuk menelan semua kelicikan dan keculasan, sementara kita bisa tetap tersenyum. Atau antek atau centeng.

Gambaran seorang begundal yang legendaris adalah Bupati Lebak dan Demang Parangkujang dizaman Belanda satu setengah abad lalu, seperti diceritakan oleh Douwes Dekker (Multatuli) dalam bukunya: Max Havelaar. Mereka sengaja menindas rakyat sesama pribumi untuk kepentingan penjajah.

Adapun sekretaris begundal versi baru yang lebih rapih dan terselubung, banyak terdapat dinegeri kita. Dari yang kelas kantoran sampai yang ada disekitar istana presiden.

KAMANAKAN AMBO TA’AT BAUGAMO

KAMANAKAN AMBO TA’AT BAUGAMO

Oleh: Jum’an

Suatu kali nampak lendir di berak Pance. Sang ayahpun dengan nada tinggi memanggil ibu anak kesayangannya: ”Kau kasi makan apa anak ini. Kenapa sampai beraknya berlendir!”. Dilain waktu bundo Kamsidar juga kena marah waktu suaminya melihat badan anaknya itu merah-merah digigit nyamuk. Anak kedua dari tiga bersaudara ini memang benar-benar disayang dan dimanja. Pergi ke sekolah dihantar dan dijemput sendiri oleh ayahnya meskipun ia adalah seorang pengacara yang sibuk. Tidak jarang sepulang kantor dibelikannya anaknya itu baju baru dan makanan yang enak-enak. Sejak lahir, masa kanak-kanak, remaja sampai dewasa ia selalu mendapat perhatian ayahnya. Tetapi anak yang dimanja itu tidak kolokan. Ia cerdas, rajin, ta’at beragama serta sukses dalam perjalanan hidupnya. Ia lulus sarjana hukum UI, aktif di YLBHI dan memegang lisensi konsultan diberbagai bidang seperti hak intelektual, pajak, pasar modal, pengacara dan penasehat hukum.

Itulah Pance alias Chandra M Hamzah, anggota KPK non aktif yang tegar dan santun itu, sebagaimana diceritakan oleh Yulia Abidin, tante kandungnya dari Padang Tinggi, Nagari Koto nan Ompek, Payakumbuh dalam dalam wawancara dengan Padang Ekspres. Rencananya dia akan dianugerahi gelar Datuk Pado oleh suku Bendang, tetapi tertunda-tunda oleh kesibukannya di KPK dan musibah yang sedang menimpanya. Mamak-mamak dan eteknya dikampung yakin Chandra tidak bersalah: kamanakan ambo ta’at baugamo……

Anak manja yang pantas diangkat menjadi Datuk seperti Chandra M Hamzah adalah satu dalam seribu. Kebanyakan yang lainnya mubah dan bermasalah.

Menurut pengamatan awam saya, banyak orang kaya yang memanjakan anak-anaknya justru dengan alasan latar belakang penderitaannya sendiri semasa muda. Mereka merasa bahwa dirinya telah cukup menderita dan tidak ingin keturunannya juga mengalami hal yang sama. Mereka adalah yang waktu mudanya bergerilya dizaman revolusi, lalu menjadi Jendral yang berkelebihan di dizaman kemerdekaan. Atau mereka yang berjalan kaki sepuluh kilometer selama enam tahun sekolah dasar, lalu kuliah terputus-putus karena kurang biaya, sampai akhirnya lulus dan meniti karir sampai menjadi Dirjen yang serba kecukupan. Mereka adalah para pejuang gigih diwaktu muda dan sukses dihari tuanya, yang entah karena apa lebih memilih memanjakan anak-anaknya ketimbang mendorong mereka mengikuti jejak perjuangannya yang gigih dan ulet.

Itulah intinya: dia tidak rela anaknya menderita. Derita sudah cukup untuk dirinya, no more, no more, no more. Terdengar manusiawi bukan? Rizki yang ia peroleh dengan kerja keras dan halal, untuk apalagi kalau tidak untuk kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Kenapa harus berjalan kaki ke sekolah kalau ada mobil dan sopirnya. Kenapa harus bertahun-tahun mencicil rumah KPR-BTN, kalau rumah yang layak bisa dibelikannya dengan tunai?

Hanya sayangnya bukan hanya mobil dan rumah, anak-anak mereka juga minta dibelikan ijazah dan kursi manager….

