Bulan: Mei 2012

BIAR ALLAH SAJA YANG MEMBALASNYA?

BIAR ALLAH SAJA YANG MEMBALASNYA?

Oleh: Jum’an

Sebagai umat Islam saya yakin akan ke-mahakuasa-an Allah dan Dia melihat perbuatan kita sehari-hari. Dan Dia menghendaki kita untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran, amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam kehidupan sehar-hari bila merasa dizalimi oleh orang lain, kita sering berkata “Biar saja! Nanti kan Allah yang akan membalasnya” sebagai pertanda iman kita kepada Nya. Kadang-kadang kita menghukum anak-anak atas kesalahan mereka; juga sebagai bukti iman serta amar ma’ruf dan nahi mungkar kita. Tetapi benarkah itu merupakan manifestasi iman? Ataukah kata-kata “biar nanti Allah yang akan membalasnya” merupakan dalih atas ke tidakmampuan kita untuk meluruskan kesalahan orang lain? Dan menghukum anak kita lakukan hanya karena mudah; sebab anak ada dibawah kekuasaan kita dan tidak akan berani melawan bila kita hukum. Dengan kata lain dalam keimanan, manusia masih mengincar peluang untuk mengelak. Urusan yang mudah, bolehlah kita yang melaksanakan tetapi urusan yang sulit kita tunggu biar Allah saja yang menyelesaikannya.

Mencegah dan menghukum orang yang bersalah tidaklah mudah dan murah tetapi memerlukan pengorbanan dan biaya. Bila seorang teman kita melecehkan teman kita yang lain, sebagai sahabat seharusnya kita menghentikan atau menjauhi si pengganggu tadi. Tetapi risikonya, persahabatan kita rusak atau ia balik melecehkan kita. Bila kita sebagai konsumen ingin menghukum produsen yang curang, kita harus membeli dari produsen lain, yang harus kita teliti lebih dulu dan serba merepotkan. Mengadili dan memenjarakan orang yang bersalah juga tidak murah. Apalagi bila dihitung untuk satu Negara. Jadi mengamalkan iman itu ber-risiko dan membutuhkan biaya. Kesanggupan untuk menanggung risiko dan memikul biaya akan membuktikan iman seseorang itu “berisi” atau sekedar kerangka saja.

Dalam situs harian Huffington Post baru-baru ini dimuat hasil penelitian Kristin Laurin dari Universitas Waterloo Kanada tentang seberapa jauh seseorang bersedia mengeluarkan uang tunai untuk suatu kesempatan menghukum orang yang bersalah. Penelitian menyimpulkan bahwa orang yang percaya adanya Tuhan yang maha kuasa dan maha melihat (singkatnya orang yang beriman, dalam kasus penelitian ini nasrani) ketika mereka diingatkan akan keyakinannya itu, mereka cenderung untuk tidak menghukum orang yang bersalah. Seolah-olah bahwa menghukum orang yang bersalah adalah tanggung jawab Tuhan yang maha kuasa, bukan tanggung jawab manusia.

Namun, para peneliti juga menemukan bahwa keyakinan agama pada umumnya membuat orang lebih menginginkan agar para pelanggar hukum diadili dan dihukum untuk melindungi masyarakat dari kejahatan dan penipuan. Tetapi kemudian kepercayaan terhadap Tuhan yang maha kuasa dan maha pengampun dianggap sebagai peluang untuk secara perorangan melepaskan tanggung jawab, dan memilih untuk tidak memikul biaya dan menaggung risiko.

Menghukum orang yang bersalah adalah hasrat manusiawi. Bahkan menurut penelitian, bayi yang berusia 8 bulan lebih suka melihat yang salah untuk dihukum.

Iklan

PESAN SUFI: JANGAN TIDUR LAGI

PESAN SUFI: JANGAN TIDUR LAGI

Oleh: Jum’an

Dari blog Elisha Goldstein “Rumi’s Secret to Making the Changes You Want” dalam PsychCentral.com. Dr. Elisha Goldstein adalah seorang psikolog klinis dari Los Angeles dan penulis sejumlah buku terkenal dibidang psikologi. Dalam bukunya “The Now Effect: How This Moment Can Change the Rest of Your Life “, Elisha Goldstein menunjukkan bagaimana menggunakan pengaruh “Saat Ini” (yaitu saat antara kita menerima suatu rangsangan dan sebelum kita memberikan respon) untuk membebaskan diri belenggu kebiasaan berfikir dan berperilaku yang tidak menguntungkan kesehatan atau keselamatan kita. Seperti kebiasaan minum, makan terlalu banyak, menyendiri, terlalu banyak menonton TV atau atau kebiasaan berpikir bahwa diri kita lemah dsb. Intinya, buku itu mengajarkan bagaimana menggunakan “saat sekarang ini” (this very moment) untuk mewujudkan perubahan hidup yang permanen. Ambil nafas dalam-dalam beberapa kali, rasakan kehadiran tubuh anda dan ciptakan momen benar-benar fokus (saya, saat ini, disini). Sekarang, baca puisi sufi Maulana Jalaluddin Rumi dari abad ke 13 ini dua kali…

