DILEMA PENGABDI CINTA

DILEMA PENGABDI CINTA

Oleh: Jum’an

Saya ingat masa remaja Marni. Ia gadis manis ceria yang bibirnya tercipta untuk selalu tersenyum. Sedikit genit, cekatan dan gaul. Pokoknya Marni love you full. Ia menikah dengan Farid pemuda tampan bertubuh atletis kelahiran Halmahera. Pasangan yang sangat ideal menurut ukuran kaum remaja. Duniapun berputar. Entah kenapa sekarang Marni tidak lebih dari isteri seorang Farid yang malas dan pengangguran, pencemburu dan ringan tangan. Perokok berat lagi. Karena itu Marnilah yang terpaksa menanggung seluruh biaya rumah tangga termasuk sekolah dua anaknya dengan berdagang kueh yang mulai dimasaknya sebelum subuh setiap pagi. Lalu dijajakannya berkeliling setengah hari penuh.

Dengan nasib yang demikian sengsara dan beban yang begitu berat sepantasnya dia memperoleh penghormatan dari suaminya. Tetapi boro-boro. Malahan justru sebaliknya, ia dicemburui bermain mata dengan banyak laki-laki yang mungkin membeli dagangannya. Penderitaan itu berlajut sampai serasa tak kuat lagi ia menanggungnya. Teman-teman curhatnya semua sepakat menganjurkan untuk minta cerai saja. Untuk apa hidup sekali didunia menjadi budak laki-laki. Kau cantik kau sehat kau banyak teman kau taat ibadah dan kau pandai hidup. Sementara kau diperlakukan lebih hina dari babu yang bodoh seolah-olah kamu tidak berharga dan tidak punya harga diri. Cerai saja cerai. Bawa anak-anakmu.

Cerai? Cerai? Saya menjadi janda? Apa kata orang apa kata ibu-bapak saya. Dan apa reaksi Farid kalau saya ucapkan permintaan itu? Pasti saya ditamparnya saya yakin itu. Bagaimana kedua anak saya yang sangat mencintai bapaknya. Saya yang pergi atau dia yang pergi dari rumah kontrakan ini? Lalu dia mau makan apa dengan kemalasan da penganggurannya itu. Bagaimana kalau sampai tua saya tidak bertemu jodoh lagi? Saya kan butuh cinta, tak sempurna tak apa.

Tetapi hidup bersama dia sampai tua akan lebih merana dan tak ada gunanya. Malah mungkin saya mati muda oleh siksaan lahir dan batin. Jauh dilubuk hati, saya sebenarnya tahu bahwa ia bukanlah laki-laki yang mau dan mampu untuk memberikan cinta dan perlidungan keamanan. Sepantasnya memang harus saya tinggakan dia. Semua campur aduk dalam pikirannya.

Sebenarnya dia itu laki-laki idaman. Banyak yang bilang: suamimu tampan sekali Marni. Hanya karena keadaan dia sedikit menyimpang. Sehingga hanya saya yang dapat memahaminya. Kalau ia terlanjur menampar saya dia selalu minta maaf, dan mengulangi janji cintanya dengan tulus dan bahwa dia hanya bisa hidup dengan saya. Kalau dia cemburu, itu kan bukti bahwa dia cinta kepada saya? Sebenarnya saya menyimpan rasa bangga dan bersyukur dapat memberi nafkah lahir dan batin untuk suami dan anak-anak saya. Semoga barokah. Mungkin Farid memang jodoh saya yang sudah tertulis dari sanaNya.

Sementara teman-temannya berkata: Marni memang tidak bisa ditolong. Dia tidak mampu belajar dari pengalaman. Dia terobsesi oleh cinta yang hanya ada dalam lamunannya. Dia mengejar cinta dari orang jang jelas tidak memilikinya.

One thought on “DILEMA PENGABDI CINTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s