Bulan: Desember 2012

PELECEHAN VERBAL

picture-man-verbally-abusiveHINDARI PELECEHAN VERBAL

Oleh: Jum’an

Saya jarang sekali berhasil membujuk teman untuk membaca sebuah buku yang menurut saya sangat menarik, meskipun sudah saya ceritakan isinya, saya pinjami bahkan saya berikan buku itu kepadanya. Entah mengapa tetapi kata-kata saya tidak mampu untuk meyakinkan pikiran mereka. Keterangan saya kurang jelas, kurang menarik atau kurang dramatis mungkin. Kecuali, mungkin, anjuran agar saudara kita berhenti merokok yang kita sampaikan dalam suasana nafas kita kembang kempis diruang gawat darurat, sambil menunjukkan potret paru-paru kita yang penuh bercak-bercak noda. Munkin mereka akan tergerak untuk mentaati. Anda juga tidak akan menghentikan kebiasaan membentak-bentak pelayan anda, kalau hanya saya yang mengatakan bahwa kata-kata kasar dapat memicu orang untuk bunuh diri atau bahkan membunuh anda. Bahwa pelecehan verbal merupakan benih kekerasan fisik dan ancaman penyakit. Dan bahwa kejahatan mulut itu merupakan wabah tersembunyi dalam masyarakat. Anda mungkin menganggapnya sekedar nasehat normatif belaka. Perlu dukungan bukti dan keterlibatan pribadi agar nasehat kita berbobot dan berkesan, seperti uang kertas yang hanya bernilai bila ada cadangan emas yang mendukungnya.

Bahaya pelecehan verbal diatas berasal dari desertasi Alice Carleton yang berjudul: Societys Hidden Pandemic: Verbal Abuse, Precursor to Physical Violence and  a Form of Biochemical Assault . Alice yang lahir dalam lingkungan keluarga miskin sejak kanak-kanak hingga dewasa tidak pernah bebas dari caci-maki ibunya yang kasar dan judes. Dilanjutkan dengan 31 tahun sumpah-serapah dari suami yang ringan tangan dan bermulut kotor. Ia merasa tergugah ketika membaca buku Patricia Evans tentang bahaya pelecehan verbal. Menurut Alice buku itu telah menyelamatkan jiwa dan hidupnya. Caci-maki dan sumpah-serapah seperti yang dirasakannya selama puluhan tahun itu ternyata mempunyai dampak destruktif yang sangat berbahaya yang dikatagorikan sebagai pembunuhan jiwa. Selama 15 tahun sejak itu, ia memfokuskan diri untuk menemukan jawaban tentang penderitaannya dan giat mengadakan penelitian dengan masukan dari para ahli dibidangnya, menulis serta berbicara untuk menyadarkan orang lain tentang pembunuhan yang menghancurkan jiwa itu. Ia mendapatkan gelar Master dengan judul desertasi diatas. Ia sekarang berumur 66 tahun dan menjadi ahli kesehatan mayarakat yang terkenal dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Desertasinya dianggap istimewa bukan hanya karena penelitian akademisnya tetapi pengalaman pribadinya yang menjadi inspirasi untuk mendalami dan menulis tentang pelecehan verbal- karena ia mengalaminya sendiri baik sebagai anak-anak maupun sebagai orang dewasa.

Kalimat yang melecehkan adalah ucapan yang berusaha melemahkan seseorang, kata-kata yang tidak benar tentang kita seperti “kamu bodoh, kamu gila, kamu salah dll.” Ucapan yang mencoba memberi definisi lain tentang seseorang – suatu yang menurut Alice melanggar hak asasi manusia. Kata-kata seperti itu sudah banyak kita kenal tetapi pelecehan bisa begitu tersamar, tak sadar waktu kita mendengarnya. Teknik yang digunakan dalam kamp-kamp tahanan tidak berbeda dengan cara seorang ibu rumah tangga membodoh-bodohkan pembantunya, atau bahkan anaknya. Meremehkan, mengabaikan, menuduh, menyembunyikan, menolak, mengalihkan, melupakan, memerintah, merintagi. Semua kita pernah merasakan suatu waktu. Tetapi caci maki yang berkelajutan dalam hubungan peroangan tertutama terhadap seorang anak, sangat merusak yang mungkin perlu waktu hampir seumur hidup untuk dapat pulih kembali. Pelecehan verbal sering dirasakan lebih melukai dari kekerasan fisik karena menyentuh bagian terdalam seseorang.

