AMBISI WANITA

AMBISI WANITA

Oleh: Jum’an

Sebenarnya ambisi bukanlah sesuatu yang buruk. Sebaliknya sering kita dengar bahwa tanpa ambisi kita tidak akan dapat mencapai puncak. Hasrat yang sehat untuk berhasil dengan memaksimalkan tenaga dan fikiran adalah ambisi dan baik. Apabila hasrat itu ditempuh karena tidak pernah puas dan tidak mampu menghargai apa yang sudah dimiliki saat ini, namanya juga ambisi. Iktikadnya berbeda tetapi secara lahiriah tidak terlihat perbedaannya. Ambisi mempunyai dua ciri yang menonjol. Yaitu penguasaan sesuatu dengan segenap tenaga dan fikiran serta kebutuhan akan pengakuan berupa ketenaran, status, pujian atau kehormatan. Penguasaan dan pengakuan merupakan dua mesin penggerak ambisi yang sama kuatnya. Tanpa penguasaan tidak akan ada keberhasilan dan keberhasilan tanpa pengakuan menimbulkan rasa frustasi dan tidak berguna, seperti pertandingan tanpa penonton tanpa juri. Ketergantungan akan penilaian dan pengakuan orang lain inilah yang menyebabkan orang merasa rentan sehingga ambisi memberikan kesan yang buruk.

Dalam hal menciptakan ambisi tidak ada bedanya antara pria dan wanita tetapi waktu menempuhnya yang membutuhkan penilaian, dukungan dan pengakuan dari orang lain, wanita terpisah dan tertinggal jauh dari kaum pria. Menurut Anna Fels MD seorang psikiater dan pengamat, kebanyakan wanita memang tidak suka dikatakan ambisius. Bagi mereka ambisi membawa pengertian egois dan sombong atau memanipulasi orang lain untuk tujuan sendiri. Sangat berbeda dengan kaum pria yang menganggap ambisi adalah bagian penting dari hidup mereka. Anehnya kaum wanita yang tidak menyukai ambisi bagi mereka, dengan senang hati memuji kaum pria yang penuh ambisi. Wanita mempunyai banyak peran dari menjadi akademisi, karyawati yang cakap, ibu rumah tangga, pebisnis, dan lain-lain. Tetapi sejak awal ambisi mereka sudah dihadang oleh kurangnya dorongan yang diterima, diskriminasi, serta pengaruh budaya masyarakat.

Setelah selesai pendidikan dan memasuki angkatan kerja, ambisinya makin tambah terkendala. Bagi lkaum pria umumnya bekerja keras bukan hanya berarti mencari nafkah tetapi merupakan sumber identitas dan harga diri. Sementara perempuan karena kodratnya, terikat dan menjadi penyedia jasa bagi orang lain dalam lingkungan pribadinya terutama suami dan anak-anaknya. Hamil, merawat anak, mengatur rumah tangga, terpaksa meninggalkan kerja karena suami dipindah keluar kota menjadikan ambisi wanita tidak semulus kaum pria. Peribahasa Jawa mengatakan: ” Swargo nunut neroko katut”. Wanita hanya dapat menumpang senang, tapi harus ikut menderita.

Dua dari tiga wanita yang pernah menduduki posisi puncak di Mahkamah Agung Amerika yaitu Sonya Sotomayor dan Elena Kagan keduanya tidak mempunyai anak. Mereka seolah-olah membawa pesan kepada wanita karir diseluruh Amerika: Kalau mau menduduki posisi puncak profesi anda, lebih mudah tanpa anak-anak. Bukan saja anak-anak bahkan tanpa suami. Diduga ada kekhawatiran dikalangan wanita yang ambisius bahwa mereka tidak dapat naik keposisi yang lebih tinggi jika mereka berkeluarga karena tekanan pekerjaan yang berat –bekerja sampai larut malam, dinas keluar kota yang lama, dan tuntutan siap kerja 24 jam sehari 7 hari seminggu. Kaum wanita memang berbeda kodratnya dengan kaum pria,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s