JUM’AT BESOK PURA-PURA SAKIT YUK

JUM’AT BESOK PURA-PURA SAKIT YUK

Oleh: Jum’an

Saya yakin hampir tidak ada orang yang pernah mengucapkan ajakan seperti diatas, karena kalimat itu ciptaan cucu saya yang khusus dimaksudkan untuk mengajak saya membolos kerja untuk bersenang-senang. Akhir-akhir ini hampir tiap hari dia pulang jam 12 malam. Sedangkan saya yang sudah terlalu lama bekerja, mangkir sehari apalah artinya. Karena sudah terlalu lama tersiksa oleh kezaliman kantor kami masing-masing, saya sambut ajakan itu dengan gembira. Mengapa tidak! Sekali-sekali orang perlu keluar dari kebiasaan –escape the ordinary- setidaknya untuk membuktikan bahwa kita masih punya sisa-sisa kemerdekaan. Makan kepiting lada hitam jam tiga pagi di Gunung Sahari atau ikan bakar di Marunda atau apa sajalah.

Sebenarnya pura-pura sakit bukanlah siasat baru bagi kita. Bahkan merupakan salah satu senjata pamungkas kita waktu anak-anak dulu kalau tidak berani kesekolah karena belum mengerjakan tugas atau terserang rasa malas yang akut. Tidak sangka cucu saya yang sudah dewasa dan saya yang sudah tua ternyata masih membutuhkan muslihat klasik itu. Dan masih dengan gairah yang sama. Besok jum’at kita mau pura-pura sakit. Artinya menyambung tidur sampai jam sembilan lalu kirim sms kekantor: saya diare, semalam salah makan, belum bisa ngantor. Lalu menikmati kemerdekaan sampai Senin pagi.

Pura-pura sakit untuk membolos saya anggap sekedar selingan dan kegenitan dalam hidup, tidak masuk dalam bahasan haram-halal dosa-pahala. Kecuali jarang- jarang dilakukan, kita juga merasa sudah bekerja melebihi porsi yang seharusnya. Semacam inisiatif mengatur diri sendiri. Mungkin juga bos-bos kita sebenarnya tahu bahwa kita tidak benar-benar sakit dan mungkin cuma berkata: Biar saja. Anak itu memang saya beri tugas terlalu berat bulan ini. Kasihan orang tua itu, dia selalu pulang melewati jam kantor. Biarkan dia istirahat hari ini.

Hidup memang memerlukan selingan meskipun tidak harus dengan berpura-pura sakit. Orang gunung perlu sekali-sekali melihat debur ombak laut, nelayan perlu sekali-sekali berjalan mendaki bukit. Ustad dan dai mendengarkan apa kata waria dan gelandangan, sekali-sekali saja. Agar tahu lingkungan, tahu pikiran orang lain agar kenal dan menghargai sesama manusia.

Sekali-sekali kita perlu melepaskan kacamata kuda hadiah dari bos kita. Agar bisa menengok kekanan dan kekiri. Siapa tahu gaji orang dikantor lain jauh lebih tinggi dari gaji kita. Mari kita mulai dengan……… pura-pura sakit jum’at besok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s