Bulan: September 2009

KANAN DAN KIRI MEMANG BEDA

KANAN DAN KIRI MEMANG BEDA

Oleh: Jum’an

Tentu saja, dari dulu kanan dan kiri memang beda bahkan saling berlawanan. Kanan adalah arah kalau kita berjalan kebarat lalu berbelok keutara. Kiri adalah arah bila kita berjalan kebarat lalu berbelok ke selatan. Atau, kiri adalah letak tangan yang sepihak dengan jantung dan kanan adalah letak tangan yang sepihak dengan hati. Kecuali bagi bayangan anda dalam cermin. Kalau benar-benar ada orang seperti itu, jantungnya ada disebelah kanan. Anda menghadap kebarat, jantung anda disebelah selatan sedangkan bayangan anda dalam cermin menghadap ketimur tetapi jantungnya disebelah selatan juga.

Seorang tukang bubut dengan mudah memahami instruksi untuk membuat sebuah sekrup dengan ulir yang arah putarannya kekanan atau kekiri. Untuk melihat hasilnya keliru atau tidak, sesuaikan saja dengan pengertian kiri dan kanan seperti diatas.

Tetapi instruksi sederhana itu tidak mudah difahami oleh misalnya (ini fiksi) seorang tukang bubut dari planet Mars, yang utara- selatannya berbeda dengan bumi dan letak jantung tukang bubut itu belum tentu didada kiri seperti kita.

Ternyata tidak mudah membuat istilah yang bisa difahami secara universal – karena bahasa yang kita miliki memang sekedar bahasa manusia bumi.

Robert Frisch, ahli fisika atom dan Professor Filsafat dari Universitas Cambridge dapat menerangkan bagaimana memberi instruksi membuat sekrup ulir kanan yang mudah difahami oleh tukang bubut dari Mars itu.

Ilustrasi itu merupakan bagian dari komentarnya mengenai penemuan yang menggemparkan dari ahli fisika nuklir yang termasyhur Dr. Chien Shiung Wu (1912 – 1997) dari Columbia University.

Dalam eksperimennya ditahun 1957, wanita pemenang Nobel dan penerima 40 penghargaan ilmiah internasional ini mendapati bahwa elektron-elektron yang dipancarkan oleh zat radioaktif Cobalt 60 menyebar tidak sesuai dengan kaidah symetri hukum alam yang merupakan keyakinan dasar para ahli fisika saat itu. Dalam eksperimen itu Cobalt 60 diletakkan diantara dua kutub magnet yang sangat kuat. Elektron yang dipancarkan, pada suhu super-dingin, bukannya meyebar kesemua arah sebagaimana seharusnya, tetapi justru menuju kesatu arah yaitu kekutub utara magnet.

Para fisikawanpun tercengang dan tidak menduga hal itu bisa terjadi dan secara serentak mengumandangkan adzan: ”Ini kitab suci baru, ini sabda baru. Bagaimana dengan kitab suci kita yang lama………….. kita tinggalkan?”

Dr. Chien Shiung Wu atau Madame Wu atau “First Lady of Physics” atau “Madame Curie of China” telah membuktikan bahwa alam ternyata tidak tunduk kepada akal sehat . Intuisi para fiskawanpun tergoncang menhadapi dilemma seperti ini.

Kenapa hukum alam membeda-bedakan antara kiri dan kanan. Kenapa elektron-elektron itu memilih untuk tunduk kepada kutub utara? Bukankah seharusnya tidak boleh begitu? Madam Wu telah membuka pintu ke era post modern dalam ilmu fisika, karena asas symetri bagi hukum alam telah runtuh.

Masih mau mendengar instruksi Robert Frisch untuk membuat sekrup ulir kanan berapapun biayanya? Minta saja tukang bubut Mars kita untuk melaksanakan eksperimen Wu. Kutub maknit tempat berkumpulnya elektron dari Cobalt 60 itulah yang namanya kutub utara. Sesudah dapat menandai kutub utara, mari kita ajari dia mengenal mana kanan mana kiri. Itu mudah. Ikutilah petunjuk praktikum siswa STM Listrik untuk membuat elektomagnet. Mereka tahu hubungan antara arah lilitan kumparan yang mereka buat dengan kutub-kutub magnet yang akan terbentuk. Untuk membuat sekrup ulir kanan, contoh saja arah lilitan kumparan itu. Begitu saja kok repot….

