MASUK BUI – SIAPA TAKUT

MASUK BUI – SIAPA TAKUT

Oleh: Jum’an

Seandainya waktu itu malaikat memberikan sekilas bayangan dikepala Ibu Nunun tentang keadaan dia saat ini, pastilah dia akan menolak mentah-mentah untuk terlibat mensukseskan Miranda Gultom sebagai Deputi Gubernur BI. Ibu Nunun akan seribu kali lebih bahagia dan terhormat sekarang sebagai nyonya dan cahaya rumah (nurbeiti) Haji Adang Darodjatun anggota DPR dan mantan Wakapolri. Demikian pula dengan Politisi Nazarudin, Hakim Syarifuddin Umar dan Jaksa Cirus Sinaga. Waktu memutuskan untuk melakukan kecurangan umumnya pikiran orang terfokus pada jangka pendek seperti keuntungan yang menggiurkan yang akan segera diperoleh misalnya. Sedikit sekali terpikir seberat apa resiko yang akan ditanggungnya kalau sampai terbongkar kelak; apalagi sampai berpikir masuk bui. Yang melakukan penyuapan, yang ngebet menjadi Deputi Gubernur adalah Miranda bukan dia. Tidak ada urusannya dia harus masuk bui. Sekarang Ibu Nunun justru ketakutan masuk bui. Dulu Ibu Nunun adalah seorang ibu yang terhormat. Dia tahu bahwa masyarakat mengharap dia memiliki moral dan etika yang baik karena suaminya adalah seorang tokoh terkenal. Ibu Nunun pasti merasakan tuntutan masyarakat itu. Menurut penelitian, ketika menghadapi batas antara salah dan benar yang abu-abu, orang yang merasa dirinya beretika justru lebih mudah terpeleset menjadi orang yang munafik. Karena orang yang etis dapat melihat kecurangan sebagai suatu hal yang OK untuk dilakukan, dengan membenarkan tindakan tersebut sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir yang bermoral. “Kalau saya menyontek, saya pasti lulus dalam ujian ini. Dan saya dapat lebih cepat menjadi dokter dan menolong orang”.

Berbeda dengan Ibu Nunun, senjata utama seorang hakim atau jaksa dalam melakukan kecurangan tentulah kekuasaan yang dimilikinya. Kekuasaan memang cenderung untuk menggoda pemiliknya untuk korup. Kekuasaan dan kecurangan sudah saling merangkul sejak dulu. Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely. Kekuasaan juga menuntun pemiliknya untuk berilusi bahwa mereka adalah istimewa dan tidak terikat pada aturan yang membatasi orang lain. Biasanya sesudah sekali lolos melanggar aturan, mereka mulai berpikir bahwa mereka tidak terkalahkan. Hakim dan jaksa juga tidak lepas dari terjebak menggunakan fokus jangka pendek waktu memutuskan untuk melakukan kecurangan. Bagi mereka kecurangan dapat menghemat banyak waktu dan tenaga dan memperoleh keuntungan lebih dari bisnis jujur sesukses apapun. Kalau mereka mampu mengatur nasib orang lain, pastilah mampu menentukan nasib sendiri.

Bagi para politisi yang kelestarian kedudukannya bergantung pada dukungan public, tentulah bukan kekuasaan yang berada dibalik peilaku curang mereka. Frank Farley mantan Presiden Asosiasi Psikolog Amerika berpendapat bahwa para pengambil-resiko adalah orang-orang yang cocok dan berkembang dalam dunia politik. Profesi politisi adalah khas (tailor-made) untuk pengambil resiko, yang juga pencari sensasi, bercanda dengan bahaya. Mereka percaya mampu mengendalikan diri sehingga mereka berani melakukannya. Politisi curang adalah pengambil resiko yang paling nekat mengingat kehidupan mereka seperti ikan dalam akuarium yang selalu ditonton orang banyak. Sebenarnya Politikus Nazaruddin, Hakim Syarifuddin dan Jaksa Cirus, apalagi Ibu Nurbeiti bukannya tidak takut masuk bui. Hanya saja mereka tidak pernah mau dengan serius memikirkannya sebelum memutuskan berbuat curang; dan malaikat juga tidak mau memberitahu lebih dulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s