Bulan: Desember 2009

TAHU SUMEDANG DAN PIZZA MOZZARELLA

TAHU SUMEDANG DAN PIZZA MOZZARELLA

Oleh: Jum’an

Saya tahu. Sebenarnya anda ngiler melihat lemper ayam dan tahu Sumedang yang dijual asongan diperempatan jalan, tetapi tidak berani membeli kan? Malu karena anda semobil bersama mertua, atau anda seorang wanita karir atau karena anda memakai jas dan berdasi. Padahal itu makanan lezat dan gurih apalagi kalau diselingi gigitan cabe rawit. Maaf mungkin saya salah menebak. Mungkin kesukaan anda bukan itu tetapi croissant keju atau pizza mozzarella.

Apapun kesukaan kita selalu ada saja pengahalang untuk memperolehnya. Kita membatalkan langkah demi memberikan kesan baik atau menghindari kesan buruk dimata orang lain. Gengsi atau malu disangka kampungan, tidak pantas atau tidak level. Norma-norma yang tidak jelas asbabun nuzul dan perawinya.

Seperti ada beban yang begitu saja menindih pundak kita dari macam-macam pengaruh keadaan dan lingkungan yang menjadikan kita merasa berhutang atau turut bertanggung jawab, risi atau peduli.

Seorang dosen jangan makan di warung tegal, seorang selebriti tidak pantas mebeli baju di pasar Tanah Abang dan seorang direktris tidak pantas membeli tahu Sumedang diperempatan jalan.

Sebagai seorang da’i, anda kehilangan kesempatan untuk bertanya sesuatu kepada jamaah. Atribut yang anda sandang tanpa disadari telah menempatkan anda sebagai orang yang harus tahu segala. Demikian pula kalau anda lulusan SMA jurusan sosial, sampai tua -tanpa ada yang melarang- anda merasa tidak berhak tahu apa arti asam dan basa apalagi pH, meskipun itu adalah pengertian ilmu kimia sederhana. Pernahkah anda mengenal seorang ustazah yang tahu tentang tari serimpi atau bedoyo, seudati atau saman apalagi salsa dan tango?

Begitulah gelar, status, etnis, profesi atau atribut-atribut lain yang kita miliki sedikit banyak telah membuat kita terkungkung dan terpaksa berpura-pura.

Coba nanti saya tanyakan kepada Pak Bram sahabat saya. Apakah dia sebagai orang Ambon menyukai tempe bacem Yogya? Kalau saya, sebagai orang Banyumas sampai sekarang belum berani makan rujak cingur Surabaya itu. Alasannya, yah itu kan kesukaan orang Surabaya!

Saya yakin ada sesorang disana yang perlu untuk melepaskan diri dari rambu-rambu khayali yang telah membelenggunya begitu lama. Seperti seekor anak gajah yang diikat kakinya dengan rantai, sampai dewasa dan berbadan raksasa tetap tidak mampu melepaskan diri darai rantai kecil itu. Sudah terkondisi kata orang. Kalau kita ingin menjadi gajah betulan, rantai itu harus kita putuskan sekarang juga, sebelum seekor babi mepermainkan kita.

Siapa yang tahu bahwa bakat seni anda mungkin telah lama menjadi kerdil oleh profesi engineering yang anda geluti. Atau suara merdu anda sudah berubah parau karena anda menekuni pekerjaan kantor dan tidak menjadi penyanyi dangdut karena merasa hina.

Almarhum Prof. Dr. Ir. Mohammad Sadli M.Sc , ekonom dan guru besar FEUI itu adalah contoh seorang insinyur yang beralih minat dan sukses mencapai cita-citanya. Kabarnya beliau masuk Fakultas Teknik sampai memperoleh gelar MSc hanya untuk memenuhi keinginan ibunya. Jadi kalau anda sekedar kepingin makan tahu Sumedang, beli saja diperempatan jalan sekalipun. Tidak akan menyebabkan anda kudisan kok!