Banyak dampak buruk dari pelecehan lisan baik psikologis maupun fisik. Meningkatnya kadar kolesterol dalam darah, kerusakan sistim imunitas tubuh, gangguan penyakit kulit dan pencernaan, mati-rasa, frustrasi, mengucilkan diri sampai keinginan untuk bunuh diri. Anda mungkin pernah membaca tentang kuli bangunan yang mencincang mandor atau majikannya sampai mati karena terus menerus dilecehkan. Itulah contoh riil dari kekerasan fisik bila orang tidak bisa menjaga mulut. Pada tingkat ekstrim kejahatan lisan dapat mengakibatkan trauma berkepanjangan seperti yang diderita oleh wanita korban pemerkosaan atau korban bencana alam yang menelan harta dan anggota keluarga. Bukti penelitan Alice Carleton menunjukkan bahwa sumpah serapah dan caci maki yang terus menerus merusak fikiran, jiwa dan tubuh seseorang, lebih-lebih pada anak-anak. Ucapan “Menyesal saya melahirkan kamu!” dari seorang ibu sangatlah destruktif karena secara psikologis meniadakan keberadaan sang anak dan dirasakan sebagai serangan yang fatal.

Ucapan yang baik dan pememberian maaf lebih baik dari pemberian yang diikuti dengan perkataan yang melukai perasaan. Yang ini ayat Qur’an (S2:263). Mari kita jaga mulut, hindari pelecehan verbal!

REVOLUSI JILBAB AMERIKA

LEILA AHMED Oleh: Jum’an

Anda mungkin pernah membaca tulisan saya “BAGAIMANA RASANYA TIDAK PAKAI JILBAB“  tentang pengalaman Nadia El-Awady, ibu 4 anak dari Kairo, President World Federation of Science Journalist ketika dia mencoba untuk tampil tanpa jilbab didepan umum yang sudah dikenakannya selama 25 tahun. Ia berfikir mengapa memakai jilbab dianggap wajib. Apakah benar-benar wajib atau hanya keputusan sekelompok laki-laki yang menganggap paling sesuai pada zaman itu untuk melindungi kaum wanita? Apa harus sama sampai sekarang? Berikut ini satu lagi topik mengenai jilbab dari aspek yang sangat berbeda yang kebetulan melibatkan seorang wanita asal Kairo juga yaitu Leila Ahmad (72 th.) professor Harvard, pakar theology dengan minat kuhusus dalam bidang feminisme Islam. Ia akan menerima penghargaan Grawemeyer Award untuk bidang Agama 2013 dari Universitas Louisville berkat bukunya “Revolusi Damai: Kebangkitan Jilbab, dari Timur Tengah sampai Amerika”. (A Quiet Revolution: The Veil’s Resurgence in…)

