Bulan: Februari 2010

ABU HURAIRAH R.A. DAN SAYA

ABU HURAIRAH R.A. DAN SAYA

Oleh: Jum’an

Suatu pagi saya melindas seekor kucing yang tidur dibawah mobil, mendengar jerit kesakitannya, melihat keempat kakinya bergetar sekarat sambil mengerang dan kemudian mati. Bangkainya saya buang ditempat sampah dibelakang kantor. Sorenya mobil saya bertabrakan ringsek diperempatan samping warteg terkenal Warmo di Tebet.

Saat itu naluri saya merasa seperti diperingatkan: Nah lo… kan orang-orang sudah bilang! Saya tetap berpegang kepada akal sehat dan ketentuan Alloh meskipun kesan takhayul itu tidak segera hilang. Jangan-jangan memang itu sebabnya. Hikmahnya saya menjadi lebih sopan dan tidak main lempar sandal terhadap hewan kesayangan rasul itu, yang gerak geriknya saja konon dapat meramal cuaca. Nama Abu Hurairah r.a. perawi hadis yang terkenal itu artinya ’bapak kucing kecil’ karena beliau seorang penyayang hewan itu. Saya juga pernah mendengar ungkapan hubbul hiroh minal iman (mencintai kucing adalah sebagian dari iman) tetapi saya tidak tahu sumbernya.

Menurut para penyayang kucing, seharusnya saya segera melepas baju yang saya kenakan saat itu sebagai ganti kain kafan dan menguburnya baik-baik sebagai tanda takziah. Menurut wartawan Republika Dyah Ratna Meta Novi dalam blognya yang berjudul ”Kucing”, ihwal kucing dalam tradisi dunia Islam memang sudah lama ada dan mesra.

Sayapun membiarkan keponakan saya memberi makan kucing-kucing didepan pintu dapur setiap hari. Sering saya dengar dia menyuruh pembantunya membeli ikan cuek untuk makanan sekitar sepuluh ekor kucing jamaahnya. Tetapi makin lama mereka makin merepotkan. Ada yang naik dan tidur diatas mobil, kukunya yang tajam meninggalkan bekas goresan. Bulunya juga berserakan. Membuang kotoran diatas pot tanaman sekitar teras dan meyebarkan bau yang tidak sedap. Dan terakhir sudah beberapa kali terjadi, mereka berak diatas kap.

Bukan begini saya kira caranya menyayangi kucing. Mereka mempunyai dunia sendiri dan tahu dimana harus mencari makan dan dimana harus tidur, dan itu sudah mereka jalani sepanjang zaman. Tidak mengganggu mereka saja cukup bagi kita. Kalau mau memelihara cukup satu ekor saja. Dan dirumah sudah ada Monci, kucing kesayangan yang kalau sakit dibawa kedokter, kandangnya dari konstruksi stainless steel dan makanannya branded, tidak sembarangan.

Departemen Rekreasi Kanada melarang para turis memberikan makanan kepada angsa-angsa yang bebas berenang-renang didanau Wyandotte disana. Alasannya makanan yang diberikan yaitu remah-remah roti atau sisa makanan apa saja, tidak sesuai dengan diet reguler angsa dan dapat membahayakan. Juga kebiasaan itu menumbuhkan ”beggar mentality” atau mental pengemis kepada angsa-angsa itu, menjadikan mereka selalu mengejar-ngejar orang yang sedang berpiknik, mengganggu jalanan dan keselamatan.

Kucing-kucing dirumah saya bermental pengemis juga? Anda percaya? Kenapa tidak! Anggota DPR pun ada yang memiliki mental sperti itu, apalagi kucing.

Sayapun bertekad untuk menyingkirkan kucing-kucing yang telah menghina bahkan memberaki mobil tua kesayangan saya. Meskipun akhirnya berhasil, usaha itu tidak mudah. Terutama karena sponsornya menganggap bahwa ritual memberi makan kucing itu merupakan fardu kifayah yang kalau dia tinggalkan berdosalah umat Islam se Tanah Abang. Katanya tindakan saya tidak Islami.

