Bulan: Juni 2011

HATI-HATI SYAHADAT KOMERSIAL

HATI-HATI SYAHADAT KOMERSIAL

Oleh: Jum’an

Beberapa tahun yang lalu, Ibu Hajah Sariati Prawoto SH (76 tahun) mantan anggota DPR-MPR yang mengidap penyakit jantung, diabetes, hipertensi dan asam urat tinggi bersaksi bahwa setelah memakai kalung Jepang, kadar kolesterol, gula darah, asam urat dan tekanan darahnya menjadi normal. Bukan hanya dia. Prof. Dr. Abdul Mukti, Guru Besar Fak. Kedokteran Univ. Airlangga dan mantan direktur RS Islam Surabaya juga bersaksi bahwa beliau menderita menderita kaki bengkak oleh asam urat yang tinggi sehingga terpaksa memakai kursi roda untuk mengunjungi pasien-pasiennya. Satu minggu sesudah memakai kalung Jepang penyakitnya sirna. “Hebat sekali kalung ini” katanya. Demikian pula Prof. Wahyudi SH yang berpenyakit jantung. Setelah memakai kalung ini merasakan badannya lebih berenergi, tidak mudah lelah, tidur nyenyak, pusing-pusing hilang. Beliau bersaksi: “Ini adalah ciptaan Yang Maha Kuasa yang merupakan amanah yang harus disampaikan secara luas”. Saya juga pakai kalung Jepang itu. Saya membaca bahwa produk ini telah diteliti oleh Dr. Toshiko Yamazaki (Head of R&D on Far Infra Red Products di Jepang. Katanya butir-butir kalung ini mengandung 22 jenis batu mulia dari lava gunung berapi yang dapat memantulkan gelombang elektro-magnet seperti yang terkandung dalam sinar matahari pagi kepada pemakainya. Energinya 100% ilmiah dan dapat dipertanggung-jawabkan secara medis. Teman-teman yang menayakan apa khasiat yang saya rasakan, saya jawab sambil ha-ha-he-he : ”Saya hanya ikut-ikutan menjadi relawan korban iklan; karena sebelum dan sesudah pakai alhamdulillah saya relatif sehat”. Belum lama ini saya juga membeli gelang keseimbangan yang kalau dipakai katanya saya bisa berlari diatas tanggul sempit pembatas tengah jalan tanpa bakal tergoyang dan terpleset. Website penjualnya penuh dengan video testimonial dari banyak olahragawan bule: pegolf, petenis, surfer, pembalap dll. Sayang belum sempat saya praktekkan siaran TV bilang produk itu palsu.

Testimonial yang dalam bahasa Arab tidak lain adalah syahadat, banyak kita temui dimana-mana. Dari pengguna obat- obat tertentu, suplemen diet dan kecantikan sampai orang yang sembuh dari penyakit setelah mengikuti kepercayaan tertentu. Bahkan testimonial merupakan alat pemasaran kunci dalam industri suplemen. Kesaksian seperti diatas memang mempunyai efek ketajaman yang dapat mempengaruhi orang mengambil keputusan. Sangat efektif sebagai sarana untuk menunjukkan kemanjuran suatu produk atau perawatan. Hati-hati! Karena kesaksian bukanlah bukti yang riil, berbeda dengan bukti ilmiah yang lebih absah dan terpercaya. Memutuskan sesuatu berdasar kesaksian dapat sangat merugikan seperti membeli obat yang tidak berguna, suplemen yang tidak perlu dan program diet yang tidak jalan. Mungkin kita bisa memanfaatkan kesaksian untuk menyelidiki lebih jauh. Hanya itu saja

Kita tahu bahwa “harapan untuk sembuh” saja sudah mendorong kearah kesembuhan. Kekuatan harapan ini terbukti ketika seseorang kesehatannya membaik setelah ia menerima pengobatan apapun, terlepas dari manjur tidaknya obat yang diberikan. Oleh sebab itu dalam menguji khasiat obat baru, dokter membagi kelompok pasien menjadi dua. Sebagian diberi obat yang sedang diuji, sebagian yang lain diberi obat placebo yaitu obat semu yang inert, tidak mengandung unsur obat apapun. Ini perlu untuk membedakan pasien yang sembuh karena khasiat obat itu dengan mereka yang sembuh oleh kekuatan harapan dan keyakinan mereka saja.