(Sumber: Everything about Madame Wu)

Iklan

LEBARAN VIRTUAL

LEBARAN VIRTUAL

Oleh: Jum’an

Sebenarnya saya merasa malu mau menceritakan kisah ini. Tetapi siapa tahu ada hikmah dibalik peristiwa yang memalukan ini. -Kecuali rombongan anak-anak yang berharap beberapa lembar dua ribuan baru, lebaran tahun ini hanya ada dua keluarga yang bertamu ke rumah saya. Saya sendiri hanya bersilaturahmi kedua tempat, itupun keluarga kakak dan keponakan saya. Sisanya bersalaman di halaman masjid atau berpapasan dijalan. Bukan tahun ini saja, tahun lalupun tidak banyak berbeda. Dulu-dulu ada rombongan remaja masjid putra dan putri yang berkeliling kerumah-rumah sekarang tidak lagi.

Apakah saya tidak disukai orang dan karena itu balas dendam tidak menyukai orang? Wallohu’alam, tetapi jelas tidak sepenuhnya benar.

Mungkin susunan keluarga saya tidak lengkap sehingga kurang daya tariknya untuk dikunjungi, ada kemungkinan. Apakah karena saya tidak terlibat dalam kepengurusan RT dan masjid, atau saya kurang bergaul, bakhil? Semuanya saya yakin tidak benar dan bukan merupakan penyebab mengapa rumah saya tidak disukai tamu.

Saya tidak bertamu juga bukan karena balas dendam. Kebanyakan pintu depan rumah tetangga saya juga tertutup, tidak seperti sedang menunggu tamu, sehingga saya enggan mengetuknya kalau-kalau mereka sedang ada didapur atau diruang makan.

Tetapi jangan keliru RT kami adalah RT yang rukun: pengajian bersama menempati rumah-rumah warga secara bergiliran. Juga arisan. Kalau ada yang lewat waktu saya sedang mestater mobil untuk berangkat kekantor, kami ngobrol dulu beberapa menit, tentang cuaca panas, banyak anak pilek, semalam ada orang mabok diujung gang. Tidak jarang saya menerima hantaran nasi kotak dari tetangga yang punya hajat, entah ulang tahun anaknya, aqiqah, atau peringatan seribu hari meninggal familinya. Walhasil kami bukan orang-orang bakhil, individualis atau nafsi-nafsi, tetapi entah kenapa, kurang suka bertamu dihari lebaran.

Dilain pihak saya saling berkirim sms dengan lebih dari seratus orang (anda mungkin lebih), mengirim dan menerima kartu-kartu lebaran, menyebar dan menerima banyak ucapan selamat dari facebook, dan situs-situs yang lain.

Meskipun rasanya terhibur tidak kedatangan tamu, saya tetap berpendapat bahwa silaturahmi yang sejati adalah kalau kita bertemu muka. Berjabat tangan, makan bersama, saling berkunjung diwaktu suka dan duka. Tidak bisa begitu saja diganti dengan sms, email, facebook atau friendster. Itu lebaran electronic, ukhuwah virtual namanya, maya dan tidak nyata.

Maya dan tidak nyata? Tidak juga. Lewat internet orang mengumpulkan dana untuk sumbangan korban gempa, sangat nyata. Banyak orang memeluk Islam berkat informasi dari internet. Melalui internet orang bisa merekrut mujahid. Kalau tidak nyata, mana mungkin banyak negara memblokir situs-situs asing dan Pentagon ketakutan hacker.

Tetapi saya belum berani menerima kenyataan kalau ukhuwah virtual ini disatukan dan diteruskan dengan ukhuwah wajhiyah (?) dengan bertemu muka.

Saya kenal dengan Ibu Intan dari grup Islam Sejuk IUA.

Karena ternyata rumah saya berdekatan dengan rumah almarhum orang tuanya di Kebonkacang, saya persilahkan dia untuk mampir kerumah saya . Mulanya saya senang sekali dan kami bertukar nomor HP. Suatu hari minggu dia menilpun, kemungkinan dia bisa mampir kerumah saya karena dia mau keKebonkacang hari itu. Dia baru mau berangkat dari Bekasi. Entah kenapa saya merasa tidak ada keberanian untuk menemuinya, dan saya berbohong dengan mengatakan bahwa hari itu saya pergi ke Ciganjur.

Lama saya berpikir kenapa. Mungkin karena takut citra saya dimata dia akan rusak kalau sampai dia bertemu muka dengan saya. Diam-diam saya sudah menempatkan potret diri saya dalam pikirannya, yang tentu saja berbeda dengan kenyataan. Jaim lah dalam kamus masa kini.