Iklan

PARA KARDINAL GENERASI BARU

PARA KARDINAL GENERASI BARU

Oleh: Jum’an

Saya senang mengutip hasil penelitian dari mana-mana sebagai acuan agar tulisan nampak ilmiah dan bergengsi. Meskipun saya tidak mempunyai niat untuk membohongi pembaca dan siap menunjukkan sumbernya, mengutip referensi tidaklah sejujur dan sebersih anda sangka. Ada iktikad dan bekas tangan saya disitu. Saya memilih, saya menyaring dan saya menerjemahkan (bukan menafsirkan), yang semuanya berpotensi menimbulkan bias. Bahkan kalau ada catatan yang menyanggah penelitian itu mungkin sanggahan itu tidak saya kutip.

Tindakan saya yang subjektif, selektif dan tak menyeluruh itu tentu mengandung risiko yang harus saya tanggung dari segi moril. Mengingat isi tulisan saya yang hanya ringan-ringan saja, tidaklah akan menimbulkan dampak yang berarti.

Yang lebih menarik untuk kita terawang adalah para ilmuwan yang menghasilkan penelitian itu sendiri. Misalnya apakah mereka dan penelitiannya bermasalah atau memang transparan dan ilmiah seperti kita harapkan.

Menurut buku, ilmu pengetahuan adalah jalan mulia untuk mencari kebenaran. Banyak ilmuwan mengatakan semboyan itu justru merupakan mitos yang kejam.

Kita ingat kisah Galileo Galilei ilmuwan Italia abad ke17 yang dijatuhi hukuman seumur hidup oleh Vatikan (pada masa Paus Urbanus VIII) karena dianggap meyebarkan ajaran sesat bahwa bumi beredar mengelilingi matahari, sementara gereja pada masa itu berkepercayaan sebaliknya. Namanya baru direhabilitir empat abad kemudian. Bahkan pada bulan Januari 2008 Paus Benediktus masih ditolak berbicara di Universitas La Sapiensa Roma karena sekelompok professor, dengan mengutip sejarah Galileo mencap Paus Benedictus sebagai tokoh yang menentang ilmu pengetahuan dan tidak sepantasnya berbicara didepan kampus.

Tragedi Galileo merupakan awal penderitaan para ilmuwan yang terus berlanjut sampai saat ini. Bukan dari tekanan Paus atau para kardinal, tetapi justru dari makhluk sejenis yaitu para ilmuwan yang ada diberbagai otoritas pemerintahan, media ilmiah dan dalam dunia industri.

Para redaktur jurnal ilmiah yang menentukan hasil riset mana yang pantas dipublikasikaan mana yang tidak, para ilmuwan dilembaga patent yang memutuskan hasil penelitian mana yang akan dilindungi mana yang tidak dan para ilmuwan dipemerintahan yang menentukan proposal riset mana yang perlu disandang dananya dan mana yang tidak. Alasan mereka mungkin obyektif tetapi mungkin juga sengaja untuk menghambat penelitian tertentu yang mengancam prestise ilmiah individu, lembaga atau didasari kepentigan ekonomi.

Penelitian yang menemukan bukti bahwa teori yang sudah mapan ternyata cacat atau kurang lengkap akan masuk kedalam perangkap para kardinal generasi baru itu. Dalam ilmu pengetahuan, teori seharusnya menyerah kepada bukti dan bukan sebaliknya.

Tetapi kalau teori yang lama sudah mapan dan mendasari berbagai cabang teknologi dan industri yang melibatkan penanaman modal milyaran dolar, penemuan bukti kecacatan teori itu tentu akan mengancam begitu banyak pihak dan berakibat luas. Mereka tidak akan diam: jurnal ilmiah akan menolak mempublikasikan, konferensi ilmiah tidak akan menampilkan, biaya penelitian dihentikan, penelitinya akan dikritik pedas dan kalau perlu di”Galileo” kan….

Sumber, diantaranya: Suppression of Facts

OTAK MASAKINI -OTAK ARTIFISIAL

OTAK MASAKINI- OTAK ARTIFISIAL

Oleh: Jum’an

Saya sedang memilih bingkai kacamata baru karena yang lama sudah dekil dan kendor, kurang menjepit dan selalu melorot. Karena terlalu lama memilih-milih, salah seorang pramuniaga optik itu menawarkan jasanya: Bisa saya Bantu Pak? Dengan trampilnya ia menunjuk dan menyebutkan macam-macam bentuk dan merek sambil berceramah bagaimana caranya memilih bingkai yang cocok. Bentuk bingkai persegi dapat menyamarkan wajah bulat, tepi yang naik akan mengurangi kesan tua, bagian bawah yang tidak menyentuh pipi dapat menghindarkan iritasi kulit dan menghilangkan kesan hidung kelihatan besar.

