Bulan: Mei 2010

DUKA HABIBIE DUKA KITA SEMUA

DUKA HABIBIE DUKA KITA SEMUA

Oleh: Jum’an

Bukan maksud saya untuk mengusik kebahagiaan yang sedang anda rasakan, bukan pula mengingatkan akan datangnya duka. Karena kita akan merasa sama sedihnya bila kehilangan orang yang tercinta. Banyak orang nampak tidak terlalu mengkhawatirkan kematian dirinya tetapi lebih takut akan kehilangan orang yang dicintainya. Alangkah tidak berdayanya manusia mengelak dari maut. Jika datang saatnya tidak akan lebih awal tidak pula lebih akhir. Pada usia 74 tahun dan setelah hampir setengah abad menempuh hidup bersama, Bacharudin Jusuf Habibie ditinggalkan oleh isteri tercintanya Hasri Ainun Habibie. Tidak menunggu umur 80 sehingga lebih lama menikmati hidup bersama, bahkan 75 tahun juga tidak. 22 Mei 2010 adalah tanggal rahasia yang sudah ditulis oleh malaikat untuk memanggil pulang Ibu Hasri Ainun Habibie.

Saat pertama saya dapati orang yang saya cintai dipanggil Yang Maha Kuasa dengan tiba-tiba, perasaan saya terguncang keras, seperti lantai tempat saya berdiri tiba-tiba hilang dan saya jatuh melayang-layang. Akal sehat saya buyar dan semua yang biasa menjadi berbeda. Saya panggil namanya tetapi dia tidak menjawab. Padahal biasanya selalu menjawab apalagi dari jarak sedekat ini. Saya ulangi tetap diam, berkedippun tidak. Saya goyangkan badannya tidak bangun, saya remas tangannya tidak membalas. Saya peluk dan saya cium juga diam. Atau nanti sebentar lagi? Tidak juga. Jadi saya sudah tidak boleh berkata- apa-apa lagi dengan dia? Sepatah dua patah kata saja juga tidak? Bepergian bersama-sama juga tidak boleh? Mulai sekarang ini besok dan untuk selamanya? Tidak mungkin, tidak mungkin. Serasa sebilah pedang yang sangat tajam telah membelah diri saya hingga separohnya hilang. Kalau begitu apa artinya hidup ini.

Datanglah malam. Ia tidak lagi tidur dikamarnya. Tetapi diruang tamu, tanpa bantal dikerumuni orang mengaji. Tengah malam saya mencoba berbaring ditempat tidurnya. Ini bantalnya , ini kain selimutnya dan ini mukenanya. Saya akrab dengan baunya, saya hidu dalam-dalam mumpung masih ada aroma hayatnya. Biasanya sebelum tidur ada saja yang dia minta. Tolong matikan lampu, saya sudah terlanjur berselimut. Dan yang remeh-temeh seperti itu.

Hari-hari berikutnya muncullah berbagai ingatan dan rasa bersalah yang menambah kesedihan. Kenapa saya tidak datang lebih awal padahal bisa, hingga sempat berjumpa sebelum berpisah untuk selamanya. Mengapa minggu yang lalu tidak saya sempatkan pulang kampung bersama padahal dia sudah berkali-kali mengajak? Banyak sekali janji yang belum terpenuhi, banyak rencana yang belum terlaksana. Sekarang sudah terlambat semuanya.

Anda ingat waktu salah satu gigi anda copot? Lidah anda tidak henti-hentinya meraba-raba bekasnya. Mengukur-ngukur lebar lubang yang ditinggalkannya, menekankan lidah kebagian tajam dari akar gigi yang masih tersisa. Terasa sakit, tetapi ada kenikmatan untuk mengulang-ulangnya. Terus menerus mengulang kembali detil-detil kenangan orang yang kita cintai seperti menikmati siksaan karena memberi kepuasan meskipun menambah kesedihan.

Kita belum akan pulih sebelum pilu yang paling menyayat kita lalui. Oleh karena itu kita jalani saja. Kalau perlu menangis menagislah, jangan berjuang untuk melupakannya dengan seketika. Allohummaghfir li ruhi Hasri Ainun Habibie.