Biarlah yang maya tetap maya – hanya sampai disitu keberanian saya. Maafkan saya Ibu Intan ……………

KUPULANG, KAUPULANG, DIAPULANG

KUPULANG, KAUPULANG , DIAPULANG

Oleh: Jum’an

Lebaran, semua orang pulang: Pak Pri ke Bumiayu, Pak Nono ke Malang, dik Pica ke Pontianak. Mba Sum dan Mas Jumino ke Pacitan, Wari’ah ke Brebes. Semua, karena merasa punya kampung halaman merasa perlu untuk pulang dihari lebaran. Jangan disalahkan orang pulang mudik lebaran. Nikmati saja hikmah dan indahnya: rindu yang lepas, rejeki yang menyebar, perkenalan anak dengan asal usul bapaknya, lebaran pertama ditempat mertua dll. Orang tidak bisa selamanya tinggal di perantauan, sekali-sekali perlu pulang ketempat asalnya, menemui sanak-keluarga yang mencintainya. Berdesakan, macet, kecopetan dan kehabisan sangu, semua sudah merupakan lauknya perjalanan bagian dari romantika kehidupan.

Pulangnya anak-anak kecil adalah pulang yang paling menyegarkan. Yaitu sehabis bermain berkejaran dilapangan, petak umpet atau main bola pulang dengan badan basah bermandi keringat, langsung menuju kedapur menenggak air dingin sambil mendongak keatas dengan bunyi gelegak-gelegak dileher.

Juga pulang anak sekolah siang-siang pada hari yang pelajarannya paling banyak. Pulang melepas sepatu dan mencuci tangan lalu makan siang. Ciduk nasi sepiring penuh, tutup atasnya dengan ongseng kacang pajang, tempe, ikan dan telor. Lalu aduk-aduk dan lahap sampai habis. Jangan lupa tangan kiri pegang kopling: kerupuk atau rempeyek udang.

Lalu, pulang kerja mencari nafkah. Sesudah cukup kerja seharian, pulang istirahatkan badan lempangkan kaki lalu mandi dan menghirup secangkir kopi sambil bercanda dengan anak dan isteri. Semua perlu pulang, semua harus pulang.

Pulang dari beribadah haji, pulang dari pertempuran atau menjaga perdamaian, ataupun pulang dari penjara adalah pulang-pulang yang berkesan, pulang yang tidak mudah dilupakan. Pulang dari Timor Timur pulang dari Irian, pulang dari Cipinang atau Nusakambangan.

Pulang yang menyedihkan juga sulit dilupakan. Seperti pulangnya Ali al-Megrahi dari penjara Scotladia ketanah airnya Libia. Ia dibebaskan karen
a kanker prostat yang dideritanya selama menjalani hukuman dan diperkirakan hidupnya tiggal beberapa bulan lagi (
Going Home To Die)

Juga, maaf numpang pribadi, pulang saya dari kantor pada sekitar jam lima sore, 20 Agustus tujuh tahun yang lalu. Saya punya kebiasaan menilpun kakak saya perempuan dari kantor. Sekitar jam empat sore itu, saya menilpunnya mau menceritakan bahwa masakannya yang saya bawa kekantor banyak yang suka dan teman-teman saya menitip salam untuk berterima kasih. Tetapi dia memotong: Pulang saja, ceritakan nanti saja kalau kamu sudah sampai dirumah. Ketika tidak lama kemudian saya pulang, saya dapati rumah terkunci. Ah sedang mandi atau solat dia. Saya tunggu tapi waktu saya memangil-manggilya utuk kedua kalinya tidak ada jawaban, saya bertanya ke tetangga sebelah. Jawabnya: sedang mandi mungkin, tadi saya baru saja bercanda dengan dia waktu menyiram tanaman. Saya masih bertanya ketetangga yang lain yang mengaku melihatnya juga tadi waktu menyiram tanaman. Ketika akhirnnya saya berhasil masuk kedalam rumah, ternyata dia telah pulang..pulang keharibaaNya. Saya pulang, dia pulang. Semua akan pulang.

ALYAUMA NAKHTIMU – CHRISYE DAN TAUFIQ

Krismansyah Rahadi (1949-2007):

KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA.
oleh: TAUFIQ ISMAIL
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas… Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?”


Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan.

Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.

Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim.
“Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti.

Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.”
Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke lirik-lirik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.

Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,”Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut.

Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye, Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan.
Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi.
Menangis lagi. Yanti (istri Chrisye) sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa takberdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya.


