Bulan: Juni 2010

JABOTABEK DIZAMAN NABI

JABOTABEK DI ZAMAN NABI

Oleh: Jum’an

Dari seringnya mendengar Candi Borobudur sebagai maha karya nenek moyang kita dan melihat seluruh bangunannya yang tersusun dari batu-batu, sangat kuat kesan saya bahwa candi itu sudah sangat-sangat kuno. Sepertinya dibangun oleh nenek moyang kita di zaman batu yang sudah sangat jurassic. Lebih-lebih kalau kalau diingat dari pendirinya Raja Samaratungga dari dinasti Syailendra yang ber agama Budha, agama yang konon sudah ada sejak 2000 tahun sebelum Masehi. Saya merasa yakin Borobudur dibangun jauh sebelum kelahiran Nabi kita s.a.w.

Ternyata candi itu baru mulai dibangun hampir satu setengah abad sesudah Nabi Muhammad s.a.w. wafat dan selesai sekitar tiga perempat abad kemudian yaitu pada tahun 825 Masehi. Masa hidup Rosululloh s.a.w. dari 571 – 632 miladiyyah bersamaan dengan masa pemerintahan Kaisar Tang (566 – 635) pendiri dinasti Tang di Tiongkok. Di Vatikan berkuasa Paus yang ke 61 yaitu Paus Johanes III.

Dengan mencocokkan tahun-tahun sejarah ternyata Gajah Mada, panglima dan maha patih dari Majapahit itu, hidup dizaman keemasan Islam abad ke 13. Dia lahir di Jawa Timur ketika Ibnu Taimiyyah ulama dan cendekiawan Islam yang masyhur itu berumur 27 tahun. Mahapatih Gajah Mada berumur 44 tahun ketika Mustakfi Billah I dari khilafah Abbasiah mengakhiri jabatanya sebagai gubernur Cordoba selama 32 tahun. Ketiga tokoh itu hidup diakhir abad ke 13 dan awal abad 14. Yaitu enam abad sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw.

Menurut catatan para musafir China kuno, pada masa Nabi Isa a.s., di pesisir barat pulau Jawa, yaitu di sekitar Pandeglang berdiri kerajaan Salakanegara, peradaban Nusantara tertua yang pernah dicatat. Kerajaan ini berakhir pada abad ke-4 dengan lahirnya kerajaan Tarumanegara sampai dengan abad ke-7.

Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi di zaman Rosululloh merupakan bagian wilayah kerajaan Tarumangara, sebuah kerajaan Hindu yang didirikan oleh raja Jayasingawarman pada tahun 358. Kertawarman, raja yang ke- 8 Tarumanegara mulai bertahta kira-kira sepuluh tahun sebelum kelahiran Nabi kita. Sudawarman menggantikannya pada tahun 628 atau empat tahun sebelum Rosululloh wafat.

Bagi kita yang bukan pemerhati, tata-letak peristiwa-peristiwa sejarah umumnya tidak teratur dan kabur. Lebih-lebih bagi orang Jawa awam yang pengetahuan sejarah masa lampaunya bercampur-baur dengan legenda, perwayangan serta kisah-kisah dari kitab Mahabarata dan Ramayana.

Ajisaka yang oleh sebagian orang diyakini sebagai pencipta huruf Jawa, juga wallohu a’lam adanya. Menurut Dr. Bisry Effendi, Direktur Lembaga Kebudayaan Desantara dan peneliti LIPI, Ajisaka adalah legenda yang diciptakan sebagai bentuk resitensi dari rakyat Tengger yang tersisih. Menurut legenda itu Ajisaka adalah anak Kiyai Kures dari gunung Tengger, yang oleh seekor ular bernama Antaboga dianjurkan agar berguru kepada Nabi Muhammad di Mekah. Waktu pulang Ajisaka diberi hadiah oleh Nabi Muhammad s.a.w. berupa lontar dan alat tulis, tetapi lontar itu ketingalan dan baru diingatnya sesudah ia tiba di gunung Tengger. Ia kemudian mengutus abdinya yang bernama Ana untuk mengambil ke Mekah, sementara Nabi Muhammad juga mengirim pembantunya bernama Alif untuk mengantarkan lontar itu ke gunung Tengger. Ana dan Alif bertemu ditengah perjalanan dan masing-masing bersikeras saling tidak percaya. Merekapun berkelahi dan kedua-duanya mati. Ketika Ajisaka mendengar kabar tersebut ia bersajak: “Ana Caraka Data Sawala Pada Jayanya Manga Batanga”. Sajak tersebut sampai sekarang menjadi abjad Jawa…. Kacau kan?

