Bulan: Juni 2014

PERJUANGAN TANPA PERIKEMANUSIAAN

Image

PERJUANGAN TANPA PERIKEMANUSIAAN

Oleh: Jum’an

 

Pada tahun 1568 diabad ke 16, Panglima Takeda berperang melawan Panglima Imagawa, Shizuoka dan Uesugi di Matsumoto Jepang. Shizuoka, yang wilayahnya berbatasan dengan laut sebagai sumber penghasil garam menghentikan pengiriman garam kepada Takeda untuk memaksa rakyat kelaparan dan menyerah. Tetapi Uesugi yang wilayahnya juga memiliki pantai laut tidak tega melihat orang menderita karena kekurangan garam. Baginya tidak terhormat sebagai seorang prajurit dan panglima perang. Dia tidak ingin menaklukkan musuh dengan cara membuat orang awam menderita. Tanpa garam mereka tak dapat mengawetkan makanan yang mudah rusak seperti ikan dan daging. Garam juga mempengaruhi kekuatan otot, tekanan darah dan menahan cairan dalam tubuh manusia. Tanpa garam sama sekali, orang bisa mati. Maka Uesugi mengirimkan garam untuk Takeda, diangkut menggunakan sapi yang tiba di Matsumoto 10 Januari 1568 saat Takeda hampir menyerah. Batu tempat mengikat sapi (Usitunagiishi) di jalan Honmachi di kota Matsumoto itu diabadikan hingga kini. Festival merayakan kedatangan garam pun diadakan setiap 10 Januari dari abad ke 16 sampai sekarang disana.

Ditengah berkecamuknya peperangan di Irak sekarang, pihak-pihak yang bermusuhan yang semuanya adalah kaum muslimin, juga menggunakan cara-cara yang tidak ber perikemanusiaan dan menyengsarakan rakyat. Disaat damai kita semua sadar bahwa orang tua, wanita dan anak-anak, ternak dan tanaman tidak boleh dijadikan sasaran perang baik menurut agama maupun perikemanusiaan. Tetapi dalam masa peperangan semua orang tidak peduli: mereka menghalalkan segala cara demi cita-cita perjuangan yang menurut anggapan mereka paling benar.

Gerilyawan Irak telah menggunaakan air sebagai senjata perang setelah berhasil merebut suatu bendungan sungai Efrat di Nuaimiya, 5 km selatan Falluja yang sejak tahun lalu dikepung oleh pasukan pemerintah untuk mengusir mereka dari sana. Para pejuang ISIS (ISIL) menutup semua pintu bendungan itu yang mengakibatkan banjir didaerah hulu dan kekeringan diprovinsi selatan Irak yang dilalui aliran sungai Efrat. Penutupan itu dimaksudkan untuk membanjiri daerah sekitar kota agar pasukan pemerintah mundur dan menghentikan pengepungan di Falluja. Banjir itu telah mengakibatkan sekitar 60.000 orang kehilangan rumah, panen, ternak dan mata pencaharian mereka. Ratusan ribu orang mengungsi keluar provinsi Anbar akibat banjir yang berminggu-minggu menenggelamkan wilayah di provinsi terbesar Irak itu. Di Ramadi saja, 10.000 rumah hancur, 2000 hektar lahan pertanian tak dapat ditanami, 49 sekolah ditutup dan ujian ditunda. Ini merupakan banjir terburuk sejak 1950, kata Azhar Ibrahim,seorang seorang petani. Meskipun demikian, ia masih merasa beruntung karena sempat memanen melon tepat sebelum banjir datang. Setelah itu ladangnya tergenang habis. “Apa yang mereka lakukan terhadap kita adalah kejahatan,” ia menangis putus asa sambil menghitung uang recehan hasil menjual melonnya di pinggir jalan kota Baghdad. “Menggunakan air sebagai senjata dalam perjuangan untuk membuat orang kehausan adalah kejahatan keji,” kata Oun Dhiyab, pejabat Departemen Pengairan. “Menutup bendungan dan bermain-main dengan air sungai Efrat akan menimbulkan akibat yang mengerikan.” Selain itu banjir buatan itu juga dimaksudkan untuk menjegal pemilihan parlemen pada 30 April. Mereka berhasil; ternyata hanya sepertiga dari TPS di Provinsi Anbar yang dapat dibuka akibat bencana banjir itu.