“Saya mendapatk
an ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq.

Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.
Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia , saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa enyanyikan lagu itu hingga selesai.

Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna
Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.


Mengenai menangis, menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* * *


Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai,dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya.


Chrisye terkejut. ” Kenapa Bang, kurang?”

Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘ kan?”

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
* * *

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat.


Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem.
Semoga penyanyi yang lembut hati da
n pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya.

Amin.
#

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye


Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita


Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja
dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina (1997).

SELECTIVE JUSTICE (PILIH KASIH)

SELECTIVE JUSTICE (PILIH KASIH)

Oleh: Jum’an

Dizaman kejayaan rok mini dulu, karakter saya hampir terbunuh gara-gara saya terlalu memanjakan keponakan dengan membiarkannya memakai rok yang sedikit diatas lutut. Saat itu para dai setempat sedang gencar-gencarnya mengganyang dan menuduh rok mini sebagai bukti dekadensi moral. Dalam sebuah pengajian tingkat RT saya disindir-sindir seolah-olah saya membiarkan kemaksiatan meluas.

Saya membalas melaui mereka yang menyampaikan isi pengajian itu kepada saya begini:”Ulama jaman sekarang kalau melihat rok mini cepat sekali mencap pemakainya sebagai ahlinnaar, tetapi kalau melihat orang miskin tak tergerak hatinya seperti lepra, mati rasa”. Saya kira cukup telak pembalasan saya itu.

Memang begitu kan? Seperti yang kita lihat sekarang, betapa banyak aktifis anti rokok yang getol tak tergerak hatinya melihat isteri dan anak-anak perempuan mereka melumuri wajah dengan racun mercury dalam kosmetik yang mereka pakai setiap hari. Sama massal dan bahayanya dengan rokok. Apakah masih menunggu fatwa dari MUI untuk mengharamkannya?

Pemikiran orang memang selalu selektif, tidak pernah adil dan menyeluruh karena kurang pengetahuan atau kecenderungan manusia memang begitu.

Lihatlah Amerika yang mengaku sebagai dewa demokrasi. Meskipun Hamas menang dalam pemilu Palestina yang dilaksanakan secara demokratis, tetap saja didongkel dan dicap sebagai organisasi teroris karena Amerika tidak suka. Selective wisdom atau selective justice adalah istilah dalam bahasa sono yang artinya menggunakan standar ganda alias pilih kasih alias curang.

Ada manfaatnya kita mengambil pelajaran dari karakter manusia yang cenderung pilih kasih dalam membuat kebijaksanaan dan mengambil keputusan.

Keadilan adalah syarat kepemimpinan. Bukan pemimpin namanya kalau kita menjatuhkan sanksi yang berbeda untuk dua orang yang melakukan kesalahan yang sama. Bukan juga pemimpin kalau kita merancang kebijaksanaan yang hanya menguntungkan segelintir teman-teman kita saja.

Bila kita menjadi direktur yang berani menskors bawahan karena terlambat lima menit, kita harus juga berani mengembalikan calculator kantor yang kita bawa pulang kerumah untuk anak kita.

Dalam prakteknya orang-orang disekitar kitalah yang pro-aktif mempengaruhi kita dalam merumuskan kebijaksanaan, membujuk dan mendesak kita bertindak pilih kasih. Mustahil seorang dapat bertindak adil dan bijaksana kalau harus mengikuti aspirasi partainya, keinginan keluarganya maupun tekanan atasannya.

Itu sebabnya seorang pengamat ekonomi atau seorang cendekiawan yang berasal dari lingkungan bebas tekanan, jarang berhasil apabila diangkat sebagai Menteri.

Kegagalan itu disebabkan karena lingkungannya menekan dan mengarahkannya untuk bertindak pilih-kasih, berbeda dengan lingkungan merdeka yang sebelumnya. Juga karena karakter manusia memang cenderung pilih-kasih dan curang.

Lebih-lebih bila mereka memegang kekuasaan – yang tidak pernah dimilikinya waktu memberi kuliah di kampusnya. Kekuasaan memiliki sisi gelap tersendiri yaitu kecenderungan menyeleweng. Seperti dikatan oleh Lord Acton, sejarawan Inggris abad 19: “Power tends to corrupt – absolute power corrupts absolutely”.

A
lqur’an Surat Yusuf ayat 53 juga mengatakan bahwa nafsu itu cenderung curang (laammarotumbissuu’) – kecuali yang memperoleh rahmat dari Alloh.

