PILIH SAN DIEGO HILLS ATAU KARET BIVAK SAJA

PILIH SAN DIEGO HILLS ATAU KARET BIVAK SAJA.

Oleh: Jum’an

Salah satu peristiwa yang menyedihkan di dunia barat adalah ketika seorang nenek tua renta yang sedang menjelang ajal, dengan tangan gemetar membolak-balik sebuah brosur mengkilap berwarna-warni ditunggui oleh pengurus penguburan. Katalog itu berisi koleksi pilihan macam-macam peti mati, cungkup, nisan dan banyak lagi aksesori penguburan model terbaru. Tersedia untuk mayat kelas ekonomi, menengah dan atas. Mungkin tidak menyedihkan bagi mereka tetapi rasanya ada sesuatu yang tidak rasional dalam pemilihan itu. Seperti memilih baju untuk dipakai nanti sesudah tidak dibutuhkan lagi. Tetapi kalau mampu, kalau mau, why not! Masalahnya sekaya dan juga semerdeka apapun, kini mereka sudah tidak sebebas dulu lagi untuk menentukan pilihan. Rakyat mulai keberatan dengan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh industri penguburan yang sangat berbau komersial itu. Menurut Asosiasi Penguburan Amerika, dalam tahun 2011 ini saja, 22.500 kuburan diseantero Amerika harus menampung 3.000.000 liter cairan pembalsem sejenis formalin, 90.000 ton baja (peti mati), 2.700 ton tembaga dan perunggu (peti mati), 1.636.000 ton beton bertulang (cungkup), 14.000 ton baja (cungkup) dan sekitar 10 juta papan kayu keras. Sampah sintetis peninggalan manusia ini kecuali memerlukan tanah kuburan yang luas juga menimbulkan dampak lingkungan yang semakin mengancam. Pengawet sementara dari formalin dan bahan- bahan yang berpotensi menyebabkan kangker akan diserap dan mencemari air tanah. Hanya jazad manusianya saja yang terurai dalam beberapa tahun; selebihnya entah sampai kapan.

Berbeda halnya dengan negeri berkembang seperti Indonesia. Lebih-lebih bagi umat Islam yang tak dianjurkan untuk menyertakan macam-macam aksesori kedalam kubur (bahkan batu nisanpun opsional?), yang kita kubur hampir seluruhnya biodegradable, akan terurai secara alami dan tidak mengganggu lingkungan. (Bila sudi, klik disini untuk mambaca tulisan saya, Material Balance Ahlil Kubur). Di Indonesia tanah kuburan belum dianggap sebagai ancaman kecuali bagi perusahaan real estate yang ngiler membangun gedung perkantoran atau supermarket. Itupun hanya di Jakarta. Tapi karena luas tanah tidak sebanding denga jumlah kematian, kuburan Karet Bivak Di di Jakarta Pusat misalnya, terpaksa melakukan sistim tumpang. Tanah makam seluas 16 hektar dan menerima rata-rata 150 jenazah sebulan ini, tentu sudah penuh dari dulu-dulu. Bila sewa tiga tahunan tidak diperpanjang oleh ahli waris, maka makam akan digali untuk mengubur mayat yang baru. Tulang belulangnya dikumpulkan lalu dibungkus dan dipendam sekitar 40 senti diatas atau dibawah jenasah yang baru. Tulang-tulang yang ditaruh disebelah atas jenazah yang baru, lebih mudah bila ahli waris ingin menggali dan memindahkannya ke tempat lain. Sewa resmi satu lubang untuk 3 tahun paling tinggi 100.000 rupiah dan gratis untuk kaum miskin. Kalau prakteknya sedikit lebih mahal…… ya jamaklah. Biaya penguburan disini sekitar sejuta rupiah. Diantara para penghuni TPU Karet Bivak adalah Haji Sabeni tokoh legendaris Betawi, Muhammad Husni Thamri (Pahlawan Nasional) serta Muhammad Natsir Datuk Sinaro Panjang (Pahlawan Nasional dan Tokoh Islam).

San Diego Hills adalah sebuah kuburan mewah dikawasan Karawang, Jawa Barat seluas 500 kektar. Dari 2000 kapling yang sudah dipesan baru sekitar 700 sudah dihuni oleh, diantaranya alm. Muhammad Supari suami mantan Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari, Pengusaha Sudwikatmono dan Drs Frans Seda Tokoh Tiga Zaman itu. Harga termurah untuk bisa dikubur disana adalah 8 juta rupiah, dan bisa sampai ratusan milyar rupiah bila mau. Tidak ada sistim sewa seperti di TPU DKI disini. Kuburan yang dilengkapi taman-taman asri, padang rumput, air mancur dan patung artistik dan berbagai fasilitas lain (yang semua namanya dalam bahasa Inggris) ini mencontoh Forest Lawn Cemetery, kuburan termewah di California dimana Michael Jackson dan Elizabeth Taylor dikubur. Mau? Kalau kita mampu dan kita mau, why not? Para peziarah dapat berdoa berlama-lama dengan khusuk dan nyaman. Lagipula hantu dan kuntilanak tidak bakalan betah menghuni taman-taman yang terpelihara rapih disana!

Tetapi seperti tidak rasionalnya memilih baju sesudah kita tidak membutuhkan, memilih San Diego Hills atau Karet Bivak adalah seuatu yang tidak relevan. Saya suka dengan kata-kata Triana Septiarini dalam tulisannya yang berjudul: San Diego Hills, Tetap Saja Kuburan: ” …. Siksa kubur tetaplah sesuai amal ibadah kita didunia, tidak ada hakim yang lebih adil dan bijaksana selain Alloh SWT, jadi mau dikubur dipematang sawah kek, dikuburan yang katanya angker kek atau di San Diego Hills sekalipun hanya amal ibadah kita yang akan diperhitungkan kelak”

One thought on “PILIH SAN DIEGO HILLS ATAU KARET BIVAK SAJA

  1. Benar sekali, Pak Jum’an.Semewah apapun kuburnya, tidak akan mengurangi sedikitpun balasan yang diterima ahli kubur tersebut bila menerima siksa kubur.Terimakasih informasinya yang berupa angka-angka di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s