Bulan: November 2011

WASIAT MUAMMAR GADDAFI

WASIAT MUAMMAR GADDAFI

Ole: Jum’an

Gambar Muammar Gaddafi yang berlumuran darah dalam siaran TV beberapa waktu yang lalu mungkin membuat gemetar pemimpin Siria dan Yaman, sesama tyran yang sedang menghadapi perlawanan rakyat. Paling mengerikan tentunya bagi Safia Farkash isteri Gaddafi; suami dan anak-anaknya mati mengenaskan satu demi satu. Tetapi bagi yang tak berkepentingan tragedi itu hanyalah sebuah berita televisi, tontonan yang kesannya akan segera hilang oleh berita-berita dan acara TV selanjutnya. Apa boleh buat. Saya pun hanya menyimak bagian-bagian yang spesifik dan menarik, meskipun mungkin tidak penting. Pada hari naas itu, yang banyak orang sudah tahu bakal terjadi, konvoi Gaddafi dan pengikut setianya sedang bergegas meninggalkan Sirte, ketika tiba-tiba di bom oleh pesawat tempur Perancis. Banyak yang mati. Gaddafi yang terluka dengan beberapa orang terdekatnya turun dari mobil dan bersebunyi dalam lubang drainase dibawah jalan raya. Tetapi tidak lama kemudiam datang pasukan pemberontak menemukan mereka dan menyeretnya kejalanan. Kata seorang dari mereka: “Dia menyebut kita tikus. Sekarang lihat dimana kita temukan dia!” Dari video amatir yang direkam oleh salah seorang pemberontak nampak Gaddafi berlumuran darah. Kata-kata Gaddafi yang berhasil diterjemahkan oleh Kantor berita Sky News adalah: “Mau apa kalian! Perbuatan kalian ini salah. Kalian tahu atau tidak apa yang benar dan yang salah? Perbuatan kalian ini haram! Tidak diperbolehkan dalam hukum Islam. Haram” . Seorang menariknya keluar dengan berteriak: “Allahu Akbar”. Ketika Gaddafi dengan nada minta dikasihani berkata“Apa yang saya perbuat terhadap kalian?”, seorang pemberontak berteriak “Diam kau anjing!” lalu terdengar suara tembakan. Dalam gambar berikutnya Gaddafi nampak sudah tergeletak tak bernyawa. Keterangan dokter menyebutkan ada dua peluru dibadannya, satu diperut dan satu dikepala.

Jendral Mansour Dao, orang kepercayaan Gaddafi adalah saksi hidup yang berada bersama sampai saat terakhir. Rombongan pelarian Gaddafi dipimpin oleh Mutassim anaknya. Gaddafi sendiri tidak berbuat atau merencanakan apapun. Mutassim tidak berdisiplin, kata Mansur Dao. Konvoi yang dicegat Nato itu rencananya berangkat dari Sirte sebelum fajar, disaat pasukan pemberontak sedang beristirahat. Tetapi molor sampai jam 8 pagi dan baru 3 km perjalanan, pesawat jet tempur Perancis sudah menghadangnya dan tak lama disusul oleh pasukan pemberontak. Selama minggu-minggu terakhir rombongan pelarian itu berada di Sirte kota kelahiran Gaddafi. Mereka berpindah-pindah dari rumah kosong yang satu kerumah kosong lain. Gaddafi yang terbiasa dengan kekayaan dan kemewahan, terpaksa tinggal dirumah yang ditinggalkan penghuninya, tanpa listrik tanpa air. Memungut sisa-sisa makanan yang tertinggal. Gaddafi hanya membuat catatan, membaca buku, atau memanaskan air untuk membuat teh sendiri. Sepanjang waktu, ia dalam keadaan stress, marah, sedih, murung tidak berinisiatif apapun. Orang-orang dekatnya berkali-kali menasehati agar dia melarikan diri keluar negri tapi ia menolak dan mengatakan ingin mati ditanah leluhurnya. Tiba-tiba ia ingin agar rombongan berpindah kedesa kelahirannya di Jaref, 20 km dari Sirte sementara pasukan pemberontak makin mendekat. Itulah hari naasnya. Gaddafi telah menulis wasiat sebelum meinggalkan Tripoli:

“Inilah Wasiatku. Saya, Muammar bin Mohammad bin Abdussalam bin Humaid bin Abu Manyar bin Humaid bin Nayil al Fuhsi Gaddafi, sungguh-sungguh bersumpah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad saw adalah Rasul-Nya. Saya berjanji bahwa saya akan mati sebagai seorang Muslim. Kalau saya sampai mati terbunuh, saya minta dikubur secara Islam, dalam pakaian yang saya kenakan pada saat kematian saya, tetapi dengan tubuh saya tidak dimandikan, di pekuburan Sirte, di samping makam keluarga dan kerabat saya.

