Bulan: November 2010

UCAPKAN SELALU: INSYAALLOH

UCAPKAN SELALU: INSYAALLOH

Oleh: Jum’an

Baru-baru ini teman saya terkena stroke sehingga sebelah tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan dan lidahnya kelu. Nasehat yang paling banyak saya dengar adalah agar dia menguatkan tekad dan kemauan untuk melawan penderitaannya supaya dapat sembuh dengan lebih cepat. Saya kira kebanyakan orang mengakui tekad dan kemauan merupakan bekal penting dalam proses penyembuhan baik dari akibat stroke, kangker ataupun penyakit apa saja. Tekad dan kemauan yang sering diteriakkan dengan Yes You Can atau Saya Bisa bukan hanya diakui penting dalam proses pemulihan diri tetapi juga sebagai pemacu semangat dalam mengejar cita-cita, mencapai tujuan. Dari belajar bermain gitar, meninggalkan kebiasaan merokok, menurunkan berat badan sampai menaklukkan puncak gunung. Tapi Yes You Can maupun Saya Bisa terdengar bernada sombong, terasa memaksakan kehendak dan mendahului takdir. Bagaimana kalau niat, cita-cita, dan masa depan kita hadapi dengan pertanyaan dan pikiran yang terbuka? Kita hadapi dengan sikap bertanya-tanya Bisakah Saya daripada kita tegaskan Saya Bisa. Atau dalam versi yang lebih akrab: “Insyaalloh Bisa”

Wray Herbert dari Association for Psychological Science menulis tentang hasil penelitian Ibrahim Senay, psychologist dari Universitas Illinois Amerika dalam Scientific American edisi bulan Juli 2010 dengan judul: The Willpower Paradox. Ditulis disana bahwa pada dasarnya menetapkan pikiran pada sesuatu tujuan dapat berdampak kontraproduktif dibandingkan dengan memikirkan masa depan sebagai pertanyaan terbuka. Aneh kan? Bagaimana mungkin menegaskan niat justru mengurangi dan bukannya mempermudah tercapainya tujuan? Dalam salah satu eksperimen yang melawan intuisi itu Professor Senay merekrut sejumlah relawan dengan tujuan pura-pura untuk mengkuti penelitian mengenai bentuk tulisan tangan. Sebagian diminta untuk menuliskan: I will (saya mau) berulang-ulang sedangkan sebagian lain diminta menuliskan Will I? (maukah saya). Sesudah selesai, semuanya diminta untuk mengerjakan anagram, yaitu menukar-nukar susunan huruf dalam satu kata atau kalimat menjadi kalimat baru yang berbeda arti.

Ternyata mereka yang menuliskan Will I? hasilnya jauh lebih baik dibanding mereka yang menuliskan I Will. Pada eksperimen berikutnya tugas mengerjakan anagram itu diganti dengan mengikuti program latihan senam rutin selama beberapa waktu.Tetapi hasilnya tetap sama. Mereka yang menulis Will I jauh lebih taat mengikuti latihan itu dibanding mereka yang menuliskan I will. Perbedaan perkataan saya mau dan maukah saya sebelum mengerjakan anagram atau latihan senam tadi tidaklah kentara. Tetapi pada dasarnya maukah saya menempatkan pikiran mereka dalam mode bertanya-tanya sedangkan saya mau merupakan penegasan diri mereka dan keinginan mereka.

Ternyata orang yang menjaga pikirannya tetap terbuka dan bertanya-tanya (wondering mind) lebih termotivasi dan terarah pada tujuan dibandingkan dengan mereka yang mengikrarkan tujuannya pada diri sendiri. Pikiran yang bertanya-tanya cenderung untuk mencari inspirasi positif dari dalam, daripada berpegang pada standar yang kaku. Jadi lebih baik kita melaksanakan niat dengan pikiran terbuka dan bertanya-tanya daripada menegaskannya dengan semboyan Saya Bisa. Karena itu ucapkan selalu Insyaalloh. Cita-cita akan tercapai dengan lebih mudah. Insyaalloh.