MAAF MBA ATUN – KITA BELUM JODOH

MAAF MBA ATUN – KITA BELUM JODOH

Oleh: Jum’an

Sejak kecil memang saya sudah mulai dibentuk. Karena sampai tamat SMP tidak pernah berpindah tempat tinggal, maka tulang-tulang dan gigi saya hanya terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari hasil bumi desa kelahiran saya. Demikian pula sebagian ciri-ciri hidup saya sudah mulai terbentuk didesa itu.

Suatu pagi hari dimasa kanak-kanak, karena sakit yang tak kunjung sembuh saya disuruh berjongkok dekat padasan – tempat mengambil air wudu. Dibawah kain ibu, saya dimandikan dengan urine hangat langsung dari pancurannya. Itulah terapi pamungkas setelah semua cara gagal dicoba. Tentu saja sesudah itu saya dicuci bersih karena ibu saya yang guru ngaji, tahu hukum najis mutawasitoh itu. Pada kesempatan lain, nama saya diganti karena badan saya ceking dan sakit-sakitan, mungkin panggilan baru akan lebih merangsang pertumbuhan. Itulah bagian dari awal terbentuknya pola hidup saya.

Setelah dewasa dan terpelajar saya berkiblat kepada pengobatan medis untuk memelihara kesehatan. Tetapi pengobatan medis yang terlalu mahal itu menakutkan: pisau bedah, jarum suntik, bius total, cuci darah, amputasi…..

Sementara pengobatan nonmedis meyajikan jamu-jamu godok yang serba herbal, wirid, tenaga dalam dan air doa. Kalau memang sama-sama dapat menyembuhkan, tentu yang kedua inilah pilihan utama saya.

Kecuali mengandalkan terapi gelombang kejut -ESWL- yang tidak juga sekali tuntas dan obat-obatan untuk menghilangkan batu ginjal, saya menjalankan upaya non-medis juga. Gagal dengan operasi goresan kuku Haji Fauzi antara Puncak dan Cipanas yang katanya ampuh, saya tetap tidak putus asa.

Waktu itu sedang ramai tersiar nama Ibu Atun dari Pemalang ahli pengobatan alternatif yang dapat mengobati macam-macam jenis penyakit. Pasiennya terdiri dari rakyat jelata, pejabat tinggi dan selebritis, bukan saja dari Nusantara tetapi juga Malaysia, Singapura dan Hongkong. (Sebagian testimoni ada disini). Besan saya yang kebetulan orang sana, menceritakan bahwa tetangganya yang terkena penyakit kaki gajah (filariasis) sembuh ditangan ibu Atun –sebenarnya lebih tepat dipanggil mba Atun karena ia masih lajang waktu itu-. Katanya darah hitam bercampur lemak dikeluarkan dari kedua kaki dan dibersihkannya menggunakan kapas.

Sesudah satu setengah bulan mendaftar dan mendapat nomor urut tujuhpuluh sekian untuk hari itu, batu ginjal sayapun dikeluarkan oleh ibu Atun.

“Boleh saya bawa pulang untuk kenang-kenangan Bu?” kata saya sambil meminta kapas ditangannya yang masih basah oleh darah. Silahkan, katanya.

Dalam perjalanan pulang saya cium-cium kapas dan saya raba-raba batu sebesar butir beras itu. Rasanya bau darah saya tidak amis begini dan batu ginjal saya mirip kristal garam tidak seperti serpihan tulang. Foto rontgen yang saya lakukan dua minggu kemudian membuktikan bahwa batu ginjal saya masih utuh. Maaf mba Atun, kita mungkin belum jodoh.

Bahkan waktu ginjal saya makin tidak berfungsi dan harus menjalani cuci darah saya tetap meminum air doa, pijat refleksi, serta rajin berobat kepad Ir. KRM. H. Gembong Danudiningrat yang berwibawa itu.

Lama sesudah semua usai dengan izin Alloh, saya baru menyadari apa yang saya peroleh dari Haji Fauzi, Bu Atun dan terutama Romo Gembong dari Kraton Yogya itu. Yaitu harapan. Harapanlah yang telah ikut menopang pertahanan saya melawan penderitaan dan cobaan selama itu.

