Bulan: Agustus 2012

ASTRONOMI DAN ASTROLOGI

Oleh: Jum’an

Mariam Sultana (30 th) adalah dosen pada Departemen Matematika Universitas Urdu di Karachi. Berkat kerja kerasnya selama 6 tahun terakhir, ia telah memperoleh gelar PhD dibidang Astrofisika Extragalaxy dan menjadikannya wanita Pakistan pertama yang meraih gelar tersebut. Salah satu penguji thesis doktoralnya adalah Professor James Binney, ahli Astrofisika terkenal dari Universitas Oxford Inggris dan Dr Ana Katrin Schenk pakar fisika dan astronomi dari Universitas California. Kata Dr Binney, thesis Sultana merupakan karya yang cukup berbobot dan dari aspek teknis sangat layak memperoleh gelar doktor. Sepantasnya Mariam Sultana memperoleh kehormatan dan pujian dari para mahasiswanya serta masyarakat Pakistan umumnya. Tetapi tidak sepenuhnya demikian. Entah bagaimana banyak dari mereka menyalah-artikan bidang studinya yaitu Astronomi Extragalactic dengan Astrologi yang berhubungan dengan ramal-meramal nasib, yang mereka anggap haram. Bagaimanapun ia harus menghadapi tuduhan dan kesalah-fahaman itu dengan berulang-kali menjelaskan bahwa astrologi dan astronomi adalah dua bidang yang sangat berbeda. Atronomi adalah ilmu tentang alam semesta, tentang bintang-bintang, planet, dan galaksi. Astronomi berurusan dengan posisi, ukuran, energi, komposisi, serta gerakan benda-benda langit. Sedangkan Astrologi menyangkut penafsiran pengaruh posisi bintang-bintangp dan planet-planet terhadap sifat dan nasib manusia; yang pantas saja kalau diharamkan oleh Islam. Sedangkan astrofisika adalah cabang ilmu astronomi yang berhubungan dengan proses fisik dan kimia yang terjadi pada bintang, galaksi, dan ruang antar bintang. Atau cabang ilmu fisika yang mempelajari benda langit dan alam semesta secara keseluruhan.

Sulit dipercaya, bagaimana mungkin mahasiswa (dan orang tua mereka) di kota besar di Pakistan sampai ada yang tidak tahu bedanya astronomi dan astrologi. Tetapi menurut sejarahnya, pada zaman dulu astrologi dan astronomi adalah satu dan disiplin yang sama dan hanya secara bertahap diakui terpisah dalam filsafat Barat abad ke-17. Sejak abad ke-18 astrologi dan astronomi telah dianggap sebagai disiplin yang benar-benar terpisah. Astronomi, studi tentang benda dan fenomena di luar atmosfer bumi, adalah ilmu dan disiplin yang secara luas dipelajari secara  akademik. Astrologi, yang menggunakan posisi benda-benda langit sebagai dasar untuk psikologi, memprediksi kejadian yang akan datang, dan pengetahuan rahasia lainnya, bukanlah ilmu dan biasanya didefinisikan sebagai bentuk ramalan.

Tahukah anda bahwa rumus sederhana anak-anak SMP untuk menghitung sisi miring sebuah segi-tiga siku-siku adalah hasil pemikiran filosof besar Yunani 6 abad sebelum Nabi Isa a.s yang bernama Pythagoras? Tetapi bukankah sudah bukan zamannya lagi mengkaitkan segitiga siku-siku dengan filsafat? Tetapi selalu ada orang yang fanatik dengan pentingnya asal-usul. Astronomi, asal usulnya dari Astrologi jadi tetap saja haram. Begitu mungkin anggapan segelintir umat Islam di Pakistan sana. Mereka bukannya bodoh tapi justru lebih tahu dari kita yaitu bahwa Astronomi, tadinya adalah Astrologi

 

Iklan

SIAPA SOLAT 5 WAKTU DAN SIAPA TIDAK


SIAPA SOLAT LIMA WAKTU DAN SIAPA YANG TIDAK

Oleh: Jum’an

Pew Research Centeradalah lembaga pemikir (think tank) Amerika yang berpusat di Washington yang menyediakan informasi mengenai isu, sikap dan pembentukan trend Dunia dan Amerika. Salah satu proyek PEW adalah serangkaian penelitian dan laporan pendapat publik yang dimaksudkan untuk memahami sikap dunia terhadap berbagai isu. Hasil penelitiannya banyak dikutip oleh koran-koran Indonesi seperti Republika, Kompas dan Tempo. Salah satu survey yang menarik adalah tentang seberapa jauh umat Islam Dunia memandang Agama itu penting atau tidak. Dan seberapa rajin mereka menunaikan solat lima waktu. Berikut adalah grafik persentase umat Islam yang memandang bahwa agama sangat penting dalam hidup mereka di berbagai Negara di dunia.