Hembusan angin fajar akan menyampaikan rahasia kepadamu

Janganlah tidur kembali

Mintalah apa yang sungguh-sungguh engkau dambakan

Janganlah tidur kembali

Orang-orang pergi dan kembali melalui ambang pintu – Tempat dua dunia bersentuhan

Pintu itu terbuka lebar

Jangan tidur kembali

Sekarang ini merupakan kesempatan untuk menyadari bahwa kita mulai saat ini dapat melepaskan diri dari kebiasaan berpikir dan berperilaku rutin dengan cara lama yang benar-benar ingin kita rubah. Mungkin selama ini kita telah larut dalam kebiasaan yang merugikan kesehatan dan keselamatan kita seperti contoh diatas tadi. Maulana Rumi mengingatkan kita bahwa “angin subuh mempunyai rahasia yang ingin disampaikan kepada kita. Jangan kembali tidur. ” Mengingatkan kita bahwa sejak waktu pagi, kita bisa menerobos keluar dari kecenderungan kebiasaan kita dan benar-benar tampil dengan sadar. Kita tidak perlu untuk kembali ke yang itu-itu lagi. Apa yang benar-benar engkau dambakan? Ingatkan itu kepada dirimu dan “jangan kembali tidur.”

Tetapi Rumi juga mengingatkan betapa momen-momen datangnya kesadaran dan mengadakan pilihan itu sangat subtil, sangat samar-samar. Kita sudah menyentuh kearifan untuk berubah, “bolak-balik melintas lewat ambang pintu.” Dia mengingatkan kita bahwa ambang pintu ada, terbuka lebar, dalam hati kita bisa merasakannya dan mungkin bahkan mencobanya.

Kadang-kadang dibutuhkan pengingat seperti ini untuk menempatkan kita ke dalam ruang kesadaran di mana kita dapat melihat ambang pintu, melihat harapan, untuk membuat perubahan. Kesadaran sesaat akan kejelasan dan pilihan inilah yang oleh Dr. Elisha Goldstein disebut “efek saat ini” (The Now Effect). Ketika kita memiliki pengalaman membuat perubahan. Ini memungkinkan kita untuk percaya diri bahwa kita memang bisa melakukannya.

Ini menoreh masuk kedalam memori jangka pendek kita dan karena kita sengaja berlatih dan mengulangnya ia akan menjadi terbiasa. Kita masih akan menyeberang bolak-balik melintasi ambang pintu dari waktu ke waktu, tapi lama kelamaan, dengan pengamalan, kita akan lebih terjaga dan makin jarang terlena.

Berikan diri Anda penghargaan untuk melintasi ambang pintu dan “jangan kembali tidur…….”

KETAKUTAN MATI PARA DOKTER

KETAKUTAN MATI PARA DOKTER

Oleh: Jum’an

Kullunafsin dzaaiqatul maut; semua orang akan merasakan mati. Sejak kecil ayat 185 Ali Imran itu sudah bersarang dikepala saya. Sebagai anak SD, kalimat itu saya rasakan sebagai sebuah ancaman dan bukan kalimat berita. Bukan hanya artinya, bunyinyapun bila diucapkan dengan aksen santri, kedengaran magis dan menyeramkan. Dalam pikiran anak-anak, mati artinya terbujur kaku, dibungkus kafan, diikat atas-bawah, dipendam dalam tanah tak bisa bernafas dan sendirian! Menakutkan sekali. Untung selalu ada teman yang tiba-tiba mengajak bermain atau harus segera berangkat kesekolah sehingga ketakutan itu lenyap dalam sekejap, berganti dengan keceriaan. Semakin besar, dewasa dan tua ketakutan itu tetap ada hanya berubah kadar dan pengertiannya. Saya tidak lagi takut dipendam tanpa bernafas, tetapi takut sekarat dan menghadapi pengadilan dengan standar pernilaian Tuhan, bukan standar kita. Padahal saya banyak dosa. Padahal sesakit apa hukuman menipu teman saja, saya belum tahu. Padahal amalan sehalus debupun akan dibalas juga. Api neraka. Siapa yang tidak takut.

