OTAK MASAKINI -OTAK ARTIFISIAL

OTAK MASAKINI- OTAK ARTIFISIAL

Oleh: Jum’an

Saya sedang memilih bingkai kacamata baru karena yang lama sudah dekil dan kendor, kurang menjepit dan selalu melorot. Karena terlalu lama memilih-milih, salah seorang pramuniaga optik itu menawarkan jasanya: Bisa saya Bantu Pak? Dengan trampilnya ia menunjuk dan menyebutkan macam-macam bentuk dan merek sambil berceramah bagaimana caranya memilih bingkai yang cocok. Bentuk bingkai persegi dapat menyamarkan wajah bulat, tepi yang naik akan mengurangi kesan tua, bagian bawah yang tidak menyentuh pipi dapat menghindarkan iritasi kulit dan menghilangkan kesan hidung kelihatan besar.

Bentuk wajah, bentuk alis, postur tubuh dan warna kulit yang semuanya tidak ada hubunganya dengan fungsi kacamata menjadi pertimbangan penting kalau menginginkan bingkai yang membuat pede pemakainya. Mata sembap atau kendor ada solusinya melalui pemilihan bingkai yang tepat.

Saya terpukau mendengarkan ceramah pramuniaga yang komprehensip itu meskipun pilihan-pilihan saya selalu disabot oleh dompet yang terlalu kurus.

Ternyata pertimbangan fungsional saja sudah ketinggalan zaman. Kacamata yang semula merupakan alat bantu lihat, telah berubah menjadi kebutuhan mode dan gaya hidup yang tidak ada ukuran harganya yang jelas.

Dengan semangat ”merubah hambatan menjadi peluang” dan ”selalu ada ruang untuk perbaikan” tumbuhlah berbagai kebutuhan dan produk artifisial baru yang membanjiri pasar. Sekarang bukan zaman kastroli (obat pencahar dari minyak jarak yang bau amis) dan pil-kina (obat malaria yang pahit dan membuat telinga mendengung berhari-hari). Tetapi zaman rasa strawberry dan tablet berlapis gula (sugar coated) yang manis. Kadang-kadang dompet kosong memaksa orang berfikir sehat: beli saja obat generik. Meski rasanya pahit dan kemasannya jelek tetapi sama manjurnya. Bukankah itu yang kita harapkan?

Jangan pilih awet kalau membeli sepatu. Nanti tahunan tidak rusak-rusak, sedang model-model yang baru sudah banyak dipakai orang. Kalau membeli motor atau mesin jahit baru pilih yang awet.

Tetapi bagaimanapun harus diakui bahwa dunia semakin menyenangkan dan gemerlap dan dengan isinya yang serba artifisial. Bayangkan kalau kita hanya berfikir fungsional. Kalau pakaian hanya untuk menutupi aurat, cukuplah satu model saja untuk semua bangsa, semua agama sekaligus untuk pria dan wanita.

Anehnya anak-anak zaman sekarang cepat sekali menyesuaikan diri dengan keadaan serba-neka itu. Pembantu saya mempunyai hp murah dengan fitur meriah. Ia menggosip, kirim sms, chatting, transfer pulsa, memotret, mendengar musik dan menonton film, mentransfer uang kekampung dan entah apalagi. Saya kira otaknya memang otak artifisial. Otak masa kini yang berbeda dengan otak-otak pasca revolusi kemerdekaan dulu.

5 thoughts on “OTAK MASAKINI -OTAK ARTIFISIAL

  1. kalo saya prinsipnya juga sama, “function over fashion”.jadi jaket yang dipakai ya itu-itu aja meski dah belel. lha wong enak dipakai koq :))tapi kalo semua orang pikirannya gitu ya pabrik-pabrik dan FO banyak yang tutup :))

  2. kalau sy untuk sepatu cari yg bagus….. sampai skrg sepatu kets jaman kuliah masih ada tuh….. sy belinya tahun 94… masih enak dipakai…. modelnya jg tdk tergerus jaman…. bahkan anak sy yg pertama suka minjam….. smart shopping lah istilahnya… cari model yg awet jg😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s