BURUNG CAMAR DAN KUPU-KUPU

BURUNG CAMAR DAN KUPU-KUPU

Oleh: Jum’an

Ustadz Yusuf Mansur tentu tidak mengambil Bill Gates sebagai contoh sukses karena sodakoh. Jutawan yang satu ini lebih cocok sebagai contoh sukses kerja keras dan putar otak. Dan saya yang serba tanggung otak dan imannya hanya bisa gemas dan iri karena tidak bisa mencapai satupun dari keduanya.

Dunia ilmiah yang serba rasional telah memberikan saya dua bekal: sedikit ketrampilan mencari nafkah dan kemudahan mengagumi kebesaran Alloh. Jagat raya dengan sistim tata suryanya, manusia dengan rahasia jasmani dan akal-budinya, dunia atomis dengan gelombang dan energinya, adalah sumber yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Alloh. Serba dinamis, canggih dan rapih.

Sebenarnya para ilmuwan sudah sejak lama mengamati adanya keganjilan dan penyimpangan disana-sini, tetapi disapu kebawah tikar diangap sekedar kurang akurat dalam menghitung dan mengukur. Tetapi pada tahun 70 an, ketika sisi aneh ini makin menjadi momok ilmu pengetahuan, mereka menelitinya lebih dalam. Ternyata ketidakteraturan itu memang melekat, bawaan alamiah. Yang paling menarik untuk dikaji adalah pola perubahan cuaca.

Komputer cuaca tebesar dunia di Eropah melakukan 400 juta kalkulasi perdetik. Input dari 100 juta pengukuran cuaca harian dari seluruh dunia diproses selama tiga jam tanpa henti, untuk menghasilkan ramalan cuaca selama 10 hari. Tetapi hasil ramalan sesudah hari kedua dan ketiga mutunya spekulatif dan ramalan sesudah hari keenam dan ketujuh, hasilnya tidak bisa diandalkan.

Itulah mungkin alasan mengapa penyiar televisi Malaysia dan Brunei selalu mengucapkan ”wallohu a’lam bissawaab” setelah menyiarkan ramalan cuaca.

Alam yang sebelumnya dianggap bergerak dengan teratur, periodik seperti sebuah jam raksasa, ternyata mempunyai sisi lain yang misterius. Bukan hanya cuaca yang yang berkelakuan aneh. Tetapi juga planet-planet yang tiba-tiba melesat dari garis edarnya. Fluktuasi populasi margasatwa. Kematian mendadak oleh kekalutan pada jantung manusia yang tak bisa diterangkan. Para ilmuwan kemudian mencari pola hubungan antara berbagai ketakteraturan itu yang akhirnya tertuang dalam teori tentang chaos (baca: keos –yang artinya kacau).

Tanpa melihat rumus matematisnya, teori chaos secara simbolis mengisyaratkan bahwa getaran sayap kupu-kupu di Brazil dapat memicu terjadinya badai tornado di Teksas. Satu kepak sayap burung camar dapat merubah arah cuaca untuk selamanya. Oleh suatu sebab penyimpangan kecil dapat terjadi perubahan besar.

Chaos tidak selalu berkonotasi negatif sebagai penyebab bencana atau bahkan kiamat. Chaoslah yang menjadikan alam raya yang semula berupa asap (Al- Fusshilat, 41: 11) berubah menjadi hunian manusia, fauna dan flora yang ramai. Menurut Roger Johnston dari Los Alamos National Laboratory dan konsultan IAEA, proses chaos jugalah yang menyenjadikan setiap manusia pribadi yang unik dan tak ada yang sama. Bukan proses ilmiah ”tradisional”.

Apabila teori chaos ini valid dan
merambah semua bidang, bagaimana nasib ilmu pengetahuan klasik yang telah mendasari perkembangan kebudayaan manusia sejauh ini? ”Where chaos begins, classical science stops” kata James Gleick penulis buku tekenal: Chaos; Making a New Science.

Menarik rasanya untuk memandang teori chaos dari sudut kemusliman kita. Sebagai muslim yang awam saya melihat teori tentang penyimpanga dari keteraturan hukum alam, sama seperti saya memahami takdir dan hukum sebab akibat. Bila takdir harus terjadi, chaoslah yang mengambil alih menempuh jalan pintas untuk sampai ketujuan. Disebut diatas, chaos dan hukum alam sama-sama melekat pada alam ciptaan Alloh. Jadi chaos adalah bagian kuasaNya juga.