PERANG MELAWAN LOUDSPEAKER

PERANG MELAWAN LOUDSPEAKER

Oleh: Jum’an

Loudspeaker merupakan penemuan teknologi yang membawa berkah bagi banyak profesi. Khotib, dai, politisi dan penyanyi lumpuh tanpa loudspeaker. Sidang jum’at akan mengantuk mendengarkan khotbah tanpa loudspeaker. Isi khotbah boleh berapi-api, tapi tanpa bantuan loudspeaker ancaman kurang menakutkan himbauan kurang menarik dan sindiran terasa hambar. Begitu juga suara raja dangdut Rhoma Irama akan terdengar cempreng tanpa sound system yang menggelegar. Orasi Bung Karno dan Bung Tomo kurang membakar semangat kalau disampaikan tanpa loudspeaker. Tetapi seperti juga penemuan teknologi yang lainnya, selalu ibarat pisau bermata dua yang dapat berfungsi sebagai alat bantu yang bisa juga mencelakai orang lain.

Saya sangat mengandalkan suara azan dari loudspeaker masjid dekat rumah. Kalau terpaksa solat diperjalanan saya sering menilpun kerumah menanyakan apakah sudah terdengar azan dari masjid sebelah. Tetapi loudspeaker itu pulalah yang telah menyiksa saya selama bertahun-tahun. Setiap malam idul fitri maupun idul adha saya selalu tidak bisa tidur, sering sampai subuh. Semalam suntuk loudspeaker dikuasai oleh anak-anak yang bangga mendengar suara sendiri bisa begitu keras terdengar orang orang-orang sekampung daripada keinginan untuk bertakbir. Belum lagi ceramah, puji-pujian serta kaset pengajian yang disetel tanpa pertimbangan waktu. Walhasil tidak berlebihanlah kalau saya mengatakan sering tersiksa oleh pengeras suara masjid ini. Seorang teman pernah mengungsikan orang tuanya ke Bekasi ketika tetangganya membangun pentas untuk joget dengan sound system yang dikawatirkan akan memutuskan jantung ibunya.

Mufti Taqiuddin Usmani cendekiawan dan ulama kondang Pakistan (Sunni, Hanafi) pernah mengulas tentang “Merciless Use of Loudspeakers”. Menurut pendapat beliau penggunaan loudspeaker yang tidak pada tempatnya adalah zalim. Penggunaan apapun yang tidak pada tempatnya menimbulkan potensi mencelakai orang lain. Dosa besar bila seseorang sampai benar-benar merasa teraniaya oleh tindakan itu. Beliau mengutip beberapa hadis diantaranya tentang betapa Rasululloh selalu bangkit dari tempat tidur dengan diam-diam agar isterinya yang masih tidur tidak terganggu. Menggunakan loudspeaker masjid untuk mengumandangkan azan adalah pada tempatnya, tetapi mendesakkan ceramah atau zikir kerumah semua orang melalui loud- tidak bisa dibenarkan. Orang tua, orang sakit, balita, orang solat dan orang mengaji semuanya tergaggu.

Menurut Hussain Zaidi seoang blogger muslim dari Islamabad, waktu pertama kali pengeras suara diperkenalkan di Pakistan, yang paling menentang bukanlah orang-orang tua atau ibu-ibu yang menyusui tetapi para ulama karena dianggapnya tidak Islami. Sekarang justru merupakan senjata utama bagi para khotib dan da’i. Disana bahkan tokoh-tokoh agama dari macam-macam aliran saling mengecam melalui loudspeaker mereka dan telah mengakibatkan banyak insiden dan kerusuhan.

Pakistan Declares War on Loudspeakers…” begitu berita beberapa surat kabar Pakistan baru-baru ini. Pemerintah telah menerbitkan suatu peraturan baru tentang penggunaan loudspeaker dan amplifier. Para pelanggar akan dihukum satu tahun penjara atau denda sebesar sekitar 5 juta rupiah atau kedua-duanya. Undang-undang ini dimaksudkan untuk mencegah kerusuhan serta perpecahan dikalangan masyarakat. Omong-omong apakah kita sudah memiliki undang-undang loudspeaker?