ALANGKAH MALUNYA AKU

ALANGKAH MALUNYA AKU

Oleh: Jum’an

Saya orang Banyumas. Bahasa harian saya ngapak dan saya suka mendoan. Tetapi bahasa daerah yang harus saya pelajari disekolah adalah bahasa yang berlogat serba O, yaitu dialek Jogya dan Solo. Jadi waktu ibu guru bertanya: Coba kamu, apa arti peribahasa ”Jer Basuki Mowo Beo”, tanpa takut salah saya menjawab: Pak Basuki memelihara burung beo. Basuki apalagi kalau bukan nama orang dan satu-satunya arti beo adalah burung beo. Apalagi jer memberi kesan getaran sayap burung terbang. Padahal artinya adalah: Setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan. (Basuki = keberhasilan. Beo = bea = biaya atau pengorbanan)

Bukannya disalahkan lalu dikoreksi, tapi saya malah ditertawakan, lalu dikasih ceramah panjang lebar supaya belajar yang betul dan agar jangan menjawab pertanyaan guru seenaknya. Ingin rasanya saya bisa menghilang dari kelas daripada dipermalukan seperi itu. Ceramah bu guru masih diteruskan dengan tuduhan jangan-jangan dalam pelajaran lain saya juga sebodoh itu dan jangan-jangan murid yang lain juga. Anehnya saya hanya terkesima, tidak ingat bahwa murid-murid lain juga menyangka Pak Basuki memelihara burung beo karena kita sama-sama anak Banyumas.

Walhasil saya dipermalukan sepanjang jam pelajaran. Saya merasa ditelanjangi, disorot, dihina, dihakimi, direndahkan dan tidak dihargai. Ibu Suliah guru bahasa daerah yang berambut ikal dan memakai hairnet itu telah menjadikan saya seperti roti bantat, tidak mengembang, warnanya pucat dan rasanya tidak enak. Dengan tekad menaklukkan bosojowo, sayapun tidak memilih kuliah di Surabaya atau Bandung tetapi Yogya, tepat disarangnya. Sekarang saya tetap berbahasa ngapak tetapi seperti juga burung beo Pak Basuki, saya lancar menirukan orang Yogya. Ibu Suliah, ini saya. Tanyalah peribahasa apa lagi!!

Malu adalah pengalaman emosi yang menyakitkan yang dapat meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Bagi orang yang perasa, malu berat apalagi bila dialami berulang-ulang dapat membuat dia justru meyakini dan menyimpulkan bahwa dirinya memang pantas dihina, tidak menarik, tidak berharga dan tidak mungkin diapa-apakan lagi. Dia terancam kehilangan semangat hidup, menyepi dan bukan tidak mungkin membayangkan untuk bunuh diri saja. Nauzubillah.

Rasa malu berbeda dengan rasa bersalah sebagaimana dipermalukan berbeda dengan dipersalahkan. Saya tidak merasa bersalah waktu mengatakan Pak Basuki memelihara burung beo – lha wong saya tidak nyolong atau berjudi kok. Jadi saya tidak merasa berdosa. Malu juga sekaligus membuktikan bahwa kita membutuhkan khalayak yang sopan, yang tahu sakitnya orang dipermalukan. Khalayak yang memberikan rasa aman untuk kita sama-sama menikmati hidup.

Tetapi rasa malu yang sengaja disemai dari benih, dipupuk dan disirami dapat menghindarkan orang dari perangai arogan, berlaku kasar dan bertindak sewenang-wenang. Jika engkau tidak mempunya rasa malu berbuatlah semaumu, begitu kata Rasululloh. Malu adalah tabir penghalang arogansi dan kesombongan. Tepatlah kalau dikatakan bahwa malu adalah bagian dari iman: al haya minal iman.

KAU YANG BERTANYA AKU YANG MENDERITA

KAU YANG BERTANYA AKU YANG MENDERITA

Oleh: Jum’an

Saya sedang serius memikirkan bagaimana mungkin baru tanggal lima belas dompet saya sudah kosong padahal….., ketika tiba-tiba anda menepuk bahu saya sambil bertanya: Mikirin apaan? Bunyi pertanyaan dan tepukan bahu itu mengagetkan dan menyebabkan fikiran saya buyar dan berganti arah.

Karena fikiran selalu berputar terus, maka kita tidak akan pernah dapat memberikan jawaban yang pasti apa yang sedang kita fikirkan pada satu saat. Kecuali kalau kita dapat menghentikan ’waktu’ sementara kita memberikan jawaban, dan itu tidak mungkin.