Kalau kesan saya dangkal dan gampangan, tidak apa karena hanya sampai disitu pencernaan saya. Tetapi para teorist chaos juga menghubung-hubungkannya dengan determinisme dan kehendak bebas, yang dalam bahasa santrinya, antara pengertian qodariyah dan jabariyah.

Alam tanpa chaos seperti coin bermuka sebelah. Tidak utuh. Mungkin chaos adalah bukti kekuasaan Alloh yang perlu lebih dicermati lagi. Wallohu a’lam.

MENCOBA MENGANCAM ALLOH

MENCOBA MENGANCAM ALLOH

Oleh: Jum’an

Dalam sebuah film China yang tidak memakai teks yang hanya bisa dinikmati gambar dan musiknya, dilukiskan sebuah adegan yang cukup menegangkan. Suatu ketika dizama dinasti Ming atau Tang, terjadilah musim kemarau sangat panjang yang menyebabkan paceklik dan kelaparan mengenaskan di Tiongkok sana. Tanah sawah dan ladang kering terbelah-belah, gabah dilumbung-lumbung menipis, sungai dan danau tak berair lagi.

Mantera para pendeta meminta hujan tak kunjung dikabulkan para dewa. Ketika kesengsaraan tak tertahan lagi, diputuskan untuk mengancam para dewa agar mau menurunkan hujan. Maka disusunlah tumpukan kayu yang sangat banyak setinggi rumah di tanah lapang dan disampingnya disandarkan tangga-tangga untuk naik keatas. Semua tokoh penting, yang tanpa mereka negeri akan lumpuh, dari kaisar, para menteri, panglima perang, pendeta dan orang-orang bijak semua naik keatas tumpukan kayu itu, berdiri berdesakan sambil saling berpegangan tangan. Mereka bersama-sama meminta agar sang dewa sudi menurunkan hujan – dan kalau hujan tidak turun saat itu juga, mereka sepakat akan bersama-sama membakar diri.

Sementara dari bawah tumpukan kayu itu mulai dinyalakan. Ketika api semakin membesar, pegangan tangan saling dieratkan dan keringat mulai bercucuran karena kobaran api yang hampir menjilat tubuh mereka, maka sang dewapun menyerah. Dan hujanpun turun dengan lebatnya………

Itu mereka dulu bukan kita sekarang. Sekedar ilustrasi dari film seri yang judulnya pun tidak bisa dibaca yang saya tonton di CCTV-4. Saya punya versi sendiri. Bukan mengancam Alloh, tetapi karena tidak ada bahasa yang mewakili antara makhluk dan khaliknya kecuali pasrah dan menurut, saya memilih istilah mencoba-coba mengancam Alloh. Tetap saja tidak enak didengar!

Sekali waktu saya mengalami perselisihan berkepanjangan yang menguras pikiran dan perasaan. Disatu pihak seorang keluarga saya berniat melakukan sesuatu dan saya melarangnya karena menurut saya lebih banyak mudaratnya. Idealnya pendapat sayalah yang harus dia ikuti. Saya benar tetapi dia merasa tidak salah. Saya yakin dia salah; dia merasa bahwa saya merampas haknya.

Saya yakin bahwa Alloh berpihak kepada saya, tetapi karena dia juga khusyuk berdoa, saya khawatir kalau-kalau Dia berpihak kesana. Itulah yang melelahkan dan membuat saya berpikir berulang-ulang. Setelah berbulan-bulan melalui tarik-ulur yang melelahkan, sayapun memutuskan dan berkata: ”Ya Alloh, makhlukmu yang lemah ini telah mempergunakan otak dan hati pemberianMu sebaik-baiknya untuk meyelesaikan perselisihan ini. Saya tetap pada pendirian saya. Oleh karena itu kabulkanlah doa saya ya Alloh. Kalau tidak robohlah rumah kami”.

Lalu terjadilah yang sekarang tinggal kenangan, masing-masing berjalan menurut kehendak sendiri. Robohlah rumah kami. Benarkah?