NOSTALGIA MANTAN PEROKOK

NOSTALGIA MANTAN PEROKOK

Oleh: Jum’an

Pada 19 April 1945 ketika Perang Dunia II masih berlangsung, Frank Dickinson seorang pelaut Inggris berada diatas kapal perang HMS Glenearn dilautan Pacific. Ia naik keatas deck sebentar untuk merokok, ketika tiba-tiba diruang bawah terjadi ledakan dahsyat yang menenewaskan 20 opsir dan melukai parah 70 lainnya. Seandainya waktu itu dia tidak naik keatas deck untuk merokok, dia tentu tidak berada dalam rombongan veteran PD II yang berkunjung ke Papua New Genea tahun 2004 lalu, untuk menziarahi teman-teman mereka yang dimakamkan disana.

Pada tahun 1965 Sir Winston Churchill, perdana menteri Ingris pemenang Perang Dunia II, meninggal pada umur 90 tahun setelah selama 70 tahun praktis menikah dengan cerutu dari tembakau Cuba dan hidup bahagia. Sir Winston dikabarkan meneyimpan antara tiga sampai empat ribu batang cerutu diruangan disebelah kamar kerjanya.

Pada suatu malam ditahun 1968 sejumlah mahasiswa sedang belajar sendiri-sendiri di Aula Pagelaran Sitihinggil Yogya. Aula Pagelaran adalah bagian dari kraton Yogyakarta yang diizinkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk fasilitas perkuliahan Universitas Gajah Mada. Dimalam hari lampu-lampu tetap dinyalakan untuk memberi kemudahan tempat belajar bagi para mahasiswa yang berasrama disekitar kraton. Mereka duduk berpencar agar tidak terlalu dekat satu sama lain. Tidak jarang terjadi salah seorang diantara mereka naik ke mimbar layaknya seorang dosen yang akan memberi kuliah. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menjepit sebatang rokok didepan mulut, sementara jempol kanannya digerak-gerakkan seperti sedang menyalakan korek api. Selalu ada seorang diantara audience yang menyambut dengan mengeluarkan korek dari saku dan mengacungkannya keatas. Turunlah dia dari podium mendekat untuk menyulut rokoknya, tanpa berkata apa-apa dan berterima kasih dengan gerakan tangan saja. Ritual seperti itu biasa diberi nama ”Cigarettes for Peace and Education”

Tahun1998 saya bertobat dan mengundurkan diri dari perasapan tembakau itu. Pokoknya saya tidak ikut-ikutan lagi merokok dan insyaalloh tidak akan mengisapnya lagi untuk selamanya. Tetapi sebagai mantan perokok berat, saya memilih untuk tidak ikut dalam jihad memberantas rokok. Saya tetap suka mencium-cium bungkusnya, dan tidak keberatan kalau sekali-sekali ada segumpal asap Gudang Garam yang wangi lewat didepan hidung.

Sebagai bukti sikap non-smoking, saya selalu menympan puisi Taufiq Ismail yang berjudul ”Tuhan Sembilan Senti”, dalam bentuk file maupun hard copy, kalau-kalau ada teman yang tertarik untuk membacanya. Inilah bait yang paling saya sukai:

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Dan yang ini:

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

HUJAN LEWAT TENGAH HARI


HUJAN LEWAT TENGAH HARI

Oleh: Jum’an

Sesekali dalam hidup, kebanyakan kita pernah bertemu dengan seseorang atau mengalami peristiwa yang berlalu hanya sebentar saja, tetapi meninggalkan kesan mendalam dan menjadi kenangan sepanjang masa. Entah terjadi waktu umroh ditanah suci atau waktu tugas ditengah hutan atau dilepas pantai. Seperti hujan yang turun sebentar ditengah hari yang menyegarkan, mengendapkan debu dan merangsang kita dengan bau tanah yang khas.

Didesa Weiriang kecamatan Buyasuri tinggal seorang bernama Said Tukang, panggilan untuk Pak Said yang sesuai dengan profesinya. Sedangkan didesa Balauring kecamatan Omesuri, didepan masjid kecil yang berlantai pasir, tingggal seorang bernama Ali Baong, pemilik warung sembako – keduanya di pulau Lembata NTT.

