BERAGAMA DENGAN RENDAH HATI

BERAGAMA DENGAN RENDAH HATI

Oleh: Jum’an

Memposting tulisan seperti ini membawa risiko. Kalau ingin menjaga nama baik atau jabatan kita harus pandai-pandai menutupi hal-hal pribadi yang tidak disukai orang banyak. Semua orang dapat dipastikan mempunyai kelemahan seperti itu. Menutupi kelemahan adalah satu dari risiko jabatan. Saya beruntung tidak mempunyai jabatan yang menjadi sorotan orang banyak sehingga tidak besar risikonya kalau kelemahan saya diketahui orang. Suka ngutang kalau makan diwarung atau apapun. Selama ini saya merasa banyak teman sepergaulan yang salah sangka tentang diri saya. Bukan soal baik atau buruk tetapi tentang sikap keagamaan saya. Kalau salah seorang mereka sedang menceramahi saya masalah agama, biasanya saya hanya diam, mendengarkan dengan tekun sambil sekali-sekali menganggukkan kepala. Saya rasakan sikap itu telah mengakibatkan mereka menyangka bahwa saya sependapat dengan mereka. Padahal sambil diam mungkin saja saya berkata dalam hati: Ah itu kan menurut kamu! Sambil mengangguk hati saya berkata: Oo begitu pendapatmu; silahkan saja! Mungkin mereka senang bersahabat dengan saya karena mengira saya berada dipihaknya. Saya bersikap demikian bukan untuk mengelabuhi mereka. Alasan utamanya karena saya tidak pandai berdebat dan berargumentasi, kalau saya lakukan itu muka saya cepat menjadi merah, dada berdebar-debar dan nafas tak teratur. Apalagi dengan makin banyaknya orang yang berfikiran ekstrim dan tidak proporsional. Diam dan merendahkan diri merupakan pilihan saya yang paling sesuai setidaknya sebagai semboyan dan wacana. Selain dapat menghindarkan perpecahan juga lebih menunjukkan kesabaran dan ketenangan. Saya lebih suka hidup beragama dengan rendah hati. Bukan yang gagah berani, demonstratif apalagi agresif. Adakah tempat bagi saya?

Nanti dulu! Kalau umat Islam seperti kamu semua, celaka kita! Siapa yang akan memberantas kemaksiatan, memerangi orang kafir dan memperjuangkan ideologi Islam. Bagaimanapun saya harus mengakui bahwa beragama dengan rendah hati bukanlah satu-satunya pilihan yang tersedia. Siapa yang akan memerangi orang kafir tentu jutaan orang sudah siap sedia. Begitu juga yang siap memberantas kemaksiatan dan memperjuangkan ideologi. Berdebat tentang hukum bersalaman dengan orang Kristen saja saya enggan, apalagi berperang. Tapi banyak orang akan menganggap beragama dengan rendah hati merupakan indikasi lemahnya iman dan sempitnya wawasan. Dalam “suasana perang dan gawat” seperti sekarang umat Islam harus unjuk kekuatan supaya jangan dilecehkan! Mungkin itulah masalahnya. Sebagian orang merasa dirinya dalam suasana perang dan berada difront terdepan sementara sebagian yang lain tidak melihat situasi segawat itu. Negri indah ini adalah tempat tinggal bagi kita untuk selamanya. Mari kita menikmatinya dengan beriman dan berislam yang sejuk dan rendah hati. Jangan pula dikira bahwa beragama dengan rendah hati adalah tanda sempitnya wawasan, ibarat katak dalam tempurung.

Dengan rendah hati orang lebih sempat memasang mata dan telinga, apalagi dizaman informasi instan sekarang ini. Sadirun, seorang pegawai negri sipil dengan baju kusut dan gaji pas-pasan adalah contoh orang yang beragama dengan rendah hati yang saya kenal. Ternyata dia tahu banyak tentang pendeta Terry Jones dan hari pembakaran Qur’an sedunia, penderitaan umat Islam di berbagai belahan dunia, situasi terakhir di Gaza, dan dia mengikuti informasi tentang situasi umat Islam didalam negri. Saya berkesimpulan bahwa beragama dengan rendah hati bukanlah indikasi ketidak pedulian ataupun kesempitan wawasan. Tentang iman yang lemah, kita sama-sama tahu hanya Alloh yang tahu kadar keimanan seseorang. Saya duga banyak orang diluar sana yang mencibir. Tidak apa-apa saya toh bukan siapa-siapa.

7 thoughts on “BERAGAMA DENGAN RENDAH HATI

  1. Zaman berperang dengan orang kafir udah lama berlalu…di zaman nabi saw………mungkin kelak di zaman nya kembali nabi isa as di zaman yg akan datang…waullahuallam……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s