BILA ANDA MENUA NANTI (III)

BILA ANDA MENUA NANTI (III)

Oleh: Jum’an

Sejak dulu orang tua dianggap sebagai sumber kearifan dan kebijaksanaan tempat bertanya dan meminta nasehat untuk mencapai hidup yang lebih bahagia, lebih selamat, hidup yang lebih makbul. Orang tua adalah pakar terpecaya dalam menjalani hidup disaat-saat yang sulit. Mereka telah melalui banyak pengalaman berharga seperti masa peperangan, krisis ekonomi dan kelangkaan pangan, wabah penyakit atau bencana alam yang telah memberikan pelajaran kepada mereka bagaimana caranya bertahan hidup. Mereka juga telah mengalami sendiri banyak tragedi yang orang muda akan ngeri menghadapinya. Dari kemelut rumah tangga, sakit kronis sampai kehilangan isteri atau anak. Karena itu mereka dapat memberikan nasehat kepada kaum muda bagaimana menghadapi penyakit dan kehilangan dengan tabah. Bila mereka menasehati anda agar berhati-hati memilih pasangan misalnya, dengarkan dan ikuti. Karena, itu bukan sekadar nasehat normatif dan baik, tetapi juga didasari dengan pengalaman dan bukti yang teruji. Mereka telah merasakan hidup tertekan dan terpenjara akibat kurang cermat memilih jodoh; atau bahagia sampai tua berkat berhati-hati dan sabar memilih. Status orang tua sebagai sumber nasehat nampaknya semakin pudar. Orang muda dalam era informasi sekarang lebih suka mencari nasehat dan petunjuk dari buku-buku atau internet, psikolog atau motivator. Lebih ilmiah dan lebih obyektif. Tidak mengapa; tetapi meninggalkan orang tua sebagai tempat bertanya adalah rugi.

Semua kita akan tua dan mengalami rintangan fisik dan mental. Suatu saat dalam hidup, kita terpaksa membiarkan sesuatu terlepas, menangisi yang hilang dan menggeliat bangkit untuk meneruskan pejalanan. Hari tua itu lebih baik disambut dan dirangkul dengan ramah, jangan sekali-sekali dilawan. Jangan terlalu menyia-nyiakan waktu untuk mencemaskan datangnya hari tua. Begitu nasehat kebanyakan orang yang sudah mengalaminya. Lebih baik mulai dengan melakukan persiapan, mengumpulkan bekal dan mencari dukungan untuk menempuhnya kelak. Anda mungkin heran. Ternyata sedikit banyak anda sudah punya bekal meskipun hari tua masih jauh. Menua adalah proses alamiah yang universal dan tak pandang bulu. Tetapi bagaimana cara menjalaninya tergantung kepada sikap dan keadaan kita masing-masing. Kita menua bersama-sama tetapi langgam dan iramanya adalah khas kita. Orang yang hidup lajang sampai tua, suami istri yang tak punya anak, orang saleh dan orang materialis, orang kaya dan orang miskin, akan menua dengan tarian dan lagunya sendiri-sendiri.

Menua berarti berhadapan dengan maut. Maka banyak orang menanggapinya dengan rasa cemas yang mendalam dan berkepanjangan. Orang yang beriman dan percaya kepada hari akhir dan meyakininya dengan sungguh-sungguh menanggapinya dengan sikap yang lebih ringan, bahkan disertai harapan akan kehidupan yang baik di akhirat nanti. Kebersamaan spiritual dengan orang-orang yang seiman juga memberikan rasa senasib dan sepenanggungan yang menghilangkan kecemasan. Orang-orang yang berkeluarga dan mempunyai anak-anak, sadar maupun tidak, lebih beruntung menghadapi hari tua dan kematian. Mereka akan merasa bila saatnya tiba, masih ada keturunan yang meneruskan eksistensinya. Sebaliknya mereka yang sendirian akan merasa akhir hidupnya sebagai garis penutup: dead end. Kita mungkin sangat mandiri waktu muda hampir tidak peduli sanak-famili. Tetapi kita akan sampai pada usia dimana kita terpaksa bersandar kepada orang lain. Mereka yang tetap erat dengan keluarganya atau persahabatan dalam komunitasnya akan terasa lebih aman menjalani hari tuanya. Mereka merasa ada tempat bersandar bila sewaktu-waktu diperlukan. Orang-orang yang berhasil selamat melewati penderitaan dan kehilangan yang parah dimasa muda umumnya lebih tabah menghadapi kendala di hari tua. Korban becana massal seperti tsunami yang selamat, boleh dikatakan siap menghadapi apa saja dihari tuanya.

Orang-orang yang profesi dan kepercayaan dirinya berasal dari penampilan fisik dan kemudaan seperti peragawan, peragawati, bintang iklan, ratu kecantikan dan yang sejenisnya, mereka cenderung menderita diskriminasi umur lebih awal dan lebih menyakitkan. Mereka (tentu tidak semuanya) berusaha melawan proses alami seperti stamina yang menurun, kulit yang mengendor, menurunnya kesuburan dan kejantanan. Dengan mengandalkan kepada kosmetika, operasi plastik dan obat-obatan untuk melawan penuaan. Demi mempertahankan image yang telah memberikan mereka status dan sukses, takut dilupakan orang, seolah-olah akan roboh panggung pertunjukannya. Last but not least, mereka yang rajin menjaga kesehatan, menabung untuk hari tua dan berasuransi, akan sangat menenangkan dihari tua. Bekal anda untuk menua sudah banyak kan?

BILA ANDA MENUA NANTI (I) BILA ANDA MENUA NANTI (II)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s