Bulan: Juli 2010

PUASA NANTI JANGAN KE PASAR BARU LAGI

PUASA NANTI JANGAN KE PASAR BARU LAGI

Oleh: Jum’an

Sudah tahu hari mendung tidak mau membawa jas hujan dengan alasan hujan belum tentu turun. Akhirnya harus berteduh dikolong underpass selama berjam-jam kedinginan lalu masuk angin dan pilek berhari-hari. Tahu lampu jalan sudah merah tidak mau berhenti dengan alasan nanggung. Akhirnya ditangkap polisi ketahuan surat-surat tidak lengkap mobil ditahan dan seminggu urusan baru selesai. Terakhir saya memencet jerawat dipipi karena risi berlanjut dengan infeksi berhari-hari dan ketakutan kalau-kalau kangker.

Betapa sering orang terseret kedalam kerepotan yang berlarut-larut hanya karena penyebab yang sepele. Semua bermula dari salah mengambil keputusan yaitu memilih yang berisiko dari pada yang lebih aman. Karena tidak sabar atau ragu-ragu atau sekedar why not saja. Memang sebaiknya kita menenangkan diri dulu sebelum mengambil keputusan, lalu lahaula wala quwwata lalu bismillah. Tetapi kita maunya serba instant, gaji terlambat sehari saja kita kutuk habis dari kasir, direktur sampai komisaris perusahaan. Manusia selalu terburu nafsu sudah dari sononya memang begitu.

Menjelang bulan suci Ramadan makin banyak orang membicarakan kenangan, anekdot dan serba-serbi bulan puasa. Juga dikantor saya, Rina contohnya. Dia mengaku masih mempunyai tunggakan puasa lima hari. Salah satunya ketika ia batal puasa di pasar Jatinegara tahun lalu. Katanya waktu itu udara sangat panas, suasana pengap dan orang saling berdesakan. Ia merasa tidak tahan, apalagi ketika dilihatnya es sirop warna merah dalam gelas bening berembun memanggil-manggil. Batallah puasanya dan baru mau dibayar dalam beberapa hari mendatang. Saya merasa kaget ketika mendengar pengakuan itu karena saya ingat Warni dan Yanti yang masih kerabat jauh saya yang batal puasa di Pasar Baru. Kalau ada satu lagi nama wanita yang batal puasa di pasar, Tanah Abang atau Bendungan Hilir atau Kebayoran Lama maka saya berani menuduh bahwa tidak sedikit wanita yang membatalkan puasa dipasar. Ternyata Taslim, rekan sekantor juga, mengakui bahwa istrinya sudah sering batal puasa dipasar.

Warni dan Yanti (nama samaran, mungkin mereka membaca tulisan ini) semua batal puasa karena alasan yang hampir sama. Mereka pergi ke Pasar Baru untuk berbelanja pakaian lebaran. Dengan penuh gairah mereka keluar masuk gerai-gerai pakaian, melihat-lihat dulu sebelum membeli nanti. Sesudah sekitar sejam berkeliling mulailah terasa mata pedih dan hidung sakit oleh bau tekstil yang menyengat, kepala pusing, kerongkongan dan mulut kering karena hari semakin panas. Lidah serasa tersangkut-sangkut tidak lancar untuk tawar-menawar. Kalau diteruskan mungkin akan bertambah gawat, ini sudah darurat. Merekapun sepakat untuk membatalkan puasa demi kesehatan toh bisa diganti tahun depan. Merekapun menyantap masing-masing semangkok soto mie panas dan es kelapa muda. Nikmat tiada tara. Sesudah bersendawa panjang merekapun tertegun. Mungkin menyesal atau merasa kehilangan kehormatan. Seperti terperosok dari keanggunan seorang gadis pingitan calon pengantin, lalu menjual diri demi kepuasan jasmani. Semangkok soto mie dan es kelapa muda. Entahlah. Sebaiknya puasa nanti jangan ke Pasar Baru lagi. Syahr Mubarrok.