Ia dianggap berjasa untuk ide-ide yang dituangkan dalam bukunya itu. Ia bukan saja berhasil menjelaskan berbagai makna jilbab dalam tradisi Islam yang beragam, tetapi yang paling penting analisanya bahwa terutama di Amerika sesudah peristiwa serangan WTC 11 Sept. 2001, jilbab membawa makna baru dalam interaksi antara gerakan Islam dan tradisi Amerika dalam perjuangan untuk kebebasan dan keadilan. Profesor Shannon pada pemberian penghargaan itu mengatakan: “Buku itu merupakan pembuka mata yang luar biasa  yang memberikan pendidikan, wawasan dan harapan.” Dimasa muda Leila di Mesir wanita yang mengenakan jilbab menunjukkan atau dianggap bahwa mereka adalah muslimah yang taat. Dia ingin tahu mengapa jilbab kembali mengalami masa jaya sekarang. Leila Amad mengamati bahwa dalam 10 tahun terakhir ini, semakin banyak wanita Islam di Amerika yang sehari-hari mengenakan jilbab. Pada mulanya ia menyangka bahwa ini ada hubungannya dengan gerakan Islam fundamentalis, atau penolakan terhadap kesetaraan gender dari pengaruh dominasi kaum pria dalam dunia Islam (yang ia sebut sebagai Islam Patriarkal). Tetapi dalam penelitiannya ia menemukan fakta yang sebaliknya yaitu sebagian mereka mengenakan jilbab sebagai symbol gerakan untuk perubahan sosial dan keadilan.

Setelah mewawancarai banyak wanita Islam dari berbagai latar belakang diseluruh dunia ( para feminis, nasionalis Arab, putri-putri Islam yang saleh dan para aktivis) ia mengungkapkan bahwa banyak dari mereka mengenakan jilbab sebagai symbol suatu gerakan dan untuk menegaskan identitas mereka, terutama di Amerika setelah 11 September 2001. Dengan jilbab mereka ingin mengatakan “Saya bangga menjadi Muslim dan saya ingin menunjukkan kepada anda, anda tidak usah berprasangka buruk terhadap orang Islam”. Sebagian lain berharap jilbab mereka akan membuat wanita lain berpipikir tentang gaya berpakaian mereka sendiri serta sebagai bukti keadilan sosial dan pengabdian. Sementara aktivisme sering memotivasi wanita untuk mengenakan jilbab, komitmen agama tetap menjadi alasan penting juga. “Banyak wanita mengenakan jilbab karena mereka percaya bahwa Allah menghendaki demikian” kata Leila Ahmed. Ia berpendapat bahwa dalam konteks Islam di Amerika masa kini, memakai jilbab jutru dapat menandakan tuntutan kesetaraan.

Sebelum pindah ke Amerika sebagai pengajar dan penulis, Leila yang kelahiran Kairo 1940 memperoleh gelar Doktornya dari Universita Cambridge Inggris.  Ia memfokuskan diri pada femisnisme Islam, terkenal karena karyanya tentang status historis dan sosial wanita dalam komunitas muslim. Ia khusus meneliti peran wanita dalam kaitannya dengan Islam, dan giat memerangi anggapan yang salah tentang wanita Islam baik didalam maupun diluar dunia Islam. Dalam hampir semua tulisannya ia berusaha untuk menghilangkan mitos serta kesalah-fahaman tentang Islam yang dipegang oleh orang-orang non muslim. (Anda dapat menlihat video diskusi tentang buku Leila Ahmed disini.)

DASAR LAKI-LAKI POLIGAM..!

polygamy_cartoon

DASAR LAKI-LAKI POLIGAM..!

Oleh: Jum’an

Anda pasti setuju bahwa hampir semua wanita Indonesia bahkan semua wanita di dunia tidak pernah punya keinginan untuk memiliki suami lebih dari satu orang secara bersamaan. Sebaliknya mayoritas kaum pria berkeinginan untuk menikahi banyak wanita; kalau mampu, kalau berani, kalau dibolehkan dan kalau pihak wanitanya mau. Orang Barat yang umumnya beragama Kristen meskipun bersikukuh mempertahankan budaya monogami dan menunjukkan kebencian terhadap perilaku poligami tetapi mudah diduga bahwa sikap mereka sebenarnya mendua, “benci tapi rindu”. Banyak dari mereka yang kaya dan berpengaruh, para selebriti dan bahkan laki-laki awam dengan berbagai macam cara berusaha menerobos rambu-rambu yang mereka pasang sendiri untuk dapat menjalin hubungan lebih dari satu wanita. Dalam tulisannya “Are People Naturally Polygamous” Dr. Michael Price, dosen psikologi dari Universitas Brunel, London memberikan sederet contoh praktek poligami (yang ia sebut sebagai poligami de facto) yang terjadi di Amerika. Mengapa bangsa berbudaya modern dan pemuja kebebasan memilih sikap mendua yang menyulitkan warganya untuk memenuhi komitmen sosial  mereka? Menurut Price yang juga Direktur Pusat Kebudayaan dan Psikologi Evolusioner Brunel, penyebabnya tidak lain adalah karena mayoritas laki-laki pada dasarnya- secara alamiah memang bersifat poligam.