Jadi saya yang sampai sekarang memakai kalung Jepang karena merasa stamina saya lebih OK ada dua kemungkinan penyebabnya. Mungkin karena bukti ilmiah dari Dr. Toshiko Yamazaki itu dan yang kedua mungkin karena efek placebo yang juga diakui adanya oleh dunia kedokteran. Pokoknya jangan terlalu mengandalkan syahadat komersial dalam memutuskan untuk membeli sesuatu.

PILIH SAN DIEGO HILLS ATAU KARET BIVAK SAJA

PILIH SAN DIEGO HILLS ATAU KARET BIVAK SAJA.

Oleh: Jum’an

Salah satu peristiwa yang menyedihkan di dunia barat adalah ketika seorang nenek tua renta yang sedang menjelang ajal, dengan tangan gemetar membolak-balik sebuah brosur mengkilap berwarna-warni ditunggui oleh pengurus penguburan. Katalog itu berisi koleksi pilihan macam-macam peti mati, cungkup, nisan dan banyak lagi aksesori penguburan model terbaru. Tersedia untuk mayat kelas ekonomi, menengah dan atas. Mungkin tidak menyedihkan bagi mereka tetapi rasanya ada sesuatu yang tidak rasional dalam pemilihan itu. Seperti memilih baju untuk dipakai nanti sesudah tidak dibutuhkan lagi. Tetapi kalau mampu, kalau mau, why not! Masalahnya sekaya dan juga semerdeka apapun, kini mereka sudah tidak sebebas dulu lagi untuk menentukan pilihan. Rakyat mulai keberatan dengan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh industri penguburan yang sangat berbau komersial itu. Menurut Asosiasi Penguburan Amerika, dalam tahun 2011 ini saja, 22.500 kuburan diseantero Amerika harus menampung 3.000.000 liter cairan pembalsem sejenis formalin, 90.000 ton baja (peti mati), 2.700 ton tembaga dan perunggu (peti mati), 1.636.000 ton beton bertulang (cungkup), 14.000 ton baja (cungkup) dan sekitar 10 juta papan kayu keras. Sampah sintetis peninggalan manusia ini kecuali memerlukan tanah kuburan yang luas juga menimbulkan dampak lingkungan yang semakin mengancam. Pengawet sementara dari formalin dan bahan- bahan yang berpotensi menyebabkan kangker akan diserap dan mencemari air tanah. Hanya jazad manusianya saja yang terurai dalam beberapa tahun; selebihnya entah sampai kapan.

