Bulan: Januari 2010

BIARKAN SAYA BERSALAH

BIARKAN SAYA BERSALAH

Oleh: Jum’an

Saya pernah menulis tentang malas sebagai vitamin panjang umur dan betapa bermanfaatnya tidur siang. Kalau saya sekarang menulis tentang kebaikan untuk memperbuat kesalahan, saya khawatir dicoret dari member IUA karena tuduhan menyebarkan pemikiran kontra produktif. Tetapi gatal rasanya kalau tidak saya teruskan. Apalagi ini bukan menyangkut kesalahan fatal yang disengaja dan berdampak menggegerkan seperti keputusan membail-out Bank Century.

Kalau 2 dari 10 nilai raport anak kita merah dan selebihnya bagus, kita akan terus menerus mengingat kedua angka merah itu daripada angka-angka yang lain. Matematika dan bahasa Inggris merah! Begitu terukir dibenak kita. Yang salah memang lebih mudah diingat daripada yang baik. Pokoknya Pak Harto diktator dan SBY gurita. Padahal barangkali mereka banyak berjasa, tapi tidak usah diingat-ingatlah. Kalau memang mereka berjasa, itu kan sudah kewajiban dan tanggung jawab mereka.

Kitapun jangan-jangan dikenang oleh komunitas kita sebagai orang yang suka menguasai pembicaraan, suka menonjolkan diri, suka ngeles bayar kalu makan bersama di warung atau yang kalau pinjam mobil tak pernah mau mengisi bensin. Bukankah jauh dilubuk hati memang ada sedikit kenikmatan untuk mengingat kesalahan orang?

Otak kita memang lebih cermat mengingat sesuatu yang menyangkut kesalahan daripada hal-hal yang lain dan kata sebagian ahli itu merupakan salah satu dari mekanisme penyelamatan diri yang dimiliki setiap manusia. Bila seseorang merasa geram dan dipermalukan karena salah menjawab dalam suatu meeting misalnya, saat itu juga otaknya mengukir ingatan dengan cermat dan rinci untuk melindungi orang itu diwaktu yang akan datang.

Suatu penelitian Experimental Psychology membuktikan bahwa responden yang diberi kesempatan untuk mencoba menjawab suatu pertanyaan lalu ditunjukkan jawaban yang benar, lebih ingat dibanding yang langsung ditunjukkan jawaban yang benar, kalau ditanya lagi nanti. Artinya sesudah melakukan kesalahan kita akan lebih memahami persoalan yang sebenarnya.

Sekali saja memergoki (mungkin kebetulan) teman kita berselingkuh, seumur hidup tidak akan lupa. Padahal jasa istri anda yang sangat besar, ikut prihatin dan solat tahajjud demi karir dan jabatan anda tidak mampu bertahan sampai setahun dalam ingatan.

Kecenderungan manusia yang lebih mengingat kesalahan daripada kebaikan orang lain meskipun berguna sebagai mekanisme penyelamatan diri, sekaligus juga merupakan cacat manusia. Yang nafsunya condong kearah kejahatan. La ammarotun bissu’ – kata surat Yusuf ayat 53.

TUHANPUN TAK KAN SANGGUP

TUHANPUN TAK KAN SANGGUP

Oleh: Jum’an

R.M.S. TITANIC adalah kapal pesiar terbesar, termegah dan termewah pada kurunnya yaitu pada awal Perang Dunia Pertama. Kapal milik White Star Line ini dibangun dengan teknologi paling mutakhir saat itu di galangan kapal Belfast di Irlandia. Kapal ini dirancang anti karam, oleh terjangan ombak setinggi apapun. “Titanic tidak mungkin karam. Tuhan sekalipun tak kan sanggup menenggelamkannya”. (Even God Himself can’t sink this ship). Begitu sesumbar headline beberapa koran waktu pelayaran perdananya. Oleh karena itu sekoci penyelamat sengaja dibuat tidak banyak.Tetapi pada tengah malam 14 April 1912 Titanic menabrak gunung es di samudra Atlantic dan kandas kedasar laut pagi harinya, dalam pelayaran dari Shouthampton Inggris menuju New York. 1,517 orang tewas tenggelam.