COCKTAIL MAUT TANPA AIR MATA

COCKTAIL MAUT TANPA AIR MATA

Oleh: Jum’an

Anda pasti enggan kalau diminta untuk mengingat-ingat ada berapa cara orang menjalani hukuman mati. Yang pernah saya baca ada tujuh cara. Yaitu dengan cara pancung, gantung, kursi listrik, kamar gas, suntik mati, tembak atau rajam. Semuanya terdengar sangat mengerikan. Dipancung kepala jatuh menggelinding dengan mata terbuka sedangkan tubuh menggeleparsebelum benar-benar mati. Tiang gantungan kalau terlalu cepat jatuhnya, badan kelojotan dan kalau kurang cepat kepala meronta karena tercekik. Kursi listrik akan menimbulkan bau daging manusia terbakar yang menyengat dan kulit kepala megeluarkan asap. Di kamar gas orang tersedak menyeramkan dan terlalu lama matinya. Dengan suntikan, tubuh akan meronta dengan tangan dan kaki diikat. Ditembak terlalu ganas, dada ditembus peluru dengan mata ditutup dan tanga diikat kebelakang. Begitu juga dirajam yaitu dlempari batu sampai mati. Semuanya nauzubillah min dzalik.

Karena banyak negara menetapkan hukuman mati didalam konstitusi mereka, sudah seharusnya mereka mencari cara eksekusi yang tak nampak melecehkan, berdarah-darah dan mengerikan. China, Amerika, Iran dan Saudi Arabia tercatat sebagai negara-negara yang paling banyak melaksanakan hukum mati. Narapidana yang akan ditembak mati malam sebelumnya disuguhi dengan makanan kesukaannya, setidaknya begitulah Kusni Kasdut yang dihukum mati pada tahun 1980. Kedua matanya ditutup untuk mengurangi rasa takut. Kabarnya, salah satu senapan dari regu tembak berisi peluru kosong sehinga semua berharap moga-moga bukan peluru mereka yang membunuh siterpidana.

Begitu pula dengan cara suntik mati. Setidaknya ada dua cara untuk menyuntik mati seorang terpidana. Pertama dengan sekali suntik bius over-dosis sehingga tertidur dan tidak bangun lagi. Yang kedua, yang dianggap lebih cepat dan lebih aman, menggunakan suntikan tiga tahap. Yaitu di bius, dilumpuhkan, dihentikan jantungnya. Pada tahun 1977 Jay Chapman seorang dokter Amerika membuat ramuan yang disebut Three Drugs Cocktail yang sejak itu dipakai disana untuk mengeksekusi terpidana mati dengan suntikan (lethal injection).

Cocktail itu terdiri dari tiga bahan kimia yang akan disuntikkan secara berturut-turut melalui saluran infus. Mula-mula larutan Sodium Pentothal suatu senyawa barbiturat yang merupakan obat bius super cepat untuk menidurkan terhukum. Lalu menyusul larutan Pancuronium Bromida yang berfungsi melemaskan dan melumpuhkan seluruh otot-otot tubuh sehingga tidak dapat digerakkan. Terakhir suntikan larutan Potassium Chlorida yang berfungsi untuk menghentikan denyut jantung. Secara teoritis suntikan tiga tahap ini akan mematikan dengan aman, cepat dan tak terasa. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Hukuman mati dengan cara inipun sering berjalan tidak mulus.