Berbeda halnya dengan negeri berkembang seperti Indonesia. Lebih-lebih bagi umat Islam yang tak dianjurkan untuk menyertakan macam-macam aksesori kedalam kubur (bahkan batu nisanpun opsional?), yang kita kubur hampir seluruhnya biodegradable, akan terurai secara alami dan tidak mengganggu lingkungan. (Bila sudi, klik disini untuk mambaca tulisan saya, Material Balance Ahlil Kubur). Di Indonesia tanah kuburan belum dianggap sebagai ancaman kecuali bagi perusahaan real estate yang ngiler membangun gedung perkantoran atau supermarket. Itupun hanya di Jakarta. Tapi karena luas tanah tidak sebanding denga jumlah kematian, kuburan Karet Bivak Di di Jakarta Pusat misalnya, terpaksa melakukan sistim tumpang. Tanah makam seluas 16 hektar dan menerima rata-rata 150 jenazah sebulan ini, tentu sudah penuh dari dulu-dulu. Bila sewa tiga tahunan tidak diperpanjang oleh ahli waris, maka makam akan digali untuk mengubur mayat yang baru. Tulang belulangnya dikumpulkan lalu dibungkus dan dipendam sekitar 40 senti diatas atau dibawah jenasah yang baru. Tulang-tulang yang ditaruh disebelah atas jenazah yang baru, lebih mudah bila ahli waris ingin menggali dan memindahkannya ke tempat lain. Sewa resmi satu lubang untuk 3 tahun paling tinggi 100.000 rupiah dan gratis untuk kaum miskin. Kalau prakteknya sedikit lebih mahal…… ya jamaklah. Biaya penguburan disini sekitar sejuta rupiah. Diantara para penghuni TPU Karet Bivak adalah Haji Sabeni tokoh legendaris Betawi, Muhammad Husni Thamri (Pahlawan Nasional) serta Muhammad Natsir Datuk Sinaro Panjang (Pahlawan Nasional dan Tokoh Islam).

San Diego Hills adalah sebuah kuburan mewah dikawasan Karawang, Jawa Barat seluas 500 kektar. Dari 2000 kapling yang sudah dipesan baru sekitar 700 sudah dihuni oleh, diantaranya alm. Muhammad Supari suami mantan Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari, Pengusaha Sudwikatmono dan Drs Frans Seda Tokoh Tiga Zaman itu. Harga termurah untuk bisa dikubur disana adalah 8 juta rupiah, dan bisa sampai ratusan milyar rupiah bila mau. Tidak ada sistim sewa seperti di TPU DKI disini. Kuburan yang dilengkapi taman-taman asri, padang rumput, air mancur dan patung artistik dan berbagai fasilitas lain (yang semua namanya dalam bahasa Inggris) ini mencontoh Forest Lawn Cemetery, kuburan termewah di California dimana Michael Jackson dan Elizabeth Taylor dikubur. Mau? Kalau kita mampu dan kita mau, why not? Para peziarah dapat berdoa berlama-lama dengan khusuk dan nyaman. Lagipula hantu dan kuntilanak tidak bakalan betah menghuni taman-taman yang terpelihara rapih disana!

Tetapi seperti tidak rasionalnya memilih baju sesudah kita tidak membutuhkan, memilih San Diego Hills atau Karet Bivak adalah seuatu yang tidak relevan. Saya suka dengan kata-kata Triana Septiarini dalam tulisannya yang berjudul: San Diego Hills, Tetap Saja Kuburan: ” …. Siksa kubur tetaplah sesuai amal ibadah kita didunia, tidak ada hakim yang lebih adil dan bijaksana selain Alloh SWT, jadi mau dikubur dipematang sawah kek, dikuburan yang katanya angker kek atau di San Diego Hills sekalipun hanya amal ibadah kita yang akan diperhitungkan kelak”