Bentuk wajah, bentuk alis, postur tubuh dan warna kulit yang semuanya tidak ada hubunganya dengan fungsi kacamata menjadi pertimbangan penting kalau menginginkan bingkai yang membuat pede pemakainya. Mata sembap atau kendor ada solusinya melalui pemilihan bingkai yang tepat.

Saya terpukau mendengarkan ceramah pramuniaga yang komprehensip itu meskipun pilihan-pilihan saya selalu disabot oleh dompet yang terlalu kurus.

Ternyata pertimbangan fungsional saja sudah ketinggalan zaman. Kacamata yang semula merupakan alat bantu lihat, telah berubah menjadi kebutuhan mode dan gaya hidup yang tidak ada ukuran harganya yang jelas.

Dengan semangat ”merubah hambatan menjadi peluang” dan ”selalu ada ruang untuk perbaikan” tumbuhlah berbagai kebutuhan dan produk artifisial baru yang membanjiri pasar. Sekarang bukan zaman kastroli (obat pencahar dari minyak jarak yang bau amis) dan pil-kina (obat malaria yang pahit dan membuat telinga mendengung berhari-hari). Tetapi zaman rasa strawberry dan tablet berlapis gula (sugar coated) yang manis. Kadang-kadang dompet kosong memaksa orang berfikir sehat: beli saja obat generik. Meski rasanya pahit dan kemasannya jelek tetapi sama manjurnya. Bukankah itu yang kita harapkan?

Jangan pilih awet kalau membeli sepatu. Nanti tahunan tidak rusak-rusak, sedang model-model yang baru sudah banyak dipakai orang. Kalau membeli motor atau mesin jahit baru pilih yang awet.

Tetapi bagaimanapun harus diakui bahwa dunia semakin menyenangkan dan gemerlap dan dengan isinya yang serba artifisial. Bayangkan kalau kita hanya berfikir fungsional. Kalau pakaian hanya untuk menutupi aurat, cukuplah satu model saja untuk semua bangsa, semua agama sekaligus untuk pria dan wanita.

Anehnya anak-anak zaman sekarang cepat sekali menyesuaikan diri dengan keadaan serba-neka itu. Pembantu saya mempunyai hp murah dengan fitur meriah. Ia menggosip, kirim sms, chatting, transfer pulsa, memotret, mendengar musik dan menonton film, mentransfer uang kekampung dan entah apalagi. Saya kira otaknya memang otak artifisial. Otak masa kini yang berbeda dengan otak-otak pasca revolusi kemerdekaan dulu.

SEBELUM TERSAMBAR PETIR

SEBELUM TERSAMBAR PETIR

Oleh: Jum’an

Saya punya hutang empat ratus ribu rupiah yang sudah lama belum terbayar. Ditangan saya ada selembar duapuluh-ribuan. Kalau saya pasang taruhan, ada harapan saya dapat limaratus ribu. Hutang akan terbayar, sisanya yang seratus ribu untuk traktir, hitung-hitung balas jasa keterlambatan.

Duapuluh ribu cukup kecil dibanding lima ratus ribu yang bakalan saya peroleh. Enteng, hilangpun tak terasa rugi. Ya saya pasang saja, bismilah. Menyenangkan sekali kalau sampai dapat. Belum dapatpun rasahati sudah berbinar-binar. Irama musik dangdut, joget goyang Karawang dan dag-dig-dug antara hilang sekedar duapuluh ribu dan fantasi menangguk limaratus ribu, memacu adrenalin saya membangkitkan rasa girang dan suka-cita. Untuk orang yang berpenghasilan pas-pasan seperti saya, rangsangan dan harapan seperti ini sungguh-sungguh manggairahkan dan sudah selayaknya kalau saya suka. Debaran jantung serasa mau meloncat terjun kekolam renang atau bungee-jumping.