Saya ingin keluarga saya, terutama perempuan dan anak-anak diperlakukan dengan baik setelah kematian saya. Bangsa Libya harus melindungi identitas, prestasi, sejarah dan citra terhormat leluhur dan pahlawan mereka.dsb, dsb”.

Segera setelah kematiannya pemerintah peralihan Libia menerima statemen resmi dari Qabilah (suku) Al-Gaddafah yang berbunyi:

“Kami para sesepuh dan pemimpin kabilah al-Gaddafa di Libya dan luar negeri meminta jasad putra kami Muammar Gaddafi, dan anak-anaknya diserahkan kepada kami, untuk menguburkan mereka di kampung halaman mereka Sirte secara Islam. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.”

Abdel Azim Maghribi, mantan pengacara Gaddafi , yang juga Wakil Sekjen Persatuan Pengacara Arab yakin bahwa Muammar Gaddafi mati membela diri. “Mati dalam mempertahankan hidup, menurut hukum Islam adalah mati syahid.” Ia menambahkan bahwa penganiayaan yang dialaminya sebelum mati, mungkin menghapuskan dosa-dosa yang ia lakukan terhadap rakyat Libia. Perlu diketahui, diantara kekejaman Gaddafi adalah pembantaian massal 1.200 tahanan pada tahun 1996. Ia menyimpan uang sebanyak 200 milyar dolar dan Safia isterinya mempunyai 20 ton emas, bercokol selam
a 42 tahun dan segudang kekejaman lainnya.

Iklan

MELAWAN GENOVESE SYNDROME

MELAWAN GENOVESE SYNDROME

Oleh: Jum’an

Suatu malam ketika masih tinggal didesa, saya mendengar suara orang sedang berusaha membobol rumah saya yang hanya berdinding bambu. Saya memang tidak siap dan tidak tahu cara menghadapi pencuri kecuali berteriak minta tolong Sayapun berteriak sekeras-kerasnya berkali-kali dan saya dengar suara orang lari menabrak tiang jemuran. Anehnya tak seorangpun tetangga saya yang datang menolong meskipun jaraknya dekat dan pasti mendengar teriakan saya. Itu puluhan tahun yang lalu tetapi saya tetap ingat. Suatu malam, Kitty Genovese seorang karyawati di New York berteriak-teriak minta tolong karena dua kali ditusuk orang dengan pisau tapi tak seorangpun tetangga datang menolong. Penjahat itu lari tetapi beberapa menit kemudian kembali lagi, memperkosa dan menusuknya berkali-kali sampai mati. Kasus yang menimpa Kitty Genovese itu tidak hanya mendapat publikasi yang luas tapi kemudian menjadi bahan penelitian para psikolog yang seterusnya menyebut fenomena sosial seperti itu sebagai Sindrom Genovese atau Bystander Effect. Efek penonton atau sindrom Genovese adalah fenomena, kejadian dimana banyak orang tidak melakukan apa-apa sementara menyaksikan kejahatan berlangsung. Tidak jarang kita melihat hal demikian disekitar kita. Orang mengalami “buta yang disengaja” (motivated blindness) tidak mau melihat sesuatu yang tidak merupakan minat mereka.