MASUK BUI – SIAPA TAKUT

MASUK BUI – SIAPA TAKUT

Oleh: Jum’an

Seandainya waktu itu malaikat memberikan sekilas bayangan dikepala Ibu Nunun tentang keadaan dia saat ini, pastilah dia akan menolak mentah-mentah untuk terlibat mensukseskan Miranda Gultom sebagai Deputi Gubernur BI. Ibu Nunun akan seribu kali lebih bahagia dan terhormat sekarang sebagai nyonya dan cahaya rumah (nurbeiti) Haji Adang Darodjatun anggota DPR dan mantan Wakapolri. Demikian pula dengan Politisi Nazarudin, Hakim Syarifuddin Umar dan Jaksa Cirus Sinaga. Waktu memutuskan untuk melakukan kecurangan umumnya pikiran orang terfokus pada jangka pendek seperti keuntungan yang menggiurkan yang akan segera diperoleh misalnya. Sedikit sekali terpikir seberat apa resiko yang akan ditanggungnya kalau sampai terbongkar kelak; apalagi sampai berpikir masuk bui. Yang melakukan penyuapan, yang ngebet menjadi Deputi Gubernur adalah Miranda bukan dia. Tidak ada urusannya dia harus masuk bui. Sekarang Ibu Nunun justru ketakutan masuk bui. Dulu Ibu Nunun adalah seorang ibu yang terhormat. Dia tahu bahwa masyarakat mengharap dia memiliki moral dan etika yang baik karena suaminya adalah seorang tokoh terkenal. Ibu Nunun pasti merasakan tuntutan masyarakat itu. Menurut penelitian, ketika menghadapi batas antara salah dan benar yang abu-abu, orang yang merasa dirinya beretika justru lebih mudah terpeleset menjadi orang yang munafik. Karena orang yang etis dapat melihat kecurangan sebagai suatu hal yang OK untuk dilakukan, dengan membenarkan tindakan tersebut sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir yang bermoral. “Kalau saya menyontek, saya pasti lulus dalam ujian ini. Dan saya dapat lebih cepat menjadi dokter dan menolong orang”.

Berbeda dengan Ibu Nunun, senjata utama seorang hakim atau jaksa dalam melakukan kecurangan tentulah kekuasaan yang dimilikinya. Kekuasaan memang cenderung untuk menggoda pemiliknya untuk korup. Kekuasaan dan kecurangan sudah saling merangkul sejak dulu. Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Kekuasaan juga menuntun pemiliknya untuk berilusi bahwa mereka adalah istimewa dan tidak terikat pada aturan yang membatasi orang lain. Biasanya sesudah sekali lolos melanggar aturan, mereka mulai berpikir bahwa mereka tidak terkalahkan. Hakim dan jaksa juga tidak lepas dari terjebak menggunakan fokus jangka pendek waktu memutuskan untuk melakukan kecurangan. Bagi mereka kecurangan dapat menghemat banyak waktu dan tenaga dan memperoleh keuntungan lebih dari bisnis jujur sesukses apapun. Kalau mereka mampu mengatur nasib orang lain, pastilah mampu menentukan nasib sendiri.

Bagi para politisi yang kelestarian kedudukannya bergantung pada dukungan public, tentulah bukan kekuasaan yang berada dibalik peilaku curang mereka. Frank Farley mantan Presiden Asosiasi Psikolog Amerika berpendapat bahwa para pengambil-resiko adalah orang-orang yang cocok dan berkembang dalam dunia politik. Profesi politisi adalah khas (tailor-made) untuk pengambil resiko, yang juga pencari sensasi, bercanda dengan bahaya. Mereka percaya mampu mengendalikan diri sehingga mereka berani melakukannya. Politisi curang adalah pengambil resiko yang paling nekat mengingat kehidupan mereka seperti ikan dalam akuarium yang selalu ditonton orang banyak. Sebenarnya Politikus Nazaruddin, Hakim Syarifuddin dan Jaksa Cirus, apalagi Ibu Nurbeiti bukannya tidak takut masuk bui. Hanya saja mereka tidak pernah mau dengan serius memikirkannya sebelum memutuskan berbuat curang; dan malaikat juga tidak mau memberitahu lebih dulu.

