SAMPAIKAN MESKIPUN PAHIT?

SAMPAIKAN MESKIPUN PAHIT?

Oleh Jum’an

Saya sedang menjenguk seorang teman yang dirawat di rumah sakit dan duduk-duduk cukup lama. Diruang sebelah yang hanya dibatasi hardboard dan kain korden, seorang pasien lain sedang dikerumuni pengunjung dan bercanda gembira. Dari apa yang saya dengar tentang kreatinin dan ureum tinggi serta rencana cuci darah seminggu dua kali, saya yakin dia menderita gagal ginjal. Tetapi dari gurauan mereka tidak terkesan ada rasa takut atau sedih sama-sekali. “Kau sih terlalu suka makan rendang!”, kata seorang dari mereka. Sipasien dengan gembira menyahut, mana mungkin orang Minang bisa menghidari rendang, makin bersantan makin nikmat. Tentu saja bukan sekedar makan rendang yang menyebabakan ia gagal ginjal. Saya merasa sedih dan menyimpulkan bahwa mereka tidak tahu betapa sengsaranya orang gagal ginjal.

Karena pernah mengalami sakit yang sama, saya dapat membayangkan penderitaan dan perjuangan yang akan dihadapinya dihari-hari mendatang dalam jangka waktu yang lama. Gagal ginjal tidak bisa disembuhkan. Orang harus menjalani cuci darah selama hidup, menggunakan mesin penyaring yang dipasang diperut selama hidup, atau menjalani transplantasi ginjal. Ketiga cara itu mahal, ribet dan penuh risiko. Saya tidak berlagak menakut-nakuti sekedar karena saya telah selamat melampauinya, tetapi seandainya orang-orang dikamar sebelah tahu apa yang saya tahu, mereka tidak akan sampai hati bercanda tentang rendang. Beratnya penderitaan dan susahnya perjuangan yang akan dilaluinya tidak pantas dipercandakan sama-sekali.

Mungkin juga diantara mereka ada yang sudah tahu tapi buat apa disampaikan dalam kunjungan yang sesingkat itu. Lebih baik menghibur penderita dengan gurauan yang memancing tawa setidaknya agar suasana tidak muram. Bukankah pada tempatnya untuk membesarkan hati orang yang sedang sakit? Lagi pula yang sakit juga lebih mengharapkan mendengar hal-hal yang menyenangkan dari pada berita duka. Tak ada hasrat sedikitpun untuk membayangkan akan sampai dimana penderitaannya nanti. Seolah-olah antara yang sakit dan keluarganya sepakat untuk bersama-sama menipu diri, jangan menyebut-nyebut kenyataan pahit apa yang akan terjadi. Apalagi tentang maut. Jangan, nanti dikira kita memanggilnya. Begitulah kita, setidaknya saya sendiri.

Saya teringat sahabat saya yang ikhlas dan tabah. Isterinya meninggal karena sirosis hati dan beberapa tahun kemudian ia sendiri didiagnose menderita penyakit yang sama. Ia diramalkan hanya mampu bertahan hidup selama 6 bulan. Iapun menjalani hidupnya dengan sabar, sampai sekitar enam bulan kemudian dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Ketika anak-anaknya datang kerumah saya pada hari raya beberapa bulan sesudahnya, saya bercerita bahwa almarhum pernah mengatakan kepada saya tentang ajalnya yang sudah dekat. Mereka sangat kaget karena almarhum tidak mengatakan hal itu kepada mereka. Ia memilih menjaga kebahagiaan enam bulan terakhir hidup bersama anak-anaknya. Kenyataan pahit yang lebih merupakan hak anak-anaknya disampaikannya kepada saya, sahabatnya bukan kepada mereka. Tiga hari sebelum meninggal ia masih menjenguk saya dirumah yang sedang terkapar ditempat tidur sepulang menjalani cuci darah, lebih dari 10 tahun silam. Alloh yarham.

Qulil haq walau kaana murro – katakan yang benar walaupun terasa pahit. 0Hadis nabi ini sangat mendasar dan konseptual. Apakah tidak untuk konteks ini juga? Wallohu a’lam bissawaab.

Iklan

10 tanggapan untuk “SAMPAIKAN MESKIPUN PAHIT?