Dalam sebuah penelitian, kepada sejumlah orang diperlihatkan gambar-gambar yang beberapa diantaranya berbau porno dan gerakan mata mereka diikuti melalui alat pemantau. Mereka yang merasa resah dengan pornografi tidak pernah membiarkan matanya menatap gambar itu. Pikirannya dengan cekatan meraba situasi dan entah bagaimana dengan buru-buru memasang filter untuk mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang meresahkan. Dari satu sisi, hal ini mungkin merupakan mekanisme defensif yang bermanfaat akan tetapi bakat mengalihkan perhatian itu juga merupakan pintu masuk kejahatan bagi kebanyakan orang. Karena bagaimanapun “buta yang disengaja” adalah tindakan membodohi diri yang memudahkan kita untuk mengabaikan informasi dan fakta yang tidak kita sukai. Para ahli yang mendalami etika perilaku melihat banyak peristiwa tidak etis yang terjadi karena orang secara tidak sadar membodohi diri mereka sendiri, bukan sejak awal sudah berniat jahat. Mereka mengabaikan pelanggaran – membelokkan aturan untuk membantu rekan, mengabaikan informasi yang merusak reputasi- disesuaikan dengan kepentingan sendiri. Ketika direksi perusahaan sibuk mengejar target penjualan atau tim sukses partai giat menggolkan calonnya, perlunya etika dalam tindakan yang penting hilang dari pikiran mereka. Ini menyebabkan mereka terlibat atau memaafkan perilaku yang sebenarnya mereka kutuk jika mereka menyadarinya. Orang mudah sekali membodohi diri. Kita memperhatikan fakta-fakta yang kita sukai dan menyembunyikan yang sebaliknya. Kita blow-up kebaikan kita dan menyangka bahwa tindakan kita lebih bijak dari yang sebenarnya kita lakukan.

Ketika kita mengalami kebutaan dan tidak melihat bahwa suatu keputusan itu memiliki komponen etika, kita dapat bersikap tidak etis sambil mempertahankan citra diri yang positif. Penelitian oleh Max H. Bazerman, profesor bisnis di Harvard, dan Ann Tenbrunsel, profesor manajemen di Univ. Notre Dame membuktikan bahwa orang secara konsisten merasa bahwa ia lebih jujur, lebih etis dari yang sebenarnya. “Ketika tiba saatnya untuk membuat keputusan, otak kita didominasi oleh pikiran bagaimana kita ingin berperilaku; pikiran bagaimana kita seharusnya berperilaku menghilang” kata mereka.

Sebenarnya Alqur’an telah mengingatkan bahwa kita memang mempunyai cacat seperti itu apapun namanya: bystander effect, sidrom Genovese, maupun buta sengaja. Surat Yusf ayat 53 menyebutkan: “…sesungguhnya nafsu manusia itu sangat mendorong melakukan kejahatan (certainly prone to evil), kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Alloh”. Oleh karena itu bagian penting dari perjuangan hidup adalah untuk melawan nafsu. Nabi mengatakan bahwa perang melawan nafsu adalah jihad, bahkan suatu jihad yang besar. Kecenderungan kita yang mati-rasa dan lumpuh, tidak mau campur tangan meskipun bersama-sama menyaksikan kejahatan, dalam istilah kita tak ada yang memenuhi fardu kifayah. Contoh klasiknya: diantara kita harus ada yang bisa melakukan solat jenazah, kalau sampai tidak maka semua kita berdosa. Kita diingatkan bahwa ada kewajiban yang dituntut dari sebagian orang, yang kalau kita mengambil inisiatif itu, kita termasuk orang yang beruntung. “Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran, 104). Berjihad melawan Genovese Syndrome? Why not?

KITA YANG NJLIMET DAN RIBET

KITA YANG NJLIMET DAN RIBET

Oleh: Jum’an

Orang Amerika tetap memanggilnya President Jimmy Carter meskipun sudah lama ia tidak menjabat sebagai presiden Amerika lagi. Demikian pula dengan President Bush. Tetapi tidak demikian halnya dengan B.J. Habibie. Beliau tidak boleh kita sebut presiden, tetapi “mantan” presiden sebab yang presiden adalah SBY. Kecuali kelak bila beliau (Habibie- semoga panjang umur) sudah meninggal; baru boleh kita menyebutnya presiden Habibie lagi. Demikian pula dengan Bung Karno. Kita menyebut presiden Suakarno hanya waktu beliau menjabat presiden RI dan sesudah beliau meninggal. Entah karena begitulah bahasa Indonesia yang baik dan benar atau budaya kita memang njlimet. Meskipun tidak ada sebutan mantan haji, sebelum peristiwa wukuf di Arofah, siaran televisi kita selalu menyebut “jamaah calon haji” bukan jamaah haji. Seolah-olah menyebutkan Presiden Habibie sekarang berarti tidak mengakui kekuasaan Presiden SBY. Dan menyebut haji sebelum wukuf berarti meremehkan jamaah haji tahun sebelumnya. Seolah-olah salah besar untuk menyebutkan atribut seseorang sehari sebelum manjadi haknya atau sehari sesudah bukan haknya.