Itulah contoh apa yang dinamakan observer effect – yaitu bahwa tindakan pengamatan akan menyebabkan perubahan pada fenomena yang diamati – yang kentara sekali berlaku dalam pengamatan-pengamatan ilmiah.

Demikian pula apabila kita mengamati gerakan sebuah pertikel: electron misalnya. Mengamati posisi dan momentum atau daya gerak sebuah partikel memerlukan tindakan membenturkan partikel lain terhadap partikel yang diamati, seperti kita menembakkan sebuah bola bilyar kearah bola bilyar lain yang sedang bergulir. Benturan itu menyebabkan partikel yang kita amati berubah posisi dan momentumnya. Makin tepat kita mengincar posisinya, semakin kabur momentumnya, begitu pula sebaliknya. Padahal posisi dan momentum partikel yang bergerak merupakan parameter yang penting untuk diketahui. Ketidakpastian ini bukan disebabkan oleh kekurang canggihan teknologi, tetapi merupakan fenomena dasar yang alamiah.

Setidaknya, begitulah yang berlaku dalam dunia zarah atau partikel menurut prinsip ketidakpastian (law of uncertainty) dari Werner Heisenberg, fisikawan besar abad 20 pendiri ilmu mekanika kuantum – cabang ilmu fisika baru menggantikan mekanika klasik Newton.

Mungkinkah ketidakpastian fikiran kita berasal dari ketidakpastian yang sama yang menguasai dunia zarah? Bukankah sistim syaraf kita digerakkan oleh elektron-elektron, dan kemampuan kita melihat sesuatu dimungkinkan oleh partikel cahaya atau photon? Dari banyaknya contoh tentang analogi antara kaidah-kaidah sains dengan realitas kehidupan manusia, saya kira memang ada hubungan yang kwantitatif antara keduanya.

Alangkah spektakulernya apabila benang merah yang menghubungkan kaidah sains dengan realitas kehidupan manusia bisa dijabarkan. Bukan dalam bentuk filsafat yang tidak ada manfaat praktisnya atau ramalan astrologi yang seolah-olah merupakan dominasi makro-kosmos terhadap mikro-kosmos yang entah benar entah tidak.

Masih ingat hukum ketidakpastian Heisenberg: Semakin tepat kita mengincar posisi sebuah partikel, semakin kabur momentumnya. Semakin teliti kita mengamati momentumnya, semakin kabur posisinya. Makin serius kita menggeluti dunia, makin kabur urusan akhirat kita? Wallohu a’lam bissawab

BALAS DENDAM

BALAS DENDAM

Oleh: Jum’an

Ketika darah muda masih mengalir ditubuh yang sekarang renta ini, balas dendam adalah sebuah pilihan. General Manager kantor saya seorang bule. Entah karena baru bertengkar dengan isterinya atau dimarahi oleh atasannya, saya yang dijadikan sasaran. Ditugaskannya saya untuk bekerja lepas pantai padahal itu tugas field-engineer bawahan saya. Pasti dia hanya ingin unjuk kuasa dan menyakiti hati, semacam pelampiasan dendam. Untung saya dapat mengelak karena pada saat yang sama saya harus memberikan kursus di Bandung.

Meskipun lolos dari sasaran balas dendam, hati saya meradang dan berencana melawan balik biar puas. Tapi ngerjain atasan tidak mudah dan harus ekstra hati-hati. Baru saja mulai mencari akal, tiba-tiba dia diganti orang lain. Meskipun demikian saya merasa puas menghibur diri dengan mengangap bahwa itu balasan Tuhan kepadanya. Dendam saya pun terlampiaskan dengan tersamar.

Itu sekedar dendam kantoran- kedua pihak tidak ada yang cedera. Beda dengan yang dilakukan misalnya oleh seorang kuli bangunan yang merasa sakit hati mendengar teguran kasar pemilik rumah: dicincangnya sang majikan dan dicor dengan adukan semen. Atau balas dendam antara pasangan sejenis yang putus cinta – biasanya sadis dan mengerikan. Anda pernah membacanya kan?

Dunia sebenarnya penuh dengan kisah balas dendam: wanita yang diselingkuhi suami atau kekasihnya, pemimpin yang disinggung matrabatnya, para pejuang yang ditindas, bahkan negara adidaya yang merasa dilecehkan kejayaannya. Orang yang dizalimi umumnya merasa marah dan ingin membalas agar yang menzaliminya merasa sama sakitnya atau lebih sakit dari yang dirasakannya.