Memasang infus dalam suasana tegang tidaklah mudah. Apalagi kalau “pasien” terlalu gemuk, gemetar atau pemakai narkoba. Jadi pembiusan pertama mungkin tidak sempurna. Tetapi karena kemudian tubuh dilumpuhkan dengan suntikan kedua, tim eksekusi tidak tahu apakah pasien mereka merasakan sesuatu atau tidak. Padahal suntikan ketiga yaitu larutan Potassium Chlorida diketahui bakal menimbulkan rasa sakit yang luar biasa panas membakar urat-urat darah bila saraf-saraf masih bekerja dan tidak terbius dengan sempurna. Jadi akibatnya justru kematian yang sangat menyakitkan tanpa seorangpun menyadarinya karena siterpidana hanya diam, berkedippun tidak. Derita tanpa air mata. Maut adalah rahasia Sang Khaliq. Dia lah yang lebih mengetahui.

DUEL KIYAI SADRACH

DUEL KIYAI SADRACH

Oleh: Jum’an

Pada zaman penjajahan dulu, hiduplah seorang anak petani miskin dari Jepara Jawa Tengah yang bernama Radin. Ia sempat menjadi pengemis sebelum kemudian dipungut oleh seorang kaya yang tidak mempunya anak. Iapun dikirim kepondok pesantren di Jombang Jawa Timur untuk memperdalam ilmu agama. Disamping mempelajari agama Radin juga tertarik menekuni ilmu kejawen serta ilmu mistik. Sepulang dari menyantri di Jombang dia tinggal di Semarang dimana ia bertemu dengan Tunggul Wulung, seorang kiyai yang sudah berpindah agama menjadi Kristen Protestan. Radin terpengaruh, lalu berguru kepadanya dan kemudian memeluk Kristen. Oleh Tunggul Wulung ia dibawa ke Jakarta dan dibaptis oleh pendeta Belanda Ader di Gereja Zion Batavia dengan nama baptis Sadrach. Dia diberi pekerjaan sebagai pengedar brosur-brosur agama Kristen keruma-rumah penduduk selama beberapa tahun. Lalu ia dikirim kembali ke Jawa Tengah dan tinggal dirumah pendeta Steven Philips di kota Purworejo.

Sadrach lalu berkelana ke desa-desa mendatangi kiyai-kiyai dan membujuknya berpindah agama. Kalau tidak berhasil ditantangnya kiyai itu berdebat didepan umum untuk mengadu ilmu. Taruhannya, kalau ia kalah ia bersedia kembali memeluk Islam dan kalau menang sang kiyai beserta murid-muridnya harus masuk Kristen. Dengan kepandaiannya bebicara, pemahamannya tentang agama Islam dan Kristen, kejawen dan ilmu mistik tidaklah sulit baginya menaklukkan seorang kiyai desa dengan pengetahuan ala-kadarnya, tidak melengkapi diri bahkan merasa tabu untuk berdebat, apalagi didepan orang banyak dengan murid-murid duduk dibelakangnya. Kadang-kadang duel perdebatan itu berjalan dramatis selama berhari-hari. Dua kyai pertama yang kalah dalam duel melawan kiyai Sadrach adalah kyai Ibrahim dan kiyai Kasanmetaram dari desa Sruwoh dekat Kutoarjo. Merekapun lalu dibaptis, bahkan Kasanmetaram merelakan istrinya untuk dinikahi oleh kiyai Sadrach. Kasanmetaram berganti nama menjadi Paulus dan Tompo, isterinya yang kemudian dinikahi oleh Sadrach diberi nama Deborah.

Itulah sekelumit kisah kiyai Sadrach pendiri Gereja Kristen Jawa, yang oleh para pengikutnya dianggap sebagai guru bahkan Ratu Adil di tanah Jawa. Sedangkan bagi para misionaris, dia adalah kiyai Jawa yang ambisius dan gila hormat, yang mencampur-adukkan ajaran gereja dengan kejawen dan budaya lokal. Ia tetap memakai atribut kiyai dan gerejanya berbentuk dan dinamai masjid. Sadrachpun mendapat tentangan keras dan dianggap duri dalam daging oleh Belanda. Meskipun sampai sekarang komunitas Sadrach masih ada kebanyakan anak-cucu mereka memilih masuk sekte-sekte Kristen yang lebih terkenal, bahkan sebagian masuk katholik. Kiyai Sadrach lahir di Jepara 1835 dan meninggal di Purworejo tahun 1924 pada umur 89 tahun.