Setelah beberapa tahun terjadilah hal-hal yang diluar dugaan yang menjadikan perselisihan itu kehilangan arti dan tidak relevan lagi. Selama waktu itu, mudarat yang dulu saya takutkan ternyata tidak terjadi. Membuktikan bahwa pendapat saya tidak benar. Pada saat yang sama dia juga mendapati kenyataan bahwa apa yang disangkanya menyenangkan ternyata makin lama makin pahit. Akhirnya tidak ada lagi yang harus dipertahankan oleh masing-masing pihak. Keadaanpun kembali seperti yang semula saya kehendaki.

Begitulah akhirnya Alloh menyerah dan mengabulkan doa saya. Tetapi setelah empat setengah tahun, menunggu kami masing-masing jera dan memperoleh pelajaran yang sangat berharga. Subhanalloh walhamdulillah.

BERINGIN BAROKAH

BERINGIN BAROKAH

Oleh: Jum’an

Sebenarnya diam-diam saya mempercayai surat Yasin ayat 33 secara harfiah. Yaitu bahwa Alloh memang menghidupkan tanah yang mati dan mengeluarkan benih dari dalamnya. Bukan mengandung arti yang lain. Tetapi kalau saya ceritakan dengan terang-terangan akan diketawakan orang. Mereka tentu akan menguliahi saya panjang lebar dengan segala tafsir yang barangkali juga benar.

Berapa kali saya melihat orang memancing ikan ditempat-tempat yang tidak masuk akal seperti dibekas galian proyek bangunan yang belum sampai setahun umurnya. Mna ada ikan disitu. Memangnya ada orang yang menangkar? Tetapi mereka dapat ikan juga meskipun kecil-kecil. Bahkan banyak orang yang percaya bahwa setiap empang akhirnya dihuni ikan, dari manapun datangnya.

Begitulah hal yang mustahil –yang mendukung kepercayaan saya- sekarang sedang terjadi. Anda tahu kan bahwa populasi burung di Jakarta (Pusat) cukup rendah? Demikan pula populasi pohon beringin. Bahkan saya yakin banyak diantara kita yang belum pernah melihat biji buah beringin. Jadi betapa sedikitnya burung yang sempat makan buah beringin. Lebih sedikit lagi, burung yang sehabis makan buah beringin itu terbang diatas rumah saya. Seandainya toh ada, kemungkinan dia menjatuhkan kotorannya tepat di lubang atap yang hanya dua kali tiga meter dan berjeruji – adalah nol. Seandainya keajaiban semacam itu terjadi, kotoran burung itu tidak akan jatuh tepat diatas separoh pot kering yang menempel ditembok bagian dalam rumah saya.

Tetapi nyatanya, sebuah tunas pohon beringin telah tumbuh diatas pot yang sejak dibuat sekitar tiga tahun yang lalu tidak pernah ditanami apa-apa. Saya tanyakan kepada tiga anggota keluarga serta pembantu saya, semuanya bersumpah tidak pernah menanam biji apapun di pot yang lama-lama nampak membosankan itu. Anda dipersilahkan berteori sendiri dari mana biji beringin itu datang, tetapi saya lebih senang mempercayai secara harfiah surat yasin ayat 33 tadi. Yaitu bahwa Alloh telah mengeluarkan benih dari tanah mati

Nah selajutnya terjadilah keajaiban lain setelah biji beringin misterius itu hadir disana. Semula antara pot, sedikit tanah dengan mineral-mineral yang dikandungnya, gas karbon dioksida yang ada diudara dan sinar matahari masing-masing hidup sendiri-sendiri dengan tenang selama setidak-tidaknya dua tahun terakhir ini. Biji beringin yang dijatuhkan oleh burung atau dari manapun datangnya itu, merubah dan meramaikan suasana. Ia menyerap air dan mineral dari sekitarnya, lalu dengan kehangatan sinar matahari mulai menggeliat tumbuh. Mula-mula ia memakan bekal bawaan dari sang beringin induk, lalu sesudah berdaun ia mulai memasak makanannya sendiri dengan proses yang disebut fotosintesa. Yaitu membuat makanan dengan bahan mentah berupa air, mineral dan gas karbon dioksida dan sinar matahari.