Iklan

SAYA TERLALU CEPAT MENGALAH

SAYA TERLALU CEPAT MENGALAH

Oleh: Jum’an

Saya jarang menjawab tilpun sambil mengemudi mobil, apalagi membaca sms. Tetapi karena terpaksa saya lakukan juga. Dan karena tidak terbiasa mobil agak oleng kekanan waktu tangan kiri saya mengambil HP dari saku dan mengalihkan ketangan kanan. Akibatnya kaca spion tersambar oleh sebuah Avanza yang melaju dengan kecepatan tinggi dijalur sebelah kanan. Dia tidak segera berhenti, tetapi seperti dengan ragu-ragu memperlambat kecepatannya sambil menepi dan berhenti sesudah agak jauh. Sayapun mengikuti dan berhenti dibelakangya.

Sekilas tebayang dikepala saya pertengkaran, kemarahan dan pemerasan yang akan saya hadapi. Berdebar-debar juga menunggu siapa yang akan keluar dari mobil mulus itu. Rambut cepak baju hijau, keriting berkulit gelap, atau anak muda berandalan yang tidak menghargai usia. Ternyata bukan ketiga-tiganya.

Dia pria kurus berwajah culun dan sama sekali tidak terkesan garang. Dia turun, mengamati dan meraba luka dimobilnya lalu mendekati saya. Jari-jari tangannya mengepal tetapi lengannya santai seperti tidak ada rencana untuk memukul; matanya melotot tetapi tidak tepat diarahkan kewajah saya.

”Bapak kenapa nyetir sambil menilpun. Itu kan berbahaya. Padahal tadi sudah saya klakson-klakson. Mobil saya lukanya parah lho Pak. Sebenarnya saya tidak suka ribut-ribut, tapi..” Tuduhan itu dia ulang-ulang sambil dijabarkan panjang lebar. Saya tidak merasa takut sedikitpun karena suaranya tidak keras, nadanya tidak membentak dan matanya hanya sekilas-sekilas saja bertatapan dengan mata saya. Tetapi dasar saya penakut dan merasa bersalah, saya mendengarkan khidmat dengan sepuluh jari tersusun rapi. Setiap kali saya meminta maaf dan mengaku salah dia lalu mengulangi lagi pidatonya dengan versi yang berbeda. Sayapun berkata: Jadi sekarang ini bagaimana Pak?

Cukup lama kami berhadapan bukan untuk memenangkan tawar-menawar tetapi saling menunggu waktu kapan harus menghentikan keraguan ini dan mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan: ” Sebenarnya saya tidak suka ribut-ribut. Begini saja. Bapak ada uang limapuluh ribu?” Kalimat yang sama sekali tidak saya duga. Luka Avansa kan ratusan ribu biaya perbaikannya. ”Ada Pak, ada” jawab saya. Lalu saya keluarkan semua uang didompet dan saya gelar diatas kedua telapak tangan. Lima puluh ribuan satu, puluhan dua dan lima ribuan satu lembar. Saya persilahkan untuk diambil semuanya. Tetapi dengan tegas dia bilang: ”Tidak! Limapuluh ribu saja. Tidak usah lebih”. Lalu saya ulurkan lima puluh ribuan itu yang diterimanya dengan canggung tanpa berkata apa-apa. Justru saya yang mengucapkan terima kasih.

Siapa sebenarnya dia itu? Begitu tampak miskinkah wajah saya sehingga hanya pantas dituntut membayar lima puluh ribu. Kenapa dia nampak begitu canggung dan ragu-ragu. Buat apa melotot kalau tidak menatap mata saya? Untuk apa mengepalkan tinju kalau tidak berniat memukul? Pasti dia seorang peragu yang serba tidak yakin pada kebenaran tindakannya. Untung dia berhadapan dengan seorang penakut yang mudah menyerah. Kalau ketemu anak muda berandalan mau apa? Atau dia menyembunyikan sesuatu?

Sambil merenung saya ingat sebenarnya waktu itu mobil saya tidak terlalu oleng dan tidak keluar jalur. Dialah yang terlalu mepet kekiri hingga nyerempet kaca spion saya. Mungkin karena takut saya kejar, dia berhenti lambat-lambat. Ya ya saya yakin sekarang dia itu ketakutan. Menyesal saya mengalah terlalu cepat dan mengaku bersalah. Lain kali saya akan melotot duluan…. Awas.