Cara berdebat sampai takluk yang dilakukan oleh Kiyai Sadrach untuk meng-kristen-kan umat Islam bukanlah cara yang objektif dan terpuji. Demi untuk memenangkan perdebatan orang mencecar lawannya dengan pertanyaan yang tidak berguna, penuh peluang menyinggung perasan dan menyakitkan hati, mementingkan konfrontasi dan tidak menggambarkan pencarian objektifitas dan kebenaran. Rosululloh melarang untuk berdebat, umat-umat terdahulu binasa karena selalu mendebat nabi-nabi mereka. Dalam Qur’an tertulis: ”Wa jaadilhum billatii hiya ahsan” – Layanilah mereka dengan cara yang lebih baik. An-Nahl ayat 125.

Sumber: various

Click disini untuk menyimak 18 Bahaya berdebat dari berbagai nara sumber.

KEMISKINAN DI HARI TUA

KEMISKINAN DI HARI TUA.

Oleh: Jum’an

Dipojok timur bundaran Senayan dari arah jalan Senopati ada seorang lelaki tua, pengemis pendatang baru yang menarik perhatian. Bukan saya saja tetapi para pengendara mobil dan motor lain juga memperhatikannya. Ia tidak menunjukkan penampilan ataupun perilaku seorang pengemis. Hanya wajahnya yang pucat dan loyo yang menjadikannya pantas untuk mengemis. Rambutnya yang sudah memutih dipotong pendek dan disisir dari kiri menyibak kekanan. Bagian bawah bajunya dimasukkan kedalam celana memakai ikat pinggang layaknya seorang pegawai kantor. Agak kumal memang, tetapi kelihatan rapih.

Dia tidak mengulurkan tangannya untuk meminta, tetapi berdiri menyandar dipagar jalan dengan tangan kirinya memegang kantong plastik bekas dan tangan kanannya terkulai. Dia hanya menunjukkan wajah fakirnya agar terlihat oleh para pengendara yang sedang menunggu lampu hijau, siapa tahu ada yang memahami maksudnya. Syukurlah gayung memang bersambut. Beberapa orang bergantian melambaikan tangan memanggil dan memberinya uang. Kerelaan itu terkesan dibayangi oleh ketakutan terhadap masa depan mereka sediri. Mungkin ia punya anak atau istri yang sedang menunggu sehingga ia membawa kantong plastik untuk membeli sekilo dua kilo beras kalau usahanya berhasil hari ini.

Menurut dugaan saya dan mereka yang tadi memberi uang juga saya kira, dia adalah seorang pensiunan yang tidak kecukupan hidupnya dan baru saja mulai menekuni ikhtiar baru untuk menyambung umur. Nampak sekali canggungnya dan wajahnya yang menahan malu. Mungkin seorang pensiunan guru, pegawai negri atau pegawai administrasi swasta.

Banyak pembahasan tentang ”Poverty in Old Age” diteliti dari berbagai sudut tetapi kebanyakan berasal dari dunia barat yang pola hidup masyarakatnya berbeda dengan kita. Salah satu diantaranya hasil penelitian dari J. Rowntree Foundation di Inggris tahun 2006 yang menyatakan bahwa yang paling tinggi kecenderungannya untuk miskin dihari tua adalah perempuan, orang-orang yang tinggal sendiri, orang-orang yang menjanda, yang kesehatannya bermasalah, berpendidikan rendah dan tinggal dilingkungan miskin.

Salah satu edisi Majalah Swa pernah mengungkapkan bahwa 80% eksekutif di Indonesia terancam miskin di hari tua. Karena para eksekutif muda berusia 30-45 tahun dengan penghasilan lebih dari 15 juta per bulan, sebagian besar tidak mempunyai perencanaan keuangan untuk pensiun. Dengan gaya dan pola hidup yang sangat konsumtif berapapun penghasilan mereka akan tersedot habis. Ah, jangan-jangan yang saya lihat dibundaran Senayan itu adalah satu dari mereka.