Ketakutan pada kematian adalah universal, karena semua tahu akan mati dan semua tidak bisa mengelak dan semua tidak tahu bagaimana nasib mereka sesudah itu. Kebanyakan orang tidak suka dan mengelak untuk membicarakan soal kematian, meskipun sebenarnya mereka selalu memikirkannya. Penelitian sebuah tim psikiater di Missouri menyimpulkan bahwa orang Amerika dari semua usia berfikir tentang kematian dan sesudahnya empat kali lebih daripada fikiran mereka tentang seks dan asmara. Demikian pula jajak pendapat terhadap 3.000 remaja Jerman Barat mengungkapkan bahwa pertanyaan nomor satu di benak mereka adalah kekhawatiran tentang kehidupan sesudah mati. Persoalan sosial dan politik, yang oleh penyelenggara survei diperkirakan menempati posisi paling atas justru kurang menarik perhatian mereka.

Dr. Ira Byock, dokter ahli dan tokoh perawatan paliatif dari Hanover, menggambarkan pola pikir orang Amerika tentang kematian sebagai “aib nasional” (national disgrace). Mereka enggan berbicara tentang mati. Budaya Amerika cenderung menghindari percakapan serius tentang kematian. Meskipun mereka dengan lantang memperdebatkan legalitas aborsi, hukuman mati, hak bunuh diri (euthanasia) dan penggunaan kontrasepsi tapi bila saatnya diajak membahas tentang kematian mereka sendiri, mereka berlagak bodoh seperti burung unta yang membenamkan kepalanya kedalam pasir.

Diantara yang paling sering menyaksikan dan berurusan dengan kematian adalah para dokter. Karena kondisi yang khas itu para dokter tentu menyikapi kematian mereka sendiri dengan cara yang berbeda dibanding kita-kita yang bukan dokter. Mereka tahu semua tentang perawatan yang sia-sia seperti penggunaan kemoterapi yang berkepanjangan dan penggunaan obat yang gagal untuk meningkatkan kualitas hidup. Kebanyakan pasien atau keluarga pasien selalu menuntut perawatan yang berlebihan. Kalau masih bisa memperpanjang hidup, obati terus, rawat terus apapun kondisinya. Mungkin dokter sebagai profesional medis yang berpengetahuan, menginginkan perawatan yang lebih dari yang bukan dokter. Mereka punya akses dan pendidikan tentang terapi terbaru dan terbaik. Tetapi anehnya dokter tidak ingin mati seperti masyarakat umum – mereka memilih perawatan secukupnya saja; setidaknya begitu pengakuan R.C. Senelick, M.D. Neurolog dan International Speaker dalam Why Dying Is Different for Doctors”. Mereka terbiasa melihat kamar ICU dipenuhi terlalu banyak pasien tua yang mereka anggap tak ada harapan lagi. Mereka kenyang melihat efek samping pengobatan yang mengerikan yang lebih buruk daripada kematian. Kebanyakan dokter tidak menginginkan tindakan heroik bila mereka mengalami hal yang sama. Jika mereka atau keluarganya dihadapkan dengan penyakit terminal yang mengerikan dan tidak ada pilihan yang masuk akal, mereka sepakat untuk membatasi intervensi dan menghindari langkah-langkah luar biasa untuk memperpanjang hidup. Begitu hasil sebuah jajak pendapat.

Tepapi tidak semua dokter sama sikapnya. Penelitian “Fear of Personal Death Among Physicians” menunjukkan bahwa para psikiater, yang paling jarang berhadapan dengan kematian ternyata paling cemas menghadapi kematian mereka sendiri, diikuti oleh internis (lumayan cemas) dan kemudian ahli bedah yang memiliki eksposur terbesar melihat kematian (paling tak cemas). Sesuai dengan dugaan, para dokter tua lebih kurang cemas menghadapi kematian ketimbang rekan mereka yang lebih muda. Dokter yang religius terbukti lebih cemas menghadapi mati dibanding dokter yang tidak religious (penelitian terbatas, di Israel). Mereka lebih takut terhadap hukuman setelah mati. Suatu penemuan yang menarik. Walhasil secara kelompok, dokter menghadapi keputusan-keputusan mengenai kematian mereka lebih terbuka dan dengan mudah menjelaskan kepada keluarga dan rekan-rekannya apa yang mereka ingin lakukan dan tidak ingin dilakukan jika mereka menderita sakit parah atau memiliki sedikit kesempatan kelangsungan hidup yang berkualitas. Wallohu a’lam