Pantaskan kalau orang tertarik untuk berjudi? Bila kita bermain video game kita merasakan rangsangan adrenalin seperti itu. Bedanya kita tidak memperoleh uang limaratus ribu kalau menang. Jadi bukan sekedar uang yang menarik orang kemeja judi. Gairah, harapan dan imajinasi, excitement – begitu kalau kita mau sedikit melebih-lebihkan. Orang yang suka berjudi umumnya enggan untuk menghitung-hitung berapa jumlah uang yang sudah dihabiskan untuk taruhan. Harapan dan fantasi yang mereka rasakan jauh lebih berharga dari pada uang yang dipasangnya untuk taruhan.

Beberapa kali menang bertaruh membuat orang terangsang untuk meneruskan pertaruhan itu sampai, seperti yang umumnya terjadi, sederet kemenangan kecil itu ditelan oleh satu kekalahan besar. Seperti perselingkuhan yang beberapa kali aman, sekali kepergok keluarga berantakan. Menurut penelitian hasrat berjudi tidak ada hubungannya dengan latar belakang, jenis kelamin maupun kultur seseorang. Melulu berasal dari nafsu manusia untuk menikmati kesenangan dan memperoleh hasil yang banyak dengan sedikit atau tanpa usaha sama sekali.

Dari mereka yang sudah terjerumus banyak diataranya yang sampai kecanduan. Pada tingkat ini orang tidak kuasa bisa lagi menghentikan hasrat untuk berjudi. Selalu ingin menebus kekalahan yang sudah dialami, berbohong kepada teman dan keluarga untuk menutupi kebiasaan judinya. Tidak malu menghutang uang dengan mengorbankan hubungan baik, menggunakan jatah belanja keluarga atau biaya sekolah anak-anak untuk menutupi kekalahan berjudi.

Tidak jarang kepribadian berubah menjadi manipulatif, cepat marah, mudah tersinggung dan sok ngatur dalam keluarga. Kehilangan selera untuk kerja yang normal dan kesukaan atau hobi. Membuat alasan yang naif dan suka mengelak kalau ditanya dari mana atau mau kemana. Menjauh dari orang-orang yang seharusnya dicintai dan teman-teman dekat. Judi sekaligus merusak diri-pribadi, keluarga dan masyarakat. Tidak jarang pemenang judi besar terpuruk kembali keselokan asalnya dan mengulangi membudak pada perjudian.

Walhasil judi itu lebih manyak dosa dari pada guna (Al-Baqoroh 219) dan merupakan amalan setan (Al-Maidah 90). Lagipula kemungkinan mendapat lotre puluhan juta lebih kecil dari kemungkinan tersambar petir. Jauhi judi sebelum mati melepuh ……….

DIANTARA YANG TERJAGA KEASLIANNYA

DIANTARA YANG TERJAGA KEASLIANNYA.

Oleh: Jum’an

Pak Ading berasal dari Tegal, Pak Amak dari Pekalongan dan saya berasal dari Banyumas. Tiga lembah ditebing Gunung Slamet, saya disebelah selatan dan mereka berdua disebelah barat laut dan timur laut. Kami bersahabat sejak mahasiswa dulu dan sampai sekarang seingat saya tidak pernah berselisih. Cukup lama alhamdulilah dan seterusnya insyaalloh.

Selama hampir setengah abad persahabatan itu kami menggunakan bahasa daerah masing-masing untuk berkomunikasi, tanpa ada sedikitpun kewajiban atau keterpaksaan untuk saling meniru, jadi sama-sama santai. Ibarat makanan, persahabatan kami seperti nasi ponggol, nasi megono dan mendoan. Nikmat di lidah masing-masing tanpa harus membandingkan mana yang lebih unggul.

Ketiga bahasa daerah serumpun itu memang khas dan berbeda. Intonasinya menggambarkan kepribadian daerah asalnya. Nada dan suara untuk membantah atau bertanya kecuali merupakan pernyataan sikap, juga sekaligus menunjukkan siapa diri mereka. Itulah sebabnya ketiga bahasa daerah itu tidak pernah saling tercampur satu dengan yang lain.

Bukan hanya semasa persahabatan kami yang cukup lama, tetapi sudah sejak 500 tahun yang lalu. Yaitu ketika Tegal diperintah oleh Ki Gede Sebayu, di Pekalongan memerintah Kyai Madoerareja dan di Banyumas bertahta Raden Joko Kahiman. Bahkan mungkin jauh sebelum itu.