Melihat pengemis tua hati kita selalu bertanya-tanya: dimana anak-anaknya, keponakan, adik-adik dan kakaknya? Kehidupan keluarga yang Islami tidak selayaknya membiarkan hal ini terjadi kecuali seluruh keluarga itu memang miskin. Tentu saja negara ikut bertanggung jawab, mungkin juga sudah berbuat banyak. Inggris yang sudah 100 tahun mengenal pensiun, juga belum berhasil.

Ketika jantung dan paru mulai kembang-kempis memerlukan perawatan dan uang tidak ada. Ketika kita pergi kondangan lebih merupakan kesempatan untuk makan enak dan bukan memberikan kado atau unjuk penampilan. Mengemis mungkin merupakan harapan yang paling halal serta ringan risikonya. Tidak sampai mengemis, tidak mampu berobatpun kalau bisa jangan sampai. ”Ya Alloh, kalau sudah mulai lemah tulang-tulangku nanti, kalau kepalaku memutih oleh uban, wahai yang maha pemurah, mudahkan rizki hamba di hari tua”

JIKA INUL JADI BUPATI MALANG

JIKA INUL JADI BUPATI MALANG

Oleh: Jum’an

Selayaknya hidup adalah kerja keras atau mengolah sumber alam dan menikmati hasilnya. Ada cara hidup lain yang juga ditempuh orang yaitu dengan merampas dan memakan hasil kerja orang lain. Cara yang kedua ini namanya penjarahan. Menurut Frederic Bastiat politisi dan ekonom Perancis abad 19, kalau sekelompok penjarah hidup bersama dalam masyarakat lama-lama mereka akan berusaha membangun sistim hukum yang menghalalkan penjarahan dan landasan moral untuk membenarkannya.

Karena pada dasarnya manusia cenderung mencari kemudahan dan bekerja keras merupakan siksaan, banyak orang akan tertarik untuk ikut menjarah daripada membanting tulang apabila situasi memungkinkan. Dan ini mudah diketahui oleh mereka yang sudah menjadi penjarah lebih dahulu. Sehingga mereka merasa optimis untuk mengajak teman-teman baru tanpa harus merasa takut. Para pemerhati sudah melihat banyak bukti.

Setiap hari kita dikejutkan oleh breaking news kejahatan-kejahatan besar dan para pecundang yang memenangkan perkara mereka. Semakin lama semakin kenyang kita dengan berbagai informasi itu dan akhirnya mencapai titik jenuh. Tak mampu lagi mencerna dan tidak peduli. Mau muntah rasanya. Sebuah penelitian di Amerika membuktikan mayoritas masyarakat negeri kapitalis itu adalah orang-orang yang tidak peduli. Mereka menyangka bahwa perkataan: ”Dari tiap orang sesuai dengan kemampuan untuk tiap orang sesuai dengan kebutuhan” adalah kata-kata George Washington presiden pertama Amerika padahal itu adalah kata-kata Karl Marx penggagas Manifesto Komunis.

Itu sama sekali tidak mengherankan, kata Neal Boortz seorang penyiar radio kawakan, mengingat badut-badut yang kita pilih dan kita tempatkan di Gedung Putih. Merekalah yang mengatur pertunjukan dan dapat dipastikan mereka akan mengumpulkan politisi kelas murahan untuk meramaikan pertunjukan mereka.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa ketidak pedulian masyarakat merupakan incaran para politisi penjarah, legislatif maupun eksekutif. Semakin tidak peduli, semakin mudah mereka menyusun skenario pertunjukan mereka. Makin lempang jalan untuk menyiapkan perundang-undangan sesuai dengan cita-cita mereka seperti yang diramalkan oleh Frederic Bastiat. Sistim hukum yang menghalalkan penjarahan dan filosofi yang mendukungnya.