SISI GELAP SEORANG PRESIDEN

SISI GELAP SEORANG PRESIDEN

Oleh: Jum’an

John Fitzgerald Kennedy yang populer disingkat JFK adalah presiden ke 35 Amerika yang termashur meskipun hanya berkuasa selama seribu hari. Kata-katanya “Ask not what your country can do for you –ask what you can do for your country” sangat banyak dikutip orang termasuk oleh para politisi negeri kita. JFK memiliki segalanya. Wajah tampan, cerdas, sense of humor, kekuasaan dan ketenaran marga Kennedy. Presiden Amerika termuda kedua setelah Delano Roosevelt ini dikenal memiliki nyali besar terutama waktu menghadapi ancaman Sovyet di Cuba tahun 1962. Saat itu dunia sudah berada diambang perang nuklir dengan rudal-rudal Sovyet yang siap diluncurkan dari pangkalannya di Cuba dan Amerika yang juga siap membalas seketika peluncuran itu terdeteksi. Melalui perundingan-perundingan tingkat tinggi dan kontak-kontak rahasia yang sangat menegangkan akhirnya dicapai keputusan, Sovyet bersedia melucuti rudal-rudalnya dengan imbalan Amerika tidak akan menyerang Cuba. Disini peran dan ketegaran JFK nampak sangat dominan. Nama besarnya makin mendunia ketika ia tewas ditembak oleh Lee Harvey Oswald.

Tak ada gading yang tak retak, tak ada pemimpin tanpa aib. Tak terkecuali JFK. Pada tahun 98 Seymour Hersh, seorang jurnalis senior pemegang penghargaan bergengsi Pulitzer menerbitkan sebuah buku berjudul ”The Dark Side of Camelot” yang mengungkapkan sisis-sisi gelap sang kesatria yang gagah perkasa itu. Menurut pendapatnya sejarah JFK terlalu di romantisir dan rakyat Amerika perlu melihat siapa John Fitzgerald Kennedy yang sebenarnya.

Seymour menulis JFK adalah seorang yang tidak sabaran, egois, maniak wanita, tidak jujur, kesehatannya buruk dan sembrono. Ia kikir, tidak pernah membawa uang cash tidak pernah mau membayar duluan kalau makan bersama. Ia pernah bilang: Saya migrain kalau sehari tidak menyentuh perempuan. Presiden ini bukan saja menganggap wanita tidak sederajat dengan pria, ia sering menyebut orang miskin, orang kulit hitam dan yahudi dengan sebutan poor bastard. Ia tidak percaya pada kesamaan ras, gender dan agama. Dia lebih mementingkan loyalitas daripada kepabilitas pembantu-pembantunya, sehingga staf yang pandai kurang dapat berkarya. Empat bekas ajudannya menyatakan bahwa JFK adalah seorang yang terobsesi pada seks dan siap mengambil risiko apapun untuk memuaskan kehendaknya. Selalu terlambat masuk kantor dan sering berjam-jam tak ketahuan dimana. Langganan pain killer, dan seterusnya dan seterusnya.

Membuka aib baik aib orang lain maupun aib sendiri bukanlah pekerjaan yang terpuji.Tetapi Seymour Hersh dengan Dark Side of Camelotnya atau George Junus Aditjondro dengan Gurita Cikeasnya, urusan merekalah itu….

Setiap umat Muhammad mendapat pemaafan kecuali orang yang membuka aibnya sendiri, seperti yang melakukan dosa dimalam hari dan sudah ditutupi oleh Alloh lalu pagi harinya dia sendiri yang mengumbarnya. Tadi malam saya berbuat gitu gitu. Begitu kira-kira hadis Nabi. ”Alhamdulillah aib saya ditutupi oleh Sang Khaliq” ; begitu kalimat indah yang dipilih oleh Ibu Irma Ruslina (irmaruslina.multiply.com/) menjawab ucapan selamat saya atas prestasi-prestasi yang telah dicapainya. Ya bu Irma, semoga Alloh tetap menutupi aib-aib kita. Amin