Konon saat-saat terakhir tenggelamnya kapal Titanic diwarnai oleh kisah-kisah heroik dan pengabdian yang luar biasa. Seperti awak kapal yang mati-matian menolong para penumpang masuk sekoci, kru kamar mesin yang tetap bekerja keras agar mesin berjalan terus dan penerangan tetap menyala, Semuanya menghadapi maut dengan heroik, disiplin serta pengabdian total. Yang paling menggetarkan hati adalah rombongan orkes yang tidak beranjak dan bermain terus untuk menenangkan hati penumpang, sampai pada akhirnya kedelapan pemain orkes itu semuanya tewas. Padahal mereka adalah rombongan orkes sewaan dan bukan karyawan kapal, bersatus penumpang yang tidak harus ikut repot. Tubuh Wallace Hartley diketemukan 2 minggu kemudian masih lengkap dengan seragam pemimpin orkesnya dan kemudian dimakamkan di Lancashire Inggris dengan diiringi lebih dari 30 ribu pelayat.

Benarkah dan mengapa demikian? Titanic adalah kapal pesiar mewah anti karam konsumsi kelas atas, para tajirin yang serba lebih. Sedangkan para awak yang mengoperasikannya dapat dikatakan adalah kaum masakin. Tetapi dalam keadaan gawat dan darurat seperti itu mereka terus memberikan jalan dan melayani orang-orang kaya itu dengan mepertaruhkan nyawa. Sepantasnya semua orang akan berebut sekoci yang terbatas itu untuk mnyelamatkan diri. Untuk apa lagi memberikan keistimewaan pada orang kaya kalau maut sudah menghadang. Mengapa harus mendahulukan orang tua yang sisa hidupnya tinggal beberapa tahun. Kru kamar mesin lebih bodoh lagi: kepanasan terkurung di dek bawah dan mengorbankan nyawa hanya agar orang kaya tidak kegelapan. Para awak kapal yang sangat tahu bahaya sudah didepan mata, tetap saja menyelamatkan orang-orang kaya bukan diri sendiri. Dan yang paling konyol adalah para pemain orkes itu: demi profesi musisi yang mereka miliki, menghibur orang lebih penting daripada menyelamatkan diri. Alangkah absurdnya…

Mungkinkah kebiasaan dan tradisi pembagian kelas sosial yang begitu mengakar telah mengekang orang dari kebebasan? Sampai-sampai orang tidak berani berebut meskipun maut sudah didepan mata. Lebih baik tetap sebagai musisi dan mati daripada selamat dengan melanggar adat. Musisi sampai mati.

Sementara penumpang kelas satu dengan mudah menyelamatkan diri, awak kapal dan penumpang biasa hanya mempunyai satu pilihan yaitu mati terbenam. Bukti memang menunjukkan bahwa korban yang selamat kebanyakan mereka kaum tajirin. Itulah pesan dari tragedi kapal Titanic. Bila ”kapal besar apapun” bertabrakan dengan ”gunug es apapun” rakyat miskin selalu menjadi korban paling parah.

Adapun pesan ilahiah karamnya kapal Titanic adalah: Itulah jawaban langsung terhadap sesumbar mereka: Even God cannot sink this ship……….

NURI BISA MATI KARENA SEPI

NURI BISA MATI KARENA SEPI

Oleh: Jum’an

Kita sering dikatakan orang sebagai makhluk sosial artinya kita saling tergantung dengan orang lain. Kita membutuhkan mereka untuk bertahan hidup. Orang lainlah yang menjadi pembanding untuk menilai segala sesuatu. Anda unggul dibanding orang lain yang biasa-biasa saja. Anda anda cantik dibanding teman anda yang buruk rupa karena sumbing. Anda kaya berumah mewah dibanding saya miskin berumah gubuk. Semuanya relatif. Kita adalah bagian dari umat, anggota suatu suku atau member suatu club. Dari merekalah kita memperoleh harga diri dan identitas.

Jangan mengasingkan diri karena menyalahi kodrat dan bukan tidak berbahaya. Anda akan kesepian dan kehilangan identitas karena tidak ada pembanding, lalu sedih dan frustrasi, stress, imunitas tubuh menurun, mudah terserang penyakit dan bukan tidak mungkin berujung pada kematian. Kesepian berada didalam hati, bermula dari perasaan diabaikan dan tidak diterima meskipun sehari-hari berada bersama orang ramai.