Saya bertemu Said Tukang hanya dua kali selama hidup. Pertama ketika saya bersama seorang geologist Amerika dan seorang dari Dirjen Pertambangan Umum melakukan survey endapan batu Barit disekitar desa Atanila. Said membantu kami menyediakan kuda, menjadi petunjuk jalan dan mengatur logistik, sekitar dua minggu lamanya. Kedua kalinya, enam bulan kemudian ketika kami datang lagi untuk melihat hasil dari paritan-paritan yang digali oleh para pekerja yang dipimpin oleh seorang surveyor tambang.

Pada pertemuan kedua inilah Said Tukang merangkul dan menjabat tangan saya sambil berkata: Pak, bulan lalu isteri saya melahirkan anak laki-laki. Kami namai dia Jum’an. Saya minta maaf memakai nama Bapak tanpa izin”. Saya tergagap-gagap menjawab, tidak apa-apa malah saya berterima kasih dan bangga nama saya dipakai, mungkin untuk anak Lembata pertama yang bernama jum’an.

Sekitar dua tahun kemudian waktu untuk terakhir kalinya saya bertugas ke pulau Lembata, saya hanya mampir ke Balauring di Omesuri dan beristirahat dirumah Ali Baong. Ada seorang anak kecil dengan perut buncit, telanjang dengan ingus sampai kebibir memakai gelang tolak bala dari perak. Saya bertanya: Siapa ini Pak Ali? ”Anak bungsu saya Pak, -Jum’an namanya. Saya ingin dia menjadi seperti Bapak kalau besar nanti”.

Said Tukang, Ali Baong, Jum’an bin Said dan Jum’an bin Ali yang sekarang berumur sekitar 20an tahun – adalah tokoh-tokoh penting dalam lembaran hidup saya setidaknya berupa kenangan, seperti hujan yang lewat ditengah hari, segar menyiram, serasa tercium bau tanah Omesuri. Peristiwa itu terjadi dan berlalu dengan cepat, tetapi kenangannya hidup terus sampai sekarang.

Kenangan adalah ibarat catatan harian yang selalu kita bawa kemana-mana Kenangan indah dapat mengusir remeh-temeh pikiran buruk yang sering menjadi beban dan menekan semangat.

Kenangan adalah tempat kita melestarikan sesuatu yang kita cantai, sesuatu yang kita tak mau kehilangan.

Kata orang, hidup hanya dapat dipahami dengan melihat kebelakang, dan kita jalani dengan melihat kedepan…..

RINDU BELANDA

RINDU BELANDA

Oleh: Jum’an

Enak benar jaman Belanda dulu. Kita disunahkan untuk tidur siang. Saya tidak yakin bahwa itu merupakan akal mereka agar kita malas dan tidak produktip, karena nyatanya tidur siang memang sudah menjadi kebiasaan berbagai bangsa seperti China, India, Vietnam, Yunani, Bosnia, Italia dan Spanyol.

Menurut seorang tua dari Cipaganti Bandung, dulu tukang patri dilarang keliling siang-siang disana, karena suara kecrek-kecreknya mengganggu Belanda tidur.

Tidur siang adalah panacea (serba obat, sirna-mala) terutama untuk kita dinegeri yang beriklim tropis .

Petani berangkat kesawah jam tujuh pulang jam sebelas siang. Mandi, solat lohor, makan, istirahat tidur sampai jam tiga. Bangun segar, solat asar berangkat lagi atau bersih-bersih pekarangan sampai dekat magrib.

Pedagang membuka toko pagi-pagi, jam duabelas siang tutup sampai setengah empat, lalu buka lagi sampai jam sembilan. Siklus ini memberikan kesegaran jasmani untuk bekerja kecerahan hati dan fikiran untuk beribadah.

Petani, pedagang, buruh, pegawai negri dan, mahasiswa semua memerlukan tidur siang. Dua jam saja, mengentengkan kepala menjauhkan segala mala.

Harian Washington Post 13-2-2007, memuat hasil penelitian yang melibatkan 23,000 orang dewasa di Yunani yang membuktikan bahwa mereka yang mempunyai kebiasaan tidur siang jauh lebih kecil kemungkinannya mati karena serangan jantung. ”Tidur siang ternyata dapat menjadi senjata ampuh untuk melawan serangan jantung” – kata Dimitrios Trichopoulos yang memimpin penelitian akbar tersebut.

Apa yang kita alami sekarang? Tidur siang haram karena dianggap simbol kemalasan tidak produktip dan tidak global. Akibatnya solat subuh ngantuk, solat lohor dan asar sambilan, solat maghrib dan isya dalam kelelahan. Apalagi taraweh. 23 roka’at? No way man !!

Kita kehilangan prime time untuk beribadah dengan segar, khusyu dan tenang’.