 Gambaran seperti ini memberikan banyak arti bagi para pimpinan negara, diplomat, agamawan, media, pekerja migran dan kita-kita umumnya. Andapun dapat menyimaknya dari kepentingan masing-masing. Saya terperanjat melihat bahwa umat Islam di negara-negara sub-Sahara Afrika menganggap bahwa agama sangat penting dalam hidup mereka dibanding umat Islam di Timur Tengah; dan betapa umat Islam di Eropah Timur dan Asia Tengah tidak menganggap terlalu penting Agama mereka.

Selanjutnya, seberapa rajin Muslimin di berbagai negara menjalankan solat? Berikut ini adalah grafik hasil survei Pew yang menunjukkan % Muslimin yang menjalankan solat lima waktu dan % yang menjalankan solat tetapi tidak selalu 5 waktu, diberbagai negara.


Grafik ini juga, dapat kita cerna sesuai keperluan. Indonesia misalnya, hanya 77% umat Islamnya yang menjalankan solat, yaitu 71% selalu solat 5 waktu dan yang 6% tidak selalu lengkap. Sedangkan di Turki hanya 42% umat Islamnya solat, itupun yang selalu 5 waktu hanya 27% sedangkan yang 15% solatnya bolong-bolong. Lebih mengejutkan adalah Bagladesh: Muslimin disana hanya 39% yang solat, 30% lima waktu, 9% kadang-kadang. Lebih parah dari Turki.

Poro Sederek, Sugeng Riyadin. Cilacap-Kawunganten Sedoyo Lepat Nyuwun Ngapunten.

MENGANDALKAN TESTOSTERON

MENGANDALKAN TESTOSTERON

Oleh: Jum’an

Betapa tergantungnya manusia terhadap alam. Tanpa matahari kita tidak bisa hidup. Tanpa air kita tidak bisa hidup. Tanpa udara kita tidak bisa hidup. Pantaslah kalau orang zaman dulu ada yang menyembah matahari dan memuja dewa air. Belum lagi ketergantungan kita pada bahan-bahan kimia-hayati seperti karbohidrat, protein, vitamin, hormon dan banyak lagi. Bila anda sempat membaca tulisan saya “Ternyata Dermawan ada Hormonnya” (klik disini), anda tahu betapa hormon tertentu mempengaruhi pikiran dan sikap kita. Paul Zak dari Claremont University telah meneliti asal muasal biologis dari sifat dermawan seseorang, terutama tentang peranan hormon perangsang syaraf yang disebut oxytocin (oksitosin). Hasilnya membuktikan bahwa hormon ini merupakan perangsang kedermawanan seseorang dengan membuka fikiran kita menjadi lebih terhubung dan memahami dalam membaca keadaan orang lain yang membuat kita, diantaranya, menjadi rela untuk menderma. Demikian pula sebaliknya bila kita berderma sepenuh hati lillahi ta’ala tanpa mengharap imbalan, akan merangsang kelenjar otak kita mengeluarkan hormon oksitosin. Begitu imbal baliknya. Paul Zak menjuluki oksitosin sebagai hormon Sumber Kasih dan Kesejahteraan. Kedermawanan, baik budi, pengasih dan penuh tenggang-rasa adalah kwalitas utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu pemain lain dalam simfoni hormon ditubuh kita selain oksitosin adalah testosteron. Testosteron terdapat pada pria maupun wanita, sangat penting bagi kesehatan dan berfungsi diantaranya membangkitkan nafsu syahwat, meningkatkan energi, menjaga kekebalan tubuh dan melindungi tulang dari osteoporosis. Dikenal juga sebagai hormon sex jantan utama, karena rata-rata pria menghasilkan 10 kali testosteron dari wanita.Tetapi Paul Zak juga tahu bahwa testosteron dapat membuat orang melakukan hal-hal aneh. Dan sejujurnya, pria memang lebih suka berbuat aneh-aneh, bukan perempuan. Testosteronlah yang merangsang pengambilan risiko pada pria, kekerasan serta pemuasan seksual yang melampaui batas. Tetapi diantara kita haruslah ada orang-orang yang berani mengambil risiko dan bertindak keras. Kita butuh orang-orang yang bersedia mempertaruhkan nyawa mereka dengan berlari ke dalam gedung yang terbakar untuk menyelamatkan orang lain atau mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi wanita dan anak-anak.