  1. seandainya kita menjenguk orang sakit, dan mengatakan sesuatu dg lugu, contoh: Mas teman saya beberapa minggu yang lalu sakit sama persis dg penyakit yang mas derita, selang beberapa hari dia langsung MATI… padahal anaknya masih kecil-kecil lho mas…?! coba bayangkan, bagaimana perasaan orang yang sedang sakit ketika mendengar pernyataan seperti itu dari setiap pengunjung…!^___^ Maaf Pak hanya sekedar bertanya…

  2. hensamfamily said: Bapak bilang gagal ginjal tidak bisa disembuhkan. Tapi toh Bapak sembuh juga. Koq ?

    Ya saya cangkok, ganti ginjal. Ginjal yang sudah rusak memang tidak bisa disembuhkan.Meskipun sudah cangkok, saya juga harus makan obat imunosuppressant tiap hari selama hidup

  3. aboelaila said: bagaimana perasaan orang yang sedang sakit ketika mendengar pernyataan seperti itu dari setiap pengunjung…!

    Tentu saja….Yang saya maksud bukan sekedar waktu berkunjung pada waktu selanjutnyapun jarang yang mau memberitahu keadaan sebenarnya. Dan itu masuk akal saya karena kasihan.

  4. :(Allah tak memberi cobaan yg melebihi kemampuan hambaNya.Tapi kan terkadang cukup banyak juga orang yang tak mau dikasihani *makanya mereka ndak berterus terang*Lalu memangnya sepenting apa sehingga dia harus membicarakan hal tersebut, Pak?*maaf hanya berpendapat..

  5. puritama said: Lalu memangnya sepenting apa sehingga dia harus membicarakan hal tersebut, Pak?

    Asw. Tks Commentnya. Apakah yang anda maksud “hal tersebut” keseluruhan isi tulisan ini? Kalau ya, saya ingin mengemukakan bahwa menyembunyikan kenyataan dari seorang yang sakit, adalah khas dikalangan kita orang timur (Islam?) yang lebih mementingkan hal-hal spirtual ketimbang menghadapinya sebagai kenyataan dengan terencana. Menurut saya itu penting. Kalau boleh tanya apa anda maksud dengan “banyak oraang yang tak mau dikasihani”? Maaf kalau sempat mohon lebih dijelaskan Tks Tks

  6. waalaikumussalam wr wb’hal trsebut’ itu mengenai kenyataan pahit yg sedang ia tanggung. Maksud saya, apakah begitu urgent sehingga harus diinformasikan sekalipun tak ada yg menanyakan? Intinya, sudut pandang saya berada pada si penderita dan bukan pada para penjenguk.*sepertinya saya yg salah tafsir? Haduh, maaf ya Pak.. (jadi malu deh)*makasih kejelasannya 🙂

  7. puritama said: ntinya, sudut pandang saya berada pada si penderita dan bukan pada para penjenguk.

    Sebagai pengunjung saya tidak akan mengkuliahi pasien dg hal-hal yg menakutkan. Sebagai penderita saya juga tidak ingin mendengar kuliah tentang bahayaa penyakit saya. Pokoknya saya payah. Berbulan-bulan cuci darah saya masih menyangka bakal sembuh. Sudah jelas ginjal saya gagal, artinya tidak bisa kencing, saya masih bertanya pada suster bagaimana caranya agar kebelet buang air kecil. Mungkin suster itu ketawa dalam hati , tapi dia menjawab: “Dengarkan suara air yang menggucur Pak, biasanya kita jadi kebelet kencing…” Tks lagi. Tdk ada yang salah tafsir.

  8. saya pernah sakit tipes dulu sih waktu sma, pas ada temen dateng dan dengan entengnya bilang pakdenya mati karena tipes, dalam hati aku gemes aja apa yah masygul gitu, ngapain sih pake bilang 2 mati segala g penting banget. emangny udah valid tu data, heran, jangan deh jangan bilang mati mati ngomong yang menyenangkan aja deh, berpahala dan baik buat jiwa raga. ASLI GA PENTING BUANGET

  9. mungkin ada baiknya pasien mendapat info yg sejelas-jelasnya tentang penyakit yg doderitanya…hal baik yg diharapkan adalah pasien jd lebih mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan di masa yg akan datang, juga lebih mempersiapkan diri mengisi sisa2 hidup yg masih mungkin diberikanNya dan lebih mempersiapkan bekal utk kehidupan yg lebih kekal….tfs..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s