Waktu saya ketik “mati kesepian”, mesin pencari Google memberikan banyak sekali informasi tentang kematian karena kesepian. Dari seorang tua di desa Grobogan Jawa Tengah sampai remaja Hongkong dan top model dari Korea. Tidak kalah banyaknya berita yang ditampilkan waktu saya ketik “bunuh diri karena kesepian”. Ini menunjukkan bahwa kesepian bisa membawa maut dan sekaligus merupakan penyebab bunuh diri yang dominan.

Banyak orang tua yang tidak lama bertahan hidup, lalu menyusul isterinya yang belum setahun meninggal. Keyungyun kata orang Jawa. Rasanya hidup tidak ada artinya lagi karena terlalu sepi. Ibarat tanaman iapun mulai layu dan tidak lama lalu mengering. Tahukah anda bahwa seekor burung nuri akan terkulai dan mati dalam sangkar yang cukup pakan dan air, hanya karena ditinggal dirumah kosong beberapa lama? Burung nuripun tidak sanggup menahan kesepian; tidak mendengar suara dan tidak melihat kehidupan disekitarnya.

Kesepian akibat perasaan tersisih dan tidak diterima memang menyedihkan. Tetapi kalau kita tergugah untuk menghadapinya, mungkin lain jadinya. Bukankah identitas kita yang hilang itu – tidak tampan, tidak unggul dan miskin- adalah identitas palsu? Semua hanya merupakan perbandingan antara kita dengan orang lain. Kehilangan identitas palsu adalah suatu permulaan yang baik. Saatnya kita melihat jati diri kita yang nyata. Kita memang sendirian tetapi tidak lagi kesepian.

Dalam kesendirian kita bebas mengembangkan imajinasi, meredakan luka hati, meningkatkan kesadaran dan bertafakur, mencermati pernilaian orang terhadap kita. Mengatur rencana dan membuat skala prioritas. Sangat banyak yang dapat kita hasilkan tanpa gangguan.

Menyendirilah sewaktu-waktu. Karena kelak kita toh akan dibangkitkan dengan tanggung jawab sendiri-sendiri, tidak ada tolong- menolong antara bapak dan anak sekalipun. (Surah Luqman) Aduh, menakutkan juga…..

RANGKUL SAYA PAK…

RANGKUL SAYA PAK…

Oleh: Jum’an

Banyak rangkaian peristiwa dalam hidup ini yang kita lewatkan begitu saja. Tanpa kita renungkan kesan dan pesannya. Tidak kita baca maknanya dan tidak pernah kita beri arti. Seperti dagang yang terus menerus merugi, sulit bertemu pria atau gadis idaman ataupun memperoleh keberuntungan yang tak disangka-sangka. Kalau mimpi yang khayal kita cari-cari takwilnya, kenapa peristiwa-peristiwa yang nyata tidak kita rangkai dan coba membaca artinya.

Kalau rangkain peristiwa yang saya alami pada hari Senin awal bulan ini tidak saya beri arti, hari itu pasti sudah berlalu sebagai salah satu hari sial belaka.

Pada saat meeting mingguan baru dimulai, pandangan saya terasa kabur, kepala terasa seperti berputar dan rasa badan tidak jelas disertai keringat dingin. Tanpa minta izin, saya keluar ruangan dan kembali kemeja kerja sambil mengajak seorang office-boy untuk menemani. Takut kalau-kalau pingsan tidak ketahuan. Seperempat jam kaki dan tengkuk saya dipijatnya tetapi kesadaran saya tidak bertambah fokus bahkan mulai timbul rasa gelisah dan panik. Saya minta tolong dipanggilkan seorang sopir yang tahu rumah saya untuk mengantarkan pulang. Dengan sempoyongan saya pegang tangan sopir itu berjalan menuju kemobil.

Dia berkata: ”Rangkul saya Pak”, maksudnya agar saya merangkulnya dan tidak terjatuh. Benar sekali. Dengan merangkulnya saya berjalan lebih stabil dipapah dan direbahkan di jok belakang. Diperjalanan, sementara saya mengatur nafas agar tidak pingsan (begitu harapan saya), sambil mengemudi dia menguhubungi rumah untuk menyampaikan bahwa saya sakit dan sedang dibawa pulang.

