SELECTIVE JUSTICE (PILIH KASIH)


SELECTIVE JUSTICE (PILIH KASIH)

Oleh: Jum’an

Dizaman kejayaan rok mini dulu, karakter saya hampir terbunuh gara-gara saya terlalu memanjakan keponakan dengan membiarkannya memakai rok yang sedikit diatas lutut. Saat itu para dai setempat sedang gencar-gencarnya mengganyang dan menuduh rok mini sebagai bukti dekadensi moral. Dalam sebuah pengajian tingkat RT saya disindir-sindir seolah-olah saya membiarkan kemaksiatan meluas.

Saya membalas melaui mereka yang menyampaikan isi pengajian itu kepada saya begini:”Ulama jaman sekarang kalau melihat rok mini cepat sekali mencap pemakainya sebagai ahlinnaar, tetapi kalau melihat orang miskin tak tergerak hatinya seperti lepra, mati rasa”. Saya kira cukup telak pembalasan saya itu.

Memang begitu kan? Seperti yang kita lihat sekarang, betapa banyak aktifis anti rokok yang getol tak tergerak hatinya melihat isteri dan anak-anak perempuan mereka melumuri wajah dengan racun mercury dalam kosmetik yang mereka pakai setiap hari. Sama massal dan bahayanya dengan rokok. Apakah masih menunggu fatwa dari MUI untuk mengharamkannya?

Pemikiran orang memang selalu selektif, tidak pernah adil dan menyeluruh karena kurang pengetahuan atau kecenderungan manusia memang begitu.

Lihatlah Amerika yang mengaku sebagai dewa demokrasi. Meskipun Hamas menang dalam pemilu Palestina yang dilaksanakan secara demokratis, tetap saja didongkel dan dicap sebagai organisasi teroris karena Amerika tidak suka. Selective wisdom atau selective justice adalah istilah dalam bahasa sono yang artinya menggunakan standar ganda alias pilih kasih alias curang.

Ada manfaatnya kita mengambil pelajaran dari karakter manusia yang cenderung pilih kasih dalam membuat kebijaksanaan dan mengambil keputusan.

Keadilan adalah syarat kepemimpinan. Bukan pemimpin namanya kalau kita menjatuhkan sanksi yang berbeda untuk dua orang yang melakukan kesalahan yang sama. Bukan juga pemimpin kalau kita merancang kebijaksanaan yang hanya menguntungkan segelintir teman-teman kita saja.

Bila kita menjadi direktur yang berani menskors bawahan karena terlambat lima menit, kita harus juga berani mengembalikan calculator kantor yang kita bawa pulang kerumah untuk anak kita.

Dalam prakteknya orang-orang disekitar kitalah yang pro-aktif mempengaruhi kita dalam merumuskan kebijaksanaan, membujuk dan mendesak kita bertindak pilih kasih. Mustahil seorang dapat bertindak adil dan bijaksana kalau harus mengikuti aspirasi partainya, keinginan keluarganya maupun tekanan atasannya.

Itu sebabnya seorang pengamat ekonomi atau seorang cendekiawan yang berasal dari lingkungan bebas tekanan, jarang berhasil apabila diangkat sebagai Menteri.

Kegagalan itu disebabkan karena lingkungannya menekan dan mengarahkannya untuk bertindak pilih-kasih, berbeda dengan lingkungan merdeka yang sebelumnya. Juga karena karakter manusia memang cenderung pilih-kasih dan curang.

Lebih-lebih bila mereka memegang kekuasaan – yang tidak pernah dimilikinya waktu memberi kuliah di kampusnya. Kekuasaan memiliki sisi gelap tersendiri yaitu kecenderungan menyeleweng. Seperti dikatan oleh Lord Acton, sejarawan Inggris abad 19: “Power tends to corrupt – absolute power corrupts absolutely”.

A
lqur’an Surat Yusuf ayat 53 juga mengatakan bahwa nafsu itu cenderung curang (laammarotumbissuu’) – kecuali yang memperoleh rahmat dari Alloh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s