Menurut Kevin Carlsmith, social psychologist dari Universitas Colgate AS, alasan balas dendam adalah untuk mencapai catharsis – pelampiasan emosi. Tetapi penelitian selanjutnya membukitkan bahwa balas dendam ternyata kontra produktif untuk mencapai tujuan pelampiasan emosi. Seorang pembalas dendam pikirannya akan melekat terus pada sasarannya sehingga luka hatinya tetap menganga dan akan semakin makin parah bila balas dendamnya tidak atau belum terlaksana. Berbeda dengan mereka yang pemaaf, baik karena berbudi luhur atau karena tidak bernyali, mereka lebih mudah melupakan penyiksanya, luka hatinya mudah sembuh dan perasaannaya lebih damai.

Membalas dendam, membela diri, menegakkan keadilan dan melindungi hak, sering menjadi senjata yang saling diperebutkan atau ditodongkan sesuai kepentingan pelakunya seperti yang kita saksikan antara Cicak dan Buaya.

Bagaimanapun, balas dendam meskipun banyak dilakukan orang dan terasa adil bagi orang yang dizalimi, telah terbukti kontra produktif sebagai sarana untuk mencapai kepuasan emosi. Lagipula catharsis bukan bukan satu-satunya yang pantas kita dicapai. Ridlo Alloh misalnya. Kalau ini yang ingin kita capai, ada pedomannya : Balasan perbuatan jahat adalah kejahatan yang seimbang dengannya, barangsiapa yang memaafkan dan berlaku damai , pahalanya ada ditangan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang zalim. (Asy Syuro ayat 40)

MALAS – VITAMIN PANJANG UMUR

MALAS – VITAMIN PANJANG UMUR

Oleh Jum’an

Saya mengenang Ir. Arifin Thayab dari Supra Indodrill sebagai seorang workaholic, ahli dibidangnya dan sukses memimpin perusahaannya. Terakhir saya bertemu dikantornya di Jl. Sangkuriang Bandung, dia sedang terkena gejala liver, duduk lesu menerima saya diruang depan kantornya. Melihat keadaannya saya tidak jadi membahas masalah pekerjaan dan hanya berbincang-bincang santai termasuk tentang sakit yang dideritanya.

Sambil menunjuk kepada seorang yang sedang duduk-duduk diluar, saya ingat dia berkata:“Mas lihat orang itu?” Ya. Kenapa Pak?. “Dia itu pegawai saya yang paling malas, tetapi sekarang saya merasa iri melihatnya. Dia sehat wal afiat seperti tidak punya beban, tidak menunjukkan tanda-tanda sedih atau kesal diwajahnya. Bergurau terus kerjanya…” Itulah pertemuan saya yang terakhir karena beberapa bulan kemudian ia meninggal karena sakit livernya itu. Permulaan sakitnya diduga karena kelelahan.

Munginkah ada nilai plus dalam kemalasan yang selalu kita umpatkan itu?

Mengapa gurauan para pemalas ”kalau bisa besok kenapa harus dikerjakan sekarang” tidak terdengar ironis atau sinis ditelinga kita? Kalau tidak karena saya juga pemalas, jangan-jangan mereka menyimpan buku pintar yang kita tidak boleh ikut sharing membacanya.

Nah… ketahuan. Memang benar rupanya. Mereka punya kitab sendiri yang berjudul “The Joy of Laziness” – kenikmatan bermalas-malasan- ditulis oleh mantan professor ahli kedokteran Jerman bernama Peter Axt dan putrinya Michaela, seorang doctor dan jurnalis ilmiah. Keduanya dengan reputasi yang memadai, ibarat ikan salmon mau bertelor, berenang melawan arus jargon “kerja keras kunci sukses” yang sangat dominan dimana-mana.

Mereka mengatakan bahwa kemalasan dapat memulihkan sel-sel otak dan memperlambat proses penuaan. Olah raga yang berlebihan, kata mereka sama destruktifnya dengan stress terhadap kehidupan dan memperpendek umur.

Olah raga menurut para ilmuwan merangsang terbentuknya ”radikal bebas” yaitu molekul-molekul berelektron tunggal yang tidak stabil. Metabolisme tubuh kita mengubah radikal bebas itu menjadi hidrogen peroksida yang merusak sel-sel otot dan mempercepat penuaan. Racun ini dapat dinetralkan dengan antioksidan yang terdapat dalam sayuran dan buah-buahan. Tetapi bermalas-malasan dapat menggantikan fungsi sayuran dan buah-buahan itu dengan sempurna.