Lalu siapa yang sebenarnya menjaga keaslian mereka? Mengingat ketiga daerah itu sangat berdekatan dan rakyatnya telah hidup berdampingan selama ratusan tahun, rasanya aneh kalau bahasanya tetap mandiri, tidak saling larut satu sama lain. Ketiganya terpisah sampai saat ini.

Saya kira keaslian bahasa Tegal, Pekalongan dan Banyumas akan tetap terjaga. Tidak akan saling tercampur sepanjang zaman, meskipun para penggunanya tinggal berdekatan dan saling berinteraksi melalui pergaulan dan pernikahan. Kalau sudah lebih lima abad tetap eksis, tentu dia adalah barang awet atau ada pelindung luar biasa yang menjaganya.

Kekhawatiran ketiganya akan larut satu sama lain dan tidak khas lagi, adalah sama seperti mengkhawatirka air laut akan encer dan kurang asin karena tercampur dengan air tawar dari muara-muara sungai atau gunung es.

Pernahkah anda menonton tayangan Discovery Channel tentang eksplorasi Oceanografer Perancis Jacques Yves Costeau ketika ia menemukan air tawar yang segar di dasar laut? Atau membaca surat ar-Rohman tentang pertemuan air tawar dan air asin yang tidak pernah larut? Air laut akan tetap asin sebagaimana air sungai akan tetap tawar. Jangan khawatir.

Alloh mempunyai caranya sendiri untuk menjaga keaslian ciptaanNya. Termasuk ratusan atau mungkin ribuan dialek bahasa daerah di Indonesia dengan keunikannya sendiri-sendiri. Kalau tidak tentulah segala sesuatu sudah campur- aduk tidak ketahuan lagi asal-usul, makna dan tujuan penciptaannya.

GUS DUR DAN MICHAEL JACKSON

GUS DUR DAN MICHAEL JACKSON

Oleh: Jum’an

Sebelum meninggal pada bulan Juni 2009, citra Michael Jakcson yang berumur 50 tahun itu sudah sangat menurun: hutangnya yang 4 trilyun, penyakitan, kecanduan obat, rentan dan ringkih, pemboros dan dikenal pedophile. Mimpi belaka kalau dia bilang mau comeback dengan 50 konser di London.

Tetapi ketika video gladi-resik (rehearsal) pembukaan konser itu dipertunjukkan dua hari sebelum dia meninggal, orang terperanjat melihat Michael Jackson tetap karismatik, insruktif, tetap raja panggung seperti dulu, utuh tidak berkurang sedikitpun bahkan lebih mempesona.

Dan sesudah meninggalnya hampir semua media menyanjung bakat, keaslian dan kreatifitas serta dinamika musik dan gayanya. Musiknya yang dikagumi selama dua generasi, King of Pop, pemegang lebih dari 370 awards. Bahkan ada yang percaya bahwa 500 tahun mendatang para sejarawan masih akan tetap membicarakan bakat luar biasa dari Michael Jackson.

Rasa kemanusiaannya, cinta sesama dan kedermawanannya adalah asli, orisinil. Perhatiannya terhadap kesejahteraan orang lain sama tingginya dengan cinta dan perhatiannya terhadap karirnya sendiri. Tanda bahwa dia berjiwa besar, pengabdian terhadap kemanusiaan dan bukti bahwa dia adalah manusia plus. Michael Jackson bukan haya seorang bintang istimewa tetapi dia adalah manusia istimewa. Begitu kata sebuah website kulit hitam.

Michael Jackson menyumbang jutaan dolar untuk United Negro College Fund serta pendiri dari Program Beasiswa Michael Jackson. Dialah yang menginspirasi saudara perempuannya Janet mendirikan program beasiswa sejenis. Banyak yang diuntungkan dengan program beasiswa Michael dan Janet Jackson itu.

”May Alloh be with you Michael, always ” kata Jermain kakaknya mewakili keluarga Jackson didepan peti jenasahnya.