Beringin kecil itu memasak makanannya di daun-daunnya yang mengandung pigmen klorofil. Mereka mengumpulkan air dan mineral yang dihisap oleh akar dari tanah, gas karbon dioksida dari udara dan energi dari matahari lalu dimasaknya untuk bekal pertumbuhan.

Secara simbolik beringin kecil itu telah menghisap nafas busuk saya untuk keperluan dia memasak, lalu ”asap dapur” nya yang berupa oksigen segar dikembalikannya kepada saya untuk hidup . Alangkah berkahnya. Alhamdulillah. ”Wahai beringin kecil, tumbuh suburlah engkau dengan izin Tuhanmu”.

TUNJUKKAN AKU JALAN PULANG

TUNJUKKAN AKU JALAN PULANG

Oleh: Jum’an

Saya sedang mengendarai mobil kesuatu tujuan yang sudah sangat jelas, tanpa disetirpun rasanya mobil saya akan menuju kesana. Ditambah dengan suasana jalan yang sepi, beban pikiran hampir-hampir nol sehingga masuklah yang itu-itu kedalam lamunan saya

Ketika terhenti dilampu merah saya kaget: perempatan mana ini? Sarinah bukan Blok M bukan, Pramuka bukan Cawang bukan. Ketika lampu hijau menyala saya memutuskan mengambil jalan yang lurus, bukan belok kanan atau kiri. Tetapi jalan apa ini? Dikanan kirinya hanya ada barisan pohon dan bangunan-bangunan yang tidak khas, lalu setelah agak jauh ada simpang tiga berbentuk huruf Y sehingga ragu saya mau memilih arah yang mana. Mau berbalik, jalan satu arah! Ketika jarak sudah terlalu jauh dan rasa panik mulai timbul, saya berhenti, keluar dari mobil dan mengaku terus terang kepada seorang tua penjual rokok: Pak saya ini tersesat, saya mau pulang ke Tanah Abang. Kemana arahnya Pak?

Alhamdulillah saya diselamatkan oleh tukang rokok. Saya batalkan niat yang semula dan sebelum sampai kerumah, untuk mengobati kepanikan saya mampir menikmati sop kaki dekat rel kereta Dukuh Pinggir sambil merenung-renung.

Rupa-rupanya selama ini saya bisa mencapai kantor dengan selamat berkat petunjuk dari gedung Sarinah, Patung Tani, Stasiun Senen serta papan iklan Shaolin disebelah danau Sunter. Bangunan yang selama ini saya anggap sekedar latar belakang dan tidak ada pengaruhnya terhadap kehidupan saya – ternyata merekalah yang mengarahkan saya sehingga terhindar dari kesesatan.

Selama berjalan bersama banyak teman-teman dan kenalan ternyata ada diantara mereka yang mudah tersesat dan ada yang begitu percaya diri dan selalu menemukan jalan. Menurut sebuah Brain Research Centre, menempuh dan menguasai arah dalam sebuah lingkungan merupakan kepandaian mengenal yang rumit, menyangkut bagian-bagian otak yang berfungsi untuk mengingat, memperhatikan, menaggapi dan mengambil keputusan. Juga bahwa dibutuhkan setidaknya dua macam cara mengingat yang berbeda.

Saya tidak tahu kwalitas otak saya dalam urusan navigasi dan orientasi ini, tetapi saya merasa beruntung. Seorang ibu tetangga saya tidak bisa menemukan rumahnya sepulang dari pasar. Dia berputar-putar dari gang ke gang padahal rumahnya sudah dilewatinya berkali-kali. Dia tertolong oleh seorang anak yang sejak tadi memperhatikan kelakuannya. Setelah sadar iapun menangis sejadi-jadinya. Sejak itu ia tidak berani keluar rumah sendirian sampai akhir hayatnya.

Tersesat memang menakutkan. Dari jemaah tua yang tersesat dipadang Arofah, pendaki gunung yang tersesat dihutan, sampai ibu-ibu yang tersesat berputar-putar di shopping centre. Nampaknya memang mencurigakan. Seperti ada kecenderungan untuk menempatkan sekat atau dinding pembatas di shopping centre sedemikian rupa sehingga menyesatkan ibu-ibu, agar menimbulkan efek panik dan berbelanja lebih banyak (panic spend) sambil mecari jalan keluar.