Dalam pidato Lahirnya Panca Sila, Bung Karno mengatakan: “Ketika Dokuritsu Zunbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) akan bersidang, didalam hati saya banyak khawatir kalau-kalau banyak anggota yang saya katakan dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini, zwaarwichtig akan perkara yang kecil-kecil. Zwaarwichtig sampai kata orang Jawa – njlimet. Kalau sudah membicarakan hal-hal kecil sampai njlimet baru mereka berani menyatakan kemerdekaan!” Dibagian lain beliau mengatakan:”……sampai lebur kiamatpun Indonesia belum dapat merdeka!”. Rupanya Bung Karno pun sudah menengarai bahwa bangsanya suka njlimet. Sejak dulu sampai sekarang! Itulah sebabnya semua perkara besar menjadi bias dan tak bisa dipilah-pilah lagi karena dibicarakan sampai njlimet tanpa segera diambil keputusan yang jelas. Seperti kata “mantan” Menteri Keuangan Orde Baru Fuad Bawazir, perkara besar cukup digoreng-goreng saja lalu selesai.

Pernahkah anda membayangkan Rasululloh SAW duduk bersila sambil kedua ibujari tangannya ditekankan untuk menutup kedua lubang telinga, kedua jari telunjuknya menekan kedua pelupuk mata untuk menutupnya, kedua jari tengahnya memencet lubang hidung dari kiri dan kanan sedangkan jari manis dan kelingkingnya menekan bibir atas dan bibir bawah semuanya secara bersamaan? Rasanya belum pernah saya membaca atau mendengar kisah seperti itu. Tetapi itulah sebagian ritual yang konon diajarkan oleh Syekh Siti Jenar salah seorang penyebar Islam ditanah Jawa pada abad ke 15. Dalam ajaran tarekat Syekh Siti Jenar dikenal konsep menyatunya manusia dengan Tuhan (manunggaling kawulo Gusti). Dalam hubungan itulah ritual yang menurut ukuran orang awam njlimet dan ribet itu lahir. Untuk memperoleh jalan menuju Alloh kita harus menutup sembilan lubang tubuh kita yaitu mata, telinga, mulut, hidung, kelamin dan dubur dari maksiat, dosa dan barang haram. Kalau Rasululloh saja tidak pernah melakukan ritual seperti itu, mengapa harus njlimet dan ribet, padahal beliaulah utusan Alloh yang benar?

Ada pilihan selain menjadi bangsa yang njlimet dan ribet yaitu menjadi kaum sederhana dan seadanya. Membahas perkara memang penting tetapi memngambil keputusan lebih penting. Beribadah dengan khusyuk juga penting tetapi menutup 9 lubang terlalu njlimet dan tidak sederhana. Menurut Jendral Colin Powell, negarawan kulit hitam Amerika, “Para pemimpin besar hampir selalu penyederhana besar, yang dapat memotong argumen, debat dan keraguan, untuk menawarkan solusi yang dapat difahami setiap orang”. Begitu pula Rosululloh dalam bayangan saya.

STEVE JOBS ANAK HARAM ATAU KETURUNAN NABI?

STEVE JOBS ANAK HARAM ATAU KETURUNAN NABI?

Oleh: Jum’an

Tentulah bukan derajat saya untuk meremehkan seorang Steve Jobs, pendiri Aple Inc yang begitu besar jasanya. Dunia mengakuinya. Judul yang sinis ini hanyalah seperti kalau kita sedang melecehkan Presiden; tidak serius tapi ada benarnya. Steve meninggal bulan lalu karena kangker hati. Abdul Malik Mujahid, Ketua Dewan Parlemen Agama-Agama Dunia dan mantan Ketua Dewan Organisasi Islam Chicago Raya juga mengakui jasa-jasanya. Beliau yang juga pendiri Sound Vision yang mengembangkan software-software pendidikan Islam menulis: “Saya sedang duduk tafakkur diatas sajadah selepas solat subuh, ketika kulihat komputer Macintosh hasil karya Steve Job diatas meja. Saat itu (1990) hanya komputer Macintosh yang dapat untuk menulis huruf Arab, dan mempunyai hyperlink yang dapat menghubungkan text, gambar dan suara dan video tanpa hardware tambahan. Ide saya membuat membuat program belajar membaca Alqur’an datang seketika saat itu. Dengan bantuan beberapa kolega lahirlah program Al-Qari yang saya selesaikan dalam beberapa bulan. Program itu kemudian menjadi terkenal dan dibahas dalam majalah New York Times dan ABC News sebagai inovasi yang ilmiah. Al-Qari tidak mungkin lahir saat itu kalau tidak karena jasa Steve Jobs. “Terima kasih Steve!” kata Mujahid dalam tulisan belasungkawanya.