BERSAMA RATU MAYA DI KARET BIVAK

BERSAMA RATU MAYA DI KARET BIVAK

Oleh: Jum’an

Ini adalah pintu gerbang kaca masuk kekomplek pemakaman mbakyu saya di Karet Bivak Jakarta Pusat. Bentuknya sangat simbolik, seperti pangkalan untuk lepas landas tegak lurus, lempang menuju kelangit. Kalau anda bersama saya berziarah kesana hari Sabtu kemarin, limapuluh meter dari gerbang itu anda akan melihat dua makam berdampingan. Yang disebelah barat milik mbakyu saya namanya diukir pada nisan marmernya: Nurjanah binti Ali, wafat tahun 2002. Satu meter disebelah timurnya ditempati oleh anak perempuan berumur tujuh tahun, Ratu Maya Puspita Sari, wafat 1978. Namanya yang indahkah yang membuat pemiliknya tergesa-gesa menjemputnya kesana sebelum bernoda?

Sebelum berdoa saya biarkan khayal saya bebas berkelana. Sulit untuk tidak membayangkan bahwa mereka berdua tidak saling bertemu. Mereka sangat berdekatan lagi pula mbakyu saya seorang penyayang anak-anak. Dulu ia suka menyuruh saya membeli kembang gula lolipop agar anak tetangga berlama-lama bermain dirumah. Apa lagi Ratu Maya Puspita Sari yang baru berumur tujuh tahun itu sudah sejak lama kesepian karena dia sudah ada disana sejak 1978. Sedang bermanja-manjakah Ratumaya dipangkuan mbakyu saya? Saya hanya bisa meneteskan air mata. Alloh yarham hunna. Ratumaya dan Cahayasorga.

Tanah pekuburan memang ajaib. Dari tahun ketahun bahkan dari abad keabad ribuan dan jutaan jasad manusia menumpuk didalamnya. Tanahnya tetap gembur dan datarannyapun tidak menggunung. Tentulah banyak rahasia dan misteri disana seperti sebuah museum atau perpustakaan. Waktu saya membaca Yasin, pada ayat 78 tentang siapa yang bisa mengidupkan tulang-tulang yang berserakan, rasanya berbeda dengan membacanya dirumah. Juga pada ayat 65 tentang hari mulut-mulut kita ditutup, tangan berbicara dan kaki bersaksi. Ada nilai lebih yang saya rasakan.

Siapa sajakah yang nampak bersliweran ditanah pekuburan? Banyak sekali dan kadang-kadang sulit diduga. Ada orang-orang tua lelaki ataupun perempuan yang datang untuk menjenguk rumah masa depannya yang sebentar lagi akan mereka huni. Atau untuk menyampaikan pesan pada pasangannya yang sudah menetap disana, jangan takut sebentar lagi saya menyusul. Ada pula yang ingin memberitahukan bahwa dia akan menikah lagi, tapi kau tetap tak kan kulupakan. Tidak kurang pula mereka yang datang untuk mendoakan arwah orang-orang yang dihormati atau dicintainya. Juga para penjual kembang dan air putih, para pembersih kubur dan orang-orang miskin mencari nafkah.

Suatu kali di Karet Bivak ini saya melihat seorang laki-laki berkulit putih, berbaju kaos dan bercelana pendek. Ia menggendong seorang anak kurang dari setahun menggunakan kain panjang layaknya perempuan kampung menggendong bayi didepan perutnya. Ia ditemani beberapa orang perempuan Indonesia yang lebih tua, berjongkok bersama mengelilingi sebuah makam. Sampai sekarang saya tidak bisa menduga apa dan siapa mereka. Sulit benar diduga.

SRIKANDI KURANG GIZI

SRIKANDI KURANG GIZI

Oleh: Jum’an

Wajah Sri Asih yang melankolik benar-benar mempunyai daya tarik yang magis. Kalau anda menatap kearah matanya yang sayu anda akan tersihir, seolah diajak menyelam kelaut biru yang dalam, sejuk dan damai. Lemah-lembut bagaikan Srikandi dalam tokoh perwayangan. Pasangan ideal bagi pria perkasa yang akan ia dampingi agar halus perasaannya dan santun tingkah lakunya. Sesuai dengan melankoli wajah dan semampai tubuhnya, Sri Asih adalah seorang gadis yang suka sekali prihatin dan tirakat, membatasi makan dan minum kalau perlu nasi putih dan garam saja sudah cukup. Itu akan menjaga dan memperhalus kalbu dan perasaannya. Anda kenal dengan gadis type Sri Asih bukan?

