Bulan: November 2013

MISKIN SALAH SENDIRI?

Image

MISKIN SALAH SENDIRI?

Oleh: Jum’an

Ketika saya menderita sakit, tidak sedikit orang-orang yang peduli memberi nasehat agar saya banyak-banyak istighfar, berzikir, membaca Al-Qur’an serta bersedekah. Tujuannya tentu saja agar saya memperoleh kesembuhan disamping berobat dokter. Saya meng-iyakan saja nasehat mereka; tetapi tidak banyak yang bisa saya lakukan. Ada hal yang tidak mereka ketahui tentang saya: bahwa penyakit yang saya derita (dan juga kebanyakan penyakit) telah melumpuhkan semangat dan mengkaburkan kejernihan berfikir, tidak lagi seperti ketika saya dalam keadaan sehat, pikirang terang. Saat sehat, satu doa pun saya ulang-ulang. Istighfar dan zikir enteng. Bacaan Qur’an-pun terasa pesonanya. Begitulah agaknya keadaan orang yang menderita kemiskinan. Kemiskinan itu telah melumpuhkan akal sehat dan nalar mereka. Anjuran agar bekerja lebih giat, mengajukan kredit usaha kecil dengan memenuhi berbagai persyaratan dan melampirkan macam-macam bukti. Formulir, meterai, stempel. Apalagi mengikuti macam-macam kursus kewira-usahaan. Semua tidak mudah dicerna oleh otak mereka. Ibarat mengajak pengemis berolah raga!

Banyak bukti penelitian yang menyatakan bahwa akibat kemiskinan, seperti khawatir apakah besok-besok masih bisa makan atau tidak, bagaimana membayar hutang yang menumpuk, dapat merongrong balik menjadikan simiskin kekurangan kekuatan mental dan daya pikir untuk mengatasi kemiskinannya. Penelitian Dean Spears dari Univ. Princeton (2011) mengaitkan kemiskinan dengan menurunnya pengendalian diri; bahwa kemiskinan mempersulit pengambilan keputusan ekonomi dan melumpuhkan pengendalian perilaku. Penelitian lain juga menemukan bahwa kemiskinan merusak kemampuan untuk mengendalikan diri. Tiap orang memiliki energi mental terbatas. Makin banyak energi itu dihabiskan untuk menghawatiran kebutuhan dasar sehari-hari, makin sedikit yang tersisa untuk membuat perencanaan dan keputusan yang sehat dalam jangka pendek dan keberhasilan jangka panjang. Orang miskin sering mengalami rasa putus asa yang melumpuhkan. Khawatir dapat menjadi umpan balik yang cenderung menyempitkan pandangan, semacam jerat yang sulit dilepaskan.

Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Science menunjukkan bahwa stres karena kekhawatiran keuangan dapat benar-benar merusak fungsi kognitif orang miskin. Data dari orang-orang berpenghasilan rendah di Amerika dan petani miskin di India, sama-sama membuktikan bahwa baru merenungkan rencana keputusan saja, sudah melemahkan kinerja otak mereka. Orang miskin Amerika yang diminta untuk memikirkan perbaikan mobil dengan biaya yg tinggi, ketika menjalani test kemampuan berfikir hasilnya lebih buruk dibanding mereka yang diminta memikirkan perbaikan mobil dg biaya yg lebih rendah ataupun dari orang yang lebih kaya. Para peneliti itu juga mengamati hasil test kemampuan berfikir para petani miskin di Tamil Nadu India, sebelum dan sesudah musim panen. Daya pikir para petani sesudah panen (meskipun belum menikmati hasilnya) yg merasa lebih aman ternyata lebih baik daripada sebelum panen yang masih merasa khawatir. Temuan ini menambah bukti bahwa bahaya kemiskinan tidak terbatas pada dampak langsung dari kekurangan materi, tetapi berakibat pada menurunnya kemampuan berfikir, yang penting bagi kita bila ingin memahami tentang orang miskin. Berdasarkan kenyataan itu diadakanlah penelitian tentang manfaat bantuan langsung tunai tanpa syarat kepada orang miskin. Para peneliti telah menemukan bahwa pemberian uang tunai satu kali untuk penduduk miskin di Uganda telah menghasilkan peningkatan besar dalam pendapatan mereka selama 4 tahun berikutnya.  Mudah dipahami bahwa suntikan dana awal itu telah memberi hasil yang nyata. Tapi kemungkinan besar justru kelegaan mental yang ditimbulkan oleh bantuan tunai tanpa syarat yang sebenarnya menjadikan mereka dapat mengambil keputusan dan pemecahan masalah yang lebih tajam.

