Bulan: Februari 2015

MASA IYA LELUHUR SAYA KERA

MONKEY

MASA IYA LELUHUR SAYA KERA

Oleh: Jum’an

Beginilah saya. Tanpa pernah membaca sendiri teori Darwin, merasa begitu yakin bahwa isinya hanyalah tentang nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia modern seperti sekarang ini. Sangat risih rasanya ketika harus mempercayai atau tidak mempercayai teori evolusi itu. Bagaimana mungkin dengan pengetahuan yang hanya sekuku hitam harus memutuskan sesuatu yang menyangkut keimanan. Dalam tulisan Jangan Tidak Percaya Evolusi  saya mengutip beberapa kontroversi yang terjadi dikalangan umat Islam dan agama lain dalam menyikapi teori evolusi Darwin itu. Dari satu sisi, sebagai penganut agama yang sangat menganjurkan menggunakan akal dan menuntut ilmu saya percaya pada kebenaran proses evolusi seperti yang dikatakan oleh Dr. Ehab Abouheif dalam tulisan diatas: “Evolusi biologis adalah fakta. Buktinya sangat banyak dan tak terbantahkan.” Akan tetapi ketika sebagai konsekwensinya harus juga percaya bahwa manusia berasal dari kera saya sungguh-sungguh keberatan. Sepengetahuan saya Al-Qur’an tidak menyiratkan sedikitpun tentang itu. Pilihan saya sampai saat ini, leluhur manusia adalah Adam dan Hawa. Dengan demikian sikap saya terus menerus mendua dan tidak utuh. Dan ternyata bukan hanya evolusi kera menjadi manusia, bukan hanya saya dan umat Islam saja, tetapi semua umat beragama mengalaminya ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu pengetahuan. Teori Big-Bang tentang terbentuknya alam raya tidak kalah rancunya untuk dipercayai atau tidak dipercayai.

Dalam suatu Penelitian Agama dan Sains yang baru, terungkap adanya kelompok orang-orang Amerika yang mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi pandangan agama dan ilmu pengetahuan, yang sebelumnya luput dari perhatian. Mereka, yang merupakan 21% dari orang Amerika, sangat mengerti tentang ilmu pengetahuan, menghargai sains dan teknologi, tetapi juga sangat religius dan menolak teori-teori ilmiah tertentu. Karena menurut teori yang populer saat ini Amerika sedang bergerak menjauhi agama kearah yang lebih sekuler, para peneliti itu menjuluki kelompok baru ini sebagai kaum pasca-sekuler. Dengan kata lain, mereka sekaligus ilmiah dan juga religius tetapi ketika terjadi benturan antara iman dan ilmu, cara mereka mengambil sikap berbeda dari kaum modern yang berdiri diatas landasan akal dan kaum tradisional yang bersandar pada agama. Ketika terjadi benturan antara ilmu dan agama seperti tentang evolusi manusia, teori terbentuknya alam semesta, serta tentang umur bumi, mereka  memilih mengambil pandangan ilmu pengetahuan atau pandangan agama, tergantung mana yang menarik menurut pribadi mereka dalam memahami dunia. Kaum pasca-sekuler tahu pikiran para ilmuwan. Mereka hanya tidak setuju pada beberapa isu utama dan yang berdampak pada pandangan politik mereka. Sebagai contoh, kaum modern yang selalu berlandasan pada akal paling mendukung penelitian kedokteran menggunakan stem sel dari janin manusia dan hak aborsi bagi kaum wanita. Tetapi kaum pasca-sekuler yang juga pro dan sains minded, justru memilih berpihak kepada pandangan agama yang cenderung menolak kedua hal tersebut. Mereka juga menolak teori evolusi.

Saya percaya pada proses evolusi tapi tidak mau memihak pada orang yang mengatakan nenek-moyang saya kera. Saya tidak mau masuk partai mereka dan tidak rela menjadikan mereka sebagai pemimpin. Hati nurani saya melawan. Dan dalam  dunia yang hanya sementara dan fana ini, saya bergantung pada keluarga, kerabat dan jamaah yang agamis, meskipun mereka tidak percaya dengan teori evolusi. Apakah kepercayaan saya terhadap evolusi parallel dengan kaum pasca-sekuler?  Atau sikap saya plin-plan? Jangan-jangan anda begitu juga. Bagaimanapun saya merasa perlu membela diri. Hati nurani dan akal pikiran adalah perangkat hidup bawaan, asli minalloh. Menuruti kata hati dan menggunakan akal pada gilirannya sama pentingnya. Jadi menolak percaya bahwa leluhur kita kera karena mengikuti suara hati, adalah hak yang sah. Bukan plin-plan dan bukan mendua.

Lagi pula teori ilmu pengetahuan bisa berubah dengan ditemukannya fakta-fakta baru oleh para ilmuwan.  Menurut ahli biologi abad ke-19 Louis Dollo, evolusi hanya berjalan satu arah, tidak dapat melangkah balik; sekali sebuah struktur hilang, jalur itu tertutup untuk selamanya. Tetapi sebuah penelitian baru oleh Univ. Chile  menunjukkan bahwa evolusi dapat berbalik arah atau reversibel. Penelitian itu memukan bahwa bahwa ruas tulang yang telah hilang dari dinosaurus selama puluhan juta tahun, muncul kembali ketika dinosaurus berevolusi menjadi burung dan terbang. Pergelangan kaki depan dinosaurus berkaki empat terdiri dari 11 ruas yang diperlukan untuk menahan berat badan. Ketika berevolusi menjadi dinosaurus berkaki dua sekitar 230 juta tahun yang lalu, pergelangan itu menyusut tinggal 3 ruas. Diantara yang hilang adalah ruas berbentuk biji kacang yg disebut pisiform. Ketika dinosaurus berkaki dua berevolusi menjadi burung, sendi pergelangan di sayap, antara segmen tengah dan akhir, muncul lagi –yg meningkatkan fleksibilitas sehingga sayap bisa melipat kembali kearah tubuh. Burung juga menumbuhkan sebuah tulang di tempat yang sama berbentuk seperti kacang, untuk menyalurkan kekuatan bagi sayap. Konon sejenis katak pohon dari Amerika Selatan kehilangan gigi bawahnya dan tumbuh kembali setelah 200 juta tahun. Dalam embrio manusia, ada potensi yang sama. Mungkin tulang ekor kita, ruas terbawah dari tulang belakang akan tumbuh menjadi ekor yang panjang dimasa depan ketika manusia mungkin perlu bergelantungan lagi diatas pohon. Bagaimanapun…….. jangan percaya bahwa leluhur kita kera.

Iklan