Nanti, jangan dulu terpesona. karena melankolik ada dua. Sedih ada dua dan senangpun ada dua jenis dan asal-usulnya. Tangis sedih anak miskin yang terisak-isak berkepanjangan yang dipicu oleh kekurangan gizi, syaraf kusut dan hormon yang kering. Berbeda dengan tangis pilu seseorang yang kehilangan pasangan hidup yaitu kesedihan yang berasal dari lubuk hati. Demikian pula rasa senang lahiriah karena badan bugar cukup vitamin dan mineral atau oleh karena rangsangan kimiawi dari nikotin atau obat perangsang. Berbeda dengan senang yang datang dari hati pasangan suami istri ketika menyambut kelahiran anak pertama atau nenek menimang cucunya.

Sri Asih mungkin sekedar gadis kurang gizi atau nutrisi yang tidak seimbang sehingga petumbuhan fisik dan mentalnya kurang ideal. Matanya kurang mampu untuk membelalak atau mengerling genit. Wajahnya cenderung menunduk dan nampak sendu. Hanya kemudaan dan vitalitas asli karunia Alloh saja yang menopang daya tariknya. Bahkan memberikan pesona yang lebih. Maklumlah dia itu orang Jawa, konsep prihatin dan tirakat memang sudah merupakan bawaan.

Chemical sadness barangkali merupakan istilah yang cocok untuk menengarai melankoli diwajah Sri Asih. Seandainya saja asupan mineral dan vitamin kedalam tubuhnya cukup dan bervariasi mungkin wajahnya nampak ceria dan menjadikan sorot mata lebih berbinar. Dalam perbendaharaan gizi, ada garam-garam mineral seperti kalium pospat yang dalam iklan obat disebut sebagai nutrisi syaraf.

Jangan-jangan perasaan bernasib kurang baik yang kadang-kadang muncul dalam pikiran kita tidak lebih dari chemical sadness juga. Dosa apa gerangan yang menyebabkan nasib saya begini menyedihkan. Hati dan pikiran rasanya kelabu, gelap dan tertutup untuk berusaha. Kamu kurang gizi tahu…………….

DILEMA PENGABDI CINTA

DILEMA PENGABDI CINTA

Oleh: Jum’an

Saya ingat masa remaja Marni. Ia gadis manis ceria yang bibirnya tercipta untuk selalu tersenyum. Sedikit genit, cekatan dan gaul. Pokoknya Marni love you full. Ia menikah dengan Farid pemuda tampan bertubuh atletis kelahiran Halmahera. Pasangan yang sangat ideal menurut ukuran kaum remaja. Duniapun berputar. Entah kenapa sekarang Marni tidak lebih dari isteri seorang Farid yang malas dan pengangguran, pencemburu dan ringan tangan. Perokok berat lagi. Karena itu Marnilah yang terpaksa menanggung seluruh biaya rumah tangga termasuk sekolah dua anaknya dengan berdagang kueh yang mulai dimasaknya sebelum subuh setiap pagi. Lalu dijajakannya berkeliling setengah hari penuh.

Dengan nasib yang demikian sengsara dan beban yang begitu berat sepantasnya dia memperoleh penghormatan dari suaminya. Tetapi boro-boro. Malahan justru sebaliknya, ia dicemburui bermain mata dengan banyak laki-laki yang mungkin membeli dagangannya. Penderitaan itu berlajut sampai serasa tak kuat lagi ia menanggungnya. Teman-teman curhatnya semua sepakat menganjurkan untuk minta cerai saja. Untuk apa hidup sekali didunia menjadi budak laki-laki. Kau cantik kau sehat kau banyak teman kau taat ibadah dan kau pandai hidup. Sementara kau diperlakukan lebih hina dari babu yang bodoh seolah-olah kamu tidak berharga dan tidak punya harga diri. Cerai saja cerai. Bawa anak-anakmu.