Dalam “Ehnographic Atlas Codebook”, dari 1.231 budaya yang ada didunia, 84.6% diklasifikasikan sebagai pelaku poligami, 15.1% monogami dan 0.3% poliandri. Sejak lebih dari seratus abad yang lalu ketika manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil (hunter-gatherer)  dan suku-suku diseluruh dunia secara historis telah mempraktekkan poligami. Meskipun demikian hanya sebagian kecil yang mampu melakukannya karena untuk menghidupi keluarga besar diperlukan kekayaan dan status tinggi. Sulitnya menimbun kekayaan pada zaman itu menyebabkan mereka yang malakukan poligami hanya mampu menikahi dua atau tiga istri saja. Baru setelah zaman peradaban pertanian skala besar beberapa ribu tahun yang lalu, orang mampu menimbun harta dalam jumlah besar, laki-laki yang mampu berlomba-lomba memiliki istri sebanyak-banyaknya. Begitu menurut Laura Betzig dalam bukunya Despotism and Differential Reproduction. Pola ini terjadi diseluruh dunia. Pikiran manusia modern, kata Michael Price, merupakan adaptasi dari leluhurnya yang berkembang dalam lingkungan poligami. Itulah sebabnya mengapa semangat  poligami tetap hidup dalam budaya Barat sekalipun, meski secara sosial mereka memilih pola monogamis.

Perkawinan poliandri (satu istri dengan lebih dari satu suami) tidak populer karena manfaat poligami bagi pria jauh lebih tinggi dari pada poliandri untuk wanita. Singkatnya dari segi memperoleh keturunan, pria jauh lebih beruntung dari pada wanita dengan memiliki banyak pasangan. Atau, kerugian dari sistim poliandri bagi laki-laki jauh lebih besar dibanding kerugian sistim poligami bagi wanita. Misalnya anda seorang suami kedua dalam perkawinan poliandri; bila istri milik bersama telah hamil oleh benih suami pertama, maka anda harus menunggu 9 bulan lebih sampai ia melahirkan anaknya sebelum anda memperoleh giliran untuk menanamkan benih anda. Tapi bagi seorang istri kedua dalam perkawinan poligami, meskipun istri-istri yang lain sedang hamil anda masih bisa hamil pada saat yang sama. Dan menjadi istri kedua dari seorang pria idaman yang kaya dan mumpuni mungkin menjadi pilihan yang lebih baik daripada menjadi satu-satunya istri dari suami yang kurang berkesan. “Mana ada wanita yang sudi memilih menjadi istri kesekian kalau masih bisa menjadi istri tunggal”? Tetapi kalau pria itu Donald Trump, Sultan Brunei atau Direktur PT. Sumber Rejeki? Nyatanya banyak perempuan didunia lebih memilih untuk melakukan hal itu.

Melihat sifat dasar laki-laki yang memang poligam, kalau saja orang Barat mau mengkaji Islam dengan rendah hati dan fikiran terbuka mereka akan menemukan jalan yang terbaik. Mereka pasti tidak menyangka bahwa Qur’an yang menekankan “…..dan bila kamu takut tidak bisa berbuat adil, maka satu istri lebih baik!” Disangkanya semua orang Islam dengan seenaknya beristri empat…….