Ketika untuk kesekian kalinya Gus Dur masuk kerumah sakit, beberapa hari sebelum meninggal seorang teman saya dengan beraninya mengatakan: Orang ini begitu masuk liang kubur, langsung akan dilempar keneraka tidak perlu menunggu hisab. Kalimat ini saya kutip apa adanya hanya untuk menunjukkan betapa sejumlah orang begitu tinggi rasa antipatinya terhadap Gus Dur. Bukankah dia yang melecehkan perjuangan Hamas, Palestina bukan urusan Islam, pendiri yayasan simon Peres, mengajak Indonesia mengakui kedaulatan Israel, menerima penghargaan dalam perayaan berdirinya negara Zionis itu, meremehkan relawan jihad dan tidak mendukung negara Palestina. Membela aliran Ahmadiyah, mengatakan Qur’an porno, jilbab adalah simbol arabisasi …

Saya kehilangan semangat untuk menyelesaikan tulisan ini. Entah karena judul diatas terlalu saya paksakan atau keengganan saya membaca pujian-pujian terhadap Gus Dur yang berlebihan. Bapak Pluralisme, presiden yang merakyat, pantas menerima Nobel Perdamaian, pidato pemakaman oleh SBY yang terasa sumbang, keajaiban tanggal meninggalnya Gus Dur, kerumunan orang yang berebut mengambil bunga dan tanah kuburan. Banyaknya orang yang penuh khurafat dan yang ingin memecah belah umat. Keseluruhannya menyesakkan.

Sementara Michael Jackson meninggal saat dia menggeliat untuk bangkit kembali, Gus Dur (yang pernah mampir kerumah saya ditahun 80an) tidak lelah-lelahnya bersilaturahmi dan berziarah, padahal ia sudah beberapa kali terkena stroke. Entah pelajaran apa yang bisa ditarik dari kepergian kedua tokoh itu. Wallohu a’lam

UJI KESUCIAN SINTA OBONG

UJI KESUCIAN SINTA OBONG

Oleh: Jum’an

Meskipun tulisan ini hanya sehalaman dan belum tentu menarik untuk dibaca, saya berani menulisnya hanya karena isinya bukan tentang saya. Alangakah malunya kalau saya menyebutkan keluarga saya sebagai contoh korban penculikan seperti ini meskipun hanya dalam khayalan. Anda pasti akan memahaminya.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau anak gadis saya (saya tidak punya) dibawa lari seorang pemuda sampai beberapa hari tidak pulang. Antara saya usir, saya mati jantungan, saya nikahkan paksa, saya serahkan polisi atau saya kalap sampai berbuat na’zubillah. Atau saya bawa kedokter untuk virginity test? Tetapi apapun hasil test dokter itu, darah saya masih tetap akan mendidih.

Kebetulan pekerjaan saya sehari-hari banyak berhubungan dengan uji mutu apakah satu bahan memenuhi standard tertentu, seberapa murni dan seberapa tercemar. Dalam bahasa rohani saya wajib membuktikan kesucian mereka, demi keselamatan orang banyak. Tetapi itu tidak sulit karena standar mutu, prosedur pengujian serta peralatannya lengkap tersedia. Dari hasil uji ini, saya dapat menilai ”kesucian” bahan-bahan itu. Tetapi kalu tentang kesucian anak gadis saya, aduh Gusti ampuun, saya tidak sanggup.

Atau kalau istri saya (saya juga tidak punya) diculik orang berbulan-bulan baru ditemukan. Dan untuk menambah parahnya imajinasi, dalangya ternyata bekas pacarnya dulu yang sekarang kaya-raya. Tanpa uji kesucianpun su’don saya akan menetapkan bahwa 100 persen dia pasti sudah terkontaminasi. Barangkali diluar lima rencana untuk anak gadis saya, saya tambahkan rencana bunuh diri.

Dalam balada Sinta Obong, Dewi Sinta (yang kecantikannya diabadikan pada nama-nama anak perempuan kita) permaisuri Sri Rama, diculik dan disekap oleh Rahwana raja Alengka selama 12 tahun. Ketika pada akhirnya Dewi Sinta berhasil dibebaskan, Sri Rama dan rakyat Astina sudah kehilangan kepercayaan atas kesuciannya. Dewi Sinta tentu saja memakluminya. Setelah pengakuan bahwa dirinya suci dari sentuhan Rahwana ditolak, iapun berikrar: Siapkan api unggun. Bakarlah aku, kalau api tidak menyentuhku berarti aku suci dan kakanda harus minta maaf kepadaku dan kepada rakyat Astina. Kalau tubuhku terbakar tandanya aku bernoda dan biarkan aku mati ditelan api.