Iklan

AKU TAHU DOSAMU

AKU TAHU DOSAMU

Oleh: Jum’an

Suatu kali mobil saya terjepit diantara mobil-mobil lain di sebuah tempat parkir. Susah payah saya berusaha mengeluarkannya. Akhirnya berhasil tetapi bemper belakang membentur lampu depan sebuah mobil mewah entah milik siapa. Saya turun untuk melihat separah apa kerusakannya. Waduh. Lampunya pecah berantakan dan frame-nya peot. Pasti mahal ongkos mengganti dan memperbaikinya. Dan yang lebih menakutkan adalah kemarahan pemiliknya nanti. Makin mengerikan lagi kalau sipemilik ternyata berbaju hijau. Beberapa lama saya berdiri tertegun memikirkan apa yang sepantasnya saya lakukan. Tetapi waktu saya menengok kesana kemari tidak ada seorangpun yang nampak, pikiran saya beralih dari tanggung jawab ke menyelamatkan diri – dua jenis tindakan yang sama bobotnya.

Tanpa tergesa-gesa sayapun masuk kedalam mobil dan pulang kerumah dengan aman, meninggalkan bom waktu yang saya tidak mendengar ledakannya. Alangkah suci hati, bahkan utopisnya kalau saya menunggu sampai pemiliknya datang atau melapor ke bagian security bahwa saya telah memecahkan sebuah lampu mobil BMW dan siap untuk menerima hukumannya. Dipandang dari segala sudut, saya pilih menyelamatkan diri. Semoga Alloh memaafkan saya dan semoga ada hikmahnya bagi sipemilik BMW, siapa tahu itu mobil hasil kejahatan atau yang pemiliknya memang sedang memerlukan peringatan. Biarlah Alloh yang mengaturnya. Terhibur rasanya hati saya.

Beberapa hari kemudian ketika saya sedang berdiri dibalik jendela, terlihat tetangga depan rumah mengeluarkan mobil dari garasi mau keluar bersama isterinya. Entah hatinya sedang dongkol atau terburu-buru, ia terlalu keras menginjak pedal gas dan menabrak pagar gerbang rumah saya sampai rusak. Saya diam sambil mengamati apa yang mau ia perbuat. Ia turun untuk mengamati kerusakan mobilnya dan pagar saya lalu menegok kekanan dan kekiri –persis seperti waktu saya memecahkan lampu BMW- lalu kembali menaiki mobilnya dan wuzzz… bablas meneruskan perjalanan. Dua hari kemudian waktu kami bertemu muka, kami sama-sama tutup mulut tentang peristiwa tabrak-lari itu. Kami berbicara ramah-tamah seperti biasa tetapi saya yakin dia berfikir bahwa saya tidak tahu siapa yang menabrak pagar. Senang benar hatinya. Sementara dalam hati saya berkata: aku tahu dosamu. Sebuah senjata yang mungkin berguna sewaktu-waktu nanti… ha ha.

Saya merasa dosa saya memecahkan lampu BMW sudah terbayar dengan ditabraknya pagar rumah saya oleh tetangga. Saya yang memilih menyelamatkan diri dari pada bertanggung jawab sudah selesai menjalani hukuman, tinggal giliran tetangga saya yang bakal menerima akibat perbuatannya. Saya kira kalau orang tidak main tampar dan unjuk kuasa dalam menyelesaikan perkara, sungguh saya akan memilih untuk menunggu sipemilik BMW, mengaku terus terang dan saya bayar biaya perbaikannya dengan menghutang sekalipun. Tetapi dizaman aparat hukum dan pengadilanpun sulit dipercaya seperti sekarang ini, mana berani saya berspekulasi untuk diadili oleh orang yang tidak saya kenal sama-sekali. Saya pilih menyelamatkan diri, penyelesaian sementara dan jangan ditiru.

SARJANA MISKIN DAN SARJANA KAYA

SARJANA MISKIN DAN SARJANA KAYA

Oleh: Jum’an

Dalam lubuk hati saya sering terdengar suara berbisik: Sudahlah terima saja apa yang ada. Kamu sudah mentok. Tidak mungkin akan menembus batas. Saya duga bisikan itu merupakan jawaban terhadap penyesalan saya yang terus menerus: Jadi hanya segini saja, tidak ada apa-apa lagi? Sebuah rumah kecil dan mobil tua untuk belasan tahun mengasah otak dan puluhan tahun bekerja keras? Sungguh tidak seimbang. Tetangga saya hanya lulusan sanawiyah. Isterinya seperti bidadari, rumah dan tanahnya tersebar dimana-mana. Itulah salah satu sisi nasib saya apa boleh buat. Mungkin karena orang tua saya dulu hanya pedagang kitab kuning untuk santri-santri desa. Sehingga lebih dari cukuplah kalau anaknya dapat memiliki sebuah rumah dan mobil, meskipun kecil dan tua. Katakanlah saya memang tidak berbakat kaya.

