AIB TERSINGKAP DIBULAN PUASA

AIB TERSINGKAP DIBULAN PUASA

Oleh: Jum’an

Kamar tidur saya hanya berjarak tiga meter dari gang didepan rumah. Dimalam hari saya dapat mendengar hampir apa saja yang dipercakapkan orang-orang yang lewat. Karena sudah terbiasa saya jarang memperhatikan isi pembicaraan mereka dan bahkan saya merasa aman kalau ditengah malam ada sekelompok pemuda ngobrol di gang disamping kamar saya. Pasti bukan maling. Tidur pun lebih nyenyak rasanya. Tetapi peristiwa beberapa malam yang lalu saya anggap benar- benar membawa pesan yang berarti. Seperti ada angin yang salah arah meniup gaun seseorang dan tersingkaplah rok-dalamnya yang kumal.

Tiga atau empat malam lalu beberapa kali terdengar suara perempuan minta dibukakan pintu didepan rumah tetangga, tapi tidak mendapatkan jawaban. Berulang-ulang tetap saja tidak dijawab. Lalu sepi untuk beberapa waktu dan mulai lagi. Sekali-sekali terdengar isak tangis: Ibu, buka pintu bu saya hanya mau berpamitan! Disusul dengan nada marah-marah dan menjerit-jerit minta tolong. Saya heran mengapa tidak seorangpun yang mempedulikannya. Padahal lingkungan kami adalah ”orang baik-baik” semuanya. Seolah-olah semuanya kompak untuk tidak menolong perempuan itu. Entah karena bukan famili mereka atau karena dirasa mengusik kehangatan malam romadon.

Ketika saya mencoba keluar untuk mengintip, perempuan itu sedang ditanya-tanya oleh seorang yang kebetulan lewat. Tetapi karena percakapan itu tidak saling nyambung maka ditinggalkannya pergi. Dari lantai dua rumah depan yang belum dihuni, beberapa tukang mengamatinya tanpa mengomentari sedikitpun. Mungkin salah seorang ingin menolong tetapi mungkin dicegah oleh yang lain: Tidak usah ikut campur, kita kan bukan orang sini! Memang mereka orang orang dari Banyumas. Hati sayapun tidak tergerak untuk berbuat sesuatu dan kembali masuk kekamar. Ternyata perempuan itu tidur didepan garasi tetangga. Untung tidak hujan seperti malam-malam sebelumnya. Ketika pagi harinya dibangunkan dan disuruh menyingkir karena mobil mau keluar, ia marah sambil berkata ketus: Tabrak saja saya biar mati!! Jawaban tetangga saya tidak kalah sinis: Ya kalau mati. Kalau tidak kan malah jadi urusan! Pergi! Pergi! Cepat!

Selama saya kekantor episode berlanjut. Ada seorang ibu yang jatuh kasihan dan mengusahakan untuk melacaknya lebih serius dan memberinya makan. Ternyata tukang ojek dari gang 17 ketika melihat perempuan itu berkata: Saya tahu orang ini bu. Ia orang ujung gang sebelas. Dia memang rewel dan sudah berkali-kali diusir oleh anaknya. Menantunya guru. Saya kenal. Biar saya panggil dia saja. Sekitar jam 9 malam ia baru berhasil dibujuk pulang. Siang hari itu beberapa orang yang berusaha menolongnya langsung batal hanya karena dibentak oleh perempuan stress itu. Ternyata ”semua orang baik-baik” disekitar (termasuk) saya, tidak becus mengurus perkara. Seorang perempuan stress yang tersesat tanpa sengaja telah mengungkap aib kami. Seperti angin yang salah arah meniup gaun seseorang dan tersingkaplah rok-dalamnya yang kumal.

Iklan

4 tanggapan untuk “AIB TERSINGKAP DIBULAN PUASA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s