AKIBAT TERLALU BANYAK BERPIKIR

AKIBAT TERLALU BANYAK BERPIKIR

Oleh: Jum’an

Berpikir adalah baik. Makin banyak berpikir, makin baik. Dengan banyak berpikir kita banyak tahu, keputusan kita bertambah bulat karena pertimbangan kita cukup lengkap. Tetapi kita banyak yang kurang berpikir dan banyak pula yang terlalu banyak berpikir. Suatu waktu saya mengerahkan pikiran untuk menyusun sebuah argumentasi, saya lengkapi dengan data dari mana-mana yang akhirnya tersusun menjadi bahan yang berhasil menciptakan keuntungan bagi perusahaan tempat saya bekerja. Saya bangga karena telah berbuat jasa yang cukup berarti. Tetapi mana upahnya? Bonus tidak, naik gaji tidak penghargaan tertulispun tidak. Untuk apa susah-susah memeras otak? Tidak akan lagi-lagi. Rugi saya. Begitulah karena saya kebablasan berpikir kebanggaan saya berubah menjadi penyesalan; hati saya merasa sedih dan pesimis, sikap saya menjadi negatif. Apakah anda juga sering menghabiskan banyak waktu berkutat dikepala anda sendiri? Mengolah sesuatu dalam otak, memikirkannya dari segala sudut dan segala kemungkinan karena ingin mengambil keputusan yang sempurna sebelum bertindak? Silahkan tetapi secukupnya saja, sebab apabila berlebihan bisa-bisa berakibat stagnasi, frustrasi atau stress. Mungkin waktu yang anda habiskan untuk memikirkan sebuah soal yang sepele jauh lebih lama ketimbang waktu yang dibutuhkan kalau anda mau langsung mengatasi persoalan itu. Belum lagi energi yang hilang percuma.

Psikolog Sian L. Beilock dari universitas Chicago pada 2008 meneliti tentang pengaruh kesempatan untuk berpikir yang diberikan kepada pegolf pemula dan pegolf profesional sebelum mereka diminta melakukan serangkaian pukulan. Pegolf pemula dianjurkan untuk mengambil waktu sebelum mulai, sedang kepada para professional dianjurkan untuk segera saja melakukannya. Ketika pegolf pemula diminta untuk melakukan lebih cepat, pukulan mereka menjadi kurang akurat, tapi pegolf profesional justru sebaliknya: mereka menunjukkan pukulan yang prima ketika diminta segera memukul dan goyah ketika disarankan untuk lebih dulu mengambil waktu. Terlalu banyak berpikir memang banyak menggagalkan kegiatan yang memerlukan keahlian dan ketelitian; baik kegitan fisik maupun mental. Anda dapat tersedak ketika berpidato didepan umum atau dalam seminar jika terlalu banyak berpikir untuk mencari kata-kata yang lebih tepat, salah menendang bola karena sibuk berpikir kearah pemain mana bola sebaiknya diberikan. Atau gagal menerbitkan artikel karena terus-menerus dibaca ulang dan diperbaiki sampai akhirnya dibatalkan karena kecewa. Begitulah terlalu banyak berpikir telah menggagalkan kreasi, menggangu inisiatif dan melemahkan motivasi, meskipun semula kita pahami sebagai mekanisme pertahanan untuk menghindari kegagalan.

Menurut sebuah artikel dalam Scientific American, mencoba berkonsentrasi untuk memantau kwalitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja. Karena terlalu banyak berpikir bukan bawaan lahir dan terbukti berbahaya, sebaiknyalah untuk dihindari. “Berhentilah menunggu kesempurnaan. Kerjakan saja niat yang sudah dipertimbangkan. Jangan terlalu banyak asumsi, tinggalkan teori, segera bertindak. Rasakan takut tapi tetap lakukan! Jangan biarkan rasa takut membajak potensi atau melumpuhkan hidup anda!”. Begitu diantara nasehat motivator yang saya baca di internet, dan masih banyak lagi…….