Alhasil ritual Sinta Obong itu telah membuktikan bahwa Dewi Sinta masih suci tidak terjamah oleh Rahwana. Balada Sinta Obong ini terdapat dalam Ramayana, kitab suci umat Hindu. Oleh karena itu waktu Garin Nugroho membuat film dengan judul yang sama, telah menuai protes dari Organisasi Pemuda Hindu Sedunia karena isinya dianggap tidak sesuai dengan isi kitab Ramayana.

Uji kesucian mungkin diluar kewenangan kita. Yang jelas saya tidak akan menuntut ritual Sinta Obong untuk anak atau istri saya. Bila khayalan musibah diatas betul terjadi entah apa yang akan saya lakukan. Mungkin akan saya pasrahkan saja kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana dengan anda?

MIMIKRI: ADAPTASI ATAU PROSTITUSI?

MIMIKRI: ADAPTASI ATAU PROSTITUSI?

Oleh: Jum’an

Dalam dunia hewan dikenal suatu seni menyelamatkan diri yang khas. Sayap kupu-kupu ini bergambar mata melotot untuk mengecoh pandangan predator. Kalaupun tidak terkecoh dan tetap menyerang, kesempatan menyelamatkan diri masih terbuka karena yang diserang adalah sayap bukan tubuhnya. Ada pula ular yang ekornya mempunyai bentuk dan dapat bergerak mirip dengan kepalanya. Itu adalah muslihat ganda: pertama musuh sudah keburu takut melihat ekornya, kedua kalau ekornya diam dan katak merasa aman, tiba-tiba dia menyergap dengan kepala aslinya yang memang bertaring tajam. Itulah mimikri. Cara adaptasi untuk mengelak dari serangan musuh atau menangkap mangsa demi kelangsungan hidup selanjutnya. Mimikri yang populer adalah bagaimana bunglon berubah warna kulitnya menyamai tempat dia hinggap.

Demi kelangsungan hidup, manusia sejak lama telah memiliki banyak muslihat bagaimana menghindari bahaya dan mempermudah memperoleh tangkapan. Untuk memasuki ladang perburuan yang baru dan menghindari bermacam kendala serta memperoleh pangsa, orang harus menguasai seni muslihat atau art of deception alias mimikri.

Bedanya, mimikri bunglon, kadal dan kupu-kupu adalah alamiah sebagai bentuk perlindungan karunia YMK, sedangkan mimikri anak manusia adalah tiruan dan rekayasa. Hasilnya lebih banyak menyedihkannya dibanding terhindar dari bahaya dan memperoleh pangsa. Kita tidak bisa merubah warna kulit seperti bunglon. Sebagai gantinya kita terpaksa merubah pola berpikir, jati-diri dan tingkah laku agar sesuai dengan irama lingkungan yang baru. Makin cendekia seseorang seharusnya makin canggih pula muslihatnya untuk bermimikri. Lebih pandai beradaptasi, lebih homogen melarutkan diri.

Lihatlah Malarangeng Bersaudara, Anas Urbaningrum dan Denny Indrayana dulu dan sekarang. Menurut mata awam saya, mungkin puncak karir yang mereka tuju, tetapi mimikri justru telah merubah mereka dari cendekiawan muda yang cemerlang dan idealis menjadi sekedar juru pembenar bahkan pemasang badan. Akal sehat orang awampun dapat melihatnya dengan jelas. Nampaknya mimikri memang hanya untuk dunia binatang bukan untuk manusia, apalagi untuk para cendekiawan. Ini adalah prostitusi bukan adaptasi.

Seingat saya zaman dulu orang jarang dan tabu berpindah-pindah partai politik. Bahkan (entah sampai dimana kebenarannya) seorang pengobar semangat dari Partai Nahdatul Ulama (NU) berani berpidato: Wa laa tamuutunna illa wa antum Nahdliyyiin – jangan sekali-sekali engkau mati kecuali sebagai seorang NU. Sebagai bukti bahwa urusan partai pada waktu itu adalah urusan hidup dan mati.

Berbeda halnya sekarang; berpindah-pindah partai adalah halal, absah dan jamak. Siapa saja, apalagi tokoh masyarakat dan cendekiawan akan disambut dengan tangan terbuka. Partai baru adalah ladang baru yang masih perawan, penuh janji dan harapan. Itulah sebabnya orang berpikir bahwa mimikri perlu untuk menggarapnya, padahal itu merupakan muslihat binatang.