DARI SAN’A KE CHICAGO

DARI SAN’A KE CHICAGO

Oleh: Jum’an

Kalau kita mengirim paket keluar negeri melalui DHL, Fedex atau UPS maka dengan nomer pengiriman yang kita terima setiap saat kita dapat melacak posisi paket sudah sampai dimana. Layanan mutakhir yang sangat memudahkan dan sekaligus berpotensi menimbulkan bahaya juga. Karena disamping kita tahu kapan kiriman kita sampai, orang bisa mengirimkan bom dan meledakkannya dari jarak jauh sesampai ditujuan atau ditengah perjalanan. Seperti yang terjadi belum lama ini, ketika Fedex Express mengirimkan paket dari San’a di Yaman ke Chicago di Amerika. Paket itu berupa dua buah printer yang cartridge tinta dan tonernya diisi dengan PETN (Penta Erythritol Tetra Nitrate), bahan peledak yang sangat kuat dan tidak dapat diterawang menggunakan detektor peledak manapun

Paket itu dikirimkan oleh seorang perempuan dari kantor Fedex di San’a untuk dua orang masing-masing Spaniard Diego dan French Pierre dengan alamat yang sama yaitu disebuah synagog di Chicago. Printer itu memang tidak mecurigakan. Petugas pengiriman tidak ngeh tentang kedua nama itu; karena alamatnya cukup jelas dan ongkos kirim di bayar tunai paket itupun diterima untuk dikirim. Apalagi bagi seorang petugas pengiriman, intelejen Amerikapun baru ngeh pada saat-saat terakhir. Padahal cukup aneh seorang wanita Yaman mengirim paket untuk dua orang dengan alamat rumah ibadat Yahudi, berupa printer bekas dengan ongkos kirim yang jauh lebih mahal dari harga pinter itu sendiri. Siapakah penyandang kedua nama itu?

Menurut Abdul Rahman Rashed kolumis harian Almadina Saudi Arabia, Spaniard Diego dan French Pierre adalah nama dua komandan perang yang dulu betempur melawan pasukan Islam dalam perang salib empat abad yang lalu. Mereka kalah dan terbunuh. Jadi bukannya nama pemuda masa kini yang tinggal di Chicago. Hanya mereka yang bersemangat perang seperti aktivis Alqaeda misalnya, yang ada kemungkinan selalu mengingat kedua nama itu. Baik bom itu ditargetkan meledak dalam synagog ataupun diatas pesawat kenapa harus membawa-bawa nama komandan perang Salib? Kenapa tidak Robert Smith atau Frank Jones, nama umum yang tidak mencurigakan saja? Entahlah. Menurut para ahli keamanan keunggulan mereka meramu PETN kedalam cartridge dan toner sebuah printer merupakan prestasi yang inovatif dan canggih.

Kata orang (meskipun perumpamaan ini kurang tepat), pencuri tidak akan tertangkap kalau dia sendiri tidak memintanya. Selalu ada jejak yang tertinggal, yang akhirnya mengundang polisi untuk menangkapnya. Seandainya benar paket dari San’a itu milik Alqaeda tentunya lebih rapih dan tak berjejak. Kenyataan bahwa akhirnya operasi itu gagal sebelum bom meledak membuktikan bahwa jejak mereka masih tetap terdeteksi. Kenapa? Menurut perkiraan saya kebanggaan dan kepercayaan diri yang berlebihan telah menurunkan kepekaan mereka terhadap ancaman bahaya. Mereka tidak sanggup merendahkan diri, malah muncul keinginan untuk disanjung oleh orang banyak. Lalu lupa bahwa yang mengetahui siapa Spaniard Diego dan French Pierre bukan hanya mereka saja, tetapi CIA juga tahu. Itulah yang menyebabkan kegagalan mereka .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s