PENGADILAN GEMPA

PENGADILAN GEMPA

Oleh: Jum’an

Untuk pertama kali dalam sejarah, bulan September nanti Pemerintah Italia akan menggelar sebuah Pengadilan Gempa. Sebagai tertuduh, Direktur Badan Nasional Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV) Enzo Boschi yang juga Ketua Komite Bencana Nasional serta 6 anggota komite yeng terdiri dari pakar-pakar terkemuka di bidang gempa dan keselamatan lingkungan. Mereka ber 7 dituduh melakukan pembunuhan 308 jiwa penduduk, karena dianggap gagal memperingatkan masyarakat kota L’Aquila menjelang terjadinya gempa besar yang melanda kota itu pada 6 April 2009. Informasi yang mereka sampaikan kepada publik 6 hari sebelum gempa dinilai tidak akurat, tidak lengkap dan kontradiktif sehingga tidak cukup mendorong penduduk untuk mengungsi. Menurut American Association for Advancement of Science (AAAS) organisasi andalan para ilmuwan, mengadili ramalan gempa yang tidak akurat kecuali mencerminkan kurangnya pemahaman tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh ilmu pengetahuan, juga berdampak intimidasi dan mengkambing-hitamkan. Memprediksi akan datangnya gempa bukanlah sesuatu yang sederhana; bagi para ahlinya sekalipun. Profesor John Vidale seismolog dan ilmuwan dari Universitas Washington mengatakan bahwa peramalan gempa dengan akurat adalah tidak mungkin. Sampai saat ini manusia tidak mampu mengendus kapan datangnya gempa. “Hari dimana para ilmuwan mampu meramalkan gempa masih jauh” kata Dimitar Ouzounov pakar ilmu bumi dari Univ. Chapman California ketika mengomentari gempa di Jepang bula Maret yang lalu.

Mengendus korban gempa yang tertimbun bangunanpun manusia masih kalah canggih dengan anjing. Banyak dokumentasi yang menunjukkan bahwa hewan-hewan seperti gajah, ular, kera dan burung memiliki kemampuan untuk merasakan akan terjadinya gempa, tsunami dan letusan gunung. Sayangnya sedikit sekali data ilmiah yang dapat mendukungnya sampai sekarang. Ketika gempa L’Aquilla terjadi, ditempat yang sama Rachel Grant ahli zoology dari Inggris sedang melakukan penelitian ilmiah tentang pengaruh peredaran bulan terhadap musim bertelur kodok yang hanya terjadi selama sebulan dalam setahun. Selama 29 hari mereka meneliti kodok ditempat mereka bertelur dan berkesempatan untuk mengamati mereka sebelum, selama dan sesudah gempa terjadi. Lima hari sebelum gempa, yaitu ketika mereka baru saja mulai bertelur tiba-tiba 96% dari kodok itu kabur dari kolam dangkal tempat mereka tinggal, entah kemana. Enam hari sesudah gempa susulan yang signifikan berakhir mereka datang kembali dan meneruskan kegiatan berkembang biak. Kemungkinan eksodus mereka disebabkan oleh perubahan medan maknit bumi, atau naiknya kadar gas Radon dalam air tanah yang dikeluarkan oleh kerak bumi yang biasa terjadi sebelum gempa. Apapun penyebabnya, kelakuan kodok itu menunjukkan bahwa mereka merasakan adanya perubahan dan mengambil langkah untuk melindungi diri.

Pada tahun1979 terjadi tsunami dipantai Atadei di pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sehari sebelumnya air laut surut, sangat jauh ketengah. Penduduk desa Weiteba dan sekitarnya karena takut akan terjadi bahaya berusaha untuk naik ketempat yang lebih tinggi. Akan tetapi mereka dicegah oleh pejabat dearah karena hari berikutnya akan ada peninjauan para petinggi dari Kupang dan Jakarta. Tengah malam waktu mereka tidur nyenyak seluruh penduduk desa itu tewas dilanda ombak setinggi pohon kelapa. Begitu cerita rakyat setempat yang saya ingat. Nah, saya kira pejabat daerah itu pantas diajukan ke sebuah Pengadilan Tsunami karena melarang penduduk untuk menyelamatkan diri hanya dengan alasan menunggu peninjauan. Tetapi tertuduh, anak-isteri, kantor beserta semua stafnya juga ikut terbawa oleh gelombang maut malam itu……………..