Salah satu sifat testosteron adalah menghalangi aliran okstosin mecapai reseptornya; terlihat dari pria muda (dengan kandungan testosteron 10 kali lipat) kurang bertenggang-rasa dibanding wanita. Tetapi sifat lemah-lembut dan tenggang-rasa tidak selalu merupakan hal yang baik. Betapa banyak orang yang tidak sanggup membunuh tikus, memotong ayam atau menyembelih kambing. Tidak sampai hati meninggalkan istri dan anak-anak untuk bertempur membela negara. Kita membutuhkan orang-orang jenis lain yang tega melakukannya. Yaitu orang-orang dengan testosteron tinggi. Ternyata bahwa mereka yang memiliki testosteron yang paling tinggi adalah orang-orang yang umumnya sanggup menghukum pemalas dan penipu. Sepanjang sejarah, dulu, kini dan masa datang kita harus mengandalkan orang lain untuk tugas menjaga kelangsungan hidup bermasyarakat. Yaitu mereka yang ber-testosteron tinggi yang sanggup mengambil risiko demi keselamatan orang-orang yang penuh sopan santun dan tenggang-rasa yang tidak mampu memikul bebannya sendiri. Terima kasih testosteron engkau telah menjaga kestabilan masyarakat…… Maha suci Allah yang telah menciptakannya.

AKHLAK DAN SELERA

AKHLAK DAN SELERA

Oleh: Jum’an

Saya suka dan terbiasa menilai orang dari segi akhlaknya: baik atau tidak baik. Sayapun ingin mempunyai akhlak dan dinilai baik oleh orang lain. Kebanyakan kita begitu. Tetapi kita tidak pernah tahu pasti arti baik yang sebenarnya. Makin luas pengetahuan kita tentang berbagai hal, kita makin sering meragukan arti kebaikan yang diberikan oleh para penganjur kebaikan seperti dai dan ulama dan guru. Bahkan banyak yang merasa bahwa hak seorang ustadz tidaklah lebih dari hak kita dalam menafsirkan kebenaran dan kebaikan, karena, dalam hal tertentu pengetahuan kita lebih luas dari pengetahuan mereka. Dulu kita merasakan akhlak sebagai sesuatu yang mutlak mengikat. Kalau kita melanggarnya kita akan merasakan akibat sosial, penderitaan emosional dan psikologis, serasa tidak sanggup hidup kita menanggungnya. Sekarang kita merasakan akhlak lebih sebagai pilihan yang boleh kita rubah sesuai dengan tuntutan keadaan. Kita cenderung untuk menyesuaikan arti kebenaran dengan selera pribadi kita. Yang jika makin banyak orang bersikap demikian, kita akan semakin jauh dari akhlakul karimah; misi utama yang diemban oleh Rasulullah. Kita telah berpindah dari budaya akhlak menuju budaya pribadi. Akhlak membawa pengertian sesuatu yang terukir tajam dan dalam, tidak berubah dalam segala macam keadaan. Saya bukan mau mengatakan bahwa kita tidak berakhlak atau jahat tetapi kita cenderung untuk memahami kebenaran dan kebaikan sesuai dengan selera pribadi kita.

Secara tradisional saya merasa sebagai penganut madzhab Syafii. Sampai suatu saat saya bertanya: Kalau untuk suatu masalah saya lebih yakin dengan pendapat Hanafi, Hambali atau Wahabi bagaimana? Saya tidak dilarang untuk memilih kan? Suka-suka saya kan? Tetapi dalam banyak hal kita bukan memilih yang lebih rasional dan meyakinkan, tetapi yang lebih sesuai dengan kepentingan pribadi kita. Yang lebih mudah mengerjakannya, lebih ringan risikonya…..lebih memenuhi selera kita. Saya yakin meberi pengemis tua sebungkus nasi adalah amal baik tetapi anda yang tidak suka, boleh memilih karena menyantuni pengemis sama dengan membiarkan orang menjadi malas.

Selalu ada cara untuk membenarkan pilihan yang mudah. Kebiasaan ini meyebabkan kita dengan mudah menghindar dari tanggung-jawab mencegah bahkan melaporkan suatu tindak kejahatan karena kita mempunyai alasan yang membenarkan tindakan kita. Meskipun kita tahu benar akibat bahayanya bagi masyarakat. Mereka yang berpegang teguh pada prinsip akhlak pun banyak yang merasa puas dengan hanya mengamalkannya secara defensif sebatas diri dan keluarganya tak terlibat kejahatan, sudah cukup. Pada saat yang sama masyarakat dilanda oleh arus budaya konsumerisme, keserakahan dan kemewahan narsisme dan ke-akuan yang mengikis batas-batas akhlak. Kita harus berhenti mengidolakan selebriti kalau ia menebar pornografi. Kita harus berhenti mempromosikan seseorang kalau ia jelas-jelas terlibat kejahatan. Iman kita memang kurang kuat mungkin….