Sukses memang bukan urusan kepandaian atau IQ semata-mata. Memang Bill Gates mempunyai IQ 160 sama geniusnya dengan Albert Einstein dan dia adalah pria terkaya didunia. Tentu IQ-nya merupakan andil yang besar. Tapi tidak demikian halnya dengan Chris Langan (58 th). Chris adalah genius autodidact dengan IQ luar biasa antara 195 – 210 dan dijuluki the smartest man of America. Ketika kuliah di Universtas Montana ia mengalami kesulitan keuangan dan karena merasa bahwa sebenarnya ia lebih pantas mengajar dosen-dosennya dari pada menjadi mahasiswa, iapun drop-out. Ia kemudian membuat strategi kehidupan ganda yaitu siang hari bekerja fisik mencari nafkah dan dimalam hari mengurung diri untuk mengolah rumus-rumus dikepalanya. Diantaranya dia mengembangkan teori tentang hubungan antara pandangan dan kenyataan yang terkenal dengan Cognitive Theoritic Model of the Universe (CTMU). Biaya hidupnya ia peroleh dengan bekerja sebagai buruh bangunan, cowboy, mantri hutan, pemadam kebakaran, buruh tani dan selama lebih dari 20 tahun sebagai bouncer atau tukang pukul ditempat hiburan di Long Island.

Berbeda pula kisah professor Irving Fisher yang banyak dikenal dikalangan mahasiswa dan para ekonom di Indonesia. Pakar ekonomi matematika ini sangking pandainya, yakin betul bahwa pasar saham saat itu (1929) akan tetap tinggi sepanjang tahun. Iapun menanamkan modal besar-besaran, tetapi berujung bangkrut karena tanpa disangka-sangka terjadi crash. Universitas tempat dia mengajar terpaksa membeli rumahnya dan menyewakan kepadanya agar dia tidak terlantar. Jera? Tidak. Ia tetap yakin bahwa dia benar dan meminjam uang dalam jumlah besar dari keluarga dan teman-temannya yang kaya dan menanamkannya sekali lagi dipasar saham. Dan sekali lagi bukannya untung tapi buntung-tung dan ludes-des.

Bill Gates sering mengakui bahwa disamping upaya dan kemampuan, adalah kemujuran (luck) yang menempatkannya sebagai orang terkaya didunia. Sedangkan Chris Langan, super IQ-nya tidak didukung oleh lingkungan sehingga ia terpaksa berjuang sendirian. Dan belum pernah ada didunia ini baik penyanyi, atlit, ilmuwan bahkan para jenius yang berhasil tanpa bantuan orang lain. Adapun professor Fisher adalah tamsil yang sempurna dari seorang yang karena kepandaiannya menjadi kelewat percaya diri (overconfident). Dan bahwa kelewat percaya diri adalah mantera menuju bencana.

Saya sendiri……………memang sudah takarannya segini. Alhamdulillah.

WANITA SOLEH DAN WANITA BAIK HATI

WANITA SOLEH DAN WANITA BAIK HATI

Oleh: Jum’an

“Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella?” Itulah sebaris kalimat dalam surat Raden Ajeng Kartini kepada sahabat curhatnya Estella Zeehandelaar, seorang wanita tokoh feminis Yahudi Belanda. Surat itu ditulisnya tanggal 6 November 1899, beberapa waktu setelah ia dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngajinya. Ia mungkin bosan mengaji dan menghafal dalam bahasa Arab tanpa pernah diterangkan artinya. Kutipan diatas mengesankan bahwa ia dihadapkan pada dua pilihan untuk menjadi wanita soleh atau wanita yang baik hati. Dalam pengertian keseharian saya, seorang wanita soleh itu taat beribadah, taat kepada suami dan serba menutup aurat. Sedang seorang wanita baik hati itu sopan santun, menghargai sesama, suka menolong dan berbudi pekerti baik.

Beberapa lama sesudah peristiwa itu RA Kartini berkunjung kerumah pamannya Bupati Demak. Saat itu sedang ada pengajian keluarga yang diberikan oleh Kiyai Haji Soleh Darat, iapun ikut medengarkan dan mengakui sangat tergetar hatinya mendengar uraian makna Surat Alfatihah. KH Soleh Darat adalah ulama besar kelahiran Jepara dan guru dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Beliau adalah penulis kitab tafsir Alqurán bahasa Jawa yang pertama di Nusantara. Jilid pertama kitab itu (Faizur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan Bupati Rembang RM Joyodiningrat. Raden Ajeng Kartinilah yang mula-mula menghimbaunya untuk menulis kitab itu.