TARI PERANG ANTI ROKOK

TARI PERANG ANTI ROKOK

Oleh: Jum’an

Sekarang jangan bertanya-tanya lagi tentang bahaya rokok terhadap kesehatan. Bukti-bukti medis cukup melimpah. Hampir setiap orang tahu. Inti-sarinya sudah diekstrak berbentuk fatwa rokok haram dan warning disetiap bungkus dan iklan rokok: “Merokok dapat menyebabkan kangker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Banyak sudah orang yang menjauhi rokok. Tetapi banyak juga yang tidak peduli. Racun dengan ancaman dibungkusnya itu tetap dibeli tanpa takut sedikitpun dan dinikmati dengan penuh gairah. Tuhan Sembilan Senti, begitulah julukan yang diberikan oleh penyair Taufiq Ismail, mempunyai banyak penganut fanatik diseluruh dunia. Lima Besar Negara penghisap rokok adalah China dengan 390 juta perokok, India 144 juta, Indonesia 65 juta, Rusia 61 juta dan Amerika 58 juta. Indonesia sebagai juara ketiga menghisap 225 milyar batang setahun.

Kapan perang melawan rokok akan berakhir? Dapatkah kita memenangkannya? Secara mutlak tentu tidak karena industri rokok tidak mungkin dihapuskan. Mereka merupakan sumber pendapatan Negara yang penting, menghidupi jutaan buruh dan para petani tembakau, distributor, angkutan, periklanan dan lain-lain. Walhasil keberadaan industri rokok menyangkut hajat hidup sangat banyak orang. Ia diatur dan dilindungi oleh undang-undang dari perizinan, proses produksi serta perdagangannya. Tidak ada seorang Kepala Negara manapun yang berani menutup pabrik rokok meskipun ia tahu rokok merusak kesehatan rakyatnya. Program kampanye anti merokok oleh pemerintah sebagian juga dibiayai dengan uang yang diperoleh dari cukai rokok. Kalau begini bukan perang namanya. Tari Perang ya. Tidak perlu sampai jatuh korban dikedua pihak. Para penarinya cukup berlatih improvisasi seni menyerang dan menangkis tetapi jangan saling melukai. Dorong mendorong boleh tapi jangan membentur tembok.

Dilemma memang. Perang ini mungkin perlu dijadikan tarian saja. Bukan dimenangkan atau diakhiri. Perang akan berlarut-larut tanpa kesudahan kalau kebenaran berada dikedua belah pihak. Tetapi Tari Perang dapat dilestarikan. Rangkul saja industri rokok untuk membiayai penelitian tentang pengaruh rokok terhadap berbagai penyakit. Suatu saat nanti industri rokok akan berjasa melahirkan dokter-dokter ahli penyakit kangker dan impotensi. Asal jangan dipersulit penjualan produknya. Dengan demikian, seperti dalam semua tarian tidak ada konfrontasi atau saling melukai antara para penari.

Perang anti rokok memang sudah menjadi sebuah tarian saya kira. Kalau tidak mana masuk akal barang berbahaya dengan label ancaman yang mengerikan dijual bebas, laku 255 milyar batang pertahun. Lihatlah Obama juga merokok! Memang dilemma

SAYANG DISAYANG

SAYANG DISAYANG

Oleh: Jum’an

Wong Ayu (wanita cantik) ini bernama Li Yuan Peng. Penyanyi glamour dengan jutaan penggemar dinegerinya. Selalu muncul dalam acara perayaan tahun baru didepan para petinggi Negara, menanyanyikan lagu-lagu rakyat yang selalu di sambut tepuk tangan riuh rendah. Wanita pertama yang memperoleh gelar Master di bidang musik etnik tradisional. Bukan itu saja. Ia adalah juga seorang Mayor-Jendral Tetara Pembebasan Rakya (PLA) China yang terkenal sebagai pembuat kebijaksanaannya yang kaku. Dan ia adalah isteri Wakil Presiden Xi Jin Ping yang sedang berkuasa. Walhasil wanita serba.

Tetapi sayang disayang.