Cerai? Cerai? Saya menjadi janda? Apa kata orang apa kata ibu-bapak saya. Dan apa reaksi Farid kalau saya ucapkan permintaan itu? Pasti saya ditamparnya saya yakin itu. Bagaimana kedua anak saya yang sangat mencintai bapaknya. Saya yang pergi atau dia yang pergi dari rumah kontrakan ini? Lalu dia mau makan apa dengan kemalasan da penganggurannya itu. Bagaimana kalau sampai tua saya tidak bertemu jodoh lagi? Saya kan butuh cinta, tak sempurna tak apa.

Tetapi hidup bersama dia sampai tua akan lebih merana dan tak ada gunanya. Malah mungkin saya mati muda oleh siksaan lahir dan batin. Jauh dilubuk hati, saya sebenarnya tahu bahwa ia bukanlah laki-laki yang mau dan mampu untuk memberikan cinta dan perlidungan keamanan. Sepantasnya memang harus saya tinggakan dia. Semua campur aduk dalam pikirannya.

Sebenarnya dia itu laki-laki idaman. Banyak yang bilang: suamimu tampan sekali Marni. Hanya karena keadaan dia sedikit menyimpang. Sehingga hanya saya yang dapat memahaminya. Kalau ia terlanjur menampar saya dia selalu minta maaf, dan mengulangi janji cintanya dengan tulus dan bahwa dia hanya bisa hidup dengan saya. Kalau dia cemburu, itu kan bukti bahwa dia cinta kepada saya? Sebenarnya saya menyimpan rasa bangga dan bersyukur dapat memberi nafkah lahir dan batin untuk suami dan anak-anak saya. Semoga barokah. Mungkin Farid memang jodoh saya yang sudah tertulis dari sanaNya.

Sementara teman-temannya berkata: Marni memang tidak bisa ditolong. Dia tidak mampu belajar dari pengalaman. Dia terobsesi oleh cinta yang hanya ada dalam lamunannya. Dia mengejar cinta dari orang jang jelas tidak memilikinya.

JUM’AT BESOK PURA-PURA SAKIT YUK

JUM’AT BESOK PURA-PURA SAKIT YUK

Oleh: Jum’an

Saya yakin hampir tidak ada orang yang pernah mengucapkan ajakan seperti diatas, karena kalimat itu ciptaan cucu saya yang khusus dimaksudkan untuk mengajak saya membolos kerja untuk bersenang-senang. Akhir-akhir ini hampir tiap hari dia pulang jam 12 malam. Sedangkan saya yang sudah terlalu lama bekerja, mangkir sehari apalah artinya. Karena sudah terlalu lama tersiksa oleh kezaliman kantor kami masing-masing, saya sambut ajakan itu dengan gembira. Mengapa tidak! Sekali-sekali orang perlu keluar dari kebiasaan –escape the ordinary- setidaknya untuk membuktikan bahwa kita masih punya sisa-sisa kemerdekaan. Makan kepiting lada hitam jam tiga pagi di Gunung Sahari atau ikan bakar di Marunda atau apa sajalah.

Sebenarnya pura-pura sakit bukanlah siasat baru bagi kita. Bahkan merupakan salah satu senjata pamungkas kita waktu anak-anak dulu kalau tidak berani kesekolah karena belum mengerjakan tugas atau terserang rasa malas yang akut. Tidak sangka cucu saya yang sudah dewasa dan saya yang sudah tua ternyata masih membutuhkan muslihat klasik itu. Dan masih dengan gairah yang sama. Besok jum’at kita mau pura-pura sakit. Artinya menyambung tidur sampai jam sembilan lalu kirim sms kekantor: saya diare, semalam salah makan, belum bisa ngantor. Lalu menikmati kemerdekaan sampai Senin pagi.