Mengapa soleh dan baik hati harus menjadi dua pilihan? RA Kartini memang menghadapi banyak pengaruh: adat pergaulan yang ketat sebagai seorang gadis ningrat puteri Bupati, pengaruh Islam dari guru-guru ngajinya dan pergaulannya dengan wanita-wanita terpelajar Belanda yang memperkenalkan agama Kristen dan Yahudi kepadanya. Sementara RA Kartini menghadapinya dengan bermodal kejawaan, kecerdasan dan kebaikan hati yang dimilikinya.

Soleh adalah sifat-sifat baik menurut kriteria agama sedangkan baik hati adalah ukuran kemanusiaan, meskipun dalam praktek kehidupan sehari-hari banyak kesamaan manifestasinya. Bagi orang-orang yang tidak berpihak kepada agama, baik hati dianggap lebih baik daripada soleh karena baik hati berasal dari diri sendiri sedangkan soleh datang dari suatu perintah. Atau, apakah anda lebih berpendirian bahwa bunga mawar, diganti namanya pun akan sama semerbak wanginya? Yang penting adalah zatnya dan bukan namanya?

Bagi saya tidak. Saya sudah terikat janji untuk menjalankan printah Alloh dan mengikuti sunnah Rosulnya, ada ganjarannya, ada pula hukumannya. Dituntut kesinambungannya dan diminta pertanggung-jawabannya. Konsekwensinya sangat mendasar yaitu sorga dan neraka. Dan pasrah sanggup ataupun tidak sanggup. Sedangkan baik hati yang disebut-sebut oleh RA Kartini kepada Estella tidak ada hubungannya dengan janji pasrah, syahadat, sorga atau neraka. Ghofaolloh li wa lakum.

HAJI THOYIB TIDAK PASANG IKLAN

HAJI THOYIB TIDAK PASANG IKLAN

Oleh: Jum’an

Iklan adalah akal untuk memancing orang supaya membeli; jadi penting bagi penjual barang. Kitapun tidak akan tahu ada barang baru kalau tidak melihat iklan. Tetapi iklan tidak selalu mengungkapkan yang benar. Banyak menonjolkan kelebihan dan menyembunyikan cacat dan kekurangan. Tetapi seperti orang Malaysia bilang ”Barang baik tak perlu nak cakap banyak-banyak”, kita tahu sesuatu yang benar-benar bermutu tidak perlu banyak diiklankan ibarat gadis cantik tak perlu make-up terlalu tebal.

Haji Thoyib, pemilik warung sate ditepi jalan antara Prupuk dan Bumiayu adalah salah satu penjual barang baik yang tak perlu banyak iklan. Saya sudah lama mendengar kemashurannya dikalangan penggemar sate yang kerap melewati daerah itu. Memang benar dia tidak memasang iklan, kecuali sebuah papan nama ukuran kecil dan tempat pembakarannya yang terletak disamping depan sebagai tanda bahwa dia berjualan sate. Waktu saya mampir kesana minggu yang lalu ada beberapa mobil diparkir berderet didepan warung itu. Dari pelat nomor mobil, pakaian dan logat bahasanya saya menduga mereka adalah rombongan pejabat daerah dan beberapa pelancong dari Jakarta.

Haji Thoyib beserta anak bininya sibuk melayani para pelanggan tanpa banyak senyum dan basa-basi. Menu utamanya hanya nasi, sate dan sop serta minuman khas Tegal yaitu teh poci dengan gula batu. Pesanan yang menyimpang seperti minta dibanyaki ininya atau dikurangi itunya, ditolak dengan nada datar tanpa minta maaf: tidak bisa. Yang hanya ingin menikmati sate saja tanpa nasi juga ditolak. Pesanan tambahan, kalau pelanggan lain masih ada yang menunggu juga tidak dilayani. Kalau persediaan daging habis Haji Thoyib dengan celana pendek dan baju kaos mengambilnya dari dapur dan membawa onggokan daging itu melewati sela-sela tamu yang sedang makan. Hampir tak ada senyum, silahkan atau terima kasih. Tapi warung itu sungguh laris. Selalu dipenuhi tamu-tamu yang nampak senang karena terpuaskan seleranya.