Penutupan bendungan Nuamiya sekaligus bertujuan untuk membuat Karbala dan Najaf, tempat suci kaum Syiah kekeringan, sehingga memperluas kegiatan mereka di wilayah selatan. Sepuluh juta penduduk mengalami kekurangan air. Bila penutupan terus berlangsung tentu akan berdampak buruk bagi daerah pertanian di banyak provinsi selatan yang bergantung pada sungai Efrat, termasuk Hilla, Karbala, Najaf dan Diwaniya. Penurunan debit air juga menyebabkan kekurangan tenaga listrik di kota-kota di selatan Baghdad, yang mengandalkan generator bertenaga uap (PLTU) yang sepenuhnya bergantung air yang cukup. Pemerintah akhirnya mengunakan taktik yang sama. Mereka membuka semua pintu air di bendungan dekat Haditha lebih ke utara (hulu) di sungai Efrat. Akibatnya, permukaan air naik secara drastis dan meluap ketepi Efrat, masuk dan menjebol tanggul saluran irigasi. Banjir diutara Fallujah ini disengaja oleh pemerintah Irak untuk menghambat gerakan kelompok ISIS dan untuk mencegah  mereka agar tidak sampai ke Baghdad. Diharapkan banjir di wilayah Suni itu akan mengurangi dukungan pada ISIS sehingga mereka tak akan mampu mempertahankan basis operasional mereka di Anbar. Nampaknya hal ini tidak terbukti.

 Menurut berita, awal Juni lalu bendungan Haditha telah dikuasai pihakpemberontak ISIS . Mereka juga menguasai salah satu bendungan besar 30 kilometer utara Mosul, yang dibangun diatas pondasi yang rapuh dan memiliki resiko bobol. Bendungan ini menampung setidaknya 8 miliar meter-kubik air. Bila dam ini sampai jebol maka Mosul akan tenggelam 20 meter dan Baghdad 5 meter dibawah air dan kemungkinan korban tewas  dapat mencapai 500,000 jiwa, kata manajer bendungan Abdulkhalik Ayub. Nauzubillah bila sampai bendungan Mosul ini disabot oleh salah satu pihak yang berperang………….

AGAMAKU ISTRIKU AGAMAMU ISTRIMU: JANGAN GODA!

Image

AGAMAKU ISTRIKU AGAMAMU ISTRIMU: JANGAN GODA!

Oleh: Jum’an

Dr. Reza Aslan adalah sarjana agama dari Harvard dan penulis buku laris Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth. sebuah biografi menarik, provokatif, cermat dan teliti yang menggambarkan Yesus dari Nazaret sebagai pribadi yang radikal, penuh dinamika dan sadar politik, berbeda dengan asumsi lama sebagai guru spiritual yang serba damai. Buku ini merangkum persamaan dan perbedaan antara Yesus dari Injil dan Yesus dari catatan sejarah. Yesus yang selalu meminta orang untuk mengikutinya, bukan menyembahnya. Zealot (Fanatik) dipuji oleh banyak pengulas sebagai potret yg logis dan konsisten dan meyakinkan tentang siapa Yesus dan apa yang ia inginkan. Sejak beredarnya Zealot, Dr. Reza banyak diminta untuk membahas bukunya di berbagai media. Ia menerima respon positif yang luar biasa atas karyanya itu. Reza Aslan dibawa orang tuanya ke Amerika dari Teheran 1979 pada umur 7 tahun untuk menghindari revolusi Iran saat itu. Ia memeluk Kristen sejak usia 15 tahun melalui penginjil di sekolahnya dan memeluk Islam menjelang ia masuk Perguruan Tinggi. Ia menyatakan, menemukan Yesus dan terpukau oleh kisah para pendeta penginjil. Ketika dewasa ia ragu dan memutuskan medalami Injil dengan masuk Kolese Katolik Jesuit, sampai meraih gelar sarjana dan fasih dalam Injil berbahasa Yunani. Ini merupakan awal karir dan keahliannya dalam seluk beluk agama Nasrani. Ia kemudian mempelajari Islam di Univ. Harvard atas anjuran mentornya, Katherine Bell. Sampai saat ini ibunya tetap memeluk agama Kristen. Istrinya, Jessica Jackley seorang Kristen, bahkan iparnya adalah seorang pendeta penginjil. Buku pertama Aslan “No god but God” (Tiada Tuhan selain Allah) yang juga best-seller telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa, dan merupakan 1 dari 100 buku paling penting dari dekade terakhir ini.