Dengan tidur siang, asar kita mantap, magrib dan isya tuma’ninah dan subuh kita cling. Belanda sudah mengatur kok….

Ini nasehat penting dari Dimitrios: Kalau ada kesempatan tidur iang, ambil. Kalau anda terbiasa tidur siang, jangan hentikan.

Modernisasi dan globalisasi telah merampas tidur siang dunia. Orang mungkin perlu berpikir ulang sebelum meneruskan ” the continuous, stopless activity that’s happening with globalization.”. Begitu kata Wahington Post.

Pokoknya tidur siang, tidur siang. Belanda sudah ngatur kok.

MBAKYU SAYA BERBEDA PARTAI

MBAKYU SAYA BERBEDA PARTAI

Oleh: Jum’an

Dua mbakyu saya yang oleh teman-teman saya dipanggil dengan Yupatmah dan Yunur, sebagaimana wanita baik-baik dikeluarga kita, mempunyai pernik-pernik mutiara yang pantas dicatat dalam hidupnya. Bukan saya menyanjung kedua almarhumah kakak perempuan saya itu, karena kita sama-sama tahu, dalam kehidupan yang serba kekurangan banyak niat baik tak terlaksana dan silang sengketa mudah terjadi.

 

Penderitaan masa kanak-kanak dizaman revolusi, wabah penyakit, musim paceklik dan tekanan kehidupan lainnya telah menempa mereka tahan penderitaan dan kuat menjalani hidup. Keduanya hanya bersekolah sampai Sekolah Rakyat kelas tiga ditambah khatam Qur’an. Meskipun masa kanak-kanak dan remajanya dijalani bersama, keduanya tumbuh menjadi dua pribadi yang khas dan berbeda dimasa tua mereka.

 

Yupatmah, yang langsing dimasa mudanya menjadi wanita kurus beranak enam memilih tinggal di Banyumas, membuka warung kecil didepan pasar. Ia pengikut Muhammadiyah yang taat, serius dan sangat anti bid’ah. Ia mendirikan mushola (satu-satunya dilingkungan yang kebanyakan abangan) yang sampai sekarang menjadi ampiran pedagang pasar Banyumas untuk solat lohor dan untuk anak-anak mengaji sehabis maghrib. Yupatmah pekerja yang ulet, hemat dan melindungi anak-anaknya lebih dari apapun. Ia sinis terhadap kebanyakan pengemis yang berbadan sehat, yang dianggapnya mengemis hanya karena malas.

Ketika gigi atas tengahnya lepas, saya usulkan supaya pasang gigi palsu biar nampak “cantik”. Dia jawab: Nggak. Takut sulit matinya – lagipula ompongnya tidak mengurangi kefasihan melafalkan ayat qur’an kalau mengajar ngaji.

Diakhir hayatnya ia berpesan supaya tidak ada bunga-bunga, tidak boleh ada masak-masak dirumah. Ketika anak-anak menangisinya dirumah sakit, ia mengatakan: tidak usah menangis. Semua sudah ada aturannya , semua sudah ada ketentuannya.

 

Sementara itu Yunur yang tinggal di Jakarta, beranak dua orang dan tetap berbadan gemuk seperti waktu anak-anak dulu. Setiap Jum’at pagi ia suka duduk didepan pintu dengan segepok uang receh, menjemput puluhan perempuan pengemis yang selalu lewat beberapa rombongan. Ia membiayai Yupatmah naik haji dan mengirimkan uang bulanan untuk pengurus musholanya di Banyumas. Usholli dan bacaan solatnya tetap yang berasal dari guru ngajinya didesa dulu. Dia selalu datang kalau diundang yasinan atau tahlil tetangga. Pokoknya dia tidak main prinsip. Sangat suka membaca koran, nonton TV, bahkan tahu banyak tentang lakon-lakon pewayangan. Teman-teman saya dan juga teman-teman anaknya kebanyakan akrab dengan dia. Ia juga mengikuti berita-berita politik, bahkan pernah mempertanyakan kenapa saya seperti kurang senang waktu Presiden Suharto jatuh.

 

Suatu kali, pagi-pagi buta ada perempuan kurus minta dibukakan pintu dan karena disangka pengemis, Yunur tidak mau membukakan. Dengan bahasa Banyumas yang medok perempuan itu membentak ” He..ini Patmah mbakyumu, bukan pengemis..” Peristiwa itu dikenang seluruh keluarga sampai sekarang.