Dalam dua tahun mendatang suaminya mungkin akan menggantikan Hu Jintao sebagai Presiden China. Dan Li Yuan akan menjadi ibu Negara. Meskipun itu kedudukan sangat terhormat, Partai Komunis China tidak akan membiarkan seorang ibu Negara China menonjol seperti Michelle istri Barack Obama atau Carla Bruni istri Nicolas Sarkozy yang selalu diliput media. Apalagi setelah istri mendiang Mao Zedong, Jiang Qing yang dulu membuat malapetaka dengan mencampuri urusan suaminya mengurus Negara, bahkan berusaha merebut kekuasaan.

Li Yan Peng pun sudah dimulai ditarik dari peredaran. Tugas kemiliterannya dipindah kebelakang meja. Cerita-cerita kepahlawanannya dalam internet mulai dihapus. Sang bintang mulai pudar karena matahari akan terbit. Sayang disayang……..

JANGAN BIARKAN ANAK JADI POLISI

JANGAN BIARKAN ANAK JADI POLISI

Oleh: Jum’an

Dalam film The Killing Field ada adegan propaganda Khmer Rouge untuk menanamkan ketaatan kepada partai melebihi ketaatan pada orang tua. Mereka percaya bahwa orang tua tercemar oleh kapitalisme karena itu anak-anak harus dipisahkan dan dicuci otaknya dengan ideologi komunis. Diatas papan tulis disebuah balai desa ada gambar seorang tua sedang menggandeng tangan anaknya. Seorang murid teladan umur 10 tahun maju kedepan dan mengamati gambar itu. Lalu dengan muka tanpa ekspresi dia mencoret gambar tangan yang sedang berpegangan itu, tanda memutus hubungan anak dengan orang tuanya. Iapun disambut dengan tepuk tangan. Begitu seingat saya karena sudah lama sekali saya menontonnya.

Bagi kita hormat kepada orang tua atau birrul walidain adalah bagian tak terpisahkan dari ketaatan kita kepada Alloh swt. Apakah kita memerlukansebuah fatwa untuk mengutuk mereka yang berani memutuskan hubungan dengan orang tua? Tidak usah. Cukuplah dengan Qur’an dan hadis yang menganjurkan kita untuk mengormati ibu-bapak kita. Karena semua kebijaksanaan ada dampaknya yang kadang-kadang benar-benar diluar dugaan. Lihatlah kebijaksanaan dari pemerintah DKI untuk mengurangi kemacetan lalu-lintas. Dijalan-jalan tertentu mobil berpenumpang kurang dari tiga orang dilarang lewat. Salah satu dampaknya lihatlah sendiri pada sore hari misalnya di Jalan Yusuf Adiwinata. Anak-anak perempuan belasan tahun berjejer menunggu mobil yang mau membawa mereka, untuk menggenapkan jumlah penumpang maksudnya. Tapi siapa yang tahu? Traffic management menghasilkan masalah sosial yang rawan. Saya pernah melihat seorang anak kecil merebut rokok tamu bapaknya yang sedang disulut didepan mulut. Bapaknya kebetulan teman baik saya. Dia terpaksa memohon-mohon maaf atas kelakuan anaknya yang over-acting dan tidak diduga itu.

Dari surfing saya diinternet, belum lama ini di Saudi Arabia terbit dua buah fatwa yaitu larangan anak-anak mencium jidat orang tuanya yang hanya kadang-kadang atau tidak pernah solat, dan larangan perempuan bekerja sebagai kasir. Saya yakin kedua fatwa itu didasari oleh iktikad baik. Saya hanya menceritakan dampaknya yang saya kira merekapun tidak menyangka. Fatwa yang pertama telah menimbulkan dampak pada salah seorang family saya yang tinggal di Jeddah. Ia tidak mau lagi tinggal dirumah bersama bapak ibunya yang mungkin dianggapnya kurang soleh dan kurang alim. Menurut Tariq Almohayed editor Asharq Al-Awsat anak-anak seperti ini banya dan biasanya terseret karus ekstrimisme yang tidak jelas. ’’Saya telah membesarkannya selama 18 tahun dan dia berbalik dalam waktu enam bulan” begitu pengakuan seorang ayah yang ditinggalkan anak laki-lakinya. Fatwa larangan bekerja sebagai kasir sedikit banyak menimbulkan pengangguran dan apa komentar perempuan awam? ’’Menjadi kasir dilarang, menjadi pengemis kok boleh”. Fatwa yang dimaksudkan agar orang tua taat beragama, berdampak menjadikan sebagian anak mereka berubah menjadi polisi yang mengawasi orang tuanya.