Pemikiran yg menggurui, bahwa kita harus berhati-hati dalam memberi bantuan, dan mengharuskan untuk melampirkan persyaratan yang rumit dan seleksi, mungkin justru dapat menambah masalah kemiskinan. Para pemimpin berpikir, orang miskin diberi bantuan gratis hanya akan menjadikan mereka tambah malas! Sesederhana itukah? Bukti dari Uganda diatas menunjukkan sebaliknya. Dimanapun, tekanan kekhawatiran keuangan yang berterusan merupakan penghalang besar bagi pengambilan keputusan yg bijak yang dibutuhkan oleh orang-orang dalam keadaan sulit untuk berhasil. Jadi jangan katakan bahwa mereka miskin akibat perilaku mereka sendiri. Jerat kemiskinan yang sulit dilepaskan telah melumpuhkan mereka sehingga idak bisa berperilaku produktif.

Iklan

SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA

Image

SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA

Oleh Jum’an

Bila anda akrab dengan dunia perwayangan terutama epos Mahabarata anda mungkin mengenal tokoh Dewi Sakuntala, permaisuri Raja Duswanta leluhur kaum Pandawa dan Korawa. Konon ibunya adalah seorang bidadari dari kahyangan. Rasanya saya pernah memiliki gambar Dewi Sakuntala berukuran 3X4 cm untuk bermain Umbul Wayang dimasa kanak-anak dahulu. Dia adalah tokoh fiktif dalam mitologi Hindu. Shakuntala Dewi yang saya tulis ini adalah seorang wanita dalam kehidupan nyata. Namanya sangat mungkin diilhami dari mitologi yang sama karena dia adalah wanita India yang juga beragama Hindu. Ia lahir pada 4 November 1929 didaerah kumuh di Distrik Bangalore India Selatan. Orang tuanya termasuk kasta Brahmana yang miskin. Ayahnya menolak mengikuti tradisi keluarga untuk menjadi pendeta, ia justru menjadi pemain sirkus, yang mahir dalam akrobat, permainan tali, penjinak singa dan adegan manusia yang ditembakkan dengan meriam. Menurut pengakuan Shakuntala Dewi dalam Majalah Hinduism Today, ibunya menikah pada umur 14 tahun dengan ayahnya yang berusia 60 tahun. Pada usia 3 tahun, ketika diajak bermain kartu, ayahnya sadar bahwa Dewi mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam mengingat angka-angka. “Ini dia rejeki  kiriman Tuhan!” pikirnya. Ia pun terkenal melalui pertunjukan kemampuannya di sirkus, dan juga pertunjukan keliling yang diatur oleh ayahnya. Merekapun memperoleh kehidupan dari situ. Ketika berumur 5 tahun Dewi sudah mahir hitung menghitung diluar kepala, sekaligus  menjadi satu-satunya pencari nafkah untuk keluarganya yang beranggotakan 10 orang. Ini mendorongnya untuk melatih diri setiap hari agar bisa terus melakukan pertunjukan untuk mendukung kehidupan keluarganya. “Pada usia 6 tahun, saya memberikan pertunjukan besar pertama saya di Universitas Mysore, dan ini adalah awal dari maraton saya dalam pertunjukan publik.” Dewi menunjukkan bakat matematika nya di seluruh dunia, di perguruan tinggi, di bioskop, radio, dan televisi.