SUKMA NABATI

SUKMA NABATI

Oleh: Jum’an

Cleve Backster, mantan spesialis interogator CIA telah terbiasa menggunakan polygraph atau yang biasa disebut lie detector yaitu alat untuk mengukur dan merekam perubahan indikator fisiologis seperti tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dan konduktifitas kulit sementara orang itu diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Prinsipnya jawaban yang bohong akan menghasilkan respon fisiologis yang berbeda dengan jawaban yang jujur. Diilhami oleh hasil penelitian ilmuwan India Sir J. C. Bose yang menemukan bahwa tanaman dapat merasakan sesuatu dengan caranya sendiri, Backster menghubungkan sensor polygraphnya pada sehelai daun tanaman pot diruang kerjanya dan merekam getaran yang terjadi. Ketika ia menyiram pot itu dengan air, jejak jarum polygraph berubah seperti pada gerak jarum seismograf ketika terjadi gempa, tanda bahwa tanaman itu “merasakan” asupan air itu. Lalu Backster memutuskan untuk melihat apa yang akan terjadi jika ia menggertak tanaman itu, dan berfikir untuk menyalakan korek api dekat daun dimana sensor tadi dipasang. Sebelum Backster menyalakan koreknya, tanaman itu sudah lebih dulu menunjukkan reaksi. Jarum polygraph itu jelas berubah getarannya. Ia bereaksi terhadap fikiran Backster yang sedang merencanakan untuk menyakitinya. Menurut penelitian lebih lanjut, niat Backster lah yang merangsang respon itu, yaitu sebelum ia memikirkan untuk menyalakan korek api. Sebuah fenomena ajaib dimana tanaman menunjukkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia.

Bukti terbaru menunjukkan bahwa tanaman tidak hanya dapat memahami dan menanggapi informasi dari luar tetapi juga mengantisipasi bahaya dan tekanan yang akan datang. Demikian hasil penelitiantim ilmuwan dari Ben-Gurion University di Israel. Para peneliti dari Michigan State University juga menemukan bahwa tanaman memiliki struktur saraf elementer, yang memungkinkan mereka merasakan sakit. Tanaman mampu mengidentifikasi bahaya, mengabarkan bahaya itu kepada tanaman lain dan menyusun pertahanan terhadap ancaman yang dirasakan.

Sebenarnya orang didesa saya, dalam dimensinya sendiri sudah mengetahui hal itu, seperti saya ceritakan dalam “Nurani Mangga”. Anda boleh percaya boleh tidak. Ada saatnya ketika pohon jambu baru mau berbuah setelah diancam bakal ditebang oleh pemiliknya. Dan pohon mangga yang baru mau berbuah setelah ditancapkan paku pada batangnya. Saya percaya karena mendengarnya dari beberapa tetangga yang mengaku telah melakukannya. Saya kira penyanyi Ebiet G. Ade dalam hatinya percaya bahwa rumput yang bergoyang sebenarnya dapat menjawab pertanyaan mengapa telah terjadi bencana, ketika ia menyanyikan lagu “Berita kepada kawan”: Kawan coba dengar apa jawabnya. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang… Hasil-hasil penelitian diatas telah mendorong pemerintah Swiss menerbitkan Undang Undang Hak Tanaman(Plant Bill of Rights) bahwa tanaman memiliki hak perlindungan moral dan hukum, dan warga negara Swiss harus memperlakukan mereka secara benar. Tanaman memang mempunyai nurani atau lebih dramatisnya mempunyai sukma; sebut saja sukma nabati.

Kaum Vegetarian yang hanya mau menyantap tetumbuhan sebaiknya mengetahui hal ini -bahwa tanaman juga merasakan sakit- sebelum mereka menuduh bahwa makan daging hewan adalah kejam. Bagi saya tumis kangkung dan sate kambing adalah bagian kemurahan Tuhan, yang memperuntukkannya bagi untuk kita. Syaratnya jangan merusak tanaman dan menggelonggong sapi (dipaksa minum berlebihan supaya dagingnya tambah berat) sebelum dipotong, dan lakukan selalu dengan bismillah.

DUNIA MEMBURUK ATAU MEMBAIK?

DUNIA MEMBURUK ATAU MEMBAIK?