Sesampai disana sudah siap mba Yati yang dalam waktu satu jam memulihkan kebugaran saya dengan mengurut kaki, punggung dan pundak saya. ” Bapak kurang tidur dan tidak sarapan ya pak”. Mbak Yati adalah tukang urut dari Kebon Pala yang dipercayai punya healing-power turunan dari ibu dan neneknya. Tebakannya tepat, penyembuhannya instan. Sayapun kembali utuh seperti saya yang kemarin-kemarin.

Dalam organization chart perusahaan, kotak nama saya terletak agak diatas. Maklum sudah tahunan ”mengabdi”. Office-boy, sopir, mana ada kotaknya. Mereka ada dikelompok paling bawah. Gaji sayapun berlipat-lipat dari mereka.

Dan mba Yati, dia mengontrak rumah bedeng di gang kecil. Entah kapan bisa punya rumah sendiri. Tetapi hari ini, merekalah juru selamat saya. Merekalah yang mengurus, menuntun dan memapah serta menghilangkan penderitaan saya. Tanpa lewat tangan mereka mungkin saya sudah terkapar pingsan atau bahkan bablas tewas.

Hari ini saya memperoleh pelajaran bahwa kita membutuhkan ”mereka” yang tidak punya tempat dalam bagan organisasi dan tidak punya rumah hak milik.

Kelak kita : saya dan anda, juga akan diurus oleh para penggali kubur yang rata-rata miskin.

”Rangkul saya Pak..” Ya kita harus merangkul mereka. Dengan tulus dan ikhlas.

LEBIH BAIK TIDAK BERAGAMA?

LEBIH BAIK TIDAK BERAGAMA?

Oleh: Jum’an

Karena tidak ada contoh kasus dari kalangan sendiri yang saya ketahui dengan jelas, biarlah kisah suami istri Tillmon dan Ada Webb dari Amerika ini saya ambil sebagai cerminan. Tillmon kebetulan mempunyai tubuh yang ekstra tambun. Dia miskin, kurang berpendidikan dan relijius. Suatu kali Tillmon mengalami luka dibagian lututnya. Dia mau berobat kedokter tetapi ia batalkan karena harus membayar 300 dolar dimuka. Iapun memilih tinggal dirumah didampingi isterinya yang setia dan menggunakan hari-harinya untuk berkonsentrasi membaca bibel.

Ia yakin iman dan kesabarannya akan menyembuhkan penyakitnya. Ia melarang isterinya minta bantuan orang lain dan hanya berdoa menunggu ”Job miracle” yang dalam istilah kita disebut mukjizat Nabi Ayub. Dalam Alqur’an disebutkan bahwa Nabi Ayub adalah seorang yang sangat penyabar dan sebaik-baik hamba, dan karena itu Alloh mengabulkan doanya dan menyembuhkan penyakitnya. Sepengetahuan saya tidak disebut-sebut tentang jenis penyakit yang beliau derita. Tetapi kisah-kisah dari sumber lain menceritakan bahwa beliau menderita sakit yang sangat parah sehingga ulat-ulat berkerumun memakan kulitnya. Dari kesabaran yang luar biasa dalam menerima cobaan, diceritakan bahwa bila ada ulat yang jatuh maka dipungutnya dan dikembalikan ketubuhnya lagi.

Ketika delapan bulan kemudian Tillmon Webb meninggal, isterinya ditanya apakah dia menyesali sikap suaminya yang aneh itu. Dia menjawab: Tidak. Satu-satunya yang saya sesali kenapa dia pergi lebih dulu tanpa mengajak saya.

Cara hidup yang mengerikan, menyedihkan dan sia-sia, kata orang. Yang lain berkata: Kisah palsu macam apa sampai membuat orang percaya bahwa menderita itu baik. Bahwa ketika hidup menjadi berantakan karena kesalahan sendiri, lalu diakui dan diterimanya dengan senang hati sebagai bukti kecintaan Tuhan. Yang lebih buruk, kisah ini bukan hanya membuat orang seperti ini aneh, tetapi mendorong orang menjadi pasif dan makin banyak yang berfikir bahwa menderita adalah soleh.