Begini saya kira pendirian Haji Thoyib: saya dengan segala daya dan upaya telah menemukan cara membuat sate dan sop kambing yang khas. Rasanya enak, pas dengan harga pantas. Yang suka silahkan beli yang tidak, tidak usah. Inilah hasil karya, pintu rizki dan jalan hidup saya. Bismillah, akan saya tekuni untuk selama-nya. Lehih atau kurang dari ini bukan sate saya dan bukan urusan saya.

Sekarang pendirian dan ketekunannya telah menghasilkan kwalitas prima yang mengiklankan diri sendiri. Para penggemarnya seolah-olah menyiarkan pesan berantai: Kalau mau ke Jawa (begitu orang Jakarta menyebut Jateng dan Jatim) jangan lupa mampir kewarung Haji Thoyib didesa Kosambi antara Prupuk dan Bumiayu. Bahwa tulisan ini bukan iklan, biarlah saya kutip kata-kata banyak orang bahwa sate kambing itu menaikkan tekanan darah. Walhasil barang baik, amal baik, orang baik semua tak perlu iklan: tak nak banyak-banyak cakap.

MENGAJAK PENGEMIS BER OLAHRAGA

MENGAJAK PENGEMIS BER OLAHRAGA

Oleh: Jum’an

Jangan. Jangan mengajak pengemis untuk berolah-raga. Akal sehat kita tidak akan mengizinkan. Pertama kalori tubuhnya yang pas-pasan akan hilang dan harus di tebus dengan mengemis lebih giat lagi. Kalau dipaksakan dia tidak akan menjadi sehat dan kalaupun menjadi sehat, justru tidak menguntungkan bagi profesinya sebagai pengemis karena…. orang sehat kok mengemis?. Walhasil mengemis dan olah raga tidak kompatibel, lebih baik tidak disangkut-pautkan. Setidak-tidaknya orang harus kecukupan dulu baru dia layak untuk berolah-raga. Mengajak pengemis berolah raga seperti mengendarai mobil dengan ban kempes kalau dipaksakan akan patah as rodanya.

Solat lima waktu adalah amalan wajib bagi umat Islam, sesuatu yang sangat penting dan tidak dapat ditawar-tawar. Untuk amalan yang sepenting itupun Tuhan memberi banyak kemudahan. Yang tidak kuat berdiri boleh duduk, yang tidak kuat duduk boleh tiduran, yang tak kuasa menggerakkan anggota badan boleh mengedipkan mata. Yang bepergian boleh menjamak, tak ada air boleh tayamum dan sebagainya. Menyuruh orang sakit solat berdiri juga seperti mendorong mobil dengan ban kempes. Tidak bedanya dengan menyuruh pengemis berolah raga. Tidak kan sampai ketujuan.

Orang berdagang kalau ingin laku, orang berobat kalau ingin sembuh, orang berperang kalau ingin menang dan orang berdakwah kalau ingin didengar semua perlu mengikuti aturan dan kelayakan. Bahkan makanan yang mengandung gizi tinggi, harus dimasak dengan hati-hati dan dimakan dengan bismilah lebih dulu. Mengabaikan kelayakan, sebaik apapun tujuan kita sulit untuk mencapainya.

Sebenarnya saya berpanjang-panjang dengan tamsil diatas hanyalah untuk mengantar kerisauan saya merasakan ketidak-harmonisan ukhuwah islamiah diantara kita. Terasa ada yang salah terap disana-sini. Akibatnya kita lebih merasakan perbedaan satu sama lain ketimbang persamaan dan senasib- sepenanggungan, meskipun masing-masing menyanjung persatuan dan persadaraan. Seolah-olah semua serempak mengatakan kita ini sama. Tetapi masih ada lanjutannya yang tidak terucapkan yaitu: meskipun demikian ada yang lebih sama dan ada yang kurang sama. Alias kita sebenarnya berbeda.

Teman-teman mengaji kita disurau dulu, sekarang mempunyai jalan pikiran sendiri-sendiri dan masing-masing merasa benar. Jangan berani-berani berbicara soal jihad kalau anda tidak benar-benar kenal siapa lawan bicara anda. Hati-hati menerangkan ayat Qurán karena kini adalah zaman setiap orang punya tafsir sendiri-sendiri. Kalau ingin bertausiah dengan aman dan tanpa beban, carilah tukang bakso yang dorongannya diparkir didepan masjid sementara dia mampir solat. Biasanya mereka rendah hati dan tidak banyak cing-cong.