Nama asli Steve Jobs adalah Abdul Lateef Jandali anak dari Abdul Fattah John Jandali seorang Muslim Syria yang menjadi dosen di Universitas Wisconsin AS dengan Joanne Schieble mahasiswinya -mereka hampir seusia- yang beragama Kristen dari keluarga petani yang kolot. Steve lahir sebelum mereka menikah. Meskipun tidak drestui oleh keluarga Joanne, mereka akhirnya menikah setelah Steve di adopsi oleh keluarga Paul dan Clara Jobs. Dua tahun kemudian lahirlah Mona Jandali yang kemudian bernama Mona Simpson karena setelah bercerai dengan Abdul Fattah, Joanne menikah dengan George Simpson. Mereka bercerai berai masing-masing dengan jalan hidupnya sendiri-sendiri. Abdul Fattah (kini 80 tahun) tinggal di Reno, Nevada sebagai pemilik hotel dan rumah judi disana. Ia penganut Islam abangan. Mona 53 tahun menjadi professor bahasa Inggris di UCLA dan novelist terkenal. Mendiang Steve yang sangat terkenal meninggal pada umur 55 tahun. Mona baru bertemu dengan Steve pada umur 25 tahun. Kenangan pertemuan dengan abangnya itu ia sampaikan dalam acara pemakaman Steve: “Meskipun saya seorang feminist, seumur hidup saya mengidamkan seorang lelaki untuk saya cintai dan mencintai saya. Selama bertahun-tahun saya bayangkan orang itu pastilah ayah saya. Pada usia 25 saya temukan idaman itu. Dia adalah abangku”. Steve memang sangat menyayangi Mona, hampir dua hari sekali ia menilpun adiknya itu meskipun mereka tinggal berjauhan. Sehari sebelum meninggal ia menilpun: “Mona cepatlah datang kemari. Maaf sekali saya terpaksa meninggalkan kamu. Saya katakan ini sekarang khawatir kita tidak sempat berjumpa”. Saat-saat terakhir ia ditunggui oleh Mona, istri dan anak-anaknya serta Patty saudari angkatnya. Lama ditatapnya mereka satu persatu, lalu ia melihat kekejauhan. Kemudian ia mengucapkan: “Oh wow. Oh wow. Oh wow, lalu meninggal. Kalimat terakhir yang menimbulkan teka-teki itu seperti ungkapan perasaan heran melihat atau merasakan sesutu yang mengagumkan. Entahlah. Wallohu a’lam. Tapi dalam bayangan saya ia ingin berkata: Lho. Lho.. kok saya terpisah dari badan saya!”

Steve Jobs tidak kenal Islam, ia penganut Kristen awam, tetapi sangat terpengaruh dan banyak yang mengatakan ia penganut agama Budha. Yang jelas dia berdarah Arab. Mona sebelum berjumpa dengan Steve membayangkan bahwa abangnya pasti mirip dengan Omar Sharif aktor pemeran Lawrence of Arabia dan Doctor Zhivago yang tampan itu. Ternyata lebih tampan, kata Mona. Bassma Al Jandali, reporter senior pada surat kabar Gulf News di Dubai adalah sepupu Steve Jobs, yang tidak saling mengenal karena pamannya, Abdul Fattah tidak pernah pulang ke Syria. Dalam Gulfnews.com 7 Oktober Bassma Jandali menulis diantaranya: Abdul Fattah John Jandali termasuk keluarga Sunni yang terkenal di Homs, Syria. Keluarga tersebut adalah keturunan langsung dari Nabi Muhammad saw. Bagaimana seorang yang mengaku keturunan Nabi memelihara rumah judi, kumpul kebo dan melahirkan anak diluar nikah? Atau keturunan memang bukan jaminan.

Gambar dari kiri kekanan: Abdul Fattah Jandali, Adul Lateef Jandali (Steve Jobs), Omar Sharif, Mona Jandali Simpson