Rasanya banyak orang-orang sejenis Tillmon dan Ada Webb dikalangan kita. Saya tidak ingin menyalahkan atau bahkan mengutuk mereka. Hanya saja mereka membuat saya berfikir (astaghfirulloh): kalau begitu lebih baik tidak usah beragama. Tanpa agama, kemiskinan jelas kita anggap sebagai musuh yang harus kita lawan. Kalau perlu kita jadi kuli pelabuhan atau transmigrasi bedol desa atau menjadi TKI di Hongkong. Demi kehidupan yang lebih baik, lebih makmur dan lebih sehat. Tentu saja tidak perlu sampai segitunya.

Sanya hanya ingin menunjukkan bahwa kesalahan persepsi atau sikap dalam beragama bisa menimbulkan akibat seperti yang dialami Tillmon dan Ada, yang tidak seharusnya terjadi. Mungkin diantara penyebabnya adalah sama seperti yang dialami oleh mereka berdua yaitu kemiskinan dan kebodohan. Sehingga cara beragamanya fatal.

AIR MATA CHUCK NORRIS

AIR MATA CHUCK NORRIS

Oleh: Jum’an

Air mata Chuck Norris dapat menyembuhkan kanker. Sayangnya dia tidak pernah menangis. Dia juga bisa berjalan diatas air karena air takut membasahi Chuck Norris. Kalau push up dia bukan mengangkat badannya keatas, tetapi menekan bumi kebawah. Chuck Norris juga bisa bersin dengan mata terbuka….

Begitu fans yang tergila-gila menggambarkannya. Memang, siapa yang tidak terpesona oleh bintang laga yang tampan dan maskulin dengan potongan rambut dan brewok yang seksi itu. Texas Ranger. Pantaslah.

Daya tarik lahiriah memang bagian dari gairah hidup yang tidak bisa diingkari. Bukankah Alloh yang memberikan bulu indah kepada merak jantan untuk menarik lawan jenisnya? Bukankah senyum keibuan, mata sayu dan pinggang ramping merupakan andil penting sampai anda mengikatnya menjadi pasangan abadi? Sampai anda punya anak, timbul gairah baru melihat makhluk kecil tidur nyenyak sementara bibirnya sekali-sekali bergerak seperti mengajak senyum.

Hanya saja waktu kita terpesona oleh keindahan lahiriah seseorang, kita cenderung melihat dengan sebelah mata atau bahkan mengabaikan daya tarik lainnya. Yaitu inner beauty atau akhlaqul karimah. Belakangan setelah setahun menikah baru disadari bahwa sijelita suka fitnah dan siganteng bakhil.

Tentang Chuck Norris, saya memang menikmati rasa berdebar-debar selama dua jam menyaksikan film actionnya. Dua jam lagi dengan Rambo, tengah malam Dirty Harry. Hitung-hitung cukup banyaklah waktu yang saya habiskan untuk mereka. Pertanyaanya adalah dibagian mana dikepala saya ini letak ruangan untuk figur-figur penting yang lain dan berapa porsi waktu yang telah saya sediakan untuk mereka. Apakah untuk Sayyidina Abubakar Siddik sudah saya sediakan kamar dan untuk berapa lama. Sebelum itu, untuk Mustofa Habibillah haruslah saya sediakan kamar yang lebih luas dan lebih permanen.

Memang tidak pada tempatnya mehubung-hubungkan nama-nama itu dengan Chuck Norris. Tetapi karena semua tertampung dikepala saya yang hanya satu dan waktu saya yang hanya 6 jam (yaitu 24 jam dipotong untuk ngantor tidur dan makan dll 18 jam), pasti semua saling tumpang tindih tidak karuan.

Kalau kita susun jurnal setahun alokasi penggunaan waktu dan kita membacanya dengan kacamata ”kebenaran”, kesimpulannya pasti ternyata kita adalah insan yang merugi. Bagaimana tidak. Berjam-jam di internet, pindah ke TV lalu menyumbat telinga dengan earphone mendengarkan musik. Kapan dzikirnya, mana tuma’ninahnya dan kapan tahajjudnya. Setidak-tidaknya itulah kira-kira potret buram diri saya.