Kedua ilmuwan Jerman itu mengatakan, kita tidak perlu malu malu untuk meluangkan waktu untuk bermalasan dalam pekerjaan terutama saat tidak ada boss dekat kita. Peter dan Michaela Axt tahu bahwa manusia perlu rileks pada saat dia merasa butuh – ia merupakan obat bagi tubuh lebih-lebih bagi otak.

Sejenak bermalasan membantu otak kita menetralkan Cortisol- hormon yang timbul karena keadaan stress. Hormon ini dapat merusak sel otak yang selanjutnya menyebabkan hilang memori dan berakhir dengan pikun muda.

Bagaimana menyalurkan benci tapi rindu kita terhadap obat mujarab yang tidak disukai orang ini? Realistis saja: Simpan baik-baik dan gunakan sewaktu-waktu kita butuhkan. Dengan catatan, jangan untuk urusan ibadah, tidak kena.

CONNECTIVITY – HAJAT HIDUP MASA KINI

CONNECTIVITY- HAJAT HIDUP MASA KINI

Oleh: Jum’an

Lima belas tahun yang lalu jika ada kerabat mau naik haji, kita antarkan dia ke Pondok Gede dan kita berpisah disana: selamat jalan. Kita tunggu empat puluh hari empat puluh malam, lalu kita jemput dia di asrama haji itu lagi. Selama itu kita benar-benar terpisah – disconnected- tidak saling berhubungan sama sekali.

Sekarang seorang ibu yang sedang umroh, hampir tiap tengah malam waktu Mekah menilpun kerumahnya di Jakarta dan memberi instruksi kepada p.r.t-nya: bawang merahnya enam siung ya, cabe merah tiga, terasinya secuil. Awas jangan lupa gembok pintu pagar, matikan lampu ruang tamu. Sesudah itu dia masih membroadcast sms untuk sejumlah teman dekatnya: cateringnya payah, makanannya itu-itu melulu…. Semua yang remeh-remeh disampaikan dengan enteng dan lancar dari jarak ribuan mil.

Dulu kalau kita menerima interlokal dari keluarga yang tinggal dilain propinsi atau pulau seberang rasanya berdebar-debar, takut kalau-kalau ada yang sakit keras atau meninggal, karena interlokal adalah sesuatu yang jarang terjadi dan mahal bayarnya. Orang tidak akan sembarang interlokal kalau tidak ada yang benar-benar penting untuk dikabarkan. Mahasiswa Medan di Yogya hanya interlokal kalau sudah sebulan wesel tidak datang, atau kalau mereka sudah berhasil menjadi sarjana.

Sekarang semua orang saling terhubung. Tuntutan akan connectivity atau ketersambungan telah meningkat dramatis dari tahun ketahun. Sebelum era internet, telepon genggam dan text messaging kita tidak bisa saling tersambung kecuali bertemu muka atau melalui tilpun kabel.

Dulu disconected atau tak tersambung adalah normal.Tersambung hanyalah kadang-kadang dan kalau perlu saja. Sekarang default kita adalah connected, putus koneksi adalah aral dan kendala.

Kalau internet terputus atau ketinggalan HP kita gelisah, serasa gagu, terabaikan dan terisolir dari dunia luar. Inilah yang disebut “disconection anxiety” – sebuah fenomena abad 21 yaitu perasaan gelisah dan kehilangan arah yang dialami orang apabila terputus dari internet atau hubungan nirkabel lainnya.

Kegelisahan itu diantaranya timbul karena orang takut tidak dapat menghadapi keadaan darurat dengan cepat dan mudah, takut kehilangan informasi yang berbuntut kehilangan pekerjaan. Tanpa HP dikantong, takut kalau tersesat atau mobil mogok diluar kota, tidak bisa menghubungi seseorang dengan cepat untuk bertanya atau minta pertolongan.

Connectivity adalah hajat hidup kita-kita masa kini. Orang yang kesepian – job hunter – dunia pemasaran – dunia pers – para dai – politisi – mahaiswa dan kaum selebriti semua mendambakan connectivity seluas dan selancar mungkin.

Menurut penelitian Solutions Research Group, 68% orang Amerika, tua dan muda mengalami disconnection anxiety. Kata mereka 83% dari 230 juta lebih pengguna HP di Amerika selalu mengantongi barang itu kemana saja mereka pergi. Sebagian dari kita juga kan?