Oleh: Jum’an

Apakah anda lebih percaya bahwa dunia ini sedang menuju kehancuran atau menuju kejayaan? Kebanyakan orang, termasuk saya, lebih percaya pada yang pertama. Para sufi, alim-ulama, dan para dai banyak yang memberitahu kita bahwa dunia makin lama makin bobrok: kerusakan moral, kejahatan dan permusuhan semakin meningkat. Ditambah dengan ancaman bahaya pemanasan global, kerusakan lingkungan serta peperangan dimana-mana, maka semakin meyakinkan bahwa kita sedang menuju kehancuran. Para ilmuwanpun banyak berpendapat bahwa bumi suatu saat nanti tak akan kuat lagi menanggung beban menghidupi manusia. Adakah usaha manusia untuk memperlambat atau menghentikan laju kebinasaan itu? Mustahil rasanya bila manusia yang dibekali Tuhan dengan potensi yang luar biasa membiarkan diri terseret arus menuju jurang kehancuran begitu saja. Atau kita yang ketinggalan kereta tidak mengkuti perkembangan dan telah terkondisi oleh semboyan ‘kiyamat semakin dekat’?

Andrew Cohen seorang pengamat dari Carleton University in Ottawa, menerangkan bahwa setidaknya ada tiga buah buku penting yang memuat pernyataan yang sangat berani dan provokatif tentang usaha manusia kearah kebaikan: mereka mengatakan dengan tegas melalui penelitian luas bahwa kondisi kehidupan di dunia kita meningkat secara dramatis di hampir setiap ranah (domain) bagi umat manusia sepanjang sejarah. Bahkan, mereka mengatakan bahwa masa depan kita terlihat lebih cerah daripada yang kita bayangkan.

Dalam buku “Why Violence is Declining” oleh Steven Pinker dijelaskan dengan rinci bahwa dalam kurun waktu yang panjang, kekerasan telah menurun, dan bahwa hari ini kita mungkin hidup di era paling damai sepanjang keberadaan kita sebagai manusia. Penurunan tersebut, tentu saja belum mulus; tidak membawa kekerasan turun ke titik nol, dan tidak dijamin akan berlanjut. Tapi itu merupakan perkembangan jelas, terlihat pada skala dari milenium ke milenium dari abad ke abad sampai tahun demi tahun; dari peperangan sampai kekerasan terhadap anak-anak. Semua jelas menurun. Dalam buku “How Prosperity Evolves” Dr. Matt Ridley menggambarkan bagaiman kondisi kehidupan di bumi telah meningkat secara dramatis selama 50 tahun terakhir. Pada tahun 2005 [dibanding 1955], rata-rata manusia menghasilkan uang hampir tiga kali lipat, makan dengan 30% lebih banyak kalori, kematian anak-anak turun tinggal sepertiganya dan harapan hidup manusia meningkat 30% lebih panjang. Kemungkinan kematian akibat perang, pembunuhan, melahirkan, kecelakaan, tornado, banjir, kelaparan, batuk rejan, tuberkulosis, malaria, difteri, tifus, campak, cacar, atau polio sangat menurun. Kemungkinan menderita kanker, penyakit jantung atau stroke pada tiap usia juga menurun. Semua ini terjadi selama setengah abad ketika populasi dunia meningkat lebih dari dua kali lipat. Dengan standar apapun, ini merupakan pencapaian manusia yang mengagumkan Dan dalam buku “The Future is Better Than You Think” (2012), Peter Diamandes dan Steven Kotler memberikan penjelasan yang menarik bagaimana kecepatan perkembangan teknologi yang luar biasa telah mempengaruhi masa depan kita menjadi lebih baik dengan cara yang hampir tidak bisa dibayangkan. Jika ramalan kemajuan dari berbagai bidang dan inovasi teknologi itu benar, maka ini merupakan kabar baik yang akan menyelamatkan umat manusia melalui prestasi manusia sendiri yang luar biasa. Dan kita merasa lebih percaya diri menghadapi masa depan kita bersama

Seandainya saja para sufi, alim ulama dan dai memperhatikan dan mengapresiasi “kabar baik” tentang kemajuan ini dalam wawasan mereka. Mungkin mereka bisa menginspirasi kita untuk tidak takut masa depan, dan memberikan motivasi rohani yang lebih dalam bagi kita untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Dengan dengan demikian peran kita diberbagai bidang kehidupan terasa mendapat restu dari mereka. Bagaimanapun mereka adalah panutan rohani kita.