Demi waktu. Sebenarnya semua insan merugi. Kecuali yang beriman dan beramal saleh. Dan saling mengingatkan kebenaran dan kesabaran. Sodaqolloh.

TERNYATA DERMAWAN ADA HORMON-NYA

TERNYATA DERMAWAN ADA HORMON-NYA

Oleh: Jum’an

Gerakan koin peduli Prita sungguh fenomenal. Mengajak khalayak ramai mengumpulkan uang recehan 250 juta? Mana mungkin. Tetapi nyatanya dalam waktu singkat terkumpul bukan 250 tetapi 650 juta lebih. Rasa simpati dan peduli, kebersamaan dan kedermawanan seperti tiba-tiba serempak bersatu melawan ketidak-adilan. Salut bagi pemrakarsa, peyumbang, pengumpul dan penghitung dalam GKPP itu dan selamat untuk ibu Prita.

Apakah sifat dermawan baik dermawan uang, tenaga maupun pikiran merupakan bawaan lahir seseorang? Atau dari mata turun kehati seperti cinta. Apakah orang enggan berderma karena tak kenal maka tak sayang, atau memang bawaan urat bakhil dari sononye?

Ketika saya mencoba-coba mencari blog dan artikel tentang kedermawanan (generosity) ternyata ramai orang membicarakannya didunia maya sana. Yang paling menarik bagi saya adalah penelitian Paul Zak dari Claremont University tentang asal muasal biolgis dari sifat dermawan, terutama tentang peranan hormon perangsang syaraf yang disebut oxytocin (oksitosin). Hasil penelitian itu membuktikan bahwa hormon ini merupakan sebagian penyebab kedermawanan seseorang dengan membuka fikiran kita menjadi lebih terhubung dan memahami dalam membaca keadaan orang lain.

Di Laboratorium Pusat Kajian Neuroeconomist Claremont, Paul Zak dan teamnya mengadakan ekperimen kognitif tentang kedermawanaan. Sekelompok orang, sebagian dirangsang dengan hormon oksitosin buatan melaui semprot hidung (nasal spray) dan sisanya dengan oksitosin palsu (placebo). Kepada masing-masing dijanjikan uang sejumlah uang dengan himbauan agar sebagian didermakan kepada orang dari kelompok lain. Terbukti orang-orang yang telah dirangsang dengan oksitosin, mendermakan 80 persen lebih banyak dibanding mereka yang hanya menghirup placebo.

Hormon oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar pituitary yang terletak dibawah otak, beukuran sebesar biji kedelai. Hormon ini masuk kedalam aliran darah melalui ujung-ujung syaraf. Menurut Shelley Taylor profesor psykologi Universitas California, ada ekfek timbal balik antara kadar oksitosin dalam tubuh kita dengan effek yang ditimbulkannya. Kira-kira begini masksudnya: Kalau kelenjar kita mengeluarkan hormon oksitosin, fikiran kita terbuka dan lebih memahami keadaan orang lain, sehingga diantaranya, kita menjadi rela menderma. Demikian pula bila kita berderma sepenuh hati lillahi ta’ala tanpa mengharap imbalan, akan merangsang kelenjar kita mengeluarkan hormon oksitosin.

Aliran hormon ini, selain menjadikan kita peduli dan dermawan seperti diatas, sekaligus menurunkan tekanan darah, menghilangkan stress dan melambungkan daya tahan tubuh kita. Canggih benar hormon dermawan ini. Katalisator silaturahmi, pembangkit ukhuwah.

Sekarang saya agak faham kalau ada orang tua berkata: Sedekahlah untuk anak yatim, moga-moga penyakitmu lekas sembuh. Rajin-rajinlah berjama’ah dan jagalah silaturahmi agar rejekimu tidak putus. Santunilah fakir miskin.

You Give, You Get ….makin dermawan makin makmur.


Catatan: Referensi sengaja tidak saya cantumkan karena bukan tulisan ilmiah. Kalau anda menggugel Oxytocin digabung dengan Paul Zak, atau Generosity, atau Oprah Magazine bahkan ”Oxytocin and Islam”, anda bakal ketemu banyak.