MENJANGKAU KEABADIAN

MENJANGKAU KEABADIAN

Oleh: Jum’an

Sejak bekerja di Jakarta puluhan tahun yang lalu, sehari-hari saya tetap berbahasa daerah dengan keluarga saya. Saya selalu menghadiri arisan perkumpulan warga Banyumas di Jakarta yang diselenggarakan dalam bahasa daerah. Saya merasa bangga bahwa kebanyumasan saya tidak pernah luntur. Sebenarnya didalam rasa bangga itu terselip kekhawatiran dihati bahwa budaya daerah ini suatu waktu nanti akan hilang ditinggalkan oleh para pewarisnya. Anak-anak orang Banyumas yang lahir di Jakarta hampir tidak ada yang suka dengan bahasa Banyumas karena kasar dan tidak enak didengar, kata mereka. Mereka juga tidak menyukai makanan daerah yang kami puji-puji. Era globalisasi telah membuat generasi muda di Banyumas tidak lagi menyukai tontonan tradisional seperti wayang, ebeg atau lengger dan memilih Amerian Idol dan tontonan lain yang lebih segar. Atraksi kesenian daerah kebanyakan hanya diadakan sebagai kelengkapan promosi pawarisata dan komersial. Mungkinkah bahwa cita-cita melestarikan budaya daerah, suku atau bangsa memang merupakan penjelmaan dari rasa khawatir generasi tua akan punahnya kebudayaan mereka? Semangat hidup masa kini tidak sesuai untuk menampung ambisi seperti itu. Bukankah kaisar demi kaisar, budaya demi budaya pernah muncul dan berjaya, lalu memudar dan hilang.

Bangsa Minoa yang hidup pada abad 25 sebelum Masehi banyak sekali meninggalkan prasasti yang ditulis diatas lempeng-lempeng dari tanah liat dengan tujuan agar budaya mereka dimengerti dan diingat sepanjang masa. Sayangnya bahasa yang mereka gunakan mati ditelan zaman sehingga kita tak tahu apa yang ingin mereka sampaikan. Menjaga dan menyimpan informasi memang merupakan persoalan dari zaman kezaman. Sementara informasi yang ditulis diatas kertas perkamen atau diukir diatas batu dapat bertahan ribuan tahun, data digital masa kini hanya dapat bertahan beberapa tahun saja. Uni Eropa kabarnya kehilangan informasi senilai lebih dari 3 milyar Euro setiap tahun disebabkan umur teknologi penyimpanan yang terlanjur usang. Format file digital rata-rata memiliki jangka waktu 5 – 7 tahun sedangkan perangkat penyimpanan data seperti CD dan DVD, Hard Disk hanya mampu bertahan selama 20 tahun. Terakhir muncul sejumlah website yang menawarkan jasa penyimpanan data yang disebut cloud storage. Simpan data penting anda dalam website kami! Anda bisa mengaksesnya dari mana saja, kapan saja, untuk selamanya! “We ensure that photos and videos truly last forever”. Dengan yakinnya mereka menjamin bahwa data kita akan aman untuk selamanya. Padahal untuk selamanya itu sangat lama. Awal bulan Maret 2011 ini fotopic.net sebuah website Inggris yang mengelola jasa sejenis telah tutup dan nasib foto-foto dan video yang disimpan disana menjadi tidak jelas.

Dua bulan yang lalu sulit untuk membayangkan bahwa Jepang akan dilanda oleh musibah nuklir separah Chernobyl. Belum pernah sebelumnya orang mengkait-kaitkan reaktor nuklir dengan gempa bumi. Kanselir Jerman Angela Markel pun terperanjat dan buru-buru menginstruksikan untuk meningkatkan standar keamanan reaktor-reaktor nuklirnya. Ia mengatakan musibah nuklir Fukushima sebagai titik balik bagi dunia. Bagi orang awam seperti saya kesan yang paling membekas dihati setelah meyaksikan gempa dan tsunami di Jepang adalah betapa rapuhnya keberadaan manusia. Melestarikan kebudayaan, menjangkau keabadian adalah naïf. Nothing lasts forever. Kullu man alaiha faan, kata surat Ar-Rahman.

7 thoughts on “MENJANGKAU KEABADIAN

  1. Melestarikan kebudayaan, menjangkau keabadian adalah naïf. Nothing lasts forever. Kullu man alaiha faan, kata surat Ar-Rahman. mau nanya ,berapa umur al-quran ya? kalau mau di hitung umurnya al-quran dari wahyu pertama…..rasa nya lama….toh…nah budaya membaca al-quran, gak pernah luput dari zaman ke zaman…..sehingga zaman hari ini…..dan saya percaya ianya tak akan luput dari manusia sampai kapan pun kecuali kiamat…………itu budaya membaca al-quran…!.Belum saya sebut budaya agama yg lainnya…..kalau selain budaya agama,bapak benar bila berkata:”Mengunakan perkataan-Melestarikan kebudayaan, menjangkau keabadian adalah naïf. Nothing lasts forever.”- adalah benar……..saya setuju.

  2. benar pak….sayang ya zaman kita ini gak ada nabi ya cuman…….ustaz dan para wali allah aja..itu pun seperti di singapore…..firman gak ada peluang bertemu sama yg namanya wali toh…………………kalau pun ada tapi gak tahu di mana di singapore ini…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s