JANGAN BIARKAN ANAK JADI POLISI

JANGAN BIARKAN ANAK JADI POLISI

Oleh: Jum’an

Dalam film The Killing Field ada adegan propaganda Khmer Rouge untuk menanamkan ketaatan kepada partai melebihi ketaatan pada orang tua. Mereka percaya bahwa orang tua tercemar oleh kapitalisme karena itu anak-anak harus dipisahkan dan dicuci otaknya dengan ideologi komunis. Diatas papan tulis disebuah balai desa ada gambar seorang tua sedang menggandeng tangan anaknya. Seorang murid teladan umur 10 tahun maju kedepan dan mengamati gambar itu. Lalu dengan muka tanpa ekspresi dia mencoret gambar tangan yang sedang berpegangan itu, tanda memutus hubungan anak dengan orang tuanya. Iapun disambut dengan tepuk tangan. Begitu seingat saya karena sudah lama sekali saya menontonnya.

Bagi kita hormat kepada orang tua atau birrul walidain adalah bagian tak terpisahkan dari ketaatan kita kepada Alloh swt. Apakah kita memerlukansebuah fatwa untuk mengutuk mereka yang berani memutuskan hubungan dengan orang tua? Tidak usah. Cukuplah dengan Qur’an dan hadis yang menganjurkan kita untuk mengormati ibu-bapak kita. Karena semua kebijaksanaan ada dampaknya yang kadang-kadang benar-benar diluar dugaan. Lihatlah kebijaksanaan dari pemerintah DKI untuk mengurangi kemacetan lalu-lintas. Dijalan-jalan tertentu mobil berpenumpang kurang dari tiga orang dilarang lewat. Salah satu dampaknya lihatlah sendiri pada sore hari misalnya di Jalan Yusuf Adiwinata. Anak-anak perempuan belasan tahun berjejer menunggu mobil yang mau membawa mereka, untuk menggenapkan jumlah penumpang maksudnya. Tapi siapa yang tahu? Traffic management menghasilkan masalah sosial yang rawan. Saya pernah melihat seorang anak kecil merebut rokok tamu bapaknya yang sedang disulut didepan mulut. Bapaknya kebetulan teman baik saya. Dia terpaksa memohon-mohon maaf atas kelakuan anaknya yang over-acting dan tidak diduga itu.

Dari surfing saya diinternet, belum lama ini di Saudi Arabia terbit dua buah fatwa yaitu larangan anak-anak mencium jidat orang tuanya yang hanya kadang-kadang atau tidak pernah solat, dan larangan perempuan bekerja sebagai kasir. Saya yakin kedua fatwa itu didasari oleh iktikad baik. Saya hanya menceritakan dampaknya yang saya kira merekapun tidak menyangka. Fatwa yang pertama telah menimbulkan dampak pada salah seorang family saya yang tinggal di Jeddah. Ia tidak mau lagi tinggal dirumah bersama bapak ibunya yang mungkin dianggapnya kurang soleh dan kurang alim. Menurut Tariq Almohayed editor Asharq Al-Awsat anak-anak seperti ini banya dan biasanya terseret karus ekstrimisme yang tidak jelas. ’’Saya telah membesarkannya selama 18 tahun dan dia berbalik dalam waktu enam bulan” begitu pengakuan seorang ayah yang ditinggalkan anak laki-lakinya. Fatwa larangan bekerja sebagai kasir sedikit banyak menimbulkan pengangguran dan apa komentar perempuan awam? ’’Menjadi kasir dilarang, menjadi pengemis kok boleh”. Fatwa yang dimaksudkan agar orang tua taat beragama, berdampak menjadikan sebagian anak mereka berubah menjadi polisi yang mengawasi orang tuanya.

Bagaimana kalau kita mencukupkan diri dengan Surat Luqman ayat 14 dan 15 saja? ’’Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” Tidak usah menunggu fatwa lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s