Tentu saja saya berlebihan dengan gambaran diatas. Tetapi saya memang risau. Kadang-kadang saya berfikir kita yang banyak cing-cong ini tadinya masing-masing hanyalah setetes air yang menjijikkan. Tetapi ya bagaimana lagi……

PENYANDERAAN DEWI SARASWATI

PENYANDERAAN DEWI SARASWATI

Oleh: Jum’an

Seiring dengan perkembangan peradaban maka kejahatan dan kebohonganpun berkembang sama pesatnya baik jumlah, jenis maupun cara-caranya. Sedikit demi sedikit sayapun ikut mengembangkan seni berbohong. Yang lebih halus, lebih tidak kentara dan lebih mengena. Dari pengetahuan dan pekerjaan yang saya geluti, saya memahami sejumlah jargon ilmu kimia beserta multi-tafsirnya yang orang lain mungkin kurang faham. Dengan merangkum informasi yang bertebaran, saya dapat membuat penafsiran selektif dan menyusun sebuah kesimpulan yang memihak kepada keinginan perusahaan saya misalnya. Itu saya kerjakan agar sebuah produk atau sistim menjadi layak jual. Rasanya tidak jahat bukan bohong dan tidak berdosa meskipun terasa mengganjal dihati. Tindakan saya seperti benar, meskipun bukan kebenaran yang seutuhnya.

Itu merupakan sebuah contoh kecil bagaimana orang merekayasa bukti-bukti ilmiah untuk menunjang tujuan bisnis, politis atau yang lain. Dalam lingkup nasional seperti penanganan lumpur Lapindo misalnya, orang merekayasa argumentasi agar diambil pola penyelesaian yang menguntungkan pihaknya sendiri. Kebijaksanaan untuk mengatasi pemanasan global juga telah menjadi ajang negara-negara maju saling mempolitisir fakta-ilmiah untuk kemenangan politik negara masing-masing. Ilmu pengetahuan yang jujur dan tidak berpihak (yang dalam budaya Hindu dilambangkan sebagai Dewi Saraswati) disandera dan dipaksa tunduk memihak kepada kehendak politik dengan segala kerakusannya.

Pemenang Noble Kimia 2003 Peter Agre mengecam keras pemerintah A.S dibawah Bush sebagai biang kerok dan malapetaka bagi lingkungan, karena mengabaikan bukti-bukti ilmah bahwa emisi karbon adalah penyebab perubahan cuaca global. Mereka menolak menandatangani perjanjian Kyoto meski hampir semua negara industri maju menyetujuinya. Menurut Agre, George Bush telah mempolitisir ilmu pengetahuan dengan hanya melibatkan para lmuwan yang setuju dengan kebijaksanaannya. Tetapi para ilmuwan pendukung Bush berkata sebaliknya: Dibawah Bush ilmu pengetahuan di Amerika telah maju pesat ke tingkat yang tidak pernah dicapai sebelumnya.

Barrack Obama waktu mengangkat John Holdren sebagai penasehat ilmu dan teknologi Gedung Putih mengatakan: Memajukan ilmu pengetahuan…… artinya menjamin bahwa bukti dan fakta tidak dipelintir dan dikaburkan oleh politik dan ideologi. Alangkah mulianya Obama diandingkan dengan Bush. Padahal sekarang seluruh duniapun tahu bahwa Bush dan Obama adalah setali tiga uang. Tetapi sekali lagi menurut para ilmuwan yang berseberangan, Holdren juga tidak lebih dari seorang science politicizer, pendapatnya tentang perubahan cuaca global sama sekali tidak ilmiah, semacam campuran antara politik dan kepercayaan.

Kalau saya membuat tafsiran selektif dan kesimpulan memihak hanya untuk memperoleh gaji yang pas-pasan setiap bulan, apalah jahatnya. Tetapi kalau membelokkan fakta sehingga pihak yang penyebab terjadinya malapetaka Lapindo di Sidoarjo terbebas dari tanggung jawab tentulah merupakan kejahatan dan dosa besar. Kalau tidak sekarang didunia ini, diakhirat nanti pastilah ada perhitungan dan pembalasannya yang lebih adil. Begitu kan ya?