Rev. Jennifer Crumpton M.Div (gelar profesional dalam kependetaan) dari Union Theological Seminary di New York yang aktif dalam dialog antar-agama dan keadilan sosial berdasar agama, teologi feminis, etika sosial dan struktural Kristen, menyambut positif buku Reza Aslan. Dia mengatakan buku itu telah telah membangkitkan imajinasi kaum muda Kristen Progressif. “Wajib dibaca oleh kaum muda yang tak lagi merasakan gairah dalam kekristenan mereka”. Kaum muda yang menginginkan iman dalam praktek, bukan rincian tentang kepercayaan. Jenifer mengakui merasakan kehadiran sesuatu yang akrab selama ia membaca Zealot. Yesus tidak dikelilingi oleh malaikat, ia dikelilingi oleh setan budaya generasinya, dan ia berjuang dengan penuh semangat melawan penindasan Romawi saat itu. Video: Interview Rev. Jeniver dg Dr. Reza.

Bersamaan dengan pujian dan penghargaan yang diterima, Zealot juga menuai kritik keras dan kemarahan dari pihak yang tidak suka terutama kaum Kristen Injili (Evangelical, Protestan Fundamentalis). Kemarahan mereka (karena sulit mengkritik dari segi iai buku) ditumpahkan kepada pribadi penulisnya yang diyakini mempunyai maksud tertentu, seperti seseorang yang mau menggoda istri orang lain. Di dalam Wawancara dengan Fox News yang anti-Islam, Dr. Reza didesak dengan pertanyaan mengapa sebagai seorang Muslim mau menulis tentang Yesus. Yang dijawabnya: “Saya adalah sarjana agama dengan empat gelar termasuk tentang Perjanjian Baru, fasih dalam Injil bahasa Yunani, yang telah mempelajari asal-usul Kristen selama 20 tahun, yang juga kebetulan seorang Muslim. Dr. Reza juga dituduh menyesatkan pembaca dengan tidak mengungkap identitas agamanya, padahal hal itu dibahas jelas di halaman 2 buku itu. Fox News hampir secara universal dikritik karena wawancara yang ceroboh itu. Menurut The Washington Post seharusnya Fox minta maaf kepada Dr. Reza atas interview yang gegabah dan memalukan.

Kritik keras juga datang dari John S. Dickerson, pendeta Kristen dan penulis terkenal. Ia menulis bahwa “Zealot” merupakan pembongkaran secara kilat keyakinan Kristen yang telah diajarkan tentang Yesus selama 2000 tahun. “Ini bukan hal baru, tapi pendapat Islam sejak dulu -yaitu bahwa Yesus adalah seorang Nabi yang penuh semangat yang tidak mengklaim sebagai Tuhan, bahwa orang Kristen telah salah paham tentangnya, dan bahwa Injil Kristen bukan kata-kata aktual atau kehidupan Yesus tapi mitos.” Mana mungkin seorang Islam – agama yang sudah beroposisi selama 1.400 tahun- yang tulus menulis tentang Yesus. Sayangnya, kata Dickerson, liputan berita nasional “Zealot” telah mengabaikan konflik kepentingan ini. Sebagai jurnalis dan penulis Kristen saya tidak mungkin menulis biografi Muhammad dan menyembunyikan konflik kepentingan saya dalam wawancara media nasional.