Kalau sedang bete Yupatmah suka ke Jakarta tinggal beberapa minggu. Kalau dilihatnya Yunur membagi-bagi uang receh untuk pengemis, dia mencolek saya: Lihat itu mbakyumu.. sama sekali tidak mendidik.. memberi kok pengemis malas”

“ Siapa yang mau menerima mereka kerja.. kalau bisa kerja tentu mereka tidak mengemis” jawab Yunur.

Ah memang kedua mbakyu saya beda partai. Tapi tidak apa. Yang sering, mereka justru saling mengagumi dan sayang satu sama lain, yang satu dengan pengetahuan populernya, yang satu dengan fanatik Muhammadiahnya.

AMOROUS MONOTHEISM – ASMARA HALAL

AMOROUS MONOTHEISM – ASMARA HALAL

Oleh: Jum’an

IUAwati Ummu Aisyah mengomentari anjuran untuk napak tilasAsmara Wallada ke Cordoba, katanya dia lebih ingin napak tilas ketempat Rabi’ah al ‘Adawiyyah yang cintanya lebih diutamakan kepada Sang Pemilik cinta sejati (yang sayangnya ada di Basra,Iraq) Saya tertegun, malu dan hormat membacanya. Saya bilang yang ini beda: Cinta Wallada dengan Ibn Zaydun adalah cintaasmara sedangkan cinta Rabi’ah adalah cinta ubudiah.

Dari namanya, foto-foto dan doa dalam situsnya Ummu Asyah memang menunjukkan tanda-tanda kesufian.

Lain dengan IUAwati Biru yang situsnya memuat banyak foto-foto Lady Diana dan catatan meninggalnya Michael Jackson, menjawab anjuran saya dengan kata-kata ceria: “ baik, Bapak…. insya Allah… saya cari duit dulu yaa, Pak”. Saya senang sekali membacanya, seolah-olah dia terus lari mencari duit..

Ummu Aisyah dan Biru, dalam bayangan saya adalah dua varian dari kepribadian muslimah (yang serius dan yang ceria), yang sama eksistensinya. Tokoh idolanya, musik kegemaran dan selera modenya mungkin berbeda tapi khusyuk solatnya, birrul walidain-nya belum tentu berbeda. Ibarat mawar dan melati, masing-masing dengan keunikannya, tetapi sama-sama indah dan menarik.

Jamal Nkrumah dalam blognya yang berjudul Amorous
Monotheism –Asmara Halal, menulis pentingnya menempatkan cinta asmara secara proporsional, yang selama ini menurut dia tidak dipedulikan oleh ulama dan kaum muslimin, bahkan dianggap sebagai hal yang tidak pantas dibicarakan.

Ia mengutip kata-kata Mufti Besar Mesir Syeikh Ali Jum’ah: ”Cinta merupakan realitas terbesar tempat semua makhluk bertumpu”. Dan bahwa pengertian cinta dalam Islam adalah sekaligus spiritual, surgawi, sensual dan duniawi. Artinya cukup untuk memuaskan cinta sufi Rabiah al- ’Adawiyyah kepada Alloh dan cinta asmara Wallada kepada Ibn Zaydun. Puisi-puisi sufistik yang termasyhur dari Maulana Jalaluddin Rumi dan Taj Mahal yang dibangun Syah Jehan untuk isteri tercintanya Mumtaz, merupakan monumen ungkapan cinta yang sama islaminya.

Jamal juga mengutip pendapat sexolog Islam terkenal Dr. Heba Qutb tentang Rosululloh yang dengan dengan tanpa beban mengakui didepan umum bahwa wanita-wanita yang dipilihnya sebagai isterinya adalah memang wanita yang paling beliau cintai dan paling beliau idamkan. Beliau seorang negarawan dan pemimpin agama, tetapi tetap menyediakan waktu untuk hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Beliau sangat perasa akan tuntutan dan perhatian bagi isterinya, betapa remehpun dalam pandangan beliau atau orang lain. Beliau sangat sayang terhadap isteri-isterinya.

”Pria dan wanita” kata Imam Bukhari ”adalah belahan kembar satu sama lain”. Suami dan istri adalah pasangan dalam kebutuhan, tugas dan tanggung jawab.

Dengarkan kata-kata Hakim Archuletta ahli hikmah dan natural healer dari Amerika ini tentang salah satu sikap yang sehat antara suami-istri

Terakhir saya baca, Biru dan Umu Aisyah mau berangkat bersama-sama ke Cordoba. Selamat ber- Tamasya Asmara.