Ada tersesat lain yang mungkin lebih celaka dan menakutkan. Yaitu tersesat aqidah. Obatnya tentu saja bukan sop kaki Dukuh Pinggir atau panic spend, barangkali alfatihah, yang diakhir ayat kita mohon petunjuk jalan yang lurus, yang nikmat bukan yang dimurkai dan sesat.

BILA ANDA MENUA NANTI

BILA ANDA MENUA NANTI

Oleh: Jum’an

Mungkin saya sekarang puluhan atau setidaknya belasan tahun lebih tua dari anda. Oleh karena itu pantaslah kalau saya minta anda merelakan waktu lima menit mendatang untuk menyimak angan-angan saya ini.

Meskipun anda tidak mungkin menjadi lima tahun lebih tua dengan tiba-tiba, tetapi tahun berasal dari bulan dan hari, jam dan menit yang merupakan akumulasi dari detik-detik yang berjalan dengan cepat. Tanpa ada yang menghambat anda sedang menua setiap detik sekarang ini.

Tua adalah kata yang tidak disukai orang Amerika. Banyak kegiatan penelitian* yang mencatat kenyataan bahwa semua segmen masyarakat Amerika mengidap sikap negatip terhadap orang tua. Menua disana diartikan sebagai menurun. Orang tua –Dirty Old Man- selalu membawa konotasi bahwa orang tua itu kusut, ceroboh, bodoh, tidak berguna dan bikin ribet

Analisa tentang literatur anak-anak dari tahun 1870 -1960** juga menunjukkan bahwa sikap negatip terhadap orang tua di Amerika makin meningkat dari masa ke masa. Snow White dan Cinderella adalah dua contoh bacaan anak-anak Amerika yang menggambarkan wanita lanjut usia sebagai nenek sihir yang siap mencelakai ana-anak. Dalam keluarga, orang tua juga dianggap sebagai beban dan rongrongan yang merugikan.

Lain dengan di negeri China. Disana pemerintah memberikan lima jaminan bagi orang tua: cukup makan, cukup pakaian, papan, pengobatan dan biaya penguburan. terlepas dari bagaimana pelaksanaannya, ini menunjukkan bahwa masyarakat China memberikan tempat yang terhormat bagi orang tua mereka.

Di Indonesia orang tua juga menduduki posisi yang mulia. Mereka adalah tempat sungkem dihari raya, tempat mohon restu, dan tempat kita minta nasehat. Pepunden kata orang Jawa. Indonesia adalah tempat menua yang aman. Kalau ada persoalan yang misterius jawabnya selalu: Kita tanyakan kepada orang tua.

Karena anda baru akan mulai menua sedangkan saya sudah lama, banyak-banyakkanlah antisipasi dan persiapan. Saya sudah terlanjur tidak bisa lagi.

Jangan sampai saat pensiun nanti anda masih harus menanggung beban kontrak rumah, jangan sampai umur 55 anak anada masih ada yang berumur 10 tahun. Jangan sampai anda berkata: “Kalau dulu saya cepat-cepat menyelesaikan kuliah dan segera mencari kerja, pasti saya bisa menjadi Dirjen sebelum pensiun”.

Setahun dua tahun kelambatan pada umur duapuluhan, bisa sangat besar dampaknya pada nasib anda diumur lima-lima nanti. Cepat-cepatlah selesaikan itu skripsi, itu S2… percayalah makin cepat makin baik. Saya menyesal tidak mengingat semua ini dulu waktu saya umur dua puluhan. Saya berleha-leha, mengerjakan hal-hal yang remeh-remeh, berlama-lama kuliah dengan excuse menikmati masa muda.

Kalau bisa, menualah dengan ikhlas. Anda takut seksualitas menurun, rambut memutih dan kulit keriput? Ketakutan itu timbul hanya karena anda mebayangkannya menggunakan otak muda. Pada saat mengalaminya nanti, anda akan memahaminya sebagai kewajaran belaka. Asalkan kita menjaga keseimbangan jasmani dan rohani. Bahkan mungkin anda risi melihat pipi istri anda masih saja cling pada umur 65 lebih, genit lagi.