Serangan yang tidak kalah sengitnya datang dari Robert Spencer seorang penulis, dedengkot Islamofobi, anggota Gereja Katolik Melkit (Kanīsat ar-Rum al-Malakiyyin al-Kaṯulik) yang konon banyak dianut di Libanon dan Syria. Bukunya yang terkenal “Muhammad: Pendiri Agama yang Paling Tidak Toleran di Dunia”. Ia juga pendiri “Stop Islamisasi Amerika (SIOA). Ia dicekal masuk ke Inggris karena mendukung “kelompok anti-Muslim”. Spencer dengan emosionalnya nampak ingin menggilas Dr. Reza dengan menyebutnya sebagai “Benda Islam Baru”, “Si Bocah Kecil”, “Supremasis Islam kecil yang menyedihkan”, “Metroseksual- Pesolek”, “Moderat Palsu” dll. Tetapi Dr. Reza menghadapi semua kritik yang bertubi-tubi itu dengan mumpuni karena kecuali ahli dibidangya, bukunya dilengkapi data pendukung yang cukup. Klip wawancara Dr. Reza dengan Lauren Green dari Fox News hanya beberapa hari beredar di YouTube yang ditonton jutaan pemirsa dan justru melambungkan penjualan buku Zealot, sudah dihapus.

ISLAM KULIT PUTIH – BEDA MENTAL DAN BUDAYA

Image

ISLAM KULIT PUTIH – BEDA MENTAL DAN BUDAYA

Oleh: Jum’an

Tahun 1936 di pengasingannya di Endeh, Bung Karno menuliskan kalimat berikut ini: ”….Tetapi apa yang kita ‘cutat’ dari Kalam Allah dan Sunnah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flame-nya, tetapi abunya, debunya, asbesnya. Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam mulut dan Islam-ibadat — zonder taqwa, abunya yang cuma tahu baca Fatihah dan tahlil sahaja — tetapi bukan apinya jang menyala-nyala dari ujung zaman yang satu ke ujung zaman jang lain ….” Sukarno berharap mubaligh-mubaligh berilmu tinggi. Salah satu suratnya kepada Ustad Hassan, pimpinan PERSIS di Bandung mengatakan bahwa ribuan orang Eropa yang masuk Islam diabad ke-20 tidaklah melalui guru-guru yang hanya menyuruh muridnya ‘beriman’ dan ‘percaya’ saja. Bukan dari mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putarkan tasbih saja, tetapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal — karena berpengetahuan umum. Abah Alwi: Bung Karno, Ambil Apinya, Tinggalkan Abunya.

Kini diabad ke-21 makin banyak orang Eropah memeluk Islam. Bagaimana pengaruh mereka kelak dalam perkembangan Islam dan kaum muslimin? Kristiane Backer, seorang wanita Jerman yang memeluk Islam, dalam memoir pribadinya (Dari MTV ke Tanah Suci) percaya, varietas Muslim baru yang modern dan independent dapat bersatu untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama seperti saat saya dibesarkan – yang menindas hak-hak kaum wanita. Dia mengatakan: “Saya tahu banyak wanita muslimah sejak lahir yang kecewa dan memberontak. Jika digali lebih dalam, bukan keimanan mereka yang harus dilawan, tapi budaya mereka. “Aturan menikah satu sekte atau kasta dan pendidikan tidak penting bagi kaum wanita (karena akhirnya harus menikah juga), di mana Qur’an berkata begitu? Banyak kaum muslimin muda yang meninggalkan larangan-larangan versi mereka lahir, karena menemukan pendekatan yang lebih spiritual dan intelektual, yang bebas dari dogma-dogma budaya dari generasi tua. Itulah tekad sisa hidup saya: untuk menunjukkan kepada dunia keindahan Islam yang benar. Lamya Kaddor muslimah Jerman lainnya juga melihat, meskipun semua setuju bahwa Islam mengangkat derajat wanita, kaum muslimin melakukan penerapan yang berbeda. Surat An-Nur ayat 30 dan 31 jelas jelas menyerukan kepada laki-laki (ayat 30) dan kepada perempuan (ayat 31) untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan (berperilaku bersih), namun penafsiran al-Qur’an sampai hari ini hanya menempatkan penekanan pada perilaku suci bagi perempuan. Kristiane dan Lamya mirip jelmaan Bung Karno kulit putih masa kini.

