SAYA TERLALU CEPAT MENGALAH

SAYA TERLALU CEPAT MENGALAH

Oleh: Jum’an

Saya jarang menjawab tilpun sambil mengemudi mobil, apalagi membaca sms. Tetapi karena terpaksa saya lakukan juga. Dan karena tidak terbiasa mobil agak oleng kekanan waktu tangan kiri saya mengambil HP dari saku dan mengalihkan ketangan kanan. Akibatnya kaca spion tersambar oleh sebuah Avanza yang melaju dengan kecepatan tinggi dijalur sebelah kanan. Dia tidak segera berhenti, tetapi seperti dengan ragu-ragu memperlambat kecepatannya sambil menepi dan berhenti sesudah agak jauh. Sayapun mengikuti dan berhenti dibelakangya.

Sekilas tebayang dikepala saya pertengkaran, kemarahan dan pemerasan yang akan saya hadapi. Berdebar-debar juga menunggu siapa yang akan keluar dari mobil mulus itu. Rambut cepak baju hijau, keriting berkulit gelap, atau anak muda berandalan yang tidak menghargai usia. Ternyata bukan ketiga-tiganya.

Dia pria kurus berwajah culun dan sama sekali tidak terkesan garang. Dia turun, mengamati dan meraba luka dimobilnya lalu mendekati saya. Jari-jari tangannya mengepal tetapi lengannya santai seperti tidak ada rencana untuk memukul; matanya melotot tetapi tidak tepat diarahkan kewajah saya.

”Bapak kenapa nyetir sambil menilpun. Itu kan berbahaya. Padahal tadi sudah saya klakson-klakson. Mobil saya lukanya parah lho Pak. Sebenarnya saya tidak suka ribut-ribut, tapi..” Tuduhan itu dia ulang-ulang sambil dijabarkan panjang lebar. Saya tidak merasa takut sedikitpun karena suaranya tidak keras, nadanya tidak membentak dan matanya hanya sekilas-sekilas saja bertatapan dengan mata saya. Tetapi dasar saya penakut dan merasa bersalah, saya mendengarkan khidmat dengan sepuluh jari tersusun rapi. Setiap kali saya meminta maaf dan mengaku salah dia lalu mengulangi lagi pidatonya dengan versi yang berbeda. Sayapun berkata: Jadi sekarang ini bagaimana Pak?

Cukup lama kami berhadapan bukan untuk memenangkan tawar-menawar tetapi saling menunggu waktu kapan harus menghentikan keraguan ini dan mengambil keputusan. Akhirnya dia memutuskan: ” Sebenarnya saya tidak suka ribut-ribut. Begini saja. Bapak ada uang limapuluh ribu?” Kalimat yang sama sekali tidak saya duga. Luka Avansa kan ratusan ribu biaya perbaikannya. ”Ada Pak, ada” jawab saya. Lalu saya keluarkan semua uang didompet dan saya gelar diatas kedua telapak tangan. Lima puluh ribuan satu, puluhan dua dan lima ribuan satu lembar. Saya persilahkan untuk diambil semuanya. Tetapi dengan tegas dia bilang: ”Tidak! Limapuluh ribu saja. Tidak usah lebih”. Lalu saya ulurkan lima puluh ribuan itu yang diterimanya dengan canggung tanpa berkata apa-apa. Justru saya yang mengucapkan terima kasih.

Siapa sebenarnya dia itu? Begitu tampak miskinkah wajah saya sehingga hanya pantas dituntut membayar lima puluh ribu. Kenapa dia nampak begitu canggung dan ragu-ragu. Buat apa melotot kalau tidak menatap mata saya? Untuk apa mengepalkan tinju kalau tidak berniat memukul? Pasti dia seorang peragu yang serba tidak yakin pada kebenaran tindakannya. Untung dia berhadapan dengan seorang penakut yang mudah menyerah. Kalau ketemu anak muda berandalan mau apa? Atau dia menyembunyikan sesuatu?

Sambil merenung saya ingat sebenarnya waktu itu mobil saya tidak terlalu oleng dan tidak keluar jalur. Dialah yang terlalu mepet kekiri hingga nyerempet kaca spion saya. Mungkin karena takut saya kejar, dia berhenti lambat-lambat. Ya ya saya yakin sekarang dia itu ketakutan. Menyesal saya mengalah terlalu cepat dan mengaku bersalah. Lain kali saya akan melotot duluan…. Awas.

9 thoughts on “SAYA TERLALU CEPAT MENGALAH

  1. intan0812 said: jangan takut2 dunk pak… kalau emang ga salah

    Bu Intan, yang saya takutkan hanya bentrok fisik, krn saya belum pernah memukul atau dipukul orang……

  2. jumanb said: Bu Intan, yang saya takutkan hanya bentrok fisik, krn saya belum pernah memukul atau dipukul orang…..

    iya sih.. tetep kudu hati2 ya bicaranya juga… untuk menghindari adu mulut yang kadang berakhir dengan bentrok fisik….

  3. eiboehndy said: 🙂

    Saya gatek bahasa planet ini. Saya membacanya”titik dua minus kurung tutup” apa artinya? Jangan-jangan artinya porno…hehe

  4. jumanb said: Saya gatek bahasa planet ini. Saya membacanya”titik dua minus kurung tutup” apa artinya? Jangan-jangan artinya porno…hehe

    awalnya kasih komen, terus diedit jadi kasih senyum aja, kuatir kepanjangan komennya, afwan ya pak….

  5. udah di syukuri ajah untung bapak g kenapa kenapa, kok malah mau nggibeng di lain waktu. Bapak sih punya wajah kelewat melas.tapi … sudahlah toh it’s over now

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s