Bagaimana kalau kita mencukupkan diri dengan Surat Luqman ayat 14 dan 15 saja? ’’Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” Tidak usah menunggu fatwa lagi.

DARI SAN’A KE CHICAGO

DARI SAN’A KE CHICAGO

Oleh: Jum’an

Kalau kita mengirim paket keluar negeri melalui DHL, Fedex atau UPS maka dengan nomer pengiriman yang kita terima setiap saat kita dapat melacak posisi paket sudah sampai dimana. Layanan mutakhir yang sangat memudahkan dan sekaligus berpotensi menimbulkan bahaya juga. Karena disamping kita tahu kapan kiriman kita sampai, orang bisa mengirimkan bom dan meledakkannya dari jarak jauh sesampai ditujuan atau ditengah perjalanan. Seperti yang terjadi belum lama ini, ketika Fedex Express mengirimkan paket dari San’a di Yaman ke Chicago di Amerika. Paket itu berupa dua buah printer yang cartridge tinta dan tonernya diisi dengan PETN (Penta Erythritol Tetra Nitrate), bahan peledak yang sangat kuat dan tidak dapat diterawang menggunakan detektor peledak manapun

Paket itu dikirimkan oleh seorang perempuan dari kantor Fedex di San’a untuk dua orang masing-masing Spaniard Diego dan French Pierre dengan alamat yang sama yaitu disebuah synagog di Chicago. Printer itu memang tidak mecurigakan. Petugas pengiriman tidak ngeh tentang kedua nama itu; karena alamatnya cukup jelas dan ongkos kirim di bayar tunai paket itupun diterima untuk dikirim. Apalagi bagi seorang petugas pengiriman, intelejen Amerikapun baru ngeh pada saat-saat terakhir. Padahal cukup aneh seorang wanita Yaman mengirim paket untuk dua orang dengan alamat rumah ibadat Yahudi, berupa printer bekas dengan ongkos kirim yang jauh lebih mahal dari harga pinter itu sendiri. Siapakah penyandang kedua nama itu?

Menurut Abdul Rahman Rashed kolumis harian Almadina Saudi Arabia, Spaniard Diego dan French Pierre adalah nama dua komandan perang yang dulu betempur melawan pasukan Islam dalam perang salib empat abad yang lalu. Mereka kalah dan terbunuh. Jadi bukannya nama pemuda masa kini yang tinggal di Chicago. Hanya mereka yang bersemangat perang seperti aktivis Alqaeda misalnya, yang ada kemungkinan selalu mengingat kedua nama itu. Baik bom itu ditargetkan meledak dalam synagog ataupun diatas pesawat kenapa harus membawa-bawa nama komandan perang Salib? Kenapa tidak Robert Smith atau Frank Jones, nama umum yang tidak mencurigakan saja? Entahlah. Menurut para ahli keamanan keunggulan mereka meramu PETN kedalam cartridge dan toner sebuah printer merupakan prestasi yang inovatif dan canggih.

Kata orang (meskipun perumpamaan ini kurang tepat), pencuri tidak akan tertangkap kalau dia sendiri tidak memintanya. Selalu ada jejak yang tertinggal, yang akhirnya mengundang polisi untuk menangkapnya. Seandainya benar paket dari San’a itu milik Alqaeda tentunya lebih rapih dan tak berjejak. Kenyataan bahwa akhirnya operasi itu gagal sebelum bom meledak membuktikan bahwa jejak mereka masih tetap terdeteksi. Kenapa? Menurut perkiraan saya kebanggaan dan kepercayaan diri yang berlebihan telah menurunkan kepekaan mereka terhadap ancaman bahaya. Mereka tidak sanggup merendahkan diri, malah muncul keinginan untuk disanjung oleh orang banyak. Lalu lupa bahwa yang mengetahui siapa Spaniard Diego dan French Pierre bukan hanya mereka saja, tetapi CIA juga tahu. Itulah yang menyebabkan kegagalan mereka .

