SENDIRI – SIAPA TAKUT

SENDIRI – SIAPA TAKUT

Oleh: Jum’an

Kita ini makhluk sosial yang secara naluriah condong untuk hidup bersama-sama. Dalam hati ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, mengharap penilaian dari orang lain dan hanya bisa hidup sempurna bila berada ditengah orang-orang lain. Orang yang mencoba hidup sendirian tidak akan berhasil menjadi manusia sepenuhnya. Hati akan layu jika tidak saling bertalian dengan hati orang lain. Jiwa kita akan keriput jika hanya mendengar gema fikiran sendiri dan tidak menemukan inspirasi lain -begitu kata sastrawan Pearl S. Buck. Sedihnya hidup sendiri adalah manusiawi dan universal. Mencekam serasa dirangkul oleh bayang bayang maut. Seorang anak yang pernah dihukum dengan dikunci sendirian berjam-jam dikamar yang gelap, sampai tua tidak berani masuk lift sendirian, melewati lorong sepi atau tinggal dirumah sendirian. Janganlah melawan naluri dengan mencoba hidup menyendiri. Bermasyrakat dan menjaga silaturahmi akan menjadikan hidup kita tetap manusiawi.

Sayang kita tidak selalu bisa menghindar dari berada sendirian. Tingkat perceraian yang tinggi, suami yang kebanyakan meninggal lebih dulu dari isterinya, malapetaka maupun musibah menyebabkan banyak orang terpaksa hidup sendiri. Biasanya orang tua sudah mengembangkan sifat dan kebiasaan yang membantu mereka merasa nyaman berada sendirian. Sudah menemukan cara sehingga suasana batinnya tetap sibuk. Mereka telah mencapai titik dimana ketenangan merupakan kebutuhan yang lebih utama. Berbeda dengan orang muda yang serba gelisah sehingga mereka merasa jauh lebih menderita waktu harus mengalami kesendirian. Serba tergantung pada orang lain tentu saja tidak sehat. Menjaga hubungan itu penting tetapi janganlah sampai kebahagiaan, keamanan dan harga diri kita sepenuhnya berada ditangan orang lain. Untuk itu sebelum menikmati kebersamaan dengan orang lain kita terlebih dulu harus merasa utuh dan aman bersendirian. Apalagi mengingat suatu saat dalam hidup ini kita akan sendirian. Bukankah Alqur’an menyatakan bahwa kita akan dibangkitkan sendiri-sediri? Berhasil sabar dan berkembang dalam kesendirian adalah tanda kedewasaan mental.

Jangan menghidar dari berada sendirian bila terpaksa menghadapinya. Sabarlah dan rasakan, jangan buru-buru mencari bantuan orang lain dan ingatlah bahwa kesepian hanyalah sekedar perasaan. Jangan mencar-cari kegiatan hanya untuk melupakan atau mengalihkan perhatian. Perasaan itu akan lewat dan sesudahnya kita akan menjadi lebih kuat dan lebih percaya diri. Insyaalloh kita mampu mengurus dan mengendalikan diri-sendiri. Dengan berani sendirian, kita akan menikmati kebersamaan dengan lebih terhormat karena kita tidak harus bergantung penuh kepadanya. Kita memiliki kesempatan untuk tidak terburu-buru mengadakan sembarang hubungan yang belum tentu bemanfaat. Kita tunggu sampai saatnya yang benar-benar kita inginkan tiba.

Ibarat kita sesama pemakan nasi, tetapi saya berhasil membiasakan diri makan jagung. Bagi anda rasa nasi adalah biasa tetapi bagi saya lebih enak karena saya biasa makan jagung. Dan bila harga beras naik drastis anda akan menderita sementara saya dengan senang hati memutuskan untuk berganti makan jagung, tidak tergatung pada nasi.

Iklan

2 tanggapan untuk “SENDIRI – SIAPA TAKUT

  1. seolah-olah menjawab tulisan yang udah noli buat…. mmm… kedengarannya, noli hampir sama anehnya dengan kak hensafamily, ketika bersama-sama, akhirnya, noli selalu dihadapkan pada situasi memilih, dan pilihan yang noli ambil adalah sendiri…. baru kepikiran, ternyata, banyak pilihan yang bisa diambil :)Jazakallahu khairan katsiran…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s