Pura-pura sakit untuk membolos saya anggap sekedar selingan dan kegenitan dalam hidup, tidak masuk dalam bahasan haram-halal dosa-pahala. Kecuali jarang- jarang dilakukan, kita juga merasa sudah bekerja melebihi porsi yang seharusnya. Semacam inisiatif mengatur diri sendiri. Mungkin juga bos-bos kita sebenarnya tahu bahwa kita tidak benar-benar sakit dan mungkin cuma berkata: Biar saja. Anak itu memang saya beri tugas terlalu berat bulan ini. Kasihan orang tua itu, dia selalu pulang melewati jam kantor. Biarkan dia istirahat hari ini.

Hidup memang memerlukan selingan meskipun tidak harus dengan berpura-pura sakit. Orang gunung perlu sekali-sekali melihat debur ombak laut, nelayan perlu sekali-sekali berjalan mendaki bukit. Ustad dan dai mendengarkan apa kata waria dan gelandangan, sekali-sekali saja. Agar tahu lingkungan, tahu pikiran orang lain agar kenal dan menghargai sesama manusia.

Sekali-sekali kita perlu melepaskan kacamata kuda hadiah dari bos kita. Agar bisa menengok kekanan dan kekiri. Siapa tahu gaji orang dikantor lain jauh lebih tinggi dari gaji kita. Mari kita mulai dengan……… pura-pura sakit jum’at besok.

SEBAIKNYA TIDAK USAH TAHU

SEBAIKNYA TIDAK USAH TAHU

Oleh: Jum’an

Secara kebetulan saya mendengar dari luar ruangan seorang sedang berkata kepada entah siapa: “Mengambil air wudu saja basahnya tidak sampai kesiku dan solatnya secepat kilat. Saya tidak respek dan saya tidak mau kalau dia yang jadi pimpinan.” Ternyata dia seorang yang saya kenal. Dalam lingkungannya dia dikenal alim dan teguh pendirian. Tetapi menolak dipimpin oleh orang sikunya masih kering sesudah berwudu, baru kali ini saya dengar dari mulutnya.

Artinya dia melihat siku kering bukan sekedar kurang rata membasahinya, tetapi sebagai bukti kecerobohan dan pelecehan terhadap syarat rukun beribadah. Demikian pula solat yang terlalu tergesa-gesa. Bukan tidak ada waktu tetapi tanda dan bukti kurang beriman. Kalau kepada penciptanya saja dia cuek dan tidak peduli seperti itu bagaimana kita mau mentaatinya sebagai pemimpin. Mungkin saya salah menafsirkan tetapi apa lagi kalau tidak begitu pikirannya, entah baik entah buruk.

Saya berkhayal mencolokkan sebuah USB kedalam otaknya untuk mendownload dan melihat isi pikirannya. Ternyata memang beda sekali dengan file-file dalam otak saya. Dalam folder agama, boleh dikatakan hanya syahadatnya saja yang sama. Meskipun bacaan solat juga sama tetapi konsentrasi dan durasinya dua kali lebih dari bacaan saya. Artinya dia tidak akan respek kepada saya dan tidak akan mau juga dia makmum kepada saya.

Mungkin pernah orang disebelah anda nyeletuk ”Hebat sekali ceramah ustadz ini. Tetapi anaknya sendiri narkoba”, sementara anda sedang terkagum-kagum dan terpesona menyimak ceramah dai terkenal itu. Mungkin saja dai itu sudah berusaha dengan segala kemampuan dan gagal menyelamatkan anaknya dari jurang narkoba, tetapi jangan salahkan orang yang nyeletuk disebelah anda tadi. Menurut dia mana mungkin dan betapa sia-sianya seorang yang tidak mampu mendidik dan menyelamatkan anaknya sendiri, berdakwah amar ma’ruf nahi munkar kepada orang banyak.

Tetapi mungkin memang dilema. Semua dai mempunyai cacat, semua pimpinan menyimpan kelemahan. Anak yang nyabu, siku yang kering, solat yang express atau istri yang serakah. Biarkan saja sebagai reminder dan alarm agar mereka tidak kebablasan dalam berceramah dan memerintah. Sementara kita, sebaiknya tidak usah banyak tahu tentang detil pribadi mereka. Bahkan jangan dekat-dekat. Karena semakin dekat kita semakin tahu cacat mereka, semakin tidak respek, enggan mendengarkan pengajian dan malas mambayar pajak.