ADA ORANG LAIN DALAM DIRI SAYA?

ADA ORANG LAIN DALAM DIRI SAYA?

Oleh: Jum’an

Suatu kali saya bermimpi melakukan perbuatan yang memalukan dan ternyata diintip oleh seseorang. Orang itu saya kejar agar tidak menyebarkan aib saya itu. Tetapi saya terperanjat waktu melihat wajah orang itu ternyata diri saya sendiri. Kok saya ada dua? Padahal selamanya saya hanya ada satu, yaitu diriku yang menghuni tubuhku. Saya tidak pernah menghuni tubuh orang lain dan tidak pernah ada orang lain yang menghuni tubuh saya. Diriku hanya ada ditubuhku dan tubuhku hanya milik diriku. Keduanya merupakan kesatuan yang melekat dan tidak dapat dipisahkan, kecuali kalau saatnya sudah tiba kelak. Belum lama ini VS Ramachandran dan Diana Rogers dari Center for Brain and Cognition Universitas California menulis sebuah kolom yang menarik dalam Scientific American yang berjudul “Hey, Is That Me over There?”.

Meskipun eksistensi saya begitu jelas seperti diatas, dalam keadaan tertentu masih dapat dipertanyakan. Perasaan diri menghuni tubuh, adalah pengertian internal yang lemah seperti persepsi yang lain yang mudah dipengaruhi oleh khayalan dan distorsi. Saya “memiliki” tangan saya dan saya memiliki mobil, dalam sistim kerja syaraf kita sama saja, tidak lebih istimewa. Saya bukanlah sebuah wujud tunggal seperti anggapan saya diatas tadi. Pasien yang diberi obat ketamin sering mengalami sensasi melayang di atas tubuhnya dan menontonnya sedang terbaring. Jika tubuhnya ditonjok keras-keras ia mungkin akan berkata: “Tubuh saya dibawah itu yang sakit, tapi saya sendiri tidak merasakan apa-apa”. Karena pada pasien tersebut “dirinya” terpisah dari tubuh yang dihuninya, dirinya tidak merasakan penderitaan maupun tekanan emosi.

Pengalaman aneh juga dapat dirasakan oleh orang yang terkena stroke yang merusak bagian otak yang disebut lobus parietalis kanan, yaitu wilayah otak yang bertanggung jawab untuk menciptakan citra tubuh, yaitu perasaan menghuni tubuh sendiri. Mereka kadang-kadang merasa melihat dirinya dari luar, seperti efek yang ditimbulkan oleh ketamin. Ramachandran dan Rogers melihat seorang pasien yang wilayah pencitraan diotaknya diserang tumor. Mentalnya sehat dan normal kecuali bahwa ia merasakan ada dirinya satu lagi menempel pada sisi kiri tubuhnya yang menirukan setiap tindakannya. Kalau ia disentuh, ia juga merasa bahwa kembarannya disentuh juga beberapa saat kemudian. Menurut ahli syaraf terkenal dari Inggris MacDonald Critchley, banyak pasien lain yang (tergantung pada bagian lobus parietalis mana yang terkena) merasa dirinya seperti raksasa atau orang kerdil; merasa bagian tubuhnya terbalik atau bengkak; tidak mengakui salah satu tangannya karena katanya tangan itu milik ibunya, atau bahkan membenci salah satu anggota badannya misalnya dengan menyatakan “ kaki kanan saya komunis” dan minta supaya diamputasi.

Betapa rentannya kewarasan kita terhadap kerusakan syaraf yang sangat lembut itu. Kepemilikan tubuh pun menjadi tidak jelas. Saya kira saya satu jiwa-raga yang tunggal dan wungkul. Semua bisa rancu oleh ketamin, tumor dan stroke. Sungguh menakutkan.