Ketika ia muncul di BBC tahun 1950, jawabannya terhadap soal perhitungan yang sulit ternyata berbeda dari pewawancara.  Ternyata Dewi yang benar. Demikian pula yang terjadi di Universitas Roma. Tahun 1976 The New York Times menyatakan kagum pada kemampuannya: “Dia bisa menjawab akar pangkat tiga dari 188.132.517 – atau hampir semua bilangan lainnya – dalam waktu yang dibutuhkan untuk mengajukan pertanyaan. Ia dapat menyebutkan jatuh pada hari apa setiap tanggal pada abad terakhir.” Tetapi bagaimanapun Shakuntala Devi manusia biasa. Terhadap pertanyaan “jatuh pada hari apa saja tanggal 14 pada tahun 1935”, semuanya dijawab dengan benar kecuali 14 Januari adalah Senin bukan Selasa dan 14 Desember adalah hari Sabtu bukan Minggu.

Pada 1977, di Southern Methodist Univ. di Dallas, ia menghitung akar pangkat 23 dari bilangan 201 digit (terdiri dari 201 angka) dalam 50 detik dengan tepat, mengalahkan komputer Univac, yang menyelesaikannya dalam 62 detik. Pada tahun 1980, dia dengan benar mengalikan dua buah bilangan 13 digit hanya dalam 28 detik di Imperial College di London. Prestasi yang tercatat dalam Guinness Book of World Records 1982 ini adalah luar biasa karena waktu 28 detik itu termasuk untuk mengucapkan jawaban yang 26-digit itu. Ini dia angka-angka itu: 7.686.369.774.870 X 2.465.099.745.779. Jawabannya adalah 18.947.668.177.995.426.462.773.730. “Ini adalah rahmat Tuhan semata. Saya tidak berjasa apa-apa” kata Dewi tentang kemampuan dirinya. Ia dapat mengadakan pertunjukan sampai 2 jam, tetapi untuk melakukannya lagi ia harus menenangkan diri dua atau tiga hari. Menurut Prof Arthur Jensen, dalam penelitiannya tentang Shakuntala Dewi: “Dewi menjawab hampir semua soal lebih cepat dari kecepatan saya menyalinnya di notebook saya.” Jensen meberikan dua soal, akar pangkat tiga dari 61.629.875, dan akar pangkat tujuh dari 170.859.375. Shakuntala Dewi memberikan jawaban yang benar yaitu 395 dan 15, bahkan sebelum istri Jensen mulai menekan stopwatch.

Itulah Shakuntala Dewi, genius matematika yang tak ada duanya. Ia tidak mempunyai pendidikan formal. Ia pernah masuk sekolah tetapi dikeluarkan karena ayahnya tidak mampu bayar. Berasal dari keluarga yang tidak biasa, masa kanak-kanaknya tidak bahagia; ia bercerai dengan suaminya yang ternyata seorang gay. Ayahnya terbiasa memukuli ibunya. Bahkan ketika sebagai kanak-kanak Shakuntala menolak untuk mengadakan pertunjukan karena sedang malas, ayahnya memukuli ibunya dan ibunya memukuli Shakuntala. Kata Dewi, ibunya merasakan pukulan suaminya sebagai rahmat; lebih baik daripada dipukul tetangga. Shakuntala Dewi meninggal pada 21 April 2013 di Bangalore India pada usia 83 tahun karena masalah pernafasan dan jantung. Ia meninggalkan seorang anak perempuan bernama Anupama. Untuk mengingat hari kelahiran Shakuntala Dewi, pada tanggal 4 November 2014 yang lalu logo Google tampil dengan gambar Dewi dan tulisan google dengan angka-angka kalkulator terbalik.