Kalau connectivity diatas kita samakan dengan hablum minannas, bagaimana dengan hablum minalloh kita? Saya menduga banyak diantara kita (contohnya saya) yang menempatkan connectivity horisontal kita hampir melebihi konekstivitas vertical kita dengan Sang Khalik. Buktinya, kalau saya terlewat jum’atan karena meeting, rasa gelisah dan penyesalannya tidak lebih dari sepuluh menit.

ETHNIC CONNECTION

ETHNIC CONNECTION

Oleh Jum’an

Hari Selasa tanggal tiga Nopember adalah hari pembuktian bagi saya. Betapa tidak. Pagi hari itu sesudah hampir sampai dikantor di Sunter, saya baru sadar bahwa saya tidak membawa dompet. Laki-laki tanpa uang, atm dan sim serta ktp tidak lebih dari ayam jantan tak berjalu. Makan siang ngutang dan sangat rentan tertangkap polisi dijalan, dengan hukuman cukup berat.

Tetapi adagium Edward Murphy mengatakan: Pertama- Jika ada sesuatu yang berpotensi salah, maka hal itu akan menjadi salah. Kedua- Semua memakan waktu lebih lama dari seharusnya. Ketiga – Tidak ada yang sesederhana yang terlihat.

Meminjam uang untuk makan siang yang hanya kurang dari sepuluh ribu, paling terhormat adalah dari office boy. Besok pagi insyaalloh saya kembalikan dua puluh ribu. Aman. Murphy’s Law ternyata tidak valid.

Seingat saya selama 2009 ini saya belum pernah tertangkap polisi karena melanggar lalu-lintas. Melanggar sedikit-sedikit memang sering tapi tertangkap tidak pernah. Masa sesudah sepuluh bulan aman tiba-tiba hari ini tertangkap polisi, hanya karena tidak membawa dompet? Memangnya tidak membawa sim menyebabkan kemampuan mengemudikan mobil menurun? Lagi pula saya lebih berhati-hati sore itu.

Tetapi, saya tidak bohong, tinggal beberapa menit sebelum seharusnya saya sampai dirumah, saya dihentikan polisi didepan Theresia dibelakang Sarinah. Katanya saya melanggar lampu merah didepan gedung Bappenas kira-kira lima ratus meter dibelakang tadi.

Begitulah saya tertangkap basah melanggar (sedikit) lampu merah yang kata polisi itu sangat membahayakan keselamatan. Ketika terbukti bahwa saya tidak membawa sim dia tambah menggeleng-gelengkan kepala. “Bapak ini bagaimana, sudah melanggar lampu merah, tidak punya sim lagi” Saya bersumpah-sumpah bahwa lupa membawa dompet tapi nampaknya dia tidak percaya “Terserah komandan saya saja lah” katanya sambil mengajak saya menemui komandannya yang duduk menunggu di mobil. Sementara dia menerangkan dengan singkat kesalahan yang saya lakukan, saya lihat nama komandan itu: Sigit Wardoyo… yakin pasti Jawa.

Sebelum dia mulai berbicara, saya mendahului: “Waduh Dik, nyuwun ngapunten saestu, kulo panci lepat” . Entah karena terangsang kejawaannya, atau kasihan melihat wajah tua saya atau dia malas berurusan dengan laki-laki tak berdompet, hasilnya sungguh miracle bagi saya. Pembicaraan menjadi mengarah kepada pengakuan dosa yang disambut dengan pemberian ampunan. Sungguh damai, saling mengerti, tidak ada suap, ancaman ataupun hukuman. Diakhiri dengan jabat tangan yang tulus, disertai ucapan “Sanes wekdal langkung ngatos-atos nggih pak” .The Magic of Ethnic Connection.

Kalau anda Ambon dan tertangkap oleh polisi bernama Bram Luhulima, anda akan faham maksud saya. Atau Simangunso
ng tertangkap oleh Sembiring.

Jadi pembukitian apakah yang terjadi pada hari Selasa-Kliwon15 Dzulkaidah 1430 Hijriah kemarin dulu itu? Bahwa Murphy’s Law ada benarnya. Bahwa ethnic connection kadang-kadang magic. Bahwa wajah tua saya “menghasilkan” . Dan yang paling saya yakini, doa saya -Robbi yassir li amri- yang suka saya ulang-ulang itu terkabul. Alhamdulillah