UJI KESUCIAN SINTA OBONG

UJI KESUCIAN SINTA OBONG

Oleh: Jum’an

Meskipun tulisan ini hanya sehalaman dan belum tentu menarik untuk dibaca, saya berani menulisnya hanya karena isinya bukan tentang saya. Alangakah malunya kalau saya menyebutkan keluarga saya sebagai contoh korban penculikan seperti ini meskipun hanya dalam khayalan. Anda pasti akan memahaminya.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau anak gadis saya (saya tidak punya) dibawa lari seorang pemuda sampai beberapa hari tidak pulang. Antara saya usir, saya mati jantungan, saya nikahkan paksa, saya serahkan polisi atau saya kalap sampai berbuat na’zubillah. Atau saya bawa kedokter untuk virginity test? Tetapi apapun hasil test dokter itu, darah saya masih tetap akan mendidih.

Kebetulan pekerjaan saya sehari-hari banyak berhubungan dengan uji mutu apakah satu bahan memenuhi standard tertentu, seberapa murni dan seberapa tercemar. Dalam bahasa rohani saya wajib membuktikan kesucian mereka, demi keselamatan orang banyak. Tetapi itu tidak sulit karena standar mutu, prosedur pengujian serta peralatannya lengkap tersedia. Dari hasil uji ini, saya dapat menilai ”kesucian” bahan-bahan itu. Tetapi kalu tentang kesucian anak gadis saya, aduh Gusti ampuun, saya tidak sanggup.

Atau kalau istri saya (saya juga tidak punya) diculik orang berbulan-bulan baru ditemukan. Dan untuk menambah parahnya imajinasi, dalangya ternyata bekas pacarnya dulu yang sekarang kaya-raya. Tanpa uji kesucianpun su’don saya akan menetapkan bahwa 100 persen dia pasti sudah terkontaminasi. Barangkali diluar lima rencana untuk anak gadis saya, saya tambahkan rencana bunuh diri.

Dalam balada Sinta Obong, Dewi Sinta (yang kecantikannya diabadikan pada nama-nama anak perempuan kita) permaisuri Sri Rama, diculik dan disekap oleh Rahwana raja Alengka selama 12 tahun. Ketika pada akhirnya Dewi Sinta berhasil dibebaskan, Sri Rama dan rakyat Astina sudah kehilangan kepercayaan atas kesuciannya. Dewi Sinta tentu saja memakluminya. Setelah pengakuan bahwa dirinya suci dari sentuhan Rahwana ditolak, iapun berikrar: Siapkan api unggun. Bakarlah aku, kalau api tidak menyentuhku berarti aku suci dan kakanda harus minta maaf kepadaku dan kepada rakyat Astina. Kalau tubuhku terbakar tandanya aku bernoda dan biarkan aku mati ditelan api.

Alhasil ritual Sinta Obong itu telah membuktikan bahwa Dewi Sinta masih suci tidak terjamah oleh Rahwana. Balada Sinta Obong ini terdapat dalam Ramayana, kitab suci umat Hindu. Oleh karena itu waktu Garin Nugroho membuat film dengan judul yang sama, telah menuai protes dari Organisasi Pemuda Hindu Sedunia karena isinya dianggap tidak sesuai dengan isi kitab Ramayana.

Uji kesucian mungkin diluar kewenangan kita. Yang jelas saya tidak akan menuntut ritual Sinta Obong untuk anak atau istri saya. Bila khayalan musibah diatas betul terjadi entah apa yang akan saya lakukan. Mungkin akan saya pasrahkan saja kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana dengan anda?

One thought on “UJI KESUCIAN SINTA OBONG

  1. berita ini saya ceritakan kepada murid2 saya,saya sendiri tdk punya anak prmpan.Mereka terhenyak dan bergidik mendengar semudah itu segel dirusak. Saya bersyukur di berikesempatan mengingatkan dan hal ini akan saya lakukan sementara hanya itu berdoa sudah pasti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s