Bila Inul Daratista yang bernama asli Ainur Rokhimah menjadi bupati Malang, Julia Perez yang bernama asli Yuli Rachmawati menjadi Bupati Pacitan, para politisi dari partai-partai yang mengusungnya baru akan mulai program mereka yaitu babak penjarahan baru yang lebih aman. Cuma dugaan……………………

KALAU ANDA MAU MEMBUAT SAYA

KALAU ANDA MAU MEMBUAT SAYA.

Oleh: Jum’an

Begini cara-cara dan urutannya. Pertama buatlah sebuah tubuh berbentuk saya. Karena untuk hidup saya membutuhkan tenaga, pasanglah sebuah kotak tenaga didalam perut atau dadanya. Nah sekarang saya hidup karena bertenaga, tetapi saya tidak menyadari bahwa saya hidup. Percuma. Masukkan kekepala sebuah pusat kesadaran supaya saya merasakan bahwa saya hidup. Selanjutnya seperti kita tahu, tenaga itu berasal dari bahan bakar, dan bahan bakar sewaktu-waktu bisa habis. Saya perlu bahan bakar untuk dirubah menjadi tenaga. Buatkan saya sejenis moncong untuk menyedot bahan bakar kedalam kotak tenaga dan lengkapi dengan alat penggerus untuk merubah bahan bakar menjadi tenaga sekalian membuang sisanya. Dengan organ-organ tadi anda boleh berharap saya sudah bisa hidup secara sederhana. Tetapi saya belum bisa bergerak.

Kaki saya perlu lutut, pergelangan, telapak serta jari-jari. Tapi kenapa jalan saya masih terseok-seok sempoyongan? Moncong tidak mau menelan, kaki tidak mau melangkah sementara persediaan tenaga sudah hampir habis. Apa lagi yang kurang? Informasi! Ya saya butuh informasi seberapa cepat tenaga saya bisa habis. Pasangkan sebuah jarum penunjuk dikotak tenaga saya dan sambungkan dengan pusat kesadaran, supaya saya tahu saat membutuhkan bahan bakar untuk menambah tenaga. Aneh! Jarum sudah menunjukkan tanda bahan bakar kosong, tetapi saya tetap saja loyo. Rupanya informasi saja tidak memberikan motifasi kepada moncong untuk berinisiatif mencari dan menyedot bahan bakar.

Coba buatkan saya sebuah alat pembangkit dan pendorong. Caranya? Pasanglah dua saklar emosi masing-masing dihubungkan ke pusat kesadaran. Kalau jarum menunjukkan bahan bakar menipis, saklar akan mengirimkan rasa sakit kepusat kesadaran sedangkan kalau penuh saklar yang lain akan mengirimkan rasa senang. Tadi informasi kekurangan tenaga tidak menyadarka apapun. Sekarang saya merasa sakit kalau kekurangan tenaga dan segera bangkit mencari sumber bahan bakar. Saya punya motifasi untuk bisa terus hidup kalau begini, berkat adanya saklar emosi. Saya akan mengerjakan apa yang menyenangkan dan tidak mengerjakannya kalau menyakitkan.

Intinya kalau anda berniat membuat seorang saya, jangan lupa, lengkapi dengan saklar emosi atau perasaan. Karena perasaan adalah sarinya hidup. Para ahli jiwa memandang emosi sebagai hal yang penting untuk memahami perilaku manusia. Kata mereka emosi itu vital untuk kelangsungan hidup, merupakan sumber motifasi, sarana untuk menilai peristiwa serta mengambil keputusan. Kata mereka pula, emosi merupakan bantalan dasar untuk manusia belajar dan membangun memori.

Tapi stop sampai disini saja. Untuk membuat seorang saya yang ber-akhlak mulia, bijaksana dan rendah hati atau sebaliknya anda tidak akan mampu. Apalagi seorang saya yang beriman. Sebab iman membutuhkan hidayah. Dan hidayah hanya datang dari Alloh.

Inspired: Kuliah Instrumentasi dan Michael Fordyce’s “Happiness”.