MOMINA BIBI – SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN

 

Image

MOMINA BIBI- SYAHIDAH DARI WAZIRISTAN

Oleh: Jum’an

Alkisah pada sore hari yang cerah tahun lalu, tepatnya tanggal 24-10-2012 yaitu dua hari menjelang hari raya Idul Adha, sebuah pesawat tak berawak AS menembakkan rudal tepat mengenai sasaran, yang ternyata seorang nenek 67 tahun bernama Momina (Mu’minah) Bibi. Nenek dari 9 cucu itu tewas, tubuhnya hancur berkeping-keping. Saat itu dia sedang memetik sayur-sayuran di ladang bersama salah seorang cucunya Nabeela (9 th). Zubeir (13) kakak Nabeela baru saja pulang sekolah berada tak jauh dari sana. Peristiwa tragis itu terjadi di wilayah terpencil di Waziristan Utara, Pakistan. Momina adalah seorang bidan desa. Suaminya Rahman pensiunan kepala sekolah dan anaknya Rafiq (ayah 3 anak: Zubeir, Nabeela dan Asma 5 th.) adalah seorang guru. Hari itu Rafiq dalam perjalanan pulang naik bis dari mengantarkan kue-kue lebaran untuk keluarga adiknya. Sampai di perhentian dekat rumahnya ia melihat kerumunan orang yang sedang menguburkan jenasah. Dengan was-was ia bertanya pada seorang anak, siapa yang meninggal. Jawabnya, ibu dari seorang bernama Latif yg tewas oleh serangan pesawat tak berawak. Anak itu tidak tahu bahwa Latif adalah kakak Rafiq. Ia pun syok, semua bawaannya terjatuh dan bergegas lari kerumah. Ia makin takut ketika ingat bahwa anak-anaknya selalu dekat dengan neneknya. Ketika Rafiq tiba di rumah, ternyata sisa-sisa jasad ibunya yg hangus sudah dimakamkan. Nabeela dan Zubeir terluka dan dibawa ke rumah sak. Rafiq berfikir jangan-jangan mereka tak tertolong.

Berita yang tersiar berbeda-beda. Ada yang melaporkan bahwa lima militan tewas. Ada juga yang menulis bahwa Momina sedang menyiapkan makan untuk beberapa militant sehingga ia ikut terbunuh. Satu lagi, bahwa ada seorang militan naik sepeda motor, tepat di sampingnya sehingga ia ikut terkena. Semuanya tidak jelas. Kata Rafiq hanya ada satu orang yang tewas yaitu ibunya yang berusia 67 tahun yaitu Momina Bibi. Semuanya baru jelas setelah Peneliti dari Amnesti International Mustafa Qadri mengusutnya hingga tuntas. Mustafa melakukan wawancara dengan banyak warga desa tempat kejadian secara terpisah tanpa diketahui bahwa ia dari Amnesti Internasional. Setelah berminggu-minggu ia menyimpulkan bahwa laporan keluarga Momina dapat dipercaya. Dia menyimpulkan sangat tidak mungkin bahwa ada militan yang hadir pada saat serangan rudal itu terjadi. Ia juga menemukan potongan-potongan logam yang menurut analisa seorang ahli, sangat mungkin berasal dari rudal jenis Hellfire. Ada juga anggota keluarga yang melihat drone itu secara fisik. Diantara bukti yang paling mencolok bahwa serangan itu dilakukan oleh pesawat tak berawak AS adalah ketepatan tembakannya yang luar biasa. Secara fisik memengenai sasarannya yaitu tubuh Momina Bibi. Dia benar-benar merupakan sasaran tembak dan hancur berkeping-keping. Mereka betul-betul berniat mengarah orang ini.