Gambaran Islam Kulit Putih mungkin dapat dilihat juga pada umat Islam negeri Balkan, Bosnia Herzegovina. Dalam wawancara dengan Charlotte Wiedemann, Ahmet Alibasic  dosen Fakultas Islam Univesitas Serajevo mengungkapkan bahwa Bosnia adalah Barat baik mental maupun budaya mereka. Dari ratusan ribu pengungsi Bosnia di luar negeri, sangat sedikit yang tetap di Malaysia, Turki atau negara-negara Muslim lainnya. Mereka akhirnya memilih untuk pergi ke Amerika, Australia atau Jerman. Ditanya akan kemana muslimin Bosnia sesudah era pasca-perang berakhir, Alibasic menjawab: “Kami tidak menuju arah tertentu. Karena kami terputus dari dunia Muslim selama puluhan tahun, selama Kekaisaran Yugoslavia dan periode komunis, kita telah belajar untuk mandiri. Kami telah mengembangkan sistem pendidikan kita sendiri dan menghasilkan pendekatan Islami tertentu untuk belajar. Kami dipaksa untuk mengandalkan diri sendiri; kami sudah terbiasa independen. Dan kami sangat pluralis.

Sarajevo pernah menjadi headline berita dunia selama 4 tahun karena tragedi umat Islam disana. Setiap aliran ingin masuk ke Bosnia untuk menunjukkan bahwa mereka telah berbuat sesuatu di Sarajevo: Salafi, Sufi, Syiah, Wahabi. Alibasic mengatakan: Kami mempunyai tradisi dan demokrasi. Cepat atau lambat semua gerakan yang datang ke sini harus menerima arus utama komunitas Islam disini. Kaum muslimin merupakan 40% dari 3,8 juta penduduk, kebanyakan mengikuti Islam moderat yang dibawa Kekaisaran Ottoman ke Balkan pada abad ke-15. Diluar arus utama ada kelompok-kelompok radikal yang mencap umat Islam Bosnia “tak punya pendirian” karena mengambil bagian dalam pemilu negara sekuler. Di Bosnia 1.400 imam masjid dan 900 guru agama Islam digaji oleh Pemerintah. Tetapi, kata Ahmet Alibasic, kami telah melewati yang terburuk di belakang kami. Selama perang, dan periode sesudahnya, muslimin Bosnia menghadapi bahaya besar. Kaum Salafi yang sangat ambisius pada saat itu. Tapi seperti saya katakan, fase kritis itu sekarang sudah berlalu. Kaum Salafi tetap merupakan tantangan, tapi kami juga khawatir tentang para Sufi dan Syiah. Kami memiliki masalah dengan kaum sufi yang hanya mau mendengarkan syekh mereka dan tidak menerima otoritas masyarakat. Seorang imam tidak diperbolehkan untuk seenak mereka mengubah masjid menjadi tempat pribadi untuk kelompoknya.

Sampai sekarang, kami telah mengatasinya dengan baik. Tidak satupun dari gerakan internasional yang benar-benar sukses di sini. Siapa pun yang datang ke sini harus berhadapan dengan hirarki Muslim yang tidak dapat dikecam lemah atau menjadi antek pemerintah begitu saja. Masyarakat bukanlah perusahaan yang dapat menyelesaikan masalah internal dengan cara yang lugas seperti sebuah perusahaan bisnis. Kami lebih memilih untuk menunggu waktu untuk menyelesaikan masalah. Masyarakat juga harus hidup dengan mereka yang tidak suka, kita tidak bisa membuang siapa pun….