Tetapi saya merasa beruntung telah membaca Surat Luqman pada us
ia muda, mendengar tentang aljannah tahta aqdamil ummahat, tentang birrul walidain, sehingga saya tidak risau-risau amat selama menua karena merasa diberi tempat yang mulia dalam agama. Saya kira anda juga.


Catatan: * =J. Conrad Glass Jr.,Elizabeth S. Knott. ** = Lillian Dangott

AMING MAU PULANG ENAM BULAN LAGI

AMING MAU PULANG ENAM BULAN LAGI

Oleh: Jum’an

Kapan-kapan akan saya tanyakan kepada Aris apakah Aming sudah pulang atau belum. Kata orang dia mau pulang enam bulan lagi. Aming adalah pengawas bengkel mobil kepunyaan pamannya dekat PatungTani Menteng, sedangkan Aris adalah salah seorang tukang disitu.

Selain sebagai pelanggan tetap, hubungan saya dengan Aming maupun Aris tidak lebih dari sekedar hubungan antar manusia, yang asalkan tidak berselisih, sudah cukup puas. Namanya pun baru saya ketahui minggu lalu dari Aris, sedangkan nama Aris saya ketahui dari kebiasaannya menyebut nama sebagai pengganti aku.

Aming sakit kangker hati, ketahuan sudah stadium empat. Sudah konsultasi dengan banyak dokter sampai ke Guangzhou tetapi kesimpulannya sama: umurnya tinggal sekitar enam bulan lagi. Sekarang ia tinggal dirumah saja, keputusan menyedihkan yang sudah diambilnya dengan penuh pertimbangan.

Dapatkah anda membayangkan apa yang akan dialami Aming selama enam bulan menjelang ajalnya? Hanya Aming yang akan tahu. Kita sendiri kalau mendengar sisa hidup kita hanya tinggal enam bulan, entah bagaimana rasanya dan entah apa yang akan kita lakukan selanjutnya.

Aming adalah orang awam, seperti saya juga. Dan mati, bagi orang awam adalah menakutkan. Bahkan membicarakannya saja dihindari karena dianggap mengundang. Kalau kita diam-diam semoga maut tidak menengok kearah kita. Kalau kita abaikan kematian, siapa tahau dia akan terlambat mendatangi kita.

Kangker hati, kangker paru-paru atau kangker apa saja yang tak terobati memang menakutkan, dokter hanya bisa mengurangi rasa sakitnya saja.

Alice, seorang ibu penderita kanker paru-paru yang sudah mendekati ajal, mengerang kesakitan setiap hari meskipun dokter telah mencoba semua jenis pain-killer dosis tingg untuk meredakan rasa sakitnya. Disaat-saat terakhir, dokternya baru mengetahui bahwa Alice merintih berkepanjangan menjelang ajal, bukan sekedar menahan sakit diparu-parunya. Tetapi juga pedih dihatinya, karena Ruth, anak tunggal kesayangannya mengabaikan nasehatnya untuk jangan menikah dengan seorang pria berandalan. ”Di saat dia mejadari kenyataan itu nanti, saya sudah tidak ada disampingnya. Saya memilih kesakitan, kecuali kalau Ruth mau mendengarkan nasehat saya”. Alice ingin meninggal dengan tenang.

Demikian pula saya kira Aming. Ulu-hatinya mual dan kesakitan oleh kangker sementara lubuk-hatinya sakit memikirkan anak isteri sepeningalnya nanti. Apapun agamanya, saya kira Aming juga bertanya-tanya dan mungkin risau tentang nasibnya di alam sana nanti.

Bolehkah saya katakan bahwa menjelang ajal, banyak tantangan yang harus dihadapi yang fisikal, psikologis dan spiritual. Pantaslah kalau orang takut.

Tidak mengguruikah kalau saya katakan bahwa keberagamaan kita mungkin harapan satu-satunya yang dapat membantu menghadapi tantangan menjelang dan sesudah kematian? Wallohu a’lam. Wallohu a’lam.

(Kisah Alice termuat dalam What Dying People Want tulisan David Kuhl M.D.)