Momina dan suaminya Rahman, beserta anak-cucunya, adalah keluarga Islam yang bahagia. Nabeela menghabiskan sebagian besar hari-harinya bersama neneknya. “Saya benar-benar menyukai nenek saya,” katanya. “Saya senang mengikuti dan belajar bagaimana melakukan sesuatu.” Di kebun dihari naas itu, ia bersama neneknya sedang memetik sayuran-sayuran. Neneknya menujukkan cara membedakan kacang yang sudah boleh dipetik dan yang belum. Momina menjahit baju cucu-cunya, menikmati senangnya anak-anak berhari raya. Zubeir mengatakan neneknya disukai oleh semua orang. “Tidak ada orang lain seperti dia. Kita semua mencintainya.” Sejak kematian ibunya, kata Rafiq, kehidupan telah berubah. “Tanpa dia serasa anggota tubuh kami telah dipotong,” katanya. Momina ibarat benang yang menguntai kalung mutiara. Dia adalah perekat keluarga. Bagi Rahman, pensiunan kepala sekolah yang dihormati, kematian istrinya sangatlah menyedihkan. Pasangan itu tidak terbiasa berpisah, kata Rafiq. “Setelah kematian ibu, ayah jarang sekali tersenyum. Ia seperti tidak bersemangat lagi untuk melajutkan hidup.”

Serangan pesawat tanpa awak (drone) berbeda dengan pertempuran lain di mana orang tak berdosa bisa tertembak tanpa sengaja. Drone mengincar sasarannya sebelum membunuhnya. Amerika memutuskan untuk membunuh seseorang, orang yang mereka lihat dari video. Seseorang yang tidak diberi kesempatan untuk mengatakan siapa dia. AS memang sengaja untuk membunuh Momina yang dibidik melalui layar komputer. Selama setahun Pemerintah Amerika tidak pernah mengakui peristiwa ini. Keluarga Rahman telah menceritakan semua ini dihadapan Amnesti Internasional serta wartawan The Guardian Inggris. Akhirnya Kongres AS mengundang Rafiq dan kedua anaknya Zubeir dan Nabeela ke Gedung Putih untuk memberikan kesaksian pada 29 Oktober 2013, beberapa hari yang lalu. Nabeela bercerita sambil memegang gambar serangan yang menewaskan neneknya yang dilukis sendiri diatas selembar kertas. Ketika ia berada tidak jauh dari neneknya dikebun sayur, tiba-tiba ada suara gemuruh. Seperti terjadi kebakaran. Ia takut sekali. Tangannya terasa sakit seperti terkena sesuatu. Ia pun langsung berlari. Sambil lari ia melihat tangannya berdarah. Nabeela terus berlari sampai ia diselamatkan oleh para tetangga. “Saya melihat nenek saya tepat sebelum terjadi ledakan tapi hanya sekejap karena sesudah itu gelap, tapi saya bisa mendengar ia menjerit.”

Zubeir mengungkapkan, pada hari neneknya tewas langit cerah, dia baru saja pulang sekolah dan semua orang sudah bersemangat menjelang Idul Adha, sementara terlihat ada pesawat berputar-putar diangkasa. Bukan pesawat terbang, bukan helikopter, kata Zubeir, dia tahu bedanya dari bentuk dan suaranya. “Saya yakin itu adalah sebuah drone.” Ia melihat sepasang “bola api” menembus langit biru.  Setelah terjadi ledakan, suasana gelap tertutup asap dan puing-puing. Zubeir terluka oleh pecahan peluru. Ia merasa seperti di neraka. Banyak anggota Kongres yang menangis mendengar kisah mereka. Tetapi para pejabat pemerintah tidak dapat berkata apa-apa, kecuali mengulangi kata-kata Presiden mereka Barrack Obama: “Kalau kita tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi jaringan teroris akan terjadi korban lebih banyak lagi – tidak hanya di kota-kota kita di Amerika dan fasilitas kami di luar negeri, tetapi juga di tempat